CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Masih Liburan


__ADS_3

Leo memandang wajahnya di cermin. Teriakan anak kecil itu terngiang di telinga nya. Kata-kata Fathir masih tersimpan di kepala nya.


Leo meraba bulu-bulu yang tumbuh lebat di wajah nya. Mata nya terlihat sendu. Dia sangat sedih. Dibuka nya laci meja rias yang ada di kamar resort nya.


Leo memang sudah menata barang-barang nya di resort yang akan Dia tempati selama liburannya. Dilihat nya bungkusan silet. Dia mengambilnya dan membukanya.


Perlahan Dia usap silet itu. "Aaaaccchhhh...." Jari nya berdarah. Darah segar mengucur, buru-buru Leo mengambil tisu yang ada di meja rias itu.


"Sial....!! Tajam sekali..! Untung jariku... Coba kalau terkena wajahku.... Ya Tuhaaannn...." Leo menggrutu.


Diolesi jari nya dengan salep kemudian Dia perban. Leo membuang silet yang telah melukai jari nya. Dia mengambil gunting. Perlahan Dia potong bulu di wajah nya yang memang sangat tebal itu.


Bulu-bulu itu berjatuhan sejumput demi sejumput. Leo sangat berhati-hati. Lima belas menit berlalu. Bulu-bulu itu telah terkikis walau tak sampai halus. Leo meraba kembali wajahnya. Kulit putih wajah nya mulai nampak. Ketampanannya pun tak memudar, masih seperti dulu.


Leo meletakkan guntingnya. Dia mengambil alar cukur dan mulai mencukur habis bulu-bulu yang tumbuh di wajahnya.


Leo menghela nafas. Dia tersenyum. Bayangan Lita seakan menari-nari di depan wajahnya. Leo membersihkan wajahnya dan memolesi nya dengan cream.


Setelah nya Leo menyapu lantai dimana banyak bulu-bulu yang berserakan disana. Dia tak mau memakai jasa OB kalau untuk privasi nya.


Setelah semua nya bersih, Leo merebahkan tubuh nya di kasur empuk. Menopang kepala nya dengan kedua telapak tangannya. Kaki nya masih terjuntai dipinggir ranjang. Mata nya menatap langit-langit.


"Kalau Lita melihat wajahku.... Lita pasti akan menyukainya... Dan Aku gak perlu memenuhi persyaratan apapun dari Abang nya itu." Leo menyeringai licik.


__________________________________


Di Singapura


"Aaauuuuwwww.....!" Lita mengulum jemari nya yang terkena pisau. Lita sedang memasak. (Bersamaan dengan tersiletnya jari Leo, perbedaan waktu, di Negara J malam, di Singapura pagi menjelang siang)


"Ada apa Lita?" Astrid terkejut mendengar teriakan Lita. Astrid melihat Lita yang mengulum jemarinya. Astrid mengambil jari itu.


"Ya ampun... Kenapa bisa sampai teriris gini siihhh...?" Astrid mengambil kotak obat. Dan mengolesi salep ke jari Lita. "Kamu melamun ya?" Tanya Astrid.


Lita menggeleng. "Aku gak melamun. Aku sangat fokus. Memang lagi apes." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Ya sudah... Kamu istirahat saja, biar Aku yang mengerjakannya sendiri." Pinta Astrid.


"Gak apa-apa kok. Lagian biar cepat selesai. Sudah jam berapa nih... Sebentar lagi Kak Arham datang." Kata Lita.


Astrid menghela nafas. Dia tersenyum. "Ok....Ayo lanjut."


Mereka tersenyum berbarengan.


Jam 11 siang. Lita dan Astrid sudah rapih. Mereka sedang menunggu Arham.


Tak lama sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah Astrid.

__ADS_1


"Tuuuuhh Dia....!" Kata Astrid setengah berteriak.


Arham turun dari mobil. "Sudah siap semua?" Tanya Arham.


Astrid mengangguk sambil tersenyum. Lita keluar menenteng bawaannya. Dan memasukan kedalam mobil.


"Loh itu jari mu kenapa, Dek..???" Tanya Arham cemas.


"Gak apa Kak... accident kecil." Canda Lita.


"Kalo kerja hati-hati dong Dek..." Kata Arham lembut. Sejak hari itu, Arham memang sudah menganggap Lita seperti Adik kandungnya sendiri. Lita merasa tak kekurangan kasih sayang dari seorang Abang.


"Ini nama nya lagi apes, Kak. Sudah hati-hati masih saja terluka." Tegas Lita.


"Hhhmmm...." Arham memyerah.


"Sudah semua Sayang..." Kata Astrid tiba-tiba.


"Sudah??? Gak ada yang tertinggal??" Tanya Arham mengecek kembali.


