
"Ya Tuhan....!" Leo menepak jidadnya sendiri.
"Ada apa Nak?" Tanya Alex.
"Hari ini kekasihku Ulang Tahun, Pa. Oh My God... Kenapa bisa sampai lupa." Leo mengambil ponselnya. Dia menelpon sebuah toko langganannya.
Leo dengan detail memberikan alamat Mess Lita. Dan Dia meminta agar paket nya sampai ditangan Lita. Leo memang sudah membuka file data Mahasiswi yang bernama Lalita Puteri Wijaya. Semua sudah tersimpan dalam otaknya.
Leo mengirimkan pesan pada Lita. 🌷SELAMAT ULANG TAHUN LITA.... AKU MERINDUKANMU😚😘🌷
Satu menit berlalu... Tak ada jawaban atau tanda-tanda dibaca. Leo menghela nafas.
Alex memperhatikannya. "Ada apa Nak? Kenapa Kamu tak pernah mengenalkannya pada Papa? Apa Papa mu ini tak berarti lagi buat mu?" Tanya Alex sedikit kecewa.
"Papa.... Jangan bicara seperti itu. Aku belum mengenalkan pada Papa, karena cintaku bertepuk sebelah tangan." Jelas Leo.
"Apa??!! Bagaimana mungkin? Wanita mana yang menolak laki-laki tampan sepertimu?!" Alex tak percaya.
Leo menghela nafas. Leo menceritakan kalau Lita belum pernah melihat wajah tampannya. Sejak awal semester dua, Mereka belum pernah bertemu sama sekali.
"Bagaimana mungkin satu Kampus tapi gak pernah bertemu?" Alex terlihat bingung.
"Mungkin karena wajahku berubah. Dia tak mengenaliku." Jawab Leo.
"Lalu bagaimana dirimu tak pernah menemukannya?" Tanya Alex.
"Iya juga ya... Semua lembaran tugas dan test nya ada tapi orangnya gak ada." Leo nampak berfikir.
"Besok kembalilah bekerja. Papa sudah tidak apa-apa." Pinta Alex.
"Tapi Pa..." Leo menampik.
"Tidak ada tapi. Ingat usia mu sudah berapa? Alexa sudah memberi Papa dua cucu. Kamu istri saja belum ada." Alex marah dibuat-buat.
"Lalu Papa sama siapa selama Aku pergi kerja?" Leo nampak khawatir.
"Nak... Di rumah sakit ini banyak perawat. Apalagi siang, masa iya Papa terlantar?" Ketus Alex.
Leo tertawa melihat Sang Papa yang begitu semangat menyemangati dirinya untuk mendapatkan cinta.
_________________________________
"Permisi..... Apa betul ini Kamar Mess Nona Lalita Puteri Wijaya?" Seorang kurir berdiri di depan pintu Mess Lita dan Astrid. Kebetulan pintu nya tidak tertutup.
"Iya Saya... Ada apa ya?" Tanya Lita sedikit kaget.
"Ada kiriman paket buat Nona." Kata kurir tersebut sambil menyerahkan sebuket bunga dan sebuah kotak kecil juga kotak besar.
Lita membaca nama pengirim di kartu Ucapan. "Pak Leo???" Lita mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tolong tanda terima nya ditanda tangani Nona." Kurir itu mengagetkan Lita.
"Pak... Kembalikan saja paket ini. Saya tidak bisa menerimanya." Pinta Lita.
"Tapi Nona... Saya hanya bertugas mengantar bukan mengembalikan." Kata kurir itu.
"Nanti Saya ganti biaya kirimnya." Kata Lita.
"Tidak Nona, tugas Saya mengantar sampai Nona sendiri yang menerimanya." Kurir sedikit kesal.
"Siapa Dek?" Atala menghampiri Lita yang tengah berdebat.
"Ini kurir nya memaksa Aku menerima paket ini." Lita mengrucutkan bibirnya.
Atala membaca nama pengirim di kartu ucapan juga membaca ucapan yang tertulis: 🌷SELAMAT ULANG TAHUN, LALITA PUTERI WIJAYA🌷 LOVE YOU😚 dari Leo😘. Tapi Atala tak membacakan Love you nya. Dia menjaga perasaan Arby.
"Biar Saya yang terima Pak." Atala mengambil paket itu. Dan menandatangani tanda terima.
"Tapi Kak...." Lita sangat kesal.
"Tunggu Pak..." Atala merogoh saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang sebagai tips. "Nanti kalau Ditanya yang terima Kakak nya." Atala tersenyum pada Kurir.
"Baik Tuan, terima kasih banyak." Sambil membungkuk Kurir meninggalkan Mess Lita.
"Kak Atala apa-apaan siiihhh... Kenapa diterima?" Lita sedikit kesal.
"Waaaahhh kelihatannya Enak sekali...." Vita begitu tergoda melihat sebuah kue ulang tahun. "Cantik banget kue nya. Jadi gak tega untuk memakannya..." Canda Vita.
"Siapa Leo, Dek?" Tanya Atala. Atala meletakan buket bunga dan kado kecil di meja tepat di depan Lita duduk.
