
Astrid menangis memeluk tubuh Lita. Lita memang menghubungi ponsel Astrid menggunakan ponsel Tristan setelah Mereka berada di Rumah Sakit terbesar di Singapura.
"Alhamdulillaah Ya Allah...." Kata Astrid.
"Ibu...." Caca menarik gamis Lita.
Astrid melerai pelukannya. "Dan gadis kecil ini?" Astrid berjongkok menyamai tinggi nya dengan Caca.
"Dia Puteri Ku..." Kata Lita.
Astrid tersenyum. Dia paham dengan yang dikatakan Lita. Karena Lita sudah menceritakan pada Astrid kalau Dia sudah menikah.
Astrid awal nya terkejut karena bukan Leo yang menjadi Suami Lita. Lita mengatakan kalau Dia jatuh cinta pada Caca dan tak ingin berpisah dengan gadis cilik itu.
Lita menggendong Caca dan membawa nya duduk. Astrid mengikuti nya. Sedangkan Arham sudah kembali ke rumah Mereka setelah mengantar Astrid menemui Lita bersama Puteri Mereka.
"Lalu bagaimana dengan Dokter Leo?" Tanya Astrid.
"Dia sangat marah. Tapi Aku yakin, suatu hari nanti Dia pasti akan mengerti." Kata Lita.
"Tapi kan Kamu nanti juga bisa punya anak dari Leo, Lita! Kenapa Kamu harus mengorbankan cinta Kalian?!" Astrid tak habis pikir.
"Tadi kan Aku sudah bilang, Aku sudah jatuh cinta pada Malaikat kecil Ku ini." Lita mencium pipi Caca. Caca balas mencium pipi Lita.
"Kak..." Panggil Tristan yang dari tadi sibuk mengurus administrasi Rumah Sakit untuk Krisna.
"Ya Dek..." Sahut Lita.
Tristan mencium punggung telapak tangan Astrid. "Kak Astrid, kapan datang?"
"Baru saja, Dek. Ada apa Dek?" Tanya Astrid.
"Di Rumah Sakit ini ada stok ginjal, tapi sedang di cek, cocok atau tidak dengan ginjal Kak Krisna." Jelas Tristan.
"Alhamdulillaah.... Semoga cocok ya... Ya Allah... Tolong Kami..." Lita menengadah.
"Aamiin..." Kata Astrid dan Tristan.
"Dek, Bagaimana dengan kuliah Mu?" Tanya Lita khawatir.
"Kakak tenang ya. Aku sudah menghubungi sahabat Ku, minta tolong mengurus cuti Ku satu semester ini." Kata Tristan.
"Tapi Dek.... Mama dan Papa???" Lita terlihat khawatir.
"Kakak tenang ya. Nanti Aku yang bicara sama Mama dan Papa." Tristan mencoba menenangkan Lita.
Lita menghela nafas.
__ADS_1
_____________________________
Sudah sebulan sejak transplantasi ginjal untuk Krisna. Selama itu Lita mengurus Krisna, membersihkan tubuh Krisna kala waktunya mandi.
Awal nya Lita merasa canggung karena baru kali ini melihat tubuh seorang laki-laki. Dan itu tubuh Suami nya, Krisna.
Selama Lita menjadi Dokter, Dia kebanyakan menangani pasien tanpa harus melihat tubuh pasien nya. Karena saat itu Lita masih menjadi Asisten Dokter Oliver.
Saat mengobati Vero juga, perawat laki-laki yang memandikan Vero.
Keadaan Krisna masih koma, namun kondisi ginjal nya juga masih dalam tahap penyesuaian. Lita selalu memanjatkan Doa demi diangkatnya penyakit Suami nya.
Caca terkadang dibawa pulang oleh Astrid, karena pihak Rumah Sakit melarang anak di bawah umur berlama-lama di Rumah Sakit.
"Ca... Ca...." Krisna bersuara. Lita yang sedang memasangkan pakaian untuk Krisna terkejut tapi bahagia.
"Kak... Ya Allah... Alhamdulillaah..." Lita menengadah.
"Ca... Ca..." Gumam Krisna lagi.
Lita mengelus wajah Krisna dengan lembut. Lita sudah memencet bel ke ruangan Dokter. "Caca baik-baik saja Kak. Dia gak boleh lama-lama disini." Kata Lita yang mengecup kening Krisna.
Seorang Dokter dan Perawat masuk. "Ada apa Nyonya Krisna?" Tanya Dokter.
"Suami Saya membuka suara, Dok." Kata Lita dan langsung menyingkir memberi ruang untuk Dokter memeriksa keadaan Krisna.
"Puji Tuhan. Tuan Krisna telah melewati masa kritisnya. Seperti nya ginjal nya sudah beradaptasi dengan tubuh Tuan Krisna." Kata Dokter.
