
"Assalamu alaikum Mommy...." Sapa Caca yang sedang melakukan panggilan Video dengan Lita.
"Wa alaikumussalaam Sayaaang Mommy... I miss You so much." Tatapan Lita begitu sendu. Sudah dua minggu Dia terpisah dengan Puteri kesayangannya.
"Kamu baik-baik saja kan, Nak?" Tanya Lita begitu cemas. Karena Tristan mengabari nya Caca masuk Rumah Sakit karena ngedrop, Caca kangen Lita.
"I miss You, Mommy... So much..." Balas Caca lemah.
"Maafkan Ibu, Nak... Ibu tidak bisa meninggalkan pasien Ibu disini..." Lita menangis. Dia serba salah, di satu sisi, Puterinya begitu merindukannya namun disisi lain tugas nya sebagai seorang Dokter yang sedang menangani pasien dengan penyakit serius, tidak dapat Lita tinggalkan begitu saja.
"Mommy... Kapan kesini, Aku rindu Mommy, Caca mau bobo sama Mommy..." Manja Caca.
"Sabar yah Sayang... Mommy juga sudah mengurus cuti dari seminggu yang lalu. Kamu ngerti kan?" Lita berharap.
Caca mengangguk dengan bibir mengrucut. "Caca sayang sama Mommy..." Caca mencium ipad nya yang terpampang wajah Lita.
"I miss you too, honey..." Balas Lita.
"Kak, sudah dulu yah... Dokter nya Caca mau periksa keadaan Caca." Kata Tristan tiba-tiba.
"Kakak mau ngobrol sebentar dengan Dokter nya Caca." Pinta Lita.
Tristan terlihat kikuk. Dia menoleh ke suatu tempat. "Baik Kak." Tristan memberikan ipad nya pada Dokter specialist anak yang menangani Caca.
"Bagaimana kondisi Puteri Saya, Dokter?" Tanya Lita.
Dokter anak itu tersenyum pada Lita. "Anda juga seorang Dokter, Bu. Anda lebih tahu bagaimana menangani Puteri Anda." Kata Dokter.
"Maaf Dok, tapi Saya juga sedang menangani pasien disini." Kata Lita, mata nya berkaca-kaca.
Dokter anak itu menghela nafas. "Puteri Anda kondisi nya baik-baik saja. Dia hanya perlu perhatian dari Ayah Bunda nya." Kata Dokter anak itu.
Lita menutup mulut nya. "Bagaimana mungkin Dia menghadirkan Ayah nya Caca yang sudah tiada." Batin Lita. Airmata Lita menetes.
"Maaf Dokter, Saya permisi. Puteri Anda sudah Saya beri vitamin agar tidak lemas." Pamit Dokter anak itu.
Lita mengangguk masih menutup mulutnya dan tetesan airmata yang jatuh ke pipi.
__ADS_1
__________________________
"Dokter Cantik... Ada apa? Anda terlihat sedih dan murung." Tanya pasien Lita yang sudah dua bulan ini Lita tangani.
"Haah... Eh... Tidak... Tidak apa-apa.." Lita mengusap airmata disudut mata nya.
"Dokter cantik cerita saja sama Saya, mungkin Saya bisa bantu?" Pasien yang sedang ditangani Lita seorang pemuda tampan, Usia nya sekitar 27 tahun, seumuran dengan Lita.
Lita menghela nafas. Dia tak ingin orang lain tahu akan masalah nya apalagi orang itu pasiennya sendiri. "Saya tidak apa-apa." Lita memaksakan senyumnya walau terasa hambar.
"Bagaimana kabar Puteri Dokter?" Tanya Pasien Lita lagi yang bernama Thomas.
Wajah Lita terlihat murung. Lita tak dapat menutupi lagi kerinduan pada Puteri nya, apalagi Caca sedang sakit. "Puteri Ku sudah dua minggu berada di Indonesia, sedang liburan." Lita sebisa mungkin masih menyembunyikan kondisi Caca.
"Indonesia.... Aku ingin sekali pergi kesana, tapi belum kesampaian. Indonesia Negeri yang Indah, penduduknya juga ramah tamah." Puji Thomas.
Lita tersenyum. "Memang Kamu sudah pernah ke Indonesia?" Tanya Lita.
Thomas menggeleng. "Rencana nya sebelum Saya tiba-tiba sakit, Saya berencana liburan ke Indonesia. Tapi ternyata Tuhan belum mengijinkan Saya. Saya banyak melihat di internet tentang Indonesia, makanya Saya sangat ingin pergi kesana." Jelas Thomas.
"Kondisi Mu jauh lebih baik sekarang. Asal ikuti saran Saya, berhenti merokok dan jauhi minuman berakhohol." Kata Lita.
