CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Pulang Kampung Bersama


__ADS_3

Seperti yang telah dijanjikan Lambok. Akhir pekan Mereka sekeluarga, termasuk Oma Dewi pulang ke Sumatera.


Kali ini Eyang nya Fathir juga ikut serta karena Lambok mengajaknya. Mereka pun dengan senang hati menerima ajakan Lambok. Mereka juga merindukan Anak, menantu dan cucu-cucu Mereka.


Mereka terlihat bahagia berkumpul di bandara Suta. Sebentar lagi pesawat Mereka take off.


Dua Jam Kemudian.


"Kok Kita gak ada yang jemput, Pa?" Tanya Lita.


Lambok tersenyum. "Kita memang sengaja tidak mengabari Nenek, Mama Fitri juga Auntie Nindi. Ini surprise untuk Mereka." Kata Lambok.


"Ooohhh..." Semuanya mengangguk. Lambok sudah membooking minibus Bandara untuk membawa Mereka ke kampung Ibu nya Tia.


Mereka sangat banyak membawa oleh-oleh untuk sanak saudara Mereka di kampung.


Di Kampung.


Nindi terlihat melamun. Dia sangat merindukan Atala dan Twins juga Fathir. Nindi juga belum sempat bertemu anak Kakaknya yang bungsu, Tristan.


Usia Tristan terpaut 7 bulan dengan Puterinya, Cellin Fatimah.


Marcel tiba-tiba sudah memeluk tubuh Nindi dari belakang. "Heeyyy... Kenapa melamun? Ada masalah apa?" Tanya Marcel yang kini sudah menjadi Dokter di Rumah Sakit yang Mereka bangun bersama Lambok dan Fahmi.


Mereka membangun Rumah Sakit untuk kalangan Umum. Bagi Mereka yang tak mampu, Mereka akan cepat membantu. Keuntungan Perusahaan Wijaya yang pindah tangan ke Tia pun selalu memberikan keuntungan Mereka untuk menyokong Rumah Sakit.


Nindi menyeleksi setiap Dokter atau Staf yang ingin bekerja di Rumah Sakit Mereka. Mereka harus memiliki Jiwa sosial yang tinggi, Jujur dan mau berbagi.


"Aku merindukan Kakakku...." Kata Nindi.


Marcel memutar tubuh Nindi agar menghadapnya. "Kenapa Kita tak mengunjungi Mereka saja?" Usul Marcel.


"Tapi bagaimana dengan Rumah Sakit?" Tanya Nindi.


"Kamu harus mulai percaya dengan kinerja karyawan Kamu." Kata Marcel.


Nindi tersenyum. "Aku hanya ingin Mereka yang tidak mampu dapat ditangani dengan cepat dan benar." Kata Nindi.


"Aku sudah menaruh orang kepercayaanku di Rumah Sakit. Insyaa Allah dia amanah." Kata Marcel.


Nindi memeluk tubuh Marcel. "Aku mencintaimu..." Kata Nindi.


"Aku juga mencintaimu." Balas Marcel dengan kecupan di bibir.


"Auntieee.... Assalamu alaikum...!!" Tiba-tiba Nindi mendengar suara Atala.


Nindi menggeleng. "Pasti Aku berhalu." Batin Nindi.


Marcel pun terlihat bingung dengan reaksi Nindi yang tak menyaut teriakan Atala.


Nindi melihat wajah Marcel. "Ada apa?" Tanya Nindi.


"Apa Kamu tak mendengar?" Tanya Marcel.


"Aku mendengar suara Atala. Tapi Aku pikir sedang berhalu." Kata Nindi.


"Tapi... Masa halu Kita bisa sama??" Kata Marcel.


"Berarti..... Itu benar Atala?!" Nindi bergegas keluar dari Kamar. Nindi setengah berlari menuruni tangga.


"Atala...!!" Nindi mencari Atala. Marcel sudah berada di samping Nindi.


"Kalian cari siapa?" Tanya Ibu.

__ADS_1


"Atala Bu..." Kata Nindi dan Marcel berbarengan.


"Ibu gak lihat ada Atala." Kata Ibu bingung.


Nindi dan Marcel saling menatap. Mereka tertawa. "Hahahaha...."


Ibu terlihat bingung. Ibu hanya menggeleng kepala.


"Assalamu alaikum... Auntiee...! Uncle...! Nenek...!" Salam Atala dan Twins yang langsung berhambur memeluk Mereka.


"Ya Allah... Mereka benar-benar ada disini. Kita sedang tidak berhalu lagi, kan?" Tanya Nindi pada Marcel.


"Kayanya sekarang nyata." Kata Marcel yang mendapat pelukan dari Lita.


Atala memeluk Nindi, Vita memeluk Nenek.


"Auntie kenapa?" Tanya Atala.


"Auntie kira tadi Auntie dan uncle sedang berhalu merindukan Kalian." Airmata Nindi sudah jatuh ke pipi.


Atala langsung mengusap air mata Nindi dengan lembut.


"Assalamu alaikum..." Salam Lambok, Tia, Diandra, Oma Dewi dan Eyang Fathir.


"Wa alaikumussalaam..." Nindi, Ibu dan Marcel menjawab salam Mereka.


"Kok gak kasih kabar sih kalau mau datang?" Kata Ibu.


"Sengaja Bu. Kak Lambok mau kasih kejutan." Kata Tia.


