CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Tangisan Lita Dan Diah


__ADS_3

Lita menangis dalam pelukan sang Nenek. "Maafkan Lita, Nek. Lita gak bisa menyatukan kembali Keluarga ini dengan Keluarga Kakek Burhan. Lita gak bisa berbahagia diatas penderitaan wanita lain. Huk... huk... huk...."


Nenek Nia mengusap kepala sang cucu. "Sudahlah Sayang.... Mungkin memang Kamu dan Vero tak berjodoh. Ada saja aral rintangannya. Nenek yakin, masih banyak diluar sana Laki-laki baik-baik untuk Kamu, Sayaang.... Jangan Kau pikul beban permusuhan ini pada pundakmu. Ikhlaskanlah.... Bukalah hatimu untuk pria lain." Nasehat Nenek.


"Sayaaang...." Fitri menghampiri Lita. Lita melerai pelukannya pada Nenek dan langsung berhambur pada Fitri.


"Mama.... Huk... huk... huk..." Lita masih menangis.


"Sudah ya Sayaaang.... Kasihan Auntie Nindi dan Uncle Marcel menunggu Kamu. Nanti Kamu ketinggalan pesawat.... Soal Keluarga Vero, biarkan masalah ini jadi tanggung jawab Kami. Kamu gak usah merasa bersalah, yaaahhh...." Fitri mengelus rambut Lita yang panjang dengan lembut.


Fitri melerai pelukannya dan mengusap airmata Lita. "Sudah yaaa... Duuuhhh cantiknya jadi berkurang kan...." Canda Fitri.


"Heeeeeh.... Mamaaa...." Lita merengek.


Fahri tersenyum melihat Adik sepupu nya. "Sudah sana... Kamu cuci muka. Nanti ketinggalan pesawat..." Kata Fahri.


"Yaaaa...." Lita bergegas ke kamar mandi dan membasuh wajahnya yang terlihat telah sembab matanya.


____________________________


Lambok, Tia dan Tristan sudah menunggu Lita di Lobby kedatangan Domestik. Tia terlihat cemas dari tadi mencari-cari Puteri nya karena pesawat yang ditumpangi Lita sudah landing 30 menit yang lalu.


"Duduklah Sayaaang.... Nanti Lita juga akan keluar..." Lambok mencoba menghibur sang istri.


Tia memang sangat cemas akan Puteri nya karena Dia sudah mendapat kabar dari Nindi dan Fitri tentang hubungan Lita, Vero dan Diah. "Aku takut, Puteri Kita kenapa-napa, Sayang...." Tia masih terlihat cemas.


"Maaaa... Itu Kak Lita..!!" Tristan setengah berteriak sambil langsung berlari ke arah Lita yang seperti nya habis menangis.


Sontak saja, Tia dan Lambok ikut berlari menghampiri Puteri Mereka.


Lita mendongak dan langsung memeluk sang adik. "Tristan...."


"Kakak....." Kata Tristan.


"Mama dan Papa mana? Kok Kamu sendiri?" Lita celingak celinguk.


"Itu Mereka Kak... Mereka sudah tak sabar menunggu Kakak dari tadi." Jelas Tristan.


"Mamaaaa...." Lita langsung berhambur pada sang Mama. "Aku kangen sama Mama..." Lita merengek.


"Ya Sayaang... Mama dan Papa juga adikmu, sangat merindukanmu. Kenapa lama sekali? Apa Kamu abis nangis di toilet?" Selidik Tia.


"Iissshhh Mama... Mama selalu tahu apa yang Aku lakukan....." Lita merengut.


"Sayaaang... Mama ini Mamamu... Mama tahu bagaimana Putera Puteri Mama." Canda Tia.


"Maafkan Lita Ma.... Papa...." Lita juga berhambur memeluk Lambok.

__ADS_1


Lambok tersenyum. "Sudah yaaahh... Kita pulang. Mama mu dari tadi sudah cemas menunggumu. Mama sudah masak makanan kesukaanmu." Hibur Lambok.


Lita tersenyum. Keluarga nya memang tak pernah membiarkan airmatanya mengalir dengan mudah.


Tristan dan Lambok membantu membawakan barang-barang Lita menuju parkiran dimana mobil Mereka berada.


_________________________


Bunda Dinda begitu resah. Sudah jam 7 pagi, namun Lita alias Puteri belum juga menampakan dirinya.


Vero memperhatikan ulah Sang Nenek. "Ada apa Nek? Kenapa terlihat gelisah sekali?" Tanya Vero.


"Kamu jangan pulang dulu Vero... Nenek akan mempertemukan Kamu dengan gadis pilihan Nenek." Bunda Dinda mengharap.


Vero menghela nafas. "Memang apa istimewa nya sih Nek? Nenek kan baru mengenal dia. Masa Nenek percaya begitu saja?" Vero bersandiwara.


Ayah Burhan tersenyum-senyum melihat kelakuan cucu nya.


"Pokok nya Kamu tunggu sampai Puteri datang, titik." Bunda Dinda nampak kesal.


Vero tersenyum. Vero mengusap tangan sang Nenek. "Iyaaaa.... Kali ini Vero menuruti kemauan Nenek."


"Ya gitu dong.... Kapan lagi Kamu membahagiakan Nenek." Rajuk Bunda Dinda.


