
Hari Pernikahan makin dekat. Kondisi kesehatan Vita makin menurun. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya juga nampak lebih kurus.
Kebayanya yang sudah pas kini nampak lebih longgar. Wajahnya makin terlihat tirus.
Pengajian digelar ba'da ashar di kediaman Lambok. Segala persiapan sudah 100 persen.
Tia nampak khawatir dengan kondisi Vita. Akhir-akhir ini Vita sangat susah untuk makan. Vita terus saja beralasan berpuasa. Tapi Vita tidak sahur dan saatnya berbuka, Vita tidak memberi asupan yang baik buat tubuhnya.
"Sayaaang... Kalau Kamu gak kuat, Kamu duduk saja. Gak usah menyambut tamu." Pinta Tia. Vita hanya mengangguk.
"Hari ini Kamu gak puasa kan?" Tanya Tia.
Vita menggeleng. "Ya Ma... Hari ini Aku gak puasa."
"Lita... Kamu temani Vita ya... Jangan biarkan Vita mengerjakan apapun." Pinta Tia.
"Ya Ma..." Jawab Lita.
Ibu-ibu pengajian pun sudah tiba di rumah Lambok.
Pengajian dilaksanakan dengan penuh khidmad. Telapak tangan Vita dihias dengan inai oleh Ibu-ibu pengajian sambil terus membacakan shalawat Nabi.
Sebelum Maghrib, acara pengajian telah selesai. Ibu-ibu pengajian meninggalkan kediaman Lambok dengan buah tangan Mereka bawa dari rumah Lambok-Tia.
Vita hendak membantu merapihkan sisa-sisa acara tapi dilarang oleh Fitri. "Eehhh... Kamu mau ngapain? Calon pengantin istirahat saja yah..." Canda Fitri.
"Ya Ma..." Kata Vita.
"Lita... Bawa Vita ke kamar ya... Biarkan Vita istirahat." Kata Mama Fitri.
"Aku gak mau ke kamar Ma... Aku mau disini saja..." Kata Vita.
"Ya boleh... Tapi janji gak melakukan apa-apa..." Kata Fitri.
Vita mengangguk. "Ma... Apa Abang Fathir akan datang? Aku kangen sama Abang..." Kata Vita.
"Abang disini Sayaaang...!!" Tiba-tiba Fathir sudah berada di ruang tamu dan merentangkan kedua tangannya. "Assalamu alaikum...." Salam Fathir dan Joana.
Vita langsung berlari kearah Fathir. Fathir menangkapnya. Vita menangis menumpahkan rasa rindunya pada Fathir.
"Huk....huk...huk...." Vita menangis sangat sedih.
Fathir mengelus punggung Vita. "Kok Abang datang malah nangis kejer??" Fathir terlihat bingung.
"Kamu masuk duluan ya Sayang... Aku mau urus adikku dulu." Kata Fathir pada Joana.
Joana tersenyum dan mengangguk. Joana menghampiri Fitri dan Tia.
"Waaahhh cucu Nenek sudah besar..." Fitri terlihat senang melihat Joana yang menggendong Putera nya.
Joana mencium punggung telapak tangan Fitri dan Tia. "Kamu sehat-sehat kan Sayang?" Tanya Fitri.
"Alhamdulillaah sehat Ma... Walau Jovan sangat aktif banget Ma... Kadang Aku kewalahan ngurusnya kalau Bang Fathir gak ada." Kata Joana.
Fitri dan Tia tersenyum. "Anak laki-laki memang seperti itu, Sayaang...." Fitri mengusap kepala Joana yang tertutup hijab.
__ADS_1
Di ruang tamu.
Fathir membawa Vita duduk di sofa.
"Apa Kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu?" Tanya Fathir pada Vita.
Vita menggeleng. "Abang kan tahu, Aku hanya mencintai Kak Atala, dari dulu dan sampai kapanpun.. Hik.. hik.. hik..." Vita masih sesegukan.
Fathir menghela nafas. "Kamu harus sabar, Dek. Kamu jangan takut, kalau Gery macam-macam, Kamu bilang sama Abang... Abang akan selalu melindungi Kamu. Kamu jangan sedih lagi ya... Lihatlah diri Kamu... Kamu terlihat sangat kurus. Jelek tahu..." Goda Fathir.
"Iihhh Abang...." Vita memukul dada Fathir.
"Bang... minum dulu..." Joana mengantarkan teh manis lemon untuk Fathir dan Vita.
"Kak Joana... Maaf ya... Abang Fathir Aku pinjam sebentar." Kata Vita.
Joana duduk disebelah Vita. Joana mengelus kepala Vita yang tertutup hijab. "Ya Dek gak apa.... Kamu kan sudah lama gak ketemu Abang Fathir. Kamu pasti kangen sama Abangmu yang ganteng ini." Canda Joana.
Fathir langsung menarik kerah baju nya. "Fathir gitu loh...."
