CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Siapa Calon Ku?


__ADS_3

"Assalamu alaikum..." Salam Fahri.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Nindi dan Marcel. Lita menjawab tapi tak terdengar karena kondisi nya yang masih sangat lemah.


"Deeekk... Sayaaang...." Fahri langsung menghampiri brankar Lita.


"Maaf... kan Aku, Bang...." Mata Lita mulai berkaca-kaca.


"Tidak Dek, Kamu gak salah. Abang yang kekanakan. Abang gak mau Kamu sakit. Kalau Kamu mau, Kamu boleh pukul Abang sekarang." Fahri hendak mengambil tangan Lita dan memukulkan ke wajahnya.


"Jangan... Bang... Aku sakit kalau Abang Sakit..." Kata Lita masih lemah.


Fahri mengecup jemari Lita. "Gara-gara Abang, Kamu malah gak akan bisa melihat pernikahan Abang..." Fahri nampak sedih sekali.


"Auntie...." Panggil Lita.


"Ya Sayang..." Nindi menghampiri Lita.


"Apa Aku bisa pulang ke Sumatera?" Lita berharap.


Fahri terkejut mendengarnya. "Dek...."


"Tidak Sayang... Kondisimu belum memungkinkan untuk ke Sumatera." Kata Nindi dengan lembut.


"Tapi Bang Fahri mau nikah. Aku jauh-jauh dari Negara J untuk menghadiri pernikahan Abang.... Tapi Papa dan Mama...." Lita kembali menangis. "Huk... huk... huk..."


"Ssttt... Sudahlah Sayang... Semua sudah terjadi. Abang gak apa kok Kamu gak hadir. Sekarang aja Abang bahagia bisa melihat Kamu." Fahri mencoba menghibur hati Lita.


"Tapi kan, Abang nikah hanya sekali..." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Kamu bisa melihat pernikahan Abang dari sini... Nanti Abang hubungi Kawan kerja Abang disini... Agar Dia menyambungkan acara pernikahan Abang ke laptop Kamu." Fahri kembali ingin menyenangkan Lita.


Lita akhirnya mengalah dan mencoba tersenyum.


"Dek... Besok Abang pulang ke Sumatera... Kamu baik-baik yah... Insyaa Allah setelah akad dan resepsi, Abang akan menjenguk Kamu kesini..." Kata Fahri.


"Aku gak mau lama-lama disini..." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Kalau Kamu gak mau lama disini, kenapa Kamu sakit? Kenapa Kamu gak pernah dengerin omongan Auntie...?" Nindi bicara dengan tegas.


"Maaf Auntie...." Lita memejamkan matanya. Lalu... "Papa dan Mama memaksaku untuk menerima lamaran yang Aku gak tahu dari siapa. Papa dan Mama gak mau ngertiin Aku..." Lita kembali terisak.


"Itu karena Papa dan Mama mu sayang sama Kamu, Lita. Kamu sangat mencintai laki-laki itu, makanya Mama dan Papa ingin memberi kejutan padamu... Tapi Kamu malah kerasukan dan tertekan..." Nindi menggeleng-gelengkan kepala.


Lita mengerutkan keningnya. "Aku mencintai laki-laki itu? Memang siapa?"


Nindi tersenyum. "Nanti Kamu juga tahu. Sekarang Kamu istirahat dulu. Auntie mau keluar." Kata Nindi.


"Fahri masih boleh disini, Auntie?" Harap Fahri.

__ADS_1


"Tentu saja kalau Lita menginginkannya." Canda Nindi.


"Abang disini saja. Besok Abang pulang ke Sumatera." Pinta Lita manja.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Lambok yang langsung menghampiri Nindi. Padahal tadi Marcel sudah memberitahu kondisi Lita pada seluruh Keluarga.


"Alhamdulillaah Kak... Tapi Aku mohon, biarkan Lita tenang dulu. Sepertinya Lita masih kecewa dengan Kalian." Kata Nindi.


Lambok menghela nafas.


"Ibu mau melihat Cucu Ibu." Nenek Nia tiba-tiba membuka suara.


"Mari Bu..." Nindi menggandeng tangan Ibu nya dengan lembut. Membawanya pada Lita, cucunya.


"Assalamu alaikum..." Salam Nenek Nia.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Fahri dan Lita.


"Nenek...." Panggil Lita lemah.


"Sayaang... Cucu Nenek..." Tergopoh-gopoh Nenek Nia menghampiri brankar Lita.


Fahri langsung membantu Sang Nenek untuk mendekat pada Lita dan memberikan tempat duduknya untuk Sang Nenek.


"Lita kangen Sama Nenek Manis..." Tangan Lita hendak memeluk Nenek Nia namun tidak bisa. Tangan Lita terkulai lemah.


"Nenek..." Lita menyambut pelukan Sang Nenek dengan airmata.


"Kamu itu... Senang sekali sakit... Hik...hik...hik..." Nenek Nia terisak.


"Maafkan Lita Nek..." Lita ikutan menangis.


"Kamu gak Sayang Nenek, hah? Kamu bikin Nenek khawatir...." Masih menangis.


