CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Belum Juga Jujur


__ADS_3

"Atala....." Panggil Friska dalam igauannya. Friska memang belum sadar dari tadi. Rafa memang pulang untuk menunggu Atala.


Atala menghampiri Friska. Walau bagaimana pun Friska adalah sahabatnya walau pernikahan ini sangat menyakitkan.


"Aku disini." Kata Atala seraya duduk disamping brankar Friska.


Tapi Friska belum juga membuka matanya. Atala segera memencet tombol darurat ke ruang dokter atau perawat.


Tak lama Dokter dan seorang perawat datang ke ruangan itu.


"Ada apa?" Tanya Dokter yang segera menghampiri Brankar Friska.


"Dia mengigau Dok." Kata Atala.


"Alhamdulillaah... Berarti Bu Friska sudah melewati masa kritisnya." Kata Dokter.


"Alhamdulillaah..." Kata Atala.


Sedangkan Diandra dan Ustadz Joey sudah pulang karena Atala yang memintanya.


Fathir, Vero dan Lita juga sudah pulang karena Atala yang memintanya.


"Tolong diajak bicara terus agar otak bawah sadarnya merespon." Pinta Dokter.


"Baik Dok." Kata Atala.


Setelahnya Dokter dan Perawat meninggalkan ruangan Friska setelah melepas beberapa alat medis pernafasan dari wajah Friska.


Atala kembali duduk. Dia memandangi wajah Friska yang terpejam. "Kamu cantik... Sangat cantik.... Seharusnya Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih segalanya dari Aku. Bukan malah menjebakku dalam pernikahan ini." Kata Atala pada Friska.


Airmata Friska menetes jatuh ke pipi.


"Kalau Kau mendengarku, bangunlah. Aku gak akan marah. Aku adalah sahabatmu... Tolong jangan meminta lebih... Hatiku sudah ada yang mengisi....Kamu juga tahu itu." Kata Atala yang mengusap airmata Friska lembut.


Namun airmata itu tetap mengalir seperti kesedihan yang teramat sangat, Atala berharap itu adalah penyesalan.


Pintu ruang rawat terbuka. Atala menoleh. "Fathir...??? Kok kembali kesini?" Tanya Atala bingung.


"Aku gak bisa meninggalkanmu sendirian. Setelah mengantar Lita dan Vero, Aku langsung kesini. Aku ingin membangunkan Nenek lampir ini..." Kata Fathir menunjuk pada Friska.


Atala menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Sssttt... Dia mendengarmu." Kata Atala setengah berbisik.


"Biar... Biar Dia mendengar... Aku mau tahu reaksinya setelah Dia mendapatkanmu dengan cara yang licik." Kata Fathir tegas.


Airmata Friska tambah deras. Tubuhnya terguncang seperti orang yang sedang menangis sesegukkan.


Atala melihat itu. Dia merasa kasihan pada Friska. "Friska.... Bangunlah... Aku dan Fathir ada disini." Atala mengusap kepala Friska.


"Huk... huk... huk...." Friska mulai menangis. Dia mengerjabkan mata. Perlahan Friska membuka matanya.


Atala tersenyum. "Kamu jangan menangis lagi...." Pinta Atala yang segera mengusap airmata Friska.


"Ma... af... kan ...... Aku....." Kata Friska terbata-bata.

__ADS_1


Atala mengangguk.


"Enak saja minta maaf...! Memang Kamu kira hatinya Vita terbuat dari apa?! Haaahh!!" Bentak Fathir.


Friska tersentak karena suara Fathir yang meninggi. Friska masih menangis.


"Fathiiirrr...! Jangan seperti itu...! Kasihan Friska, Dia baru saja tersadar..." Kata Atala.


"Biarin... Kenapa Lo gak mati saja sekalian..!" Hardik Fathir.


"Fathiir...!" Bentak Atala.


"Kenapa Kamu masih saja membelanya?Sudah jelas-jelas Dia menjebakmu..! Aku yang sakit melihat Adikku terluka..." Fathir merendahkan intonasi bicaranya.


"Maafkan Aku Fathir..." Kata Friska lemah. Tubuhnya bergerak hendak duduk tapi tak kuat karena masih lemas.


Atala membantunya. "Kamu mau duduk?" Tanya Atala.


Frika mengedipkan matanya tanda setuju.


Atala segera menaikan brankar bagian kepala Friska.


"Terima kasih Atala..." Kata Friska pelan.


Atala tersenyum. Fathir masih terlihat kesal. Apalagi melihat perlakuan Atala pada Friska yang sangat baik.


"Suami yang baik...!" Ketus Fathir.


"Ya setelah itu Kamu akan memberikan kewajibanmu padanya...!" Fathir masih ketus.


"Maafkan Aku Atala.... Aku tak bermaksud menjebakmu... Tapi kenapa Kamu menyentuhku, kalau Kamu tak mencintaiku?" Tanya Friska pelan.