"Huuuhh... Abang GR nih..." Vita memukul dada Fathir. Fathir merangkul bahu Vita. "Kamu jangan nangis lagi ya.... Sekarang Kamu makan yang banyak... Jangan terlalu banyak dipikirkan... Besok itu Kamu mau nikah bukan mau pergi perang..." Canda Fathir.
"Ya Bang...." Vita bermanja-manja pada Fathir.
Lita datang membawakan makanan untuk Vita. "Vita... Makan dulu ya... Dari pagi susah banget disuruh makan." Kata Lita.
"Sini... biar Abang suapin." Kata Fathir sambil mengambil piring dari tangan Lita.
Lita memberikan pada Fathir. Fathir mulai menyuapi Vita. Vita menerimanya dengan senang hati.
"Kak Joana..." Panggil Lita.
"Ya Sayaang..." Jawab Joana.
"Ayo Kak Kita makan... Sudah ditunggu Mama Tia dan Mama Fitri di meja makan." Ajak Lita.
Joana memandang ke arah Fathir. Fathir mengangguk. "Kamu duluan saja... Nanti Aku menyusul..." Kata Fathir.
Joana mengangguk. "Ayo Lita..." Ajak Joana.
"Bang... Aku makannya sudah... Banyak banget Lita mengambilkan Aku makan..." Vita mengrucutkan bibirnya.
"Sedikit lagi ya... Kamu gak boleh mubajir..." Kata Fathir.
Mau gak mau Vita menerima suapan demi suapan dari Fathir.
"Alhamdulillaah... Akhirnya abis juga..." Kata Fathir.
"Terima kasih ya Bang...." Kata Vita.
Fathir mengangguk. "Ayo Bang... Abang makan juga..." Vita menggandeng tangan Fathir menuju meja makan.
Tia tersenyum melihat Vita yang kembali ceria karena ada Fathir.
"Fathir... Ayo makan dulu..." Kata Tia.
__ADS_1
"Ya Ma... Adikku yang manis ini lagi pengen manja sama Abangnya yang ganteng ini..." Canda Fathir.
Yang mendengar tertawa. Fitri hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Putera sulungnya.
Fathir mencium pucuk kepala Fitri. "Mama sehat-sehat saja kan?" Tanya Fathir.
"Alhamdulillaah Mama sehat." Kata Fitri.
"Ayah sama Papa kemana, Ma? Aku dari tadi gak lihat." Tanya Fathir.
"Ada di samping Sayang.... Biasa Ayah dan Papa mu kalau sudah bertemu, seperti lem dan kertas, gak bisa dipisahkan..." Canda Tia.
Fathir tersenyum. "Senang ya Ma... Kalau punya keluarga saling akrab. Ayah adalah sahabat Mama dan Papa." Kata Fathir.
"Ada apa nih?? Kok kayanya ada yang ngerumpiin Kita?" Tiba-tiba Lambok dan Fahmi sudah masuk kedalam.
"Ayah.... Papa...." Fathir menghampiri Mereka.
"Kamu kapan datang Fathir?" Tanya Lambok.
"Lumayan Pa... sudah setengah jam yang lalu." Kata Fathir.
"Oohhh ini cucu Kakek...." Kata Fahmi yang mengambil Jovan dari pangkuan Fitri.
"Ayah sih dari tadi dicariin, gak tahu nya lagi nostalgila sama Papa..." Canda Fathir.
"Hahahahaha.... Nostalgila..." Lambok tertawa. "Kamu ada-ada saja Fathir." Lambok menggeleng-gelengkan kepala.
Adzan maghrib berkumandang dari Masjid dekat rumah Lambok.
Mereka pun bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan diimami oleh Fahmi.
__________________________
Para Undangan sudah mulai berdatangan.
Rombongan pengantin Pria juga sudah tiba di kediaman Lambok.
Keluarga Mereka menyambut kedatangan Besan Mereka dan Pengantin Pria.
Vita masih berada didalam kamar nya. Vita baru akan keluar setelah Pengantin Pria mengucapkan ijab Qabul.
🌷Saya Terima Nikah dan Kawinnya Lovita Putri Wijaya Binti Lambok Sastra Wijaya Dengan Mas Kawin Seperangkat Peralatan Shalat dan Perhiasan Emas, Dibayar.... TUNAI....!🌷
Dengan satu kali tarikan nafas, mempelai pengantin Pria berhasil memgucapkan ijab Qabul dengan lantang dan Jelas.
"Bagaimana para saksi..??? Sah..?!"
"SAAAHHHH....!!!" Para saksi mengatakan dengan Lugas.
"Alhamdulillaah....." Pak Kyai membacakan doa-doa untuk kebahagiaan kedua mempelai pengantin.
Di kamar pengantin.
"Vita.....!!" Lita terlihat panik. Dia menepuk-nepuk pipi Vita perlahan. "Vita....!! Mamaaaaa....!! Papa....!!! Vita pingsan....!!" Lita berlari memanggil Mama dan Papa nya.
__ADS_1
Sontak saja Tia, Lambok, Dan Saudara-saudara yang hadir berhamburan naik ke atas untuk melihat keadaan Vita.