"Saya sudah memberi Tuan Krisna, obat. Biarkan Beliau istirahat." Pinta Dokter.
"Iya Dokter, Terima kasih." Kata Lita dengan senang. Lita mengantar Dokter keluar ruang rawat Krisna. Lita menutup pintu dan langsung mendekati Krisna.
"Alhamdulillaah... Kak, cepat sehat yah. Puteri Kita menunggu Mu." Lita mengecup kening Krisna.
Tangan Krisna menyentuh lengan Lita. "Sa... yang..." Krisna membuka matanya.
"Ya Sayang..." Lita tersenyum tulus.
"A...ku... men...cin..taimu..." Kata Krisna terbata.
Lita kembali mencium kening Krisna. "Aku juga mencintai Kakak." Lita menelan saliva nya. Lita masih mencoba membuka hatinya untuk Krisna. Lita mencoba untuk ikhlas.
____________________________
"Ayaaaahhhh...!!!" Caca berlari dan langsung naik ke brankar Krisna. Tristan membantu Caca naik ke brankar.
Krisna sedang disuapi oleh Lita saat Caca dan Tristan datang.
__ADS_1
Caca langsung memeluk Krisna dan menciumi wajah Krisna. "Ayah jangan cakit lagi... Caca tangen Ayah..." Rengek Caca.
Krisna menciumi wajah Caca. "Maafkan Ayah, ya Sayang..."
"Tristan... Kakak minta maaf ya... Gara-gara Kakak, kuliah Mu jadi pending." Kata Krisna merasa bersalah.
"Jangan bilang gitu Kak. Kakak kan Kakak Ku, jadi Aku harus mementingkan Keluarga Ku. Study Ku masih bisa Ku kebut nanti." Canda Tristan.
"Ya Allah.... Ijinkan Aku menjadi anggota Keluarga Istri Ku lebih lama lagi." Batin Krisna. Dia mengusap kepala Tristan dengan lembut.
"Sayang.... Kamu gak nakal kan? Gak bikin Ibu susah?" Tanya Krisna pada Puteri nya.
"Dak dong Ayah.... Caca kan cayang cama Ibu..." Celoteh Caca lucu.
Lita tersenyum. "Caca sangat penurut dan pengertian Kak. Sekali pun gak pernah membantah Aku." Kata Lita.
"Ibu...." Panggil Caca seraya mengulurkan tangannya kearah Lita.
"Ya Sayaaang...." Lita menyambut uluran tangan Caca.
"Assalamu alaikum...." Tiba-tiba Astrid dan Arham juga Puteri Mereka masuk ke Ruang Perawatan Krisna.
"Wa alaikumussalaaam..." Jawab Lita, Krisna dan Tristan juga Caca.
Lita memeluk Astrid. Arham menyalami Krisna dan Tristan. Astrid mencubit gemas pipi Caca.
Krisna mengerutkan keningnya. "Sayaang... Di sini Kamu kenal Orang?" Tanya Krisna heran.
Lita tertawa kecil. "Oh ya Kak, Aku lupa. Ini Astrid, sahabat Aku waktu kuliah di Negara J. Ini Suami Astrid, Kak Arham." Lita memperkenalkan Mereka pada Krisna.
"Jadi selama Aku merawat Kakak disini, Caca dan Tristan pulang ke rumah Mereka, Kak." Jelas Lita.
"Lita dan Tristan adalah saudara Ku, Kak Krisna." Kata Astrid tersenyum. "Dan gadis kecil yang cantik ini, keponakan Aunty, ya kan Sayang?" Canda Astrid.
"Ya Aunty... Dan ini Adik kecil Caca..." Caca memeluk anak Arham dan Astrid.
"Kita semua bersaudara, Krisna." Kata Arham menambahkan.
Mereka tertawa bahagia. Krisna merasa terharu. "Ya Allah... Terima kasih karena Engkau memberikan Puteri Ku Keluarga yang utuh." Batin Krisna.
"Ada apa Kak?" Tanya Lita khawatir melihat raut wajah Krisna yang mendung.
"Gak apa-apa Sayang. Aku bahagia memiliki Kalian. Seandai nya saja Aku bisa diterima oleh kedua Orangtua Mu...." Gumam Krisna.
Lita menunduk. Untuk sesaat Lita melupakan perihal Kedua Orangtua nya.
"Papa dan Mama pasti akan menerima pernikahan Kakak dan Kak Krisna." Tristan menyela.
__ADS_1
"Benar Krisna. Om Lambok dan Tante Tia, Mereka Orangtua yang sangat baik. Perlahan saja memberi pengertian pada Om dan Tante." Usul Arham.
Lita merangkul bahu Suami nya. Mengelus bahu nya dengan lembut. "Cepatlah sehat, Kak. Aku akan membawa Kakak kepada Mama dan Papa." Janji Lita.