Atala menggeleng. "Aku tak melakukan apa-apa... Aku juga gak tahu kenapa Aku berada disisimu pagi itu." Kata Atala.


Friska kembali meneteskan airmata. Di satu sisi nya, Dia tahu dirinya bersalah, tapi disisi hatinya yang lain, Dia tak mau melepaskan Atala karena Dia sangat mencintai Atala. Apalagi sekarang Atala telah menjadi suaminya.


"Eh Friska...! Sebaiknya Kamu jujur sekarang... Dan biarkan Atala bahagia..." Pinta Fathir masih ketus.


Tiba-tiba Friska merasa mual. Fathir melihatnya. "Heeeyy... Kamu mau apa? jangan Kamu muntah sembarangan ya...!" Ketus Fathir.


Atala terkejut dan langsung mengambil pispot dari wastefel dekat pintu kamar mandi.


Kemudian Atala menaruh pispot itu diatas pangkuan Friska. Atala juga membantu memijat tengkuk Friska.


"Hueekk... Hueekk..." Friska muntah-mntah. Hanya cairan yang keluar. "Atala... Aku pusing... Perutku mual." Rengek Friska.


"Fathir... Tolong panggilkan Dokter." Pinta Atala.


Fathir segera memencet tombol darurat. Atala menghela nafas. Dia hampir lupa kalau ada tombol itu.


Tak lama seorang Dokter dan Perawat masuk kedalam ruang rawat Friska.


"Ada apa?" Tanya Dokter yang sedikit panik.

__ADS_1


"Friska muntah-muntah Dok. Kepala nya pusing." Kata Atala.


"Oohh... Saya pikir kenapa..." Dokter tersenyum. "Bu Friska gak apa-apa... Ini wajar untuk Ibu yang sedang hamil muda... Usia kandungannya menginjak 4 minggu." Kata Dokter.


"Apa..??!! Friska hamil?" Atala dan Fathir terperanjat kaget bersamaan.


Dokter mengernyitkan keningnya karena bingung. "Loohh... kenapa kaget? Wajarkan jika Bu Friska hamil? Anda suaminya, kan?" Dokter heran.


Atala menghela nafas. "Maaf Dok." Atala tak dapat berdebat. Dia langsung tersadar. Kejadian itu sudah lewat lebih dari sebulan yang lalu.


"Ya Allaah... Kenapa jadi begini? Aku harus menjaganya berapa lama?" Batin Atala.


Fathir menepuk bahu Atala. "Kamu yang sabar. Semoga semua cepat selesai." Hibur Fathir.


Friska pun tak kalah terkejut mendengar dirinya telah berbadan dua. Baru saja kemarin Dia menikah dengan Atala tapi kini Dia telah hamil.


Friska menangis, Dia bingung harus bahagia atau bersedih mendengar berita ini. Kenyataannya Dia belum siap untuk hamil. Walau Usia nya sudah matang untuk menjadi seorang Ibu.


Friska masih bingung karena Atala yang juga tak mengakui kalau Atala telah menyentuhnya. Airmatanya kembali menetes.


"Bu Friska jangan kebanyakan stress ya... Kasihan dengan janin yang ada di perut Ibu." Kata Dokter.


"Pak Atala, istrinya dijaga baik-baik ya." Pesan Dokter.


Atala hanya mengangguk pasrah. "Ya Allah... Apa benar anak yang dikandung Friska adalah anak Aku?" Batin Atala.


"Kalau begitu Kami permisi.... Nanti kalau ada apa-apa panggil saja lagi." Kata Dokter.


"Terima kasih Dok." Kata Atala.


Sepeninggal Dokter dan Perawat.


"Waahhh... Tokcer juga ya... Baru disentuh udah tekdung..." Kata Fathir.


Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Memang kalau orang pingsan bisa berbuat begitu ya?" Tanya Atala tiba-tiba.


"Maksud Kamu?" Tanya Fathir dan Friska berbarengan.


"Malam itu saat Aku hendak mengikuti orang itu menunjukan dimana Friska, tiba-tiba mulutku dibekap dari belakang. Aku sudah sempat berontak. Tapi sepertinya obat biusnya sudah terlanjur terisap hidungku. Makanya Aku langsung tak sadar." Jelas Atala.


Fathir mengangguk, Dia menatap Friska meminta jawaban. Friska yang merasa Fathir menatapnya langsung menunduk.


"Maafkan Aku....." Kata Friska pelan.


"Sekarang Kamu cerita pada Kami sejujurnya.... Jangan Kamu Egois memikirkan kebahagiaanmu sendiri...." Tegas Fathir pada Friska.


"Aku..... Aku...... Aku gak tahu..." Friska menunduk menutupi kebohongannya.


"Gimana bisa gak tahu?!!" Tiba-tiba Fathir membentak Friska.


Friska tersentak dan Dia langsung menangis karena bentakan Fathir. "Huk... huk... huk..."


Atala terlihat bingung. Tapi Fathir mencegahnya agar Atala tak mengasihani Friska.

__ADS_1


__ADS_2