Astrid mengangguk.


"Ok... Kalau gitu Kita berangkat. Kamu gak apa kan Dek, Kakak ajak Arby?" Tanya Arham.


"Iya...." Kata Lita. Lita memang sudah tahu kalau Arham mengajak Arby. Awal nya Lita menolak untuk ikut. Tapi karena Astrid memberi nya pengertian dan juga semangat, akhirnya Lita mau juga ikut.


"Kalau gigit nanti kasih batu saja. Biar ompong sekalian!" Lita mengrucutkan bibirnya.


"Hahahahaha....." Astrid dan Arham tertawa.


__________________________________


Dua hari kemudian.


"Sebaiknya Aku menjenguk Mama. Aku kesepian disini." Batin Leo.


Baru dua hari Leo di resort, Dia merasa tak betah. Banyak pasangan yang menginap sangat kesal dengan Leo. Karena wanita Mereka melirik Leo. Ada juga yang langsung menghampiri Leo dengan berani. Ada juga yang langsung mencuri pipi Leo.


Mood Leo benar-benar terganggu. Leo sudah berkemas. Semalam juga Dia sudah membooking tiket ke Indonesia.


Pintu Resort nya diketuk. Tok...tok...tok...


"Ya... Sebentar...!" Sahut Leo. Leo menarik koper nya dan sebuah tas selempangnya yang Dia jinjing.


Leo membuka pintu. Seorang OB tersenyum pada nya. "Ini saja, Tuan?" Tanya nya.


Leo mengangguk. OB itu membawakan koper Leo ke dalam mobil.

__ADS_1


"Nanti tolong dirapihkan semua." Kata Leo sambil memyerahkan beberapa lembar uang kertas sebagai tips kepada OB itu.


"Baik Tuan. Terima kasih banyak." Kata OB tersebut sambil membungkuk. Leo hanya mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya setelah semua nya beres.


Satu Jam perjalanan menuju bandara. Leo memarkirkan mobil nya di parkiran mobil menginap di Bandara Negara J.


__________________________________


Lita terlihat sudah mulai akrab dengan Arby. Arby yang pembawaannya mudah bergaul, membuat Lita sangat nyaman.


"Dia memang Arby. Bukan Bang Vero. Bang Vero masih sedikit kaku dalam bergaul. Tapi Arby memang berbeda." Lita terlihat melamun memandang wajah Arby.


"Hhhmmm.... Kayak nya ada yang sedang terpesona nih..." Tiba-tiba Astrid datang dan membuyarkan lamunan Lita.


Lita masih tak bergeming. Arby yang ditatap Lita jadi salah tingkah. Arby melambaikan tangannya. Astrid mengguncang bahu Lita. Seketika Lita terkejut.


"Eehh... Iyaaa... Ada apa..???" Lita tergagap.


"Aku ganteng ya?" Goda Arby.


"Haahhh...!!" Lita masih tak nyambung.


"Sudah mulai jatuh cinta ya..!???" Goda Astrid.


Arham merangkul bahu Lita. "Gantengan mana Arby sama Aku??" Goda Arham.


Lita menoleh dan melepaskan rangkulan Arham. "Kalian apa-apaan siiih..??!! Bikin jantung Aku mau copot saja!" Lita mengrucutkan bibirnya. "Siapa juga yang suka sama Kak Arby. Ke GR an nih Kak Arby." Lita merengut.


"Loh dari tadi Kamu memandangi wajahku sampai tak berkedip." Goda Arby.


"Aa..ku... Aku... Bukan berarti Aku melihat wajah Kakak dan menyukainya..." Lita mengeles.


"Hahahahaha...." Mereka bertiga tertawa, menertawakan wajah Lita yang sudah bersemu merah.


"Kalau suka bilang suka... Jangan dipendam... Nanti jadi jerawat batu baru rasa... Hahahaha..." Ejek Arham.


Lita memukul paha Arham. Mereka memang sedang duduk lesehan di tikar. Di sebuah taman yang sangat asri.


"Gak segampang itu Aku menyukai seseorang...!!" Lita sedikit teriak.


Sedangkan Arham sudah mengaduh karena pahanya yang ditabok Lita sangat kencang.


"Kalau Aku bilang suka sama Kamu, Kamu mau terima?" Tiba-tiba Arby menembak Lita. Arby tahu seharusnya Dia yang terlebih dahulu menyatakan perasaannya pada Lita.


Arby sangat menyukai Lita sejak awal bertemu. Walau sempat kecewa karena Lita yang tiba-tiba pergi begitu saja. Namun cerita Arham mengenai Lita, membuat Arby sangat berempati dan ingin mengenal Lita lebih dekat.


Lita terpana tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2