CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Berita Duka


__ADS_3

"Lita memang tidak pantas denganmu! Adikku bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Kamu! Jangan Kamu pikir bisa mempermainkan hati Adikku!" Ketus Fathir.


"Tapi Aku gak pernah mempermainkan Lita. Aku serius dengan Lita. Ya walau butuh waktu untukku muallaf..." Leo membela diri.


"Sudaaahhh.... Sudaaah... Sekarang sudah jelas persoalannya. Biarkan Leo menyelesaikan masalah nya dengan Lita." Pinta Ustadz Joey.


Atala mengelus bahu Fathir. "Sabar Thir, Leo sudah dewasa, biar Dia menyelesaikan masalahnya dengan Adik Kita. Setidaknya Leo sekarang sudah muallaf. Keputusan ada di tangan Lita sekarang."


"Maaf, Leo... Silahkan Kamu selesaikan urusanmu dengan Lita. Kita tidak akan ikut campur dan tidak akan membantu. Kita hanya akan memantau saja. Buktikan kalau Kamu memang serius dengan Adikku." Kata Atala kepada Leo.


Leo mengangguk. Dia menatap ke arah Fathir, tapi Fathir malah menatapnya tajam. Rasa nya Fathir ingin sekali merusak wajah tampan Leo.


Joanna mengelus punggung Fathir. "Sabar Yang...."


"Om... Tante... Aku minta maaf... Tempo hari Aku tidak bisa menjenguk Lita di Rumah Sakit. Aku janji, setelah ini akan menjaga Lita dengan sebaik-baiknya." Kata Leo kepada Lambok dan Tia.


"Huuhhh... PD banget..!" Ketus Fathir.


"Yaaang...." Tegur Joanna.


Lambok dan Tia hanya tersenyum pada Leo. "Kami percaya Kamu bisa meluluhkan kembali hati Lita." Kata Lambok.


"Kalau urusan Kalian sudah selesai dan Lita mau kembali kepadamu, Om harap jangan lama-lama menunda pernikahan. Tidak baik..." Canda Lambok.


"Iii.. iiiyaaa Om....Leo janji akan segera melamar Lita." Kata Leo serius.


Ponsel Leo berdering.


"Assalamu alaikum Ma... Apa Ma?!...." Leo nampak terkejut.


"Iya Ma... Leo segera ke Rumah Sakit... Assalamu alaikum...." Kata Leo sambil mematikan ponselnya.


"Ada apa Leo?!" Tanya Pak Ustad dan Lambok secara berbarengan.


"Eyang Kakung masuk Rumah Sakit." Kata Leo nampak khawatir. "Maaf... Aku harus ke Rumah Sakit sekarang..." Kata Leo sambil berpamitan.


"Ustadz ikut..." Kata Ustadz Joey.


"Om juga ikut..." Kata Lambok.


Akhir nya semua yang ada di sana bersama berangkat ke Rumah Sakit dimana Eyang Kakung nya Leo di rawat.


___________________________


Di Sumatera


"Litaaaaa....!!!" Nindi berteriak. Lita tiba-tiba pingsan.


Akhir-akhir ini Lita benar-benar memporsir tenaga dan pikirannya. Saat malam sepulang dari Rumah Sakit, Lita tak pernah cukup istirahat dan tidur.


Lita selalu kepikiran akan cinta nya, Leo. "Kenapa Dokter tega menghianatiku? Huk...huk...huk..." Lita selalu menangis hingga tertidur.


Di pagi hari saat sarapan Lita selalu nampak segar karena make up yang Dia pakai untuk menutupi mata nya yang sembab.

__ADS_1


Fitri sangat perhatian pada Lita, namun Lita sangat pintar menyembunyikan gundah di hati nya.


Marcel yang sedang berjalan menuju ruang Dokter, terkejut mendengar teriakan istrinya, Nindi. Marcel bergegas berlari.


"Ada apa, Sayang?!" Tanya Marcel.


"Lita, Yang... Lita pingsan!" Kata Nindi yang posisi nya sudah memangku kepala Lita sambil menepuk-nepuk pipi Lita dengan lembut.


Marcel segera mengangkat tubuh Lita ke brankar yang ada di ruangan Mereka. Marcel segera memeriksa keadaan Lita di bantu oleh Nindi.


"Astaghfirullaah... Kenapa denyut nadi nya lemah sekali??" Kata Marcel.


"Apaaa??!!" Nindi terkejut. Nindi langsung memeriksa tubuh Lita. "Astaghfirullaah... Tapi bagaimana mungkin? Lita seperti orang yang tak pernah istirahat..." Nindi nampak cemas.


Marcel langsung menelpon ke ruang perawat, dan meminta peralatan disiapkan.


Dua jam kemudian.


"Yang... Apa Kita harus mengabari Kak Fitri? Atau Kak Tia? Keadaan Lita sangat mengkhawatirkan." Tanya Nindi cemas.


Marcel menghela nafas. Marcel tahu, Kakak-kakak nya sedang sibuk mengadili Leo. "Telpon Kak Fitri saja, nanti Kita minta pendapat Kak Fitri."


