
"Terima kasih Nona." Kata Sekretaris itu pada Lita. "Saya gak tahu kalau gak ada Nona, harus berbuat apa."
Lita tersenyum. "Gak apa, sudah seharusnya Kita hidup saling membantu."
Sang Bos sudah ditangani oleh pihak rumah sakit. Tak lama Astrid tiba di Rumah Sakit.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Astrid pada Lita.
"Alhamdulillaah sudah di ruang perawatan." Kata Lita.
"Alhamdulillaah...." Jawab Astrid.
"Kalau begitu Kita permisi, Nona." Pamit Lita dan Astrid pada Sekretaris itu.
"Bagaimana keadaan Papa Saya...?!" Seseorang sedikit berteriak saat hendak masuk ke ruang perawatan Sang Bos.
Lita dan Astrid telah berlalu, hanya sekilas Lita melihat wajah orang itu. "Subhanallaah... Tampan sekali..." Batin Lita. "Astaghfirullaah..." Lita cepat-cepat berpaling.
Lita dan Astrid segera meninggalkan Rumah Sakit, karena memang hari sudah menjelang maghrib.
"Bagaimana keadaan Papa, Jessy?" Tanya Leo yang terlihat panik.
"Puji syukur Tuan, Bos baik-baik saja. Tadi ada dua wanita berhijab menolong Bos saat di Mall." Jelas Jessy.
"Maksudmu dua wanita yang berpapasan dengan Saya di lorong tadi?" Tanya Leo.
Jessy cepat mengangguk. Leo segera berlari keluar ruang perawatan Sang Papa. Dia ingin mengejar penolong Sang Papa, sekedar mengucapkan terima kasih.
Leo celingak-celinguk namun kedua wanita tadi sudah tidak ada.
"Cari siapa Tuan?" Tanya Sekurity.
"Bapak lihat dua wanita berhijab keluar dari Rumah Sakit ini?" Tanya Leo.
"Baru saja mobil nya meninggalkan Parkiran." Jelas Sekurity.
Leo menghela nafas. Setelah berpamitan, Leo kembali ke ruang rawat Sang Papa.
"Leo...." Alex memanggil Putera nya dengan suara lemah.
Leo segera menghampiri Sang Papa. "Ya Pa... Apa yang Papa rasa? Dimana yang sakit Pa?" Leo sangat khawatir.
Alex tersenyum pada Sang Papa. "Bagaimana keadaan Mama mu, apa Dia baik-baik saja?" Tanya Alex.
"Mama sehat Pa. Tapi Aku merasa Mama menderita berpisah dengan Papa." Jelas Leo.
__ADS_1
Alex terlihat sedih. "Ini semua salah Papa.... Seharusnya Papa tak membiarkan Mama mu pergi." Alex menitikan airmata.
"Kenapa Papa tak menyusul Mama?" Pinta Leo.
"Papa tidak berani menghadapi Eyang mu." Alex memejamkan mata.
"Jessy... Bisa tolong tinggalkan Kami berdua?" Pinta Leo.
Jessy mengangguk. Dia segera beranjak dan keluar dari ruangan itu.
"Pa... Bawa Mama kembali..." Pinta Leo.
"Papa belum siap." Kata Alex.
"Tapi kenapa Pa?" Leo sedikit gusar.
"Keyakinan Kami berbeda, Nak. Mama mu ingin kembali mendalami keyakinannya. Dia merasa berdosa bertahun-tahun meninggalkan ajaran agama nya. Papa yang salah. Papa selalu melarangnya..." Airmata Alex kembali menetes.
"Makanya Papa dan Mama tak pernah menyuruh Kami untuk beribadah, karena itu?" Tanya Leo.
Alex mengangguk. "Aku dan Mama mu sepakat tidak akan memaksakan Anak-anak Kami mau ikut ajaran mana. Jika dewasa nanti, Kalian bebas memilih. Kami hanya mengajari Kalian tentang kebaikan dan tanggung jawab." Jelas Alex.
"Kini Papa merasa sendirian, tak ada Mama mu yang menemani Papa. Di masa Tua begini, Papa gak mau hidup seorang diri." Alex masih meneteskan airmata.
Leo menghela nafas. Leo ingat, dulu Dia sering melihat Sang Mama melakukan ibadah secara sembunyi. Waktu itu Sang Papa sedang mengurus bisnis nya keluar Kota.
"Nak... Jika Papa mengikuti kepercayaan Mama mu, apa Kalian tidak apa-apa?" Tanya Alex tiba-tiba.
"Tapi Pa?! Apa itu harus?!" Leo terperanjat.
Alex mengangguk. "Agama Mama mu mewajibkannya Nak. Papa sangat mencintai Mama mu. Dia wanita yang sangat special buat Papa. 35 tahun Kami berumah tangga, tak sekali pun Mama mu mengeluh atau membantah permintaan Papa. Mungkin itu ajaran yang Dia dapat dari orangtua nya dan Agamanya. Agar berbakti pada suami."
