
"Sahuuurr...! Sahuuurrr...! Sahuuurrr...!" Fathir dan Fahri berteriak sahur di depan rumah. Hari sudah menunjukkan jam 04.00.
Fathir dan Fahri baru saja selesai menyantab makan sahurnya bersama orangtuanya, Nenek dan Auntie serta Uncle.
Nindi tersenyum melihat kelakuan keponakannya. Marcel merangkul bahu Nindi. "Masih sakit gak?" Bisik Marcel.
Nindi tersipu malu sambil mengangguk.
"Lagi Yaaang..." Bisik Marcel.
"Sebentar lagi imsak, Sayaaang..." Kata Nindi.
"Sebentar saja. Masih ada waktu setengah jam." Kata Marcel yang segera masuk ke kamar. Nindi mengikuti.
Ibu sudah berada di kamarnya sedang tadarus.
Fahmi dan Fitri juga sedang di kamar Mereka.
Marcel mengunci pintu kamar dan segera menggendong tubuh Nindi.
"Yang... tapi pelan-pelan yah." Minta Nindi manja.
"Yah Sayaang....Aku juga masih nyeri tapi lama-lama enak Yang." Canda Marcel. Marcel segera mencumbu Nindi.
Tak lama Mereka sudah mencapai kenikmatan tiada tara. Marcel melihat jam. "Masih ada waktu 15 menit Yang. Kita mandi bareng yah." Kata Marcel.
Nindi mengangguk. Marcel segera menggendong tubuh Nindi.
"Sebentar Yang, Aku haus." Kata Nindi. Nindi bergegas minum air yang memang sudah tersedia di kamar Mereka. Marcel pun minum juga.
Mereka mandi bersama. Ada kebahagiaan dalam hati Mereka, puasa pertama bersama orang tercinta.
Adzan Subuh berkumandang. Nindi dan Marcel sudah bersiap. Mereka ke musholah yang ada di dalam rumah.
Mereka shalat berjamaah bersama Fahmi, Fitri, Fathir, Fahri dan Ibu.
_________________
Satu bulan kemudian.
Hari Raya Idul Fitri telah tiba. Seluruh anak-anak dan Cucu-cucu Ibu Nia berkumpul di rumah. Mereka menyambut kemenangan dengan suka cita.
"Kamu jadi berangkat ke Jakarta, Dek?"Tanya Tia pada Fitri.
"Insya Allah jadi Kak. Abis Ashar Kita berangkat." Kata Fitri.
Tia tersenyum. "Salam sama Bunda dan Ayah yah. Kak Tia masih 2 minggu lagi disini. Mumpung masih libur sekolah." Kata Tia.
"Ya Kak, Kita di Jakarta juga hanya 1 minggu." Kata Fitri.
"Sudah dong Yang....Dari tadi makan gak berenti." Kata Marcel pada Nindi.
Marcel heran dengan pola makan Nindi beberapa hari ini. Nindi hanya tersenyum pada Marcel. Dia malah menyuapi ketupat sayur pada suaminya.
"Sayang tuh gak tahu, kapan lagi Kita makan ketupat sayur buatan Kak Fitri yang enak banget." Puji Nindi.
"Kamu bisa saja, Dek." Sahut Fitri.
__ADS_1
"Beneran Kak, ketupat buatan Kakak tuh lain rasanya. Aku saja sampai kangen waktu tinggal di Negara A." Kata Nindi.
"Ya sudah... Kalau Kamu suka, Alhamdulillaah... Habiskan saja, dibuat untuk dimakan..." Canda Fitri.
Yang lain tertawa melihat Nindi yang tak berhenti memakan ketupat sayur. Marcel hanya menggeleng.
Tiar dan keluarga kecilnya sudah kembali ke Surabaya Dua minggu yang lalu karena cuti Tiar telah berakhir. Dia harus masuk kerja kembali.
"Niiihhh.... Papa Lambok punya sesuatu untuk Kalian...." Lambok mengeluarkan amplop dari saku celananya.
"Yeeaaaa.... Asyiiikk... Papa Lambok mau kasih THR...!" Kata Fathir.
Lambok memberikan amplop-amplop pada anak-anaknya juga keponakannya.
"Auntie juga punya.... Tapi minta sama Uncle Marcel yah... Hahahaha...." Canda Nindi. Nindi memang sudah ijin pada suaminya kalau setiap Hari Raya Idul Fitri, Dia akan memberikan hadiah pada keponakannya juga pada anak-anak tetangga yang datang ke rumah.
Atala, Fathir, Twins, Fahri, juga Fahrul dan Zahwa anak-anak dari Feri, menghampiri Nindi dan Marcel.
Mereka sangat senang mendapat hadiah dari orangtua Mereka.
__________________
Dua minggu kemudian.