Nindi mengangguk dan langsung menghubungi Fitri.


Satu Jam kemudian, Fitri dan Fahmi sudah berada di ruang penanganan Lita. Fahri dan Farah tidak ikut karena menemani sang Nenek di rumah.


"Kenapa bisa begini?" Tanya Fitri.


"Aku juga gak tahu Kak." Kata Nindi cemas.


"Kenapa Kak?" Nindi nampak bingung.


"Lihat ini... Mata nya sembab, kebanyakan menangis. Jadi Lita menutupi kesedihannya dariku... Lita... Kenapa Kamu pendam sendiri, Nak..." Fitri meneteskan airmata.


"Padahal Kakak sering menengok nya ke kamar kalau Dia pulang. Kakak malah dikelabui oleh nya..." Fitri terisak.


"Sabar Sayaang..." Kata Fahmi.


"Aku sudah memberikannya obat, semoga cepat bereaksi." Kata Marcel.


"Aku sudah menghubungi Rumah Sakit dimana terakhir Lita dirawat. Aku hanya ingin tahu riwayat penyakitnya." Kata Nindi.


"Apa sudah ada hasilnya?" Tanya Marcel.


Nindi menggeleng. "Mereka janji akan secepatnya mengirimkan email pada Kita." Kata Nindi.


Seorang perawat masuk. "Permisi Dokter, Ini email dari Rumah Sakit Negara J."


"Oh ya... Terima kasih." Kata Nindi yang bergegas mengambil kertas email itu dan membacanya. "Lihat ini Sayaang...." Nindi sangat cemas.


Marcel mengangguk dan segera menulis beberapa resep obat untuk Lita. "Suster, tolong ke apotek ambilkan obat ini." Kata Marcel kepada perawat yang berada di sana.


___________________________

__ADS_1


Tiiiiiiiiiitttttttt.......


Alat pendeteksi jantung yang terhubung dengan dada Romo berdecit.


Leo dan beberapa Dokter segera mengambil tindakan memberi kejut pada jantung Romo. Leo juga memompa dada Romo dengan telapak tangannya.


Sesaat kemudian, tak ada hasil. Jantung Romo tak merespon.


Tiiiiiiiiiiitttttttt......


Ĺeo terlihat putus asa. Airmata nya menetes. "Romo..... Maafkan Leo....."


"Dokter Leo.... Sabar ya... Kita sudah berusaha tapi Allah berkehendak lain." Kata Dokter Anton yang ada di ruangan itu.


Leo mengangguk sambil terus menatap wajah Romo nya yang sudah tak bernyawa. Sedangkan Dokter Anton sudah keluar ingin mengabarkan berita duka ini.


Tak lama Keluarga masuk ke ruangan itu.


"Romoooo..!!!" Lisa histeris memanggil Sang Romo. Sedangkan Istri nya Romo sudah pingsan mendengar berita duka ini.


"Ma.... Ikhlasin Romo, Ma...." Kata Leo yang juga sudah menangis.


"Romo... Maafin Alex... Alex belum bisa berbakti pada Romo..." Alex juga sudah meneteskan airmata.


Di luar ruangan.


"Innalillaahi wa inna ilaihi raajiuun..." Kata Lambok, Tia, Ustadz Joey dan semua yang ada disana.


Ponsel Lambok berdering.


"Siapa Yang?" Tanya Tia.


"Fitri... Ada apa yah? Kenapa perasaanku gak enak?" Kata Lambok dan bergegas mengangkat telpon dari Fitri. Lambok agak menjauh diikuti oleh Tia yang juga merasa cemas.


"Baik... Kakak akan segera kesana." Kata Lambok dengan mimik wajah seketika berubah cemas.


"Ada apa Yang?" Tanya Tia dengan perasaan cemas.


"Lita masuk Rumah Sakit. Lita kritis." Kata Lambok pelan dan langsung memeluk tubuh Tia yang sudah terkulai lemas.


"Hik... hik... hik.... Kenapa terjadi lagi...." Tia menangis.


Lambok mengelus bahu Tia sambil membawa tubuh Tia ke kursi yang ada di koridor Rumah Sakit.


"Ada apa Pa.. Ma..?" Tanya Vita yang dari tadi memperhatikan kedua orangtua nya dari jauh.


"Lita kritis, Sayang... Bagaimana ini? Apa Mama dan Papa meninggalkan Leo yang sedang berduka?" Tanya Tia.


"Papa dan Mama berangkat saja. Nanti Vita yang bilang sama Leo kalau Mama dan Papa gak bisa hadir ke pemakaman. Toh Kita juga berada disini semua." Kata Vita menenangkan orangtua nya.


"Tapi Kamu gak usah bilang keadaan Lita pada Leo. Leo sedang berduka. Jangan menambah beban pikirannya lagi." Pinta Lambok.


Vita mengangguk. "Iya Pa... Sekarang Papa dan Mama pulang ya. Aku telpon Tristan agar jemput kesini." Kata Vita.

__ADS_1


Lambok dan Tia mengangguk.


__ADS_2