"Gak Nek... Maafin Lita... Lita lagi banyak pikiran Nek..." Kata Lita masih terisak.


Nenek Nia melepas pelukannya. "Pikiran apa? Papa dan Mama mu sudah membawakanmu seorang pendamping, agar Kamu tidak sendirian lagi... Kamu bisa berbagi suka dan duka dengannya. Apalagi Dia sangat mencintai Kamu... Selama Kamu koma, Dia tak sekali pun meninggalkan Kamu disini. Dia mendoakan Kamu. Melafalkan Ayat-ayat Al Quran untuk kesehatan Kamu..." Rajuk Nenek Nia.


"Tapi Lita sudah bilang sama Mama dan Papa, Lita belum siap..." Kata Lita pelan. Lita merasa seluruh Keluarganya menginginkannya cepat menikah.


"Mau sampai kapan Kamu siap, Nak? Nenek sudah tua, Nenek mau disisa hidup Nenek, masih bisa melihat cucu-cucu Nenek di pelaminan." Nenek Nia mengusap airmatanya yang terus saja mengalir.


Lita terdiam. Lita tak pernah berani membantah keinginan Sang Nenek yang sangat Lita cintai. Lita juga berfikir, siapa sebenarnya calon Suami untuknya. Dia mengaji untuk Lita.


"Nek... Abang..." Panggil Lita.


"Ya Sayang..." Jawab Fahri.


"Sebenarnya siapa calon Suami Lita? Apa Lita mengenalnya?" Lita sangat penasaran.

__ADS_1


"Apa Kamu ingin bertemu dengannya?" Tanya Sang Nenek.


Lita mengangguk demi mengobati rasa penasarannya akan sosok laki-laki yang telah menemaninya selama koma dan mengaji untuknya.


"Sebaiknya Kamu tanya sama Papa dan Mama..." Fahri malah menambah teka-teki untuk Lita.


"Hik... hik... hik..." Lita kembali terisak karena keinginannya belum bisa dipenuhi.


"Nek... Sebaiknya Kita keluar. Kasihan sama Papa Lambok dan Mama Tia... Mereka ingin bertemu dengan Puterinya yang cantik ini..." Goda Fahri sambil mencubit Pipi Lita dengan lembut.


"Kamu gak boleh marah sama Mama dan Papa Kamu. Mereka sangat perhatian padamu... Semua yang Mereka ingin lakukan semata-mata ingin melihatmu bahagia..." Nasehat Nenek.


"Iya Nek... Lita janji akan minta maaf sama Mama dan Papa..." Kata Lita pelan.


"Sekarang Nenek keluar dulu yah... Gantian sama Mama dan Papa mu..." Pinta Nenek Nia.


Lita hanya bisa mengangguk dengan mengisyaratkan kelopak matanya.


"Abang juga keluar dulu yah. Nanti Abang kesini lagi..." Kata Fahri. Lita kembali mengangguk dengan isyarat matanya.


Tak lama....


"Assalamu alaikum Sayaang...." Tia langsung menghambur ke brankar Lita dan langsung memeluk Puterinya.


"Maafkan Lita Ma.... Huk... huk... huk..." Lita menangis dalam dekapan Sang Mama.


"Mama dan Papa juga minta maaf karena telah memaksamu... Hik... hik... hik..." Tia ikut terisak. Tia melerai dekapannya.


Lambok mendekat dan memeluk Puterinya.


"Kening Papa kenapa?" Tanya Lita dalam dekapan Lambok.


Ada yang mengamuk dan menimpuk kepala Papa dengan botol parfumnya. Canda Lambok sambil melerai pelukannya.


Lita nampak bingung.


"Pa.... Nanti saja bahasnya." Kata Tia pelan.


Tapi Lita kembali memaksa ingin tahu. "Pa... Siapa yang melempari Papa dengan botol parfum?" Lita makin penasaran.


Lambok melirik kearah Tia. Tia hanya menghela nafas. "Mau gimana lagi Pa... Puterimu memang keras kepala." Kata Tia.


"Maksud Mama? Apa Aku yang melakukannya?" Lita agak ragu. Tapi Lita teringat sesuatu.


"Kamu tidak sadar Sayang. Kamu kerasukan dan yang merasuki Kamu sangat menginginkan Kamu..." Kata Lambok pada akhirnya.


Lita nampak serius. "Pa... Maafkan Lita..." Lirih. "Waktu Aku ke kamar mandi, Aku sekilas melihat bayangan tapi Aku tak menggubrisnya. Aku pikir hanya halusinasi ku saja. Aku menangis dan seperti ada yang mengelusku. Tapi Aku gak melihat wujudnya. Hingga sesuatu masuk ke tubuhku yang Aku gak tahu, apa. Sudah itu Aku gak ingat apa-apa lagi. Aku hanya ingat Tristan menangis dan memohon padaku. Tapi Aku gak tahu kenapa..." Lita kembali terisak.


"Sudah yah Sayang... Papa dan Mama tak mau Kamu memikirkan hal itu lagi. Papa dan Mama hanya ingin melihat Kamu bahagia." Kata Lambok.

__ADS_1


__ADS_2