Ayah Burhan menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan istri nya.


"Aku ke toilet dulu ya Nek. Aku mau cuci muka biar segar." Vero segera beranjak ke kamar mandi setelah mendapat anggukan dari sang nenek.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Ayah Burhan dan Bunda Dinda.


Bunda Dinda tersenyum matanya masih mencari. "Kamu kan temannya Puteri yang tempo hari Puteri ajak kesini?" Bunda masih menunggu sosok Puteri alias Lita.


"Ya Nek.... Aku Diah temannya Lita.... Eeehhh maksud Aku Puteri." Diah keceplosan omongan.


Bunda mengerutkan keningnya. "Lita?! Siapa Lita?!" Bunda sedikit kesal menyebut nama Lita.


"Puteri Nek. Maksud Aku, Puteri." Diah nampak gugup.


Ayah Burhan menepuk jidad nya sendiri.


"Kamu kenal Lita?! Apa dia ada disini?" Bunda Dinda terlihat kesal.


Diah menggeleng. "Tidak Nek."


"Atau jangan-jangan Puteri itu Lita?!" Bunda masih terus menyelidik.


Diah menunduk takut.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Vero baru saja keluar dari kamar mandi dan mendengar sang Nenek yang sedikit emosi.


"Diaaahhh... ngapain Kamu disini?" Vero mencari sosok Lita. "Lita mana...???"


Ayah Burhan kembali menepuk jidadnya sendiri. "Aduuuuhhhh.... Gagal sudah."


Vero heran melihat sang kakek. "Astaghfirullaah...." Vero membekap mulutnya sendiri menyadari keteledorannya.


"Ooohhh Kamu sudah mengenal gadis ini, Vero?! Jadi Puteri yang dimaksud adalah Lita?! Kalian mencoba menipu Nenek yah?!" Bunda Dinda sangat kesal.


"Bu... bukan Neekk... Maksud Vero...." Belum sempat Vero melanjutkan ucapannya, Bunda Dinda langsung nyerocos.


"Sudaaahhhh!! Nenek sudah paham sekarang. Jadi Lita berpura-pura menjadi Puteri dan mencoba mengambil perhatian Nenek. Dasar cucu sama nenek sama saja! Sama-sama tukang tipu!" Bentak Bunda Dinda.


"Tidak Nek... Nenek salah. Puteri ya Puteri... Lita beda lagi. Aku cuma kaget melihat gadis ini mirip sekali dengan sahabatnya Lita." Kata Vero yang dengan bodoh nya mengungkap kenyataan.


"Loohh memang gadis ini datang kesini bersama Puteri tempo hari. Jadi benarkan Puteri itu Lita!?" Bunda Dinda makin kesal.


Vero tercekat. "Astaghfirullaah... kenapa jadi begini?"


"Bunda....." Panggil Ayah Burhan. "Sudahlah Bunda... Puteri atau Lita atau siapapun, jangan lagi Bunda permasalahkan. Kasihan cucu Kita. Dia sangat mencintai Lita."


Bunda menatap tajam Ayah Burhan. "Jadi Ayah sudah tahu? Dan Ayah ikut dalam drama ini?!"


"Sudah lah Bun. Jangan diperpanjang. Semua ini juga demi kebaikan Vero. Puteri itu anak yang sangat baik." Ayah Burhan mencoba meredam kemarahan Bunda.


"Tidaaakkk!!! Aku tidak pernah mau merestui hubungan Vero dan Lita sampai kapanpun!!" Bunda Dinda meradang.


Diah nampak cemas. Diah segera ingin beranjak dari tempat itu. Tapi mata Bunda tak luput darinya.


"Kamuuu....!! Mau kemana?!" Tegur Bunda.


Vero dan Ayah Burhan yang sudah menunduk, baru menyadari kalau Diah masih berada disini.


"A... Aku ma... mau pulang saja Nek. Maaf... Aku telah membuat kekacauan ini..." Diah terlihat gugup dan ketakutan.


Vero langsung menghampiri Diah dan menarik tangan Diah sedikit kasar. "Ngapain Kamu kesini? Hubungan Kita sudah berakhir sejak lama!" Vero membawa Diah keluar dari ruang perawatan Sang Nenek.


Bunda Dinda mendengar perkataan Vero.


"Apa maksud Kamu membongkar semua ini!?" Vero terlihat kesal sekali setelah Mereka berada di luar ruang perawatan Bunda Dinda.


Diah sudah terisak. "A... Aku... Aku... hanya ingin menyampaikan berita...." Diah menunduk.


"Berita? Berita apa? Ingat Diah... hubungan Kita sudah berakhir. Dan Lita tidak merebutku dari siapapun. Kamu jangan punya pikiran Lita merusak hubungan Kita yang sudah berakhir sejak lama." Vero tegas.


"Tapi.... Kita belum putus Vero... Aku masih mencintaimu..." Diah memegang lengan Vero.

__ADS_1


Vero menepis perlahan. "Dengar Diah... Aku sudah memutuskanmu. Kalau Kamu tak terima, terserah Kamu." Vero tak bisa bersikap kasar pada Diah.


"Tapi apa salah Aku?" Dia mulai menangis.


__ADS_2