
Seorang gadis duduk di sebuah batu besar dekat sungai tempatnya biasa memancing. Kali ini Dia tidak pergi memancing tetapi duduk termenung dibatu itu.
Dia menelungkupkan wajahnya dengan bertopang pada kedua lututnya. Terdengar isakan tangisnya.
"Ya Allah... Apa yang telah Aku lakukan? Aku menerima pinangannya tapi hatiku sendiri tak dapat menerima semua ini. Aku masih mencintai seseorang." Dia terus terisak.
Seseorang melihat itu semua dan mendengar perkataannya. Seseorang itu menghela nafas. Dia tak tega melihat adik kesayangannya menderita. Tapi apa boleh buat, orang yang dicintai adiknya tak juga memberinya keputusan.
Dia mengambil gambar adiknya itu dan mengirimkan pada seseorang. "Maafkan Kakak, Dek. Kakak sudah berusaha, tapi mungkin rencana Allah lain." Batin Lambok.
"Nindi...." Panggil Lambok. Seseorang itu adalah Lambok. Dia mencari adiknya dirumah tapi tak ditemukan. Istrinya memberitahu kalau Nindi pasti di sungai.
Lambok pergi ke sungai seorang diri tanpa sepengetahuan anak-anaknya.
Nindi mendongak. Gadis yang menangis di atas batu itu memang Nindi. Sejak lamaran Marcel, Nindi terlihat murung. Dia menyetujui lamaran Marcel karena tak ingin lagi membuat Ibu nya kecewa.
Usia nya yang sudah menginjak 29 tahun, membuat Ibu nya selalu menanyakan kapan Dia menikah.
"Kak Lambok..." Nindi mengusap airmata nya dengan punggung telapak tangannya.
Lambok mengelus kepala Nindi. Lambok menggeleng meminta Nindi untuk tidak bersedih. "Maafkan Kakak, Dek. Kakak gak bisa berbuat apa-apa untuk Kamu." Lambok memeluk tubuh Nindi yang sudah berdiri karena melihat Kakak kesayangannya sudah berada di depannya.
Nindi menangis. Dia menumpahkan seluruh kesedihannya pada Lambok.
"Menangislah sesuka hatimu. Puaskan kesedihanmu. Tapi Kakak ingin kamu berjanji, setelah menikah nanti, tak ada lagi airmata yang Kau tumpahkan." Kata Lambok yang terus mengelus punggung Nindi.
Dua hari lagi Nindi akan menikah dengan Marcel. Ibu sudah melarang Nindi untuk keluar rumah, tapi Nindi tak pernah menghiraukannya.
"Apa Aku bisa menerimanya, Kak? Apa Aku bisa mencintainya?" Nindi sesegukan dalam dekapan Lambok.
"Insya Allah seiring berjalannya waktu, kalau Kamu ikhlas, Kamu akan bisa mencintainya." Lambok melerai pelukannya dan menghapus airmata Nindi.
"Kalau Kamu terus menangis, Nanti Kak Tia akan sedih dan menghentikan pernikahan ini. Dan Ibu pasti akan sangat kecewa pada Kamu." Canda Lambok.
Nindi mengangguk. Nindi memang merasa nyaman jika bersama Lambok. Baginya Lambok adalah Kakak dan juga Ayah untuk Nindi.
"Ayo Kita pulang. Nanti Ibu akan cemas." Pinta Lambok.
__ADS_1
"Aku mau nangkep ikan dulu Kak, Aku mau menghilangkan sembab dimataku." Kata Nindi.
"Ya sudah, Kakak temani ya. Kakak gak mau nanti Kamu terbawa arus, bisa patah hati Marcel nanti." Canda Lambok.
"Iisshh Kakak... Aku jago berenang tahu. Gak akan terbawa aruslah. Kakak balapan sama Aku nangkap ikan, kalau berani." Tantang Nindi.
"Ayooo.. Siapa takut." Jawab Lambok.
"Tapi Nindi ingat yah..." Kata Lambok.
"Apa Kak?" Nindi nampak bingung.
"Kamu gak muda lagi. Gak selincah dulu." Goda Lambok.
"Iiissshhh... Sok tau Kakak... Ayo Kita buktikan. Kakak juga ingat... Sudah punya anak tiga..." Nindi melewekan lidahnya pada Lambok.
"Hahahaha..." Lambok tertawa. Lambok senang akhirnya bisa melihat adik kesayangannya tertawa lagi.
__________________
Sepuluh menit sebelum adzan Dzuhur, Lambok dan Nindi sudah berada di rumah Ibu. Mereka membawa banyak Ikan dengan baju basah kuyup.
