CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Perpisahan Atala


__ADS_3

Atala sudah mulai mengurus surat perpisahan dengan Friska. Tapi walau begitu Atala masih tetap merawat Friska yang masih dalam tahap penyembuhan.


Gery sudah mengantarkan tabib kembali ke Surabaya dengan pesawat dari bandara. Awalnya Gery ingin mengantar ke Negara T, tapi kata Tabib, Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya di Indonesia. Dia merindukan anak-anak dan cucu nya yang menetap di Surabaya.


Anak-anak Tabib semua sudah muallaf mengikuti pasangan hidup Mereka. Tabib sadar bahwa anak-anaknya tahu buat kebaikan hidup Mereka masing-masing.


Walau begitu, anak-anak dan cucu-cucu tabib sangat menyayangi Tabib.


Gery merasa lega meninggalkan Tabib yang hidup berbahagia dengan keluarganya.


"Kalau Kamu memerlukanku, Kamu bisa kesini Nak, tak perlu lagi jauh-jauh Kamu mencariku...." Kata Tabib pada Gery.


"Ya Tabib. InsyaAllah saat Aku menikah dengan Friska, Aku akan menjemputmu. Aku ingin Tabib menghadiri hari bahagia Kami." Pinta Gery.


Tabib mengangguk. "Semoga umurku panjang Nak...." Kata Tabib.


"Tabib jangan bilang seperti itu... Gery jadi sedih..." Kata Gery yang menunduk.


"Hehehehe.... Nak... Aku bahagia... Ternyata dari cucu-cucuku ada yang menuruni bakatku. Walau Kami baru saja bertemu, tapi Kami sangat nyambung. Jadi Aku bisa menurunkan pengetahuanku pada Cucu ku itu...." Tabib terkekeh.


Gery memeluk tubuh renta Tabib. "Gery harap Tabib sehat selalu."


"Hehehehe.... Aamiin..." Kata Tabib.


Anak perempuan Tabib keluar menyuguhi Gery secangkir kopi gingseng. "Diminum Nak Gery... Ini kopi buatan Farhan." Kata Ibu itu.


"Terima kasih Bu...." Gery pun menyeruput kopi itu perlahan.


"Gimana Nak?" Tanya Tabib.


"Segar Tabib. Rasa cape seakan hilang." Kata Gery.


"Hehehehe..." Tabib terkekeh.


______________________


Dua Bulan Berlalu.


"Kenapa tubuhku masih saja lemas, Atala." Kata Friska.


"Kamu yang sabar Friska. Kata Tabib, terlalu banyak obat-obatan yang mengandung kimia dalam tubuh Kamu. Jamu dan obat herbal itu sedang mengurasnya keluar dari tubuhmu." Kata Atala menenangkan kerisauan hati Friska.


"Tapi Kamu benar sudah mengurus perpisahan Kita, kan?" Tanya Friska.


Atala mengangguk. "Apa Kamu sudah tak sabar untuk segera menikah dengan Mas Gery dan mencampakkan Aku?" Canda Atala.


"Atala.... Bukan seperti itu. Aku hanya tak ingin terus-terusan merepotkanmu. Aku ingin melihat Dirimu bahagia bersama Vita." Kata Friska.


Atala menghela nafas. "Aku gak tahu Friska... Vita terus saja menghindariku. Tempo hari saat pernikahan Fathir, Aku sangat sedih tak melihatnya. Mama dan Papa juga tak mau bicara denganku." Kata Atala terlihat sedih.


"Poooosss....!" Teriak tukang Pos.


"Aku keluar dulu ya." Kata Atala.


Friska mengangguk.


Tak lama Atala sudah kembali ke kamar.

__ADS_1


"Surat darimana?" Tanya Friska.


"Pengadilan Agama." Kata Atala.


"Apa isi nya?" Tanya Friska penasaran.


Atala menyerahkan pada Friska. Friska membacanya. Wajahnya berubah sedih.


"Kenapa Kamu sedih? Bukankah ini yang Kamu tunggu?" Tanya Atala.


Friska mendongak. "Aku gak akan bertemu denganmu lagi...."


"Looohhh... Aku ini kan adiknya Mas Gery. Sebentar lagi Kamu jadi Kakak iparku, bagaimana Kamu gak akan bertemuku lagi?" Atala bingung.


Friska tetap saja murung. Atala memeluk tubuh Friska. "Kita berpisah hanya sebagai suami istri yang bercerai, tapi Kita gak akan berpisah sebagai sahabat." Kata Atala.


Friska mengangguk.


"Berbahagialah dengan Mas Gery." Kata Atala.


Ponsel Atala berdering. "Mas Gery..." Gumam Atala.


"Ya Mas...." Sahut Atala.


"Kamu dimana, Dek?" Tanya Gery diseberang.


"Aku bersama Friska, Mas. Mas cepatlah pulang. Friska sangat merindukanmu..." Canda Atala.


"Ya Dek... Mas sudah mengurus cuti dari Kantor Mas yang di Jogja. Secepatnya Mas akan ke Jakarta." Kata Gery.


