CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Atala Menerima Diandra?


__ADS_3

Mobil Lambok memasuki pekarangan rumah Tante Dewi.


Diandra turun duluan bersama Lita.


"Kak... Ingat kataku tadi." Lambok mengingatkan.


Diandra mengangguk. Lambok tadi di perjalanan meminta pada Diandra untuk membiarkan Lambok yang bicara pada Tia. Dan Diandra menyetujuinya.


"Papa... Papa..." Tristan sudah berada di depan pintu. Dia mengangkat tangannya minta digendong Lambok.


Lambok tersenyum dan langsung menggendong Tristan. Rasa penatnya hilang manakala bertemu buah hatinya.


Tapi raut wajah khawatirnya tak dapat tertutupi dari pandangan Tia. Tia sangat paham dengan situasi hati Suaminya.


"Assalamu alaikum..." Salam Diandra, Lambok dan Lita.


"Wa alaikumussalaam..." Sahut yang ada di dalam rumah.


Tia memberikan minum pada Lambok. "Vita... Tristan tolong dibawa dulu. Kasihan Papa letih." Pinta Tia.


"Iya Ma..." Vita segera beranjak dari ruang tivi dan mengambil Tristan dari gendongan Lambok.


Lambok meminum air yang diberikan Tia.


"Ada apa Sayang? Kenapa Kamu terlihat khawatir?" Tanya Tia.


Lambok tersenyum. Bagaimana pun Dia mencoba menutupi dari Tia, Tia akan sangat tahu.


"Keatas yuk, Yang." Ajak Lambok yang segera menggandeng tangan Tia.


"Tante... Aku mau ke kamar ya. Aku mau pacaran sama Istriku." Canda Lambok.


Fathir hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar perkataan Lambok. Atala menepuk bahu Fathir. "Sudah gak aneh lagi." Canda Atala.


Tante Dewi hanya tersenyum dengan ulah Lambok. "Papa mu gak pernah berubah, senang sekali menggoda Mama Kamu." Kata Oma Dewi.


Vita, Lita dan Atala tersenyum. Membenarkan perkataan Oma Dewi.


Diandra langsung memeluk Atala setelah melihat Lambok mengajak Tia keatas.


Atala sangat heran dengan perlakuan Diandra. Diandra menciumi Atala. "Ada apa Ma?" Tanya Atala yang melihat mata Diandra sudah berkaca-kaca.


Oma Dewi juga heran melihat Diandra yang seperti sedang melepaskan kerinduan pada Atala.


"Biarkan seperti ini Nak... Mama sangat merindukanmu." Pinta Diandra.


Atala akhirnya pasrah dengan perlakuan Diandra.


Di lantai atas.


Lambok mengajak Tia ke balkon kamar yang biasa Lambok tempati jika sedang menginap di rumah Tante Dewi.


"Sayaaang...." Panggil Lambok yang segera memeluk tubuh Tia dari belakang.


Tia memutar tubuhnya. Kini wajah Tia dan Lambok sangat dekat. Tia menatap manik mata Lambok. "Ada apa Sayang?" Tanya Tia.

__ADS_1


Lambok menghela nafas. "Aku bingung darimana harus memulai." Kata Lambok.


"Apa Kamu sedang memikirkan perasaanku?" Tanya Tia.


Lambok mengangguk.


Tia menghela nafas. Tia mencoba meredam debaran jantungnya untuk siap mendengar berita dari Lambok.


"Ada apa tadi Kak Diandra keluar rumah?" Tia langsung pada inti.


"Kak Diandra mengenal Pak Rahman." Kata Lambok.


"Pak Rahman yang ada di cikarang? Mantan RT?" Tanya Tia tak percaya.


Lambok mengangguk.


"Lalu apa hubungannya dengan Kak Diandra? Darimana Kak Diandra mengenal Pak Rahman?" Tanya Tia.


"Pak Rahman bekerja sebagai security di gedung tempat Kak Diandra bekerja." Jelas Lambok.


"Lalu?" Tia tak sabar seakan Lambok hanya mengulur waktu dan banyak bertele-tele.


"Sayaaang.... To the point saja. Aku gak apa. Apa ini masalah Atala?" Tia langsung menskak Lambok.


Lambok tercengang. Dia langsung menghela nafas dan mengangguk.


"Ceritalah..." Pinta Tia lembut yang seakan tegar menerima kenyataan yang akan diutarakan Suaminya.


"Atala Putera Kak Diandra...." Akhirnya Lambok mengucapnya.


Tia yang sedang berdiri dihadapan Lambok langsung terkulai lemas. Lambok langsung memeluknya. Lambok menggendong tubuh Tia masuk ke kamar dan merebahkan ke atas ranjang.


"Sssttt... Sayang... Tidak seperti itu. Kak Diandra sangat mengerti perasaanmu. Tadi di perjalanan Kakak sudah ikhlas, Dia cukup bahagia mendapat kenyataan Puteranya masih hidup dan tumbuh sebagai pemuda yang shaleh, baik dan bertanggung jawab. Kakak juga sangat bersyukur dan berterima kasih karena Kamu yang mengasuhnya selama ini." Jelas Lambok.


Tia terperanjat tak percaya dengan penuturan Lambok. Tia mengusap airmatanya. "Kak Diandra bilang begitu?"


Lambok mengangguk dan mengusap wajah Tia lembut.


