
Leo langsung menangkap tubuh Lita yang sudah tak berdaya. Lita tak sadarkan diri. Leo memangku kepala Lita dan menepuk-nepuk pipi Lita dengan lembut.
"Sayaang.... Sadarlah...." Kata Leo.
Namun Lita tak juga membuka matanya. Ustadz Joey mendekat dan memeriksa keadaan Lita.
"Lita pingsan, tapi Alhamdulillaah... Mahluk Jin itu sudah pergi meninggalkan tubuh Lita." Kata Ustadz Joey.
Atala dan Tristan mengangkat tubuh Lita. "Maaf Leo... Lita belumlah halal untukmu." Kata Atala.
"Maaf..." Kata Leo.
Setelah merebahkan tubuh Lita ditempat tidurnya, Leo memeriksa kondisi Lita. Denyut nadi Lita sangat lemah. Bibir Lita terlihat pucat manakala Leo mengusap bibir Lita dengan tissue karena riasan Lita yang sudah acak-acakan.
"Bagaimana Lita?" Vita masuk ke kamar kembarannya.
"Kita harus membawa Lita ke Rumah Sakit, Om. Saya khawatir jiwa nya terguncang karena tekanan mentalnya tadi." Leo nampak frustasi. Ini semua salahnya yang terburu-buru ingin meminang Lita.
Lambok mengangguk sambil terus memegangi luka dipelipisnya yang berdarah terkena timpukan Lita.
"Aku ingin Rumah Sakit terbaik untuk Lita. Yang ada kerjasama dengan Rumah Sakit Negara J." Kata Leo.
"Oh ya ada..." Kata Lambok yang langsung menelpon Marcel untuk memintanya menghubungi Dokter kenalannya.
"Assalamu alaikum Kak..." Salam Marcel di seberang.
"Wa alaikumussalaam Marcel...." Lambok tak berbasa basi. Langsung mengutarakan maksudnya. Dan memberitahu kejadian tadi dan tidak sadarnya Lita.
"Innalillaahi... Kakak jangan khawatir. Aku akan menghubungi Dokter Disana. Sekarang Kakak cepat bawa Lita ya Ke Rumah Sakit AS. Aku juga akan terbang ke Jakarta saat ini juga." Kata Marcel bergegas.
"Baik Dek, terima kasih. Tolong sampaikan juga salam Kakak sekeluarga disini pada Keluarga di Kampung. Assalamu alaikum." Lambok menutup panggilan telponnya setelah mendapat jawaban salam dari Marcel.
"Bagaimana Pa?" tanya Atala.
"Ayo Kita bawa Lita ke Rumah Sakit AS." Pinta Lambok bergegas.
Tanpa pikir panjang, Atala dan Tristan membopong tubuh Lita.
"Kamu jaga Mama di rumah ya, Sayang... Beritahu Mama kalau Mama sudah sadar." Pinta Lambok pada Vita.
"Ya Pa..." Vita mengangguk.
_____________________________
"Innalillaahi.... Kenapa bisa begitu?" Nindi nampak cemas mendengar penuturan Marcel yang tergesa membooking tiket ke Jakarta sore ini.
"Aku juga gak tahu. Bukankah Lita sangat mencintai Leo? Lalu kenapa Lita sampai menolak?" Marcel juga bingung.
"Mungkin ini kejailan Kakak-kakakku... Mereka tak memberitahu siapa yang akan melamar Lita. Dan Lita menolak... Kadang Aku fikir, kedua Kakakku itu kekanakan." Nindi menghela nafas.
__ADS_1
"Maklumlah Sayaaang... Mereka sangat ingin membahagiakan Lita... Mungkin cara Mereka yang gak pas buat Lita. Dan lagi, Kamu kan tahu, Kakak-kakak Kita itu sudah berumur. Hehehehe..." Canda Marcel.
"Tapi bagaimana dengan pernikahan Fahri dan Farah, Sayang?" Tanya Nindi.
"Pernikahan Mereka tetap dilaksanakan. Mungkin Fahri bisa mengerti jika Lita tak datang." Kata Marcel.
"Baiklah... Aku akan berbicara sama Kak Fitri. Besok Aku menyusul bagaimana nanti keputusan keluarga disini." Kata Nindi.
"Kamu memang yang terbaik." Marcel mencium kening Nindi. "Jaga dirimu baik-baik yah.... Sampaikan pamitku pada Keluarga." Pinta Marcel.
"Baik Sayang... Jaga dirimu juga." Nindi membalas pelukan Marcel.
________________________
"Kalau begitu, Aku ingin pernikahanku ditunda." Jawab Fahri seketika Nindi baru saja menceritakan kejadian Lita.
"Gak bisa gitu, Bang...!!" Fitri nampak tak setuju.
"Tapi Ma... Aku sangat mengharap Lita datang." Fahri bersikeras.
"Kamu gak boleh egois Bang... Persiapan pernikahan sudah 99 persen, undangan sudah tersebar. Hanya tinggal menunggu hari dan Kamu ingin membatalkannya? Tidak baik menunda sesuatu hal yang baik." Kata Fahmi bijak.
Fahri menghela nafas. "Apa yang dikatakan Ayahnya ada benarnya."
"Kamu kapan Dewasa nya? Hhmmm....? Kasihan Lita... Dia terbebani dengan ancaman Kamu. Bisa juga beban itu menambah pikirannya makanya Lita bisa sakit seperti ini." Fathir ikut bicara.
Fahri menunduk. Dia menyadari sikapnya yang kekanakan. Padahal tanpa menekan Lita, Lita tak mungkin gak datang ke pernikahannya.
