
Mama sudah di pindahkan ke ruang perawatan VIP atas permintaan Satria, dia ingin memberikan yang terbaik untuk mama mertuanya. Nadin dan Rasya hanya menuruti dokter yang menangani mamanya yang sekarang menjadi bagian keluarganya.
"bang makasih ya,aku bisa nyaman tidur nemenin mama " Rasya nyengir
"kalian sekarang keluargaku apapun akan aku kasih yang terbaik " menepuk pundak Rasya.
Nadin menghampiri mama yang tengah berbaring di ranjangnya..
"Mah mba pulang ya, mama istrihat ya mah besok mba kesini lagi " Nadin mengelus lembut tangan mama yang telah tertidur efek dari obat yang di minumnya
"Dek kalo ada apa-apa hubungin mba segera ya" titahnya ke sang Adik.
"Mah Satria bawa Nadin pulang ya "Pamit Satria ke Mama mertua yang sedang tertidur..
"Rasya, abang sama mba pulang dulu ya " memeluk adek ipar satu-satunya
"iya bang,titip mba Nadin ya bang" seraya memeluk abang iparnya..
_________________________________________
Nadin pov.
Aku masih belum percaya dengan apa yang aku alami pagi tadi saat aku datang ke rumah sakit bersama bang Satria belum ada ikatan atau status apapun di antara kami.
dan sekarang saat kami pulang status kami berdua resmi menjadi suami istri, ya walau masih secara agama. besok kami akan mendaftarkan pernikahan kami.
Satu kata dadakan, semua dadakan gara-gara surat palsu mama yang om Rahman kasih tadi pagi..
aku tak tau bang Satria ingin menolongku atau ada maksud lain? tapi aku bersyukur karena pernikahan dadakan ku mama sadar dari komanya.
Dan malam ini aku pulang k Apartemen suamiku setelah tadi pulang mengantar mbok ning dan mengambil sebagian bajuku.
"Assalamualaiukum" ujar ku saat melangkah masuk kedalam Apartemen suamiku..cukup luas untuk ukuran pria lajang sepertinya,ehh tapi sekarang kan udah gak lajang..
"walaikumsallam, masuk Nad sekarang ini tempat tinggal kamu juga, maaf ya kita masih tinggal Apartemen " ujarnya menggandeng tanganku masuk kedalam.
berjalan menuju kamar aku mengikuti derap langkahnya masuk kedalam kamarnya,kamar kami sekarang..
Kamar laki-laki pada umumnya dengan seprai hitam ada sofa, meja kerja di dalamnya tertata rapi.
"biasanya yang ngerapiin siapa bang ?" tanya ku karena ku lihat kamar ini sangat bersih dan rapi..
"biasa ada mba yang datang bersihin pagi datang sore dia pulang" ujarnya duduk di atas sofa
"kamu mau bersih-bersih dulu? atau kita mau bareng "ujarnya menggodaku
"aku dulu aja bang " aku berbalik menuju ruangan dekat pintu masuk yang aku yakin itu kamar mandi..
__ADS_1
Setelah bersih-bersih dan mengganti baju di kamar mandi aku keluar dan kulihat bang Satria tengah bersandar di sofa dan memejamkan mata..
"Abang, bersih-bersih sholat dulu baru kita tidur "
ku goyang bahunya..
dia mengkerjapkan mata, ternyata dia tertidur
"sudah Nad ? ya sudah aku bersih-bersih dulu " dia bangun dan berjalan ke kamar mandi
"bang mau jamaah atau sendiri-sendiri " ujarku
langkahnya terhenti dan menoleh ke arahku,
"Tunggu Abang ya "katanya..
menunggu Abang membersihkan dulu aku menyiapkan sajadah untuk sholat yang terletak di sudut kamar.. ponsel ku berdering ada pesan masuk ntah dari siapa aku belum sempat baca karena Abang sudah keluar dari kamar mandi dan berdiri memposisikan sebagai imam
Jujur aku masih takut dan degdegan berada satu kamar berlama-lama dengan bang Satria, selesai melaksanakan sholat berjamaah, aku duduk di sofa dan membaca pesan di ponsel yang tadi belum sempat aku buka.
Salman : "Mba ada yang mau aku omongin soal papa mba, penting !!! bisa kita ketemu ?"
Salman : "aku di depan nicu mba,kata perawat tante Dewi udah di pindahin ya, mba dimana? "
"pesan dari siapa Nad ? " tanya bang Satria..
