
Kakek Burhan menatap ke arah Arby, meminta jawab atas pernyataan istri nya.
"Maaf Kek, Nek. Sebelum nya Aku minta maaf, kalau kedatangan ku kemari membuat tidak nyaman." Arby menunduk, Dia merasa sedih, karena Keluarga yang diharapkan tak seperti Dia bayangkan.
"Tidak apa-apa Nak. Kamu tolong jelaskan kepada Kami, bagaimana tes DNA ini bisa sampai ke tanganmu? Supaya Istri ku ini tidak berburuk sangka terus." Kakek Burhan mengerti akan ketidak enakan Arby.
Arby pun menceritakan pertemuannya dengan Lita di Singapura.
Nenek Dinda terperanjat. Dia ingat betul, Keluarga yang membeli kembaran Vero berasal dari Singapura, karena masih ada kerabat dengan dirinya. "Dia lagi?! Kenapa siihhh Keluarga nya si Nia itu selalu ikut campur urusan orang lain?!" Ketus Nenek Dinda.
"Tidak Nek. Lita tidak ikut campur. Aku yang meminta Lita memberikan alamat Keluarga di Indonesia. Karena Aku yakin sekali setelah melihat Akun Sosmed milik Vero dan juga statusku yang ternyata anak Adopsi orangtua ku." Jelas Arby.
"Ceroboh sekali Fauzan dan Fatimah... Bisa-bisa nya nih anak menemukan surat-surat ini.." Batin Nenek Dinda makin cemas.
"Kemudian Aku ke rumah Om Lambok, dari sana Aku diantar kerumah Om Adrian. Makanya Aku diminta tes DNA oleh Om Adrian untuk membuktikan ucapanku." Mata Arby berkaca-kaca mengingat Adrian yang menangis setelah hasil tes menyatakan kalau Arby adalah keponakannya yang telah dinyatakan meninggal dunia 27 tahun kurang 3 bulan yang lalu.
Kakek Burhan menatap tajam ke arah Istri nya. "Tolong Bunda jelaskan semua ini?! Bunda bilang pada Adnan dan Gita, kalau Veri sudah meninggal dunia, tapi nyatanya?" Ayah Burhan sangat geram. Berpuluh tahun lama nya Mereka berpisah.
"Kenapa Ayah salahkan Bunda?! Me...mang kenyataannya Veri sudah tiada!" Bunda Dinda menutupi keresahannya dengan menghardik Suami nya.
"Cukup Bunda!! Bunda tidak bisa mengelak lagi!!" Tiba-tiba Adrian sudah berada di depan pintu Rumah Ayah Burhan.
"Adrian...!! Berani sekali Kau membentak Bunda!!" Bunda Dinda sangat terkejut.
"Adrian sudah menyelidiki semua nya Bunda. Lambok membantu Adrian, menyewa penyelidik tentang kasus Veri ini. Ternyata Bunda telah menjual Putera Adnan! Tega sekali Bunda! Harta membutakan mata hati Bunda!" Adrian sangat kesal dengan kelakuan Ibu Kandungnya, yang demi harta rela melakukan apa saja walau itu menyakiti hati anak-anaknya.
"Om... Sudah Om... Kasihan Nenek..." Arby mencoba menenangkan Adrian.
"Diam Kau!! Anak Sialan!! Kalau Kau tidak datang kemari, Aku tak disalahkan Keluargaku!!" Nenek Dinda histeris. Tubuhnya mengejang kemudian tak sadarkan diri.
"Bundaaaa!!!" Teriak Adrian dan Ayah Burhan.
________________________
"Kasus ini sudah tahap Pidana Pak, Karena Ibu Dinda memperjual belikan anak." Terdengar suara orang entah dimana.
"Tapi Pak, Beliau Orangtua Saya... Saya tahu ini kriminal, tapi Beliau sudah Tua." Terdengar suara Adrian.
"Aku ada dimana? Kenapa semua orang ingin menjebloskanku ke penjara? Gak... Aku gak mau dipenjara. Aku harus Kabur dari sini. Tapi Aku dimana?" Batin Bunda Dinda yang ternyata sudah sadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Sebaiknya Bapak ikut Saya, untuk memperjelas masalah ini. Keponakan Bapak juga ikut." Kata Orang itu.
"Om.... Jangan seperti ini. Aku gak mau Nenek di penjara. Aku ikhlas, selama ini Aku dirawat dengan baik oleh orang tua angkat ku." Arby memohon pada Petugas itu.
Suara-suara itu tak terdengar lagi oleh Nenek Dinda. Dia membuka matanya perlahan. Nenek Dinda melihat sekelilingnya. "Aku di Rumah Sakit. Dan ini...." Nenek Dinda mencabut jarum infus nya. Kemudian perlahan Dia turun dari brankar.
Nenek Dinda mengendap. Menutupi pakaian Rumah Sakit yang Dia kenakan dengan kardigan panjang. Hari sudah larut malam. Nenek Dinda menyusuri lorong Rumah Sakit yang sudah sepi.
"Mau kemana Bu, malam-malam?" Tiba-tiba seseorang menegur Nenek Dinda.
Jantung nya berdegub kencang. Perlahan Dia menoleh. "Saya mau cari makanan Nak, Cucu Saya, rewel minta makan." Alasan Bunda Dinda.
"Mari Nek, Saya antar. Di seberang ada Rumah makan yang masih buka." Kata orang itu.