"Tidak ada yang berat, kalau Kamu benar-benar ingin sehat... Sebenarnya Saya sudah mengajukan cuti. Saya merindukan Keluarga di Indonesia. Apalagi Saya baru saja mendapat berita kalau Puteri Saya masuk Rumah Sakit... Kemungkinan untuk dua minggu nanti, Kamu akan ditangani Dokter pengganti Saya." Jelas Lita.
Thomas terlihat kecewa, namun Dia juga tidak tega melihat Dokter Lita yang terlihat murung karena memikirkan Puteri nya.
"Saya harap, Kamu mengikuti saran Saya, Kamu cepat sehat dan bisa liburan ke Indonesia." Kata Lita.
Thomas mengangguk. "Saya akan melawan keinginan merokok dan minuman alkhohol." Thomas berjanji.
Lita tersenyum. Setelah selesai memeriksa keadaan Thomas, Lita pamit diri.
"Dokter Cantik...." Panggil Thomas saat Lita akan membuka pintu ruang perawatan Thomas.
Lita menoleh. "Ya Thomas?"
"Terima kasih.... Saya harap Dokter cepat kembali ke Negara J." Pinta Thomas.
__ADS_1
Lita tersenyum dan mengangguk.
____________________________
Dua hari kemudian.
"Mommyyyy.... Huk... huk... huk...." Caca menangis sangat memilukan saat Lita melakukan panggilan video dengan Caca.
"Ada apa Sayang? Kenapa menangis seperti itu?" Lita terlihat panik. Lita kaget karena Caca tak pernah menangis dengan sedih sekali setelah Ayah nya meninggal Dunia.
"Mommy.... Caca gak mau kehilangan Daddy Dokter... Caca gak mau Daddy Dokter meninggalkan Caca... Huk... huk... huk..." Caca masih menangis.
Lita mengerutkan keningnya. "Maksud Kamu apa, Sayang?" Lita nampak bingung.
"Mommy... Jangan biarkan Daddy Dokter menikah dengan perempuan lain.... Caca gak mau Daddy Dokter jauh dari Caca... Caca mau Daddy Dokter... Huk... huk... huk...." Caca tak berhenti menangis.
Lita menghela nafas. "Sayaaaang.... Caca gak boleh begitu, Nak... Biarkan Dokter Leo mendapat kebahagiaannya..." Lita menahan sesak di dada nya.
"Gak...!!!" Caca histeris. "Caca gak rela Daddy Dokter menikah bukan sama Mommy Caca... Caca cuma mau Ayah Daddy Dokter... Mommy...!!!" Caca histeris dan tak lama Caca tak sadarkan diri.
"Caca..!!" Panggil Lita dengan panik. "Ya Allah... Lindungi Puteri Ku... Tristaaannn..!!" Lita memanggil Tristan namun Tristan tak merespon. Lita langsung menghubungi ponsel Tristan.
"Dek...!!! Kamu dimana??! Caca pingsan!!!" Lita sangat panik.
"Ya Kak... Aku sedang bicara dengan Dokter nya Caca. Kakak tenang ya..." Terdengar nafas Tristan yang ngos-ngosan dan dentuman langkah lari nya di koridor Rumah Sakit.
"Kamu jangan lupa memberikan kabar kesehatan Caca, Dek. Kakak akan pulang hari ini..." Pesan Lita sebelum memutus sambungan telpon dengan Tristan dan mendapat jawaban dari Tristan.
Lita segera mengambil koper yang sudah Dia siapkan. Rencana nya memang Lita hari ini terbang ke Indonesia. Setelah Lita memohon pada pihak Rumah Sakit agar cuti nya disetujui.
"Ya Allah... Kenapa Puteri Ku begitu memaksa ingin Dokter Leo menjadi Ayah nya? Sedang Aku sangat mencintai Ayah Caca..." Batin Lita. Airmata nya menetes ke pipi. Entah mengapa hati nya begitu sakit mendengar Leo akan menikah dengan Wanita lain.
Berulang kali Lita menghembuskan nafas nya, membuang sesak di dada nya. Jantung nya berdebar manakala membayangkan Leo bersanding dengan Wanita lain.
"Ya Allaah... Kenapa seperti ini? Kenapa hati Ku tak rela Dokter Leo menikah dengan Wanita lain? Kak Krisna... Maafkan Aku...." Lita terus mengusap airmata nya.
Pesawat baru saja Take Off, membawa Lita terbang ke Negara Indonesia, kembali ke tanah air nya demi melepas kerinduannya pada Keluarga yang begitu menyayangi nya.
__ADS_1
Lita menggelengkan kepala nya. "Tidak.... Aku gak boleh egois... Dokter Leo akan bahagia jika menikah dengan wanita lain yang sempurna..." Batin Lita, tangannya mengelus perutnya yang rata. Airmata Lita lagi-lagi meluncur begitu saja mengingat ketidak-sempurnaan Lita sebagai seorang wanita.