"Tapi kan, Ibu jadi gak masak. Ya Allah... Ada besan juga." Kata Ibu yang segera menyambut Oma Dewi dan Eyang Akung dan Eyang Uti nya Fathir, juga Diandra.


"Silahkan duduk besan. Waahhh senang ini rame-rame pulang kampung." Canda Ibu.


Nindi langsung ke dapur ingin membuatkan minum.


Nindi tersenyum. "Ayo Kalian bantu Auntie." Ajak Nindi.


Atala mengikuti Nindi ke dapur. "Kamu kenapa ikut ke dapur." Tanya Nindi.


"Aku kangen sama Auntie." Manja Atala.


"Ooohhh.... Auntie juga merindukan Kamu, Sayang." Nindi memeluk kembali Atala.


Lita dan Vita membuat minum. Nindi menunjukan tempat cangkir, teh, gula juga cemilan.


"Auntie...." Panggil Atala.


"Ya Sayang." Sahut Nindi.


"Ternyata Mama Atala masih hidup." Kata Atala.


Nindi terperanjat. "Oh Ya?! Dimana sekarang." Kata Nindi.


"Ternyata Mama Kak Atala itu Mama Diandra, Auntie." Kata Lita.


"Subhanallaah..." Ucap Nindi.


"Kalian harus cerita sama Auntie, nanti." Kata Nindi.


Atala dan Twins tertawa. Mereka pun telah selesai membuat minum. Mereka membawa beberapa cangkir teh dengan 2 buah nampan.


Ibu tersenyum melihat cucu-cucu nya.

__ADS_1


"Fathir, mana?" Tanya Ibu.


"Tadi Fathir turun duluan di rumah Ibu. Dia kangen sama Mama nya. Mungkin nanti Fitri kesini kalau Fahmi sudah pulang." Kata Lambok.


Ibu tersenyum. Mereka pun berbincang dengan senda gurau, melepas kerinduan dan banyak cerita tentang kehidupan Mereka.


"Assalamu alaikum." Salam Fitri, Fathir, Fahri dan Farah.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Mereka.


Fitri dan anak-anaknya mencium punggung telapak tangan Orangtua Fahmi, Oma Dewi, Ibu dan Diandra.


"Fahmi mana?" Tanya Eyang Uti.


"Kak Fahmi belum pulang kerja Bun. Tapi tadi Fitri sudah kasih kabar. Kata Kak Fahmi, Kita disuruh duluan kesini, nanti Kak Fahmi langsung kesini dari kantor." Jelas Fitri.


Orang Tua Fahmi sangat bahagia melihat cucu-cucu Mereka, juga Fitri yang sudah berhijab.


"Gimana kabar Ayah dan Bunda?" Tanya Fitri.


"Alhamdulillaah... Kami Sehat-sehat saja. Lima hari yang lalu, Lambok mengabari Kami mau mengajak pulang kampung. Kami sangat senang sekali bisa silahturahmi kesini." Kata Ayah Fahmi.


Ibu, Fitri dan Semua yang ada disana tersenyum. Mereka pun melepas lelah sambil bercengkarama.


"Auntie... Besok kita ke sungai ya." Ajak Atala.


Nindi terperanjat. "Hahahaha... Auntie sudah tidak muda lagi, Sayang. Anak Auntie sudah besar-besar, belum lagi 2 anak Auntie." Canda Nindi.


"Please Auntie... Kita disini sampe hari senin pagi. Senin siang Kita balik ke Jakarta." Kata Atala.


"Oh iya ya. Kalian libur 4 hari ya? Jumat sampai senin." Kata Nindi.


"Ya Auntie, besok ke sungai ya." Rengek Twins.


"Iyaaa..." akhirnya Nindi menuruti kemauan Keponakannya.


"Kak Diandra, gimana kabarnya?" Tanya Nindi.


"Alhamdulillaah... Kakak sehat Nindi. Jauh lebih bahagia." Kata Diandra.


Nindi tersenyum. Nindi sudah tahu dari Atala kalau Kak Diandra adalah Ibu kandung Atala.


"Berarti habis ini Kita akan mengadakan perayaan lagi ya Tante?" Tanya Nindi pada Tante Dewi.


Diandra dan Tante Dewi nampak bingung.


Lambok tertawa. "Hahahaha.. Bener tuh Kak kata Nindi. Nindi... Kamu cepat tanggap ya..!" Canda Lambok.


Marcel juga tersenyum yang langsung menangkap arah pembicaraan Nindi dan Lambok.


"Aku jadi ada teman disini." Canda Marcel.


"Hahahaha....!" Tawa Lambok dan Marcel.


Diandra mengrucutkan bibirnya. "Aku gak ngerti ah. Mang Mama mau bikin perayaan apa? Kok Aku gak dikasih tahu?" Tanya Diandra.


"Mama juga gak tahu." Kata Oma Dewi.


"Ustadz Joey akan segera melamar Kak Diandra, Tante." Kata Lambok.


Diandra terperanjat. Diandra tersipu malu. Memang beberapa hari yang lalu, Diandra sudah setuju menerima lamaran Ustadz Joey.


Ustadz Joey juga sudah menghubungi Marcel meminta untuk membantunya. Marcel sangat senang bisa membantu Ustadz Joey.

__ADS_1


Sebelumnya Diandra juga meminta ijin pada Atala. Atala tak masalah, yang penting Mama nya bahagia.


Mereka semua tertawa bahagia mendengar berita baik ini.


__ADS_2