Lambok, Tia dan anak-anak Mereka sudah bersiap akan kembali ke Jakarta, karena hari senin, Atala dan Twins sudah harus kembali sekolah.
Atala masuk kelas 3 SMP. Twins kelas 4 SD.
Tiba-tiba..... Nindi berlari ke kamar mandi dan.....
Marcel bergegas menyusul Nindi ke kamar mandi. "Kamu kenapa Sayaaang...???" Marcel nampak khawatir.
Nindi masih muntah-muntah. Marcel membantunya memijat tengkuk Nindi.
Ibu juga sudah berada di dapur menunggu Nindi keluar dari kamar mandi.
"Aku gak tahu, Yaaang.... Tiba-tiba mual mencium wangi parfum Kak Tia." Kata Nindi.
"Loh, bukannya Kamu sangat suka dengan wangi parfum Kak Tia? Itu parfum yang biasa Kak Tia pakai." Kata Marcel.
Marcel merangkul Nindi yang terlihat lemas.
"Kenapa Nak?" Tanya Ibu yang juga khawatir.
"Nindi mual nyium bau parfum Kak Tia, Bu." Kata Marcel yang sudah sedikit mengerti bahasa Indonesia.
Ibu tersenyum. "Barangkali ada calon cucu Ibu, dirahim Kamu?" Kata Ibu.
Nindi menatap Marcel. "Memang secepat itu ya, Bu?" Tanya Nindi heran.
Marcel terlihat senang. "Ya, Sayang. Setiap wanita berbeda, ada yang langsung hamil setelah beberapa minggu berhubungan, ada juga yang lama." Kata Marcel yang sedikit tahu tentang kebidanan.
"Aku Dokter juga, tapi Aku gak tahu, kalau Aku hamil." Nindi tersipu malu.
Marcel memeluk Nindi. "Karena Kamu terlalu sibuk mengurusku." Kata Marcel.
"Ya sudah, lebih baik segera dibawa ke Rumah Sakit. Siapa tahu benar. Kamu sudah datang bulan belum?" Tanya Ibu.
__ADS_1
Nindi mengingat. Kemudian Nindi menggeleng. "Belum Bu. Ya Allah... Semoga benar kata Ibu." Nindi menengadah.
"Aamiin..." Kata Marcel dan Ibu.
Tia yang juga khawatir karena Nindi lama berada di belakang, langsung menyusul.
Lagi-lagi Nindi muntah karena mual dengan wangi parfum Tia.
Tia heran. "Nindi kenapa Bu?"
"Adikmu hamil sepertinya. Kamu jangan dekat-dekat Nindi, Dia mual dengan wangi parfum Kamu." Kata Ibu.
"Loh, Nindi sangat suka wanginya Bu." Kata Tia.
"Iya... tadi Marcel juga bilang begitu. Itu barusan Kamu mendekat, Nindi muntah lagi." Jelas Ibu.
"Terus Aku gak bisa pamit sama Nindi dong Bu." Tia mengrucutkan bibirnya.
"Kamu ganti bajumu saja, Sayaang. Kita masih tiga jam lagi naik pesawat." Tiba-tiba Lambok memeluk tubuh Tia dari belakang.
Tia mengangguk. Tia ke kamar Ibu dan mengganti pakaian serta hijabnya tanpa memakai parhum.
________________
"Selamat ya... Kalian akan segera menjadi orangtua." Kata Dokter yang memeriksa kandungan Nindi.
"Alhamdulillaah..." Marcel langsung melakukan sujud syukur.
Nindi terharu. Dia mengusap airmatanya sambil menunggu Marcel menyelesaikan sujud syukurnya.
Tak lama Marcel sudah kembali duduk disebelah Nindi.
"Berapa usia kandungan istri saya, Dok." Tanya Marcel.
"Masuk enam minggu Pak, Bu." Kata Dokter.
"Alhamdulillaah...." Kata Marcel sambil mengecup kening Nindi.
"Dijaga ya Bu, kandungannya. Karena masih terlalu muda. Janga terlalu cape yah." Pinta dokter.
"Iya Dok..Terima Kasih." Kata Nindi.
Marcel dan Nindi bergegas keluar dari ruangan Dokter setelah banyak pertanyaan yang mereka tanyakan pada Dokter.
"Bagaimana?" Tanya Tia yang memang ikut mengantar Nindi ke Rumah Sakit.
"Alhamdulillaah Kak, positif." Kata Nindi senang.
"Alhamdulillaah....." Jawab Lambok, Atala dan Twins.
"Auntie bakal punya dedek bayi. Kata Vita."
Nindi tersenyum. "Ya Sayaaang... Kalian akan punya Adik." Kata Tia.
"Yeeaaaa.... Aku akan punya adik bayi." Kata Lita.
Mereka sangat bersyukur akan kehadiran anggota keluarga baru.
__ADS_1