Mau tak mau, Nenek Dinda mengangguk. "Terima kasih Nak." Nenek Dinda memegang lengan perempuan itu. Dia pikir lumayan, Ada tempat untuknya menahan dirinya yang masih sempoyongan. Sesekali Dia menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Om... Nenek gak ada di kamar!" Arby setengah berteriak.
"Apa?! Bagaimana bisa? Adrian segera masuk kedalam ruang perawatan Bunda nya. Ya ampuuunnn... Bundaaaaaa...." Adrian terlihat cemas. Jarum infus Bunda Dinda tergeletak di lantai dengan cairan yang terus menetes.
"Cepat Kita cari! Bunda tak mungkin jalan jauh. Kondisinya masih lemah!" Seru Adrian.
Benar saja, Sesampai nya di taman menuju jalan raya, Adrian melihat Bunda nya dituntun seseorang. Adrian hapal betul postur tubuh Bunda nya dan kardigan yang dipakai.
"Bundaaaaa!!!" Panggil Adrian.
Bunda Dinda tercekat. "Nak... Tolong bawa Nenek yang jauh dari sini..."
"Apa Nek?! Kata Nenek tadi mau cari makan?" Perempuan itu terlihat bingung.
Tanpa pikir panjang, Nenek Dinda melepas pegangannya dan berlari dengan tubuh nya yang lemah.
"Neeeekkkk.... Awaaaassss....!!!" Teriak perempuan itu, manakala sebuah mobil pick up melaju dengan kecepatan tinggi karena jalan yang begitu lengang.
Buuuuuggghhhh......
Tak ampun lagi, tubuh renta Nenek Dinda terpental jauh. Dan mobil yang menabrak pengemudinya nampak panik, Akhir nya melarikan diri.
Perempuan itu sempat melihat plat nomor mobil pick up itu dan mengingat nomor polisi nya.
__ADS_1
"Bundaaaa...!!!!!" Adrian histeris.
"Neneeeeeekkkk....!!!!" Arby juga histeris.
___________________________
"Huk.... huk.... huk.... Nenek.... huk... huk... huk...." Vera menangisi jasad sang Nenek.
Vero tak dapat berbuat apa-apa, tubuh nya lemah terbaring di kasur kamar nya. Airmata nya menetes tapi suara nya serasa hilang.
Para pelayat membawa jenazah Nenek Dinda ke pemakaman setelah dishalatkan.
Beberapa orang Polisi masih sibuk menginterogasi Arby dan Adrian. Dan akhirnya Mereka juga ikut ke pemakaman.
Adrian sangat kaget melihat kondisi Vero, sesaat pulang dari pemakaman. "Kenapa kondisi Vero sampai seperti ini, Ayah? Bukankah Adnan meninggalkan banyak harta untuk Putera Puteri nya? Kenapa Ayah terlihat seperti orang yang tidak mampu membawa Vero ke Rumah Sakit Specialis?!" Adrian nampak kecewa.
"Maafkan Ayah, Nak.... Ayah tidak tegas terhadap Bunda mu.... Bunda yang mengatur semua pengeluaran Keuangan. Ayah beberapa kali meminta Bunda membawa Vero ke Rumah Sakit milik Nindi, tapi Bunda mu menolak." Ayah Burhan terlihat begitu menyesal.
Arby sangat ngenes melihat kondisi Keluarga yang selama ini Dia cari. Pikirannya kepada Lita yang ikut menderita karena tidak ada restu dari Nenek nya akan hubungannya dengan Vero, saudara kembar nya.
Tanpa pikir panjang, Adrian memutar nomor telpon Nindi. Dan meminta Nindi membawa Ambulance ke Rumah Sang Ayah.
Nenek Nia dan Keluarga besar memang melayat saat Jenazah Nenek Dinda di semayamkan di rumah, tapi Mereka tidak tahu dengan keadaan Vero. Karena yang Mereka tahu, Vero telah menikah di Pulau seberang dengan anak konglomerat pengusaha batu bara terkenal.
Maka nya Nindi sangat tidak percaya setelah mendapat berita dari Adrian tentang kondisi Vero.
Nindi menangis melihat kondisi Vero yang sangat kurus dengan kepala plontos dan muka pucat. Kamar Vero dipenuhi lukisan-lukisan wajah Lita. Nindi melepaskan beberapa lukisan arsiran pensil pada kertas dan memasukan kedalam tas nya.
Vera memeluk tubuh Nindi, meminta Nindi mengobati Abang nya. "Insyaa Allah Sayaang... Auntie akan berusaha yang terbaik. Kamu doakan Abangmu yah...."
"Ayah... Nindi minta untuk ketenangan pengobatan Vero, untuk beberapa hari ke depan gak usah dijenguk, Ayah juga masih masa berkabung Bunda." Pinta Nindi.
"Iya Nak... Terima kasih... Ayah mohon maafkan semua kesalahan Keluarga Ayah...." Ayah Burhan menangkupkan kedua tangannya pada Nindi.
"Jangan Ayah... Jangan seperti ini. Kami sekeluarga gak pernah menyimpan dendam sedikit pun pada Keluarga Ayah." Kata Nindi yang juga ikut menangis.
Marcel merangkul bahu Nindi, memberinya kekuatan. "Kita berangkat sekarang, kasihan Vero." Kata Marcel yang diangguki Nindi.
FLASHBACK OFF
__ADS_1