"Tidak... Aku gak boleh seperti ini. Kasihan Kak Diandra yang selama ini begitu merindukan Puteranya. Aku sudah punya Twins dan Tristan." Kata Tia menghibur diri. Tia sadar walau bagaimanapun juga, Atala dan Diandra berhak bahagia.


"Dan Kita bisa menambahnya lagi, jika Allah masih memberinya." Canda Lambok.


Tia mencubit perut Lambok. "Iiisshhh Kamu tuh ya." Tia tersipu malu.


"Aku gak pernah bosan melakukannya denganmu, Sayang." Lambok mencumbu Tia.


"Iya... tapi gak disini juga, Sayang. Malu sama Tante dan Kak Diandra." Kata Tia.


Lambok terkekeh. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Lambok mengangkat bahu Tia agar duduk. "Kita ke bawah yuk. Kasihan, Atala pasti sangat bingung." Ajak Lambok.


Tia tersenyum. Tia mengecup bibir Lambok lembut.


"Tuh kan Kamu mancing-mancing." Canda Lambok.

__ADS_1


"Iihhh Apaan sih? Aku bukan mancing, tapi Aku sangat bersyukur memiliki Kamu." Tia mengrucutkan bibirnya.


"Hahahaha..." Lambok tertawa berhasil menjaili istrinya. Lambok membalas kecupan Tia dan menututnya dalam.


Tak lama. Lambok mengusap bibir Tia yang sedikit bengkak.


Lambok menggandeng tangan Tia keluar kamar dan membawanya kebawah keruang keluarga.


"Mama....!" Atala berhambur pada Tia. Atala sangat bingung dengan sikap Diandra. Atala memeluk tubuh Tia erat.


"Ada apa Sayang? Kenapa Kamu terlihat khawatir?" Tanya Tia yang sangat tahu betul sifat Atala.


"Mama Diandra, Ma." Atala berbisik.


Tia tersenyum. Tia melerai pelukan Atala dan merangkul pinggang Atala. Tia membawa Atala duduk ke ruang keluarga.


"Sayaaang... Selama ini Kamu mencari Orangtua kandungmu, kan?" Tanya Tia lembut sambil menangkup pipi Atala.


Atala mengangguk. "Tapi Ma... Kita kan sudah mendapat beritanya." Atala menunduk.


Tia tersenyum dan mengangkat wajah Atala. "Kamu lihat Mama." Pinta Tia.


"Ternyata Mama kandung Kamu masih hidup selama ini. Kamu juga punya Papa dan Oma serta Opa. Kamu bukan anak haram seperti yang Kamu bilang dulu." Kata Tia lembut.


Diandra terperanjat mendengar perkataan Tia. Diandra menatap Lambok. Lambok merangkul bahu Diandra dan mengelusnya.


"Lalu dimana orangtua Atala, Ma? Atala ingin bertemu Mereka." Mata Atala sudah berkaca-kaca. Atala tak sanggup lagi menahan gejolak hatinya.


Tia mengusap airmata Atala yang sudah terlanjur jatuh ke pipi.


"Mama mu ada sama Kita saat ini, Sayang." Tia tersenyum.


"Maksud Mama?" Atala mengerutkan keningnya.


Tia mengangguk. Tia juga tak dapat menahan airmatanya untuk tidak jatuh ke pipi.


Atala mengusap pipi Tia lembut. Tia tersenyum.


"Mama Diandra adalah Mama Kandung Kamu." Kata Tia.


Atala terperanjat. Oma Dewi, Fathir dan Vita juga tak kalah terkejutnya.


"Apa Ma?! Benarkah?! Tapi bagaimana bisa?" Tanya Atala.


Diandra menghampiri Atala. Dia berjongkok dihadapan Atala. "Mama jangan dibawah." Kata Atala yang segera mengangkat tubuh Diandra.


Tia menyingkir dari sana dan duduk di sebelah Lambok. Lambok langsung merangkul bahu Tia. Tia membenamkan wajahnya ke dada Lambok. Lambok mengusap punggung Tia. Tia terdengar terisak.


"Kamu ingat tanda lahir Kamu, yang Mama bilang sama dengan Putera Mama?" Tanya Diandra yang kini sudah duduk disebelah Atala dan menghadap ke Atala.


Atala mengangguk.


"Waktu pertama kali Kamu lahir ke dunia, Mama menggendongmu. Mama memperhatikan semua yang ada ditubuhmu, sebelum perawat membawamu untuk membersihkanmu. Mama juga menyusuimu setelah perawat sudah membersihkanmu." Cerita Diandra.


"Tapi esok hari, pas Mama akan menyusuimu kembali, Perawat memberikan bayi pada Mama yang berbeda. Awalnya Mama ingin protes, tapi Mama mendengar ada keributan kalau salah seorang pasien yang bersalin juga, telah kabur membawa bayinya. Dan saat itu Mama hanya diam. Tapi Mama juga sempat diam-diam menyelinap ke dalam kamar Bayi untuk mencarimu. Tapi tidak ada." Diandra mulai menangis.

__ADS_1


"Mama tak dapat berbuat apa-apa. Mama juga tak bilang pada Papamu, Oma dan Opa. Mama takut Papa mu akan marah sama Mama dan meninggalkan Kita. Hik...hik..hik... Diandra masih terisak.


Atala memeluk tuhuh Diandra. "Sudah Ma... Jangan diteruskan." Atala pun menangis.


__ADS_2