"Bu......" Tia mengedipkan matanya pada Ibu. Tia tak ingin Nindi bersedih karena terus diomeli Ibu. Tia juga tahu Nindi abis menangis walau ditutupi dengan berenang menangkap Ikan.
"Dek... Kamu mandi dulu sana. Kita shalat berjamaah." Pinta Tia.
"Iya Kak." Kata Nindi mengangguk.
"Sayaang... Kamu juga sana mandi. Sebentar lagi adzan. Siapa yang akan mengimami Kita?" Tia tersenyum pada Suaminya.
Lambok mengecup pipi Tia. Tia tersenyum. "Biar ini Aku yang bawa." Kata Tia yang segera membawa ikan-ikan hasil tangkapan Nindi dan Lambok.
"Lalu mau diapakan ikan-ikan ini, Tia?" Tanya Ibu.
"Bu... Besok kan pengajian jelang pernikahan Nindi. Kan bisa dihidangkan untuk makan sesudah pengajian." Kata Tia bijak.
"Ya siihh... Ibu gak abis pikir, adikmu itu mau sampai kapan seperti ini." Ibu masih kesal.
__ADS_1
"Bu... Sudah yah... Kasihan Nindi. Dia sedang mencoba menerima kenyataan ini. Dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak Nindi cintai." Kata Tia lembut. Tia tahu betul perasaan Nindi.
"Iya nih Ibu, ngertiin sedikit Nindi, Bu. Kasihan kan Nindi. Memang umurnya sudah lebih dari cukup tapi kan gak seharusnya kita memaksakan kehendak Kita." Fitri ikut mengomentari.
Ibu menghela nafas. Ibu tak dapat bicara apa-apa lagi. Ibu tak ada maksud untuk memaksa Nindi menikah tapi mengingat umur Nindi yang sudah 29 tahun dan guncingan tetangga yang selalu membicarakan Nindi yang sudah berumur cukup untuk menikah tapi belum juga menikah.
Adzan dzuhur berkumandang. Lambok sudah bersiap di musholah. Tak lama seluruh keluarga sudah berkumpul. Mereka pun melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
___________________
Esok hari nya.
Pengajian digelar sesudah Ashar. Nindi mengaji sesuai yang diminta ustadzah yang memimpin pengajian.
Marcel sudah berada disana sejak pagi. Dia ingin menghadiri pengajian karena Dia sebatang kara disini, jadi pengajian untuk Marcel digabung dengan pengajian Nindi.
Setelah Nindi selesai mengaji, Marcel melanjutkan bacaan Nindi. Acara pengajian sangat khidmat dilaksanakan.
Lambok tak henti-henti mengambil video Nindi dan Marcel. Tia, Fitri, Riris, Kak Mia, Istri Feri, Twins dan Farah duduk mengikuti pengajian. Sedangkan para lelaki berada di luar rumah bersama Marcel yang sedang mengaji meneruskan bacaan Nindi.
Sesudah mengaji Nindi dimandikan oleh Ibu dan Kakak perempuannya. Sedangkan Marcel dimandikan oleh Lambok dan Fahmi juga ada Tiar dan Feri disana. Seluruh anak-anak Ibu datang untuk menghadiri pernikahan Adik bungsu mereka.
Tiar datang untuk menjadi wali Nindi. Tapi Tiar menyerahkan tanggung jawabnya pada Feri karena pengetahuan agama Feri diatas Tiar. Sedangkan Lambok dan Fahmi diminta Nindi untuk menjadi saksi.
Acara pemandian telah selesai. Nindi dan Marcel berganti baju di kamar masing-masing.
Acara pengajian telah selesai. Para undangan menyantap hidangan yang telah disediakan.
Setelah maghrib nanti, Nindi akan dihias telapak tangannya.
Selama acara berlangsung. Nindi terus saja murung. Nindi hanya tersenyum terpaksa manakala Marcel yang mencuri temu dengan Nindi.
Marcel tahu Nindi masih juga belum membuka hatinya untuk Marcel. Tapi Marcel tak menghiraukannya. "Sebentar lagi semua ini akan berakhir dan Nindi akan hidup bahagia." Gumam Marcel.
____________________
Acara menghias Nindi sudah selesai. Marcel dibawa ke rumah Lambok yang tak jauh dari Ibu. Rumah Lambok memang sudah jadi. Dia memang telah mempersiapkannya.
__ADS_1
Sebagian keluarga beristirahat di rumah Lambok dan sebagian lagi di rumah Ibu. Nindi tidur di rumah Ibu.
Saudara-saudara Ibu yang datang dari desa sebelah baru akan datang besok pas hari Pernikahan.