"Papa sudah berfikir selama ini. Papa tak membenci Mama mu karena memilih kembali ke Indonesia. Mr. Joey dari Negara A, telah menyadarkan Papa. Ternyata Mr. Joey itu seorang Ustadz. Dulu Dia seorang Katolik Taat. Istri nya yang sekarang justru banyak belajar dari beliau." Jelas Alex.
Leo menghela nafas. "Pa... Leo tidak akan menghalangi keinginan Papa. Leo ingin Papa dan Mama seperti dulu, berkumpul kembali. Apa yang harus Leo lakukan Pa?"
"Papa akan belajar tentang agama Mama mu. Ustadz Joey memberikan ini." Alex membuka dompetnya yang berada diatas nakas. Dan mengeluarkan sebuah kartu nama.
Leo menerima nya. "Atala Rizky? Siapa Dia Pa?" Tanya Leo.
"Dia Arsitek yang sedang menangani proyek Papa di bagian barat Negara J. Dia anak sambung Ustadz Joey. Tolong Kamu hubungi Dia. Papa ingin bertemu dengannya." Pinta Alex.
Leo mengangguk dan segera menghubungi Atala.
_______________________________
__ADS_1
"Siapa Yang?" Tanya Vita pada Atala setelah Atala menutup ponselnya.
"Putera nya Mr. Alex. Mr. Alex ingin bertemu dengan ku." Jelas Atala.
"Berarti Ayang berangkat lagi ke Negara J?" Tanya Vita.
Atala mengangguk. "Kamu ikut ya?" Pinta Atala.
"Tapi Aku sedang banyak tugas Kampus, Yang." Kata Vita. "Bukankah disana sudah ada Bang Fathir?"
Atala menghela nafas. "Aku juga gak tahu kenapa Mr. Alex ingin bertemu. Apa tugasmu tak bisa dipending?" Atala melingkarkan tangannya di pinggang Vita dan mengecup leher Vita.
"Yaaaang... Udah iiihhhh... Baru juga kelar mandi." Vita mengrucutkan bibirnya.
"Aku gak bisa berjauhan denganmu walau sejenak." Goda Atala terus menciumi leher Vita.
"Kuliah ku sering pending Kak... Aku siihh mau aja ikut ke Negara J. Aku juga kangen sama Lita. Tapi gimana...??!" Jelas Vita.
"Apa bahan-bahan tugas mu sudah ada?" Tanya Atala.
Vita mengangguk. "Aku tinggal merapihkannya dan menyerahkan pada Dosen. Cuma masalahnya, Dosennya menyebalkan, ada saja yang dibuatnya salah." Vita mengrucutkan bibirnya.
"Ok... Aku akan bantu mengecek tugas mu. Jika Aku bilang ok tapi Dosenmu bilang koreksi, Aku yang akan menghadapnya." Tegas Atala.
Atala memang sering mendengar dari kawan-kawan Vita, kalau Dosen Vita ini menyukai Vita. Setiap tugas Vita selalu lama Dia koreksi, karena Dia ingin berlama-lama bersama Vita.
"Aku kayak anak kecil aja Yang. Tugas Kuliah, Ayang yang urus." Vita menahan tawa nya.
"Aku gak mau, istri ku dilirik laki-laki lain." Atala kembali menciumi leher Vita.
"Aaacchhh... Yaaang...." Kali ini Vita tak dapat menahan hasratnya karena Atala yang terus menggodanya.
"Yaaang... Kenapa Aku belum hamil-hamil juga yah..." Tanya Vita saat Mereka telah kelelahan karena pertarungan sengit di ranjang.
Atala mengusap rambut Vita dengan lembut. Merapihkan anak rambut yang menutupi wajah manis Vita.
"Mungkin Allah masih memberi Kita kebebasan untuk saling mengasihi." Atala mencoba menghibur karena Vita sangat sensitif sekali kalau sudah menyangkut kehamilan.
"Tapi sampai kapan. Aku ingin sekali merasakan hamil, melahirkan dan menyusui. Menjadi wanita seutuhnya." Airmata Vita mulai menetes.
"Ssstttt.... Kita berprasangka baik saja pada Allah SWT. Aku yakin, ini yang terbaik, yang Allah berikan untuk Kita." Atala terus menghibur Vita sambil mengusap airmata Vita.
"Sudah yaaahh... Jangan menangis. Katanya tadi mau mengerjakan tugas." Kata Atala.
Vita memukul dada Atala pelan. "Ayang siiihhh mancing-mancing terus. Sekarang Aku lelah." Vita mengrucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Abis enak Yang..." Goda Atala yang menciumi bibir Vita dan terus memanas hingga ronde berikutnya terulang kembali.