"Dosen ku." Jawab Lita ketus.
Fathir pura-pura tak mendengar. Dia tidak enak karena ada Arby disana.
Arby sendiri merasa cemburu dengan bingkisan itu. Tapi Dia menghibur dirinya karena Lita belum sepenuhnya menerima cintanya.
"Waaahhh kalau twins itu kenapa selalu sama ya...???" Atala menjentikan jari nya di dagu.
"Sama apa nya Sayang? Aku dan Lita kan memang selalu sehati walau wajah Kami tak identik." Tanya Vita.
"Hhhmmm... Kamu ditaksir Dosen mu yang brengsek itu. Sekarang Lita dikirimi Hadiah dan ucapan Ulang Tahun, juga oleh Dosennya. Bukannya sama?" Canda Atala.
"Memang nya kenapa kalau Dosen Lita mengirimi Hadiah pada Lita?" Tiba-tiba Arby membuka suara.
"Apa Kamu cemburu? Atau Cemas?" Tanya Atala.
Arby menggeleng. "Aku hanya ingin melihat Lita bahagia." Arby menunduk. Ada rasa sedih di mata nya.
Lita jadi salah tingkah. "Besok Aku kembalikan." Kata Lita singkat.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus dikembalikan, Sayaang?" Tanya Arby.
"Aku gak mau ada salah paham nanti nya." Jawab Lita singkat.
"Lalu apakah dengan mengembalikannya Kamu merasa tenang? Apa Dia tak akan kecewa? Sakit hati mungkin?" Tanya Arby.
Lita menghela nafas. "Lalu Aku harus apa?" Lita menyerah.
"Telpon Dia dan katakan terima kasih pada nya." Pinta Arby.
"Gak... Aku gak mau. Besok saja kalau ketemu di kampus." Kata Lita enggan.
"Terserah Kamu. Yang penting jangan membuat orang lain kecewa." Kata Arby.
"Lalu apa Kak Arby tak kecewa?" Tanya Lita.
Arby tersenyum. "Bagiku, Dia ingin ikut merayakan Ulang tahun mu. Mungkin Dia berhalangan untuk datang kesini."
"Ya sudah kalau Lita gak mau, biar Aku saja yang terima. Kan ini ulang tahun ku juga. Boleh dong Sayaaang..." Vita mengerlingkan mata nakal ke arah Atala.
Atala tersenyum. "Boleh Sayang... Toh Kamu tidak mengenalnya." Canda Atala.
"Terserah kalian saja." Lita mengrucutkan bibirnya. Lita bersedekap.
Arby ingin sekali memeluk Lita, namun apa daya, banyak bogyguard nya Lita disini. Arby hanya menghela nafas saja menahan rindu pada Lita.
Vita menaruh buket bunga ke dalam Vas. Dia juga sudah memotong kue ulang tahun dari Leo dan menghidangkannya di piring untuk yang hadir di sana.
Semua mencicipi kue dari Leo, hanya Lita saja yang tak mau memakannya. Berulang kali Arby menyuapi nya tapi Lita menolaknya.
Atala menyembunyikan kado kecil dari Leo. Dia ingin menjaga perasaan Arby. Arby memang tidak tahu dengan hadiah kecil itu.
Atala sudah dapat mengira apa isi nya. Tapi Atala tak sampai disitu, dari tadi Dia memperhatikan Fathir yang hanya diam. "Sepertinya Fathir tahu sesuatu. Joana juga hanya diam. Biasa nya Mereka berdua yang paling ramai kalau masalah ngebully." Batin Atala.
Lita sebenarnya mencari kotak itu. Karena seingatnya kurir memberikan tiga hadiah. Tapi Lita akhir nya masa bodo, toh dia memang gak mau menerima nya.
Ponsel Lita berulang kali berdering. Namun tak kunjung dijawab. Karena memang ponsel itu berada dalam tas dan tas itu berada di dalam kamar. Astrid yang memindahkannya.
"Sudah hampir larut malam. Sebaiknya Kita kembali ke hotel." Tiba-tiba Fathir membuka suara.
Peraturan Mess memang tidak boleh menerima tamu sampai larut malam atau pun menginap.
"Arby, Kamu ikut Kami saja. Biar besok Kita bisa ngobrol lagi." Pinta Fathir.
"Tapi...." Arby merasa tak enak. Dia tahu hotel tempat menginap saudara-saudara Lita sangat tak terjangkau dengan isi dompetnya. Sebelum ke Mess Lita, Saudara-saudara Lita memang menjemputnya di Bandara karena Astrid yang meminta. Dan membawa dirinya ke hotel untuk beristirahat sejenak sambil menunggu Astrid.
"Tidak apa. Kamu belum booking kamar kan? Tadi Saya sudah booking buat Kamu." Kata Atala menimpali omongan Fathir.
Mereka pun berpamitan. Ada cinta dalam tatapan Arby pada Lita.
__ADS_1
Arby menggenggam tangan Lita. "Semoga Kamu berbahagia selalu..." Arby tersenyum dan mengecup jemari Lita.
"Terima kasih Kak..." Jawab Lita.