"Aku akan menyusul Kak Marcel, Bu." Kata Nindi.
"Aku ikut Auntie, pernikahanku masih lima hari lagi. Aku mau Lita tenang. Aku mau minta maaf pada Adikku." Kata Fahri.
"Baik... Terus siapa lagi? Ibu mau ikut?" Tanya Nindi pada Sang Ibu.
"Ibu kangen sama cucu-cucu Ibu di Jakarta, kalau tak merepotkan Kalian, Ibu mau ikut." Kata Nenek Nia sambil mengusap airmatanya.
"Kalau begitu Kita semua berangkat." Kata Nindi.
"Tapi bagaimana persiapan psngajian? Siapa yang akan mengatur?" Tanya Fitri.
"Kak... Pengajian satu hari sebelum pernikahan. Kalau Kakak mau, setelah di jakarta beristirahat, Kakak bisa kembali kesini." Kata Nindi.
"Lalu anak-anakmu? Mereka sedang sekolah?" Tanya Fitri lagi.
Nindi menghela nafas. "Iya juga."
"Sudah... begini saja, yang bisa ikut Auntie ke Jakarta, berangkatlah. Biar sebagian disini, gak enak juga jika nanti keluarga Ayah Burhan bertandang kemari, Kita satupun gak ada di rumah. Keluarga di Jakarta juga pasti akan mengerti." Kata Fahmi lagi.
Akhirnya Nindi berangkat ke Jakarta bersama Nenek Nia, Fahri, Fathir beserta istri dan anaknya.
__ADS_1
"Jaga Ibu baik-baik ya Dek." Pesan Fitri pada Nindi.
"Insyaa Allah Kak." Jawab Nindi. "Aku titip anak-anakku. Aku gak lama, melihat kondisi Lita dan apa yang bisa Aku lakukan, setelahnya Aku segera kembali. Kakak doakan saja, Lita baik-baik saja."
"Aamiinn... Salam sama Kak Tia dan Kak Lambok, sampaikan maaf Kami tak bisa menjenguk Lita." Kata Fitri.
"Insyaa Allah Kak. Kami berangkat ya... Assalamu alaikum...."
"Wa alaikumussalaam...."
_____________________________
"Ini salah Kakak... Kakak tak memberitahu Lita kalau Leo yang akan melamar." Lambok menyalahkan diri sendiri.
"Sudahlah Om.... Aku maklum maksud Om. Aku juga bersalah karena meminang Lita mendadak begini." Leo juga menyalahkan dirinya.
"Tapi Lita ini tertekan dan sedih. Sebenarnya ada apa? Apa yang Lita sembunyikan?" Tanya Nindi.
Nindi memang sudah tiba di Jakarta beberapa jam yang lalu dan langsung ke Rumah Sakit setelah meminta Fathir untuk mengantar Sang Nenek agar beristirahat dahulu di kediaman Tia.
"Maafkan Leo, Auntie. Leo tahu, Lita salah paham. Sebelum Lita kembali ke Indonesia, Aku sempat mengantarnya ke bandara. Dan Aku sudah menyakinkan Lita akan kesalahpahaman tempo hari. Dan Lita sudah mau menerimaku. Tapi ternyata Allah masih menguji kesabaranku...." Leo mengusap wajahnya kasar.
Ada apa? Apa yang terjadi? Tanya Atala.
"Aku bertemu Bella mantan pacarku setelah mengantar Lita. Dan Bella langsung memelukku. Aku kaget hendak mendorong Bella, namun ternyata Lita sudah melihat Kami dan pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan padaku..." Leo menunduk. Mengacak rambutnya kasar.
"Terus di rumah, tanpa bertanya Kak Lambok meminta Lita menerima lamaran seseorang. Padahal hati Lita sedang terluka." Nindi menghela nafas. "Aku berulang kali bilang, Lita jangan sampai tertekan..."
"Aku tahu Auntie. Aku juga berusaha mengejar Lita, tapi petugas Bandara mencegahku. Berulang kali Aku menghubungi Lita dan pada akhirnya nomorku diblokir." Leo nampak frustasi.
"Lalu bagaimana kata Dokter yang menangani Lita?" Tanya Nindi.
"Lita terguncang. Lita kritis..." Leo mengusap ujung matanya yang berair. "Kita belum boleh menjenguknya... Aku juga sedang menunggu obat-obatan dari Rumah Sakit tempat Lita dirawat di Negara J."
Nindi mengusap bahu Leo. "Kamu yang sabar ya..."
Marcel keluar dari ruang ICU. Dia segera membuka maskernya.
Nindi langsung menghambur ke arah Suaminya. Mencium punggung telapak tangan Marcel.
"Kapan datang?" Marcel mengecup kening Nindi.
"Baru saja. Bagaimana keadaan Lita?" Tanya Nindi cemas.
"Apa Fahri ikut?" Tanya Marcel.
"Iya... Tapi Aku suruh istirahat dulu sambil mengantar Ibu." Jelas Nindi.
Marcel menghela nafas. Dia menggeleng.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Lambok cemas. Sedangkan Tia sudah kembali ke rumah karena terus pingsan setiap mendengar perkembagan kesehatan Lita.
Tia dan Vita sempat ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Lita. Namun Tia tak kuat mendengar keterangan Dokter tentang kondisi Lita. Akhirnya Lambok meminta Vita mengantar Tia pulang. Apalagi Lambok mendengar kabar kalau Orangtua Mereka sudah tiba di Bandara dan berencana menginap di rumah Mereka.