"Apa Mas tak mau bicara sama Friska. Dia sangat ingin mendengar suaramu, Mas." Goda Atala.


"Aduuuhhhh...." Atala mengeluh sambil menyerahkan ponselnya pada Friska.


"Sayaaang... Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Gery.


"Kamu membiarkan adikmu mengurusku.... Kamu gak takut nanti Aku jatuh cinta pada Adikmu?" Friska merajuk.


"Hahahaha.... Sayaaang... Maafkan Aku... Sore ini Aku berangkat ke Jakarta dengan pesawat. Kamu tunggu Aku ya Sayaaang..." Kata Gery.


Friska memyerahkan ponselnya kembali pada Atala.


"Ya Mas..." Kata Atala.


"Apa Friska menggodamu..???" Canda Gery.


"Maaassss??!!!" Atala terdengar kesal.


"Hahahaha.... Maaf Adikku. Jam 5 sore Mas tiba di bandara Halim. Apa Kamu mau menjemput Mas?" Tanya Gery.


"Jam 5 ya Mas... Insya Allah Mas... Nanti Atala jemput. Atala ajak Gifany ya..." Kata Atala senang.


"Kalau Friska kuat, ajak juga ya. Aku sangat merindukannya." Pinta Gery.


Atala menoleh pada Friska. Friska mengangguk. Atala memang meload speaker ponselnya agar Friska mendengar.


"Ya Mas. Friska mau ikut." Kata Atala.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Mas selesaikan pekerjaan Mas dulu ya. Mas titip Friska. Assalamu alaikum..." Salam Gery.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Atala dan Friska.


"Apa Kamu bahagia?" Tanya Atala.


Friska mengangguk. "Tapi bagaimana dengan tubuhku yang lemah dan wajahku yang pucat?" Rengek Friska.


"Makanya Kamu turuti perintah tabib. Habisi ramuan itu..." Kata Atala.


"Iiihhh Atala...." Friska mengrucutkan bibirnya.


Atala tersenyum. "Rasanya memang tak enak. Aku pun tak suka bau nya. Tapi semua ini demi kesehatanmu, Kakak iparku... Maaf... calon..." Canda Atala.


Friska masih mengrucutkan bibirnya. "Iyaaaa... Aku minum sekarang. Tapi Kamu jangan tinggalin Aku..." Manja Friska.


"Iyaaaa...." Kata Atala.


Friska pun meminum ramuan itu perlahan. Tak lama Dia merasa mengantuk. Atala membawa nya ke tempat tidur. Atala menyelimuti Friska.


"Papa...." Panggil Gifany sambil berlari dengan kaki mungilnya.


"Sayaaang...." Atala langsung menggendong tubuh Gifany. Atala mencium pipi Gifany.


"Kita keluar saja yah... Mama lagi bobo..." Kata Atala.


"Bagaiamana keadaan Friska, Atala?" Tanya Siska. Siska baru saja tiba bersama Gifany dari kantor Rafa.


"Ya gitu deh Tante.... Susah banget disuruh minum obat dari Tabib." Kata Atala.


Siska menghela nafas. "Sekarang mana Dia?" Tanya Siska.


"Lagi tidur Tante... Setelah Mas Gery menelponnya. Dia baru mau minum obat." Kata Atala.


"Ya sudah... Kamu makan dulu nih Atala... Tadi Tante mampir ke resto kesukaan Kamu." Kata Siska sambil menyiapkan makan untuk Atala.


"Tante jangan repot-repot ngurusin Atala." Kata Atala tak enak.


"Atala... Kamu itu seperti anak Tante sendiri. Walau Kamu sudah pisah sama Friska... Tapi dari kecil Tante selalu menyayangimu seperti anak Tante." Kata Siska.


Atala tersenyum mengingat dulu sering diajak pergi Mama Tia jalan-jalan bertemu Tante Siska. Dan Tante Siska selalu menggendongnya. Tante Siska sangat menginginkan anak laki-laki tapi belum juga dikasih.


Tapi kini Tante Siska sudah punya anak laki-laki, adiknya Raisa, Raka. Tapi Raka kini sedang kuliah di luar negeri. Dia mendapat beasiswa di Universitas Negeri di London.


"Sini Sayang... Biar Papa mamam dulu. Kasihan Papa belum makan, ngurusin Mama Kamu terus." Kata Siska yang mengambil Gifany dari gendongan Atala.


"Papa Jeiiiyyyy...." Kata Gifany.


"Ya Sayaaang... Nanti sore Kita jemput Papa Gery yaaa..." Kata Atala. Atala sudah duduk di kursi meja makan.


"Yeeeeiiiiii.... Papa Atu uyang...." Kata Gifany lucu sambil bertepuk tangan.


Siska mencium pipi Cucu nya yang menggemaskan.


"Tante... Atala makan ya..." Kata Atala.


"Ya Sayaaang.... Makanlah..." Kata Siska.

__ADS_1


Atala pun menyantab makanan yang sudah disediakan Siska.


__ADS_2