Aku tunjukan ponselku dan bang Satria membaca pesan dari Salman
Nadin segera menghubungi Salman dan mengirim alamat Apartemen Satria
____________________________________________
Author pov
Salman telah tiba di depan unit apartemen Satria sesuai alamat yang di kirim Nadin. dia menekan bel dan tak lama kemuadian Satria membukakan pintu
"Assalamualaikum,lohh kok ada dokter Satria ?" tanya Salman
"adalah ini kan apartemenku, mari masuk" melangkah duluan masuk ke dalam
Salman mengikuti di belakang Satria dia masih belum paham kenapa Nadin mengajak bertemu di Apartemen Satria malam-malam begini..
Nadin telah menunggu di ruang tengah
"kenapa man? " tanyanya mempersilahkan Salman duduk
"mba kenapa malam-malam begini masih di apartemen dokter Satria " tanya Salman
__ADS_1
"kami sudah menikah tadi sore " bukan Nadin yang menjawab tapi Satria, pria ini merasa menang telah menikahi Nadin
"Serius mba ?Alhamdulillah akhirnya aku terbebas " ujar Salman
"tadi kamu bilang ada yang mau kamu bicarakan penting soal om Rahman" tanya Nadin
"mba sekarang saatnya aku harus jujur sama mba, selama ini aku berusaha mendekati mba karena bagian dari rencana papa dan mama mba, dan aku gak bisa atau gak mau melanjutkan mba, Sari kekasihku tengah hamil sekarang mba dan aku berencana untuk pindah dan lepas dari bayang-bayang papa "
Salman mulai menceritakan semuanya..
"mba maaf kan aku mba, aku udah jahat sama mba, dan soal surat dari tante Dewi itu tulisan mama aku mba mama merekayasa semua,karena bagi mama dan papa dokter Satria adalah penghalang rencana mereka jadi mereka berusaha segera menikahkan mba dengan aku"
salman membuang kasar Nafasnya
"Mama dan papa belum tau kalo tante Dewi telah sadar mba.mereka besok berencana untuk membawa ustad dan menikahkan kita di hadapan Tante dewi sesui isi surat palsu itu mba"
"aku dan Sari besok akan pergi pagi-pagi mba, aku percaya mba, Rasya dan suami mba bisa mengatasi masalah ini,aku bukan nya mau kabur mba tapi aku harus bertanggung jawab terhadap anak yang di kandung Sari mba"
"ini ada ponsel Almarhum om mba yang di simpan papa, mudah-mudahan ada petunjuk di dalam nya mba " menyerahkan ponsel ke tangan Nadin
benda ini yang di cari mama dan Nadin setelah kecelakaan yang merenggut nyawa almarhum papa ponsel itu juga ikut menghilang..
Nadin menerima ponsel dari Salman
"man terimakasih selama ini kamu sudah sangat membantu ku " menunduk menitikan air mata
Satria yang duduk di sebelahnya mendekap Nadin dan mengusap usap punggung istrinya
Satria hanya menyimak dan mencerna dia tak begitu paham tentang apa yang terjadi dengan wanitanya selama ini.
"mba aku pamit ya mba, pak dokter aku percaya dokter akan menjaga dan melindungi mba Nadin " bangkit dan menyalami Nadin dan Satria bergantian.dan pergi meninggalkan Apartemen Satria
setelah kepergian Salman sepasang suami istri tengah berbaring di ranjang mereka
" lalu apa rencana mu nad ? " tanya Satria dia hanya bisa mengikuti apa yang menjadi rencana Nadin karena Nadin yang tau apa yang akan di lakukan
"kita ikuti dulu alur mereka bang, besok pagi kita harus kerumah sakit sebelum mereka datang" ujarnya sembari menguap rasa kantuk mulai datang
"tidurlah nad, selamat malam istriku" memeluk Nadin
Nadin kaget bukan main, dia berusaha melepas pelukan Satria.jantungnya berdebar debar tak karuan
"biarkan seperti ini Nad, sudah tidurlah" Satria mulai memejamkan mata
Nadin mulai merasa relaks didalam dekapan Satria dan dia mulai terlelap menyusul Suaminya yang terlelap lebih dulu..
esok ada banyak masalah yang harus di selesaikan...
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
jangan lupa bantu vote yahh kak biar emak semangat nulisnya π₯°π₯°π