CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Aku Tak Melakukannya


__ADS_3

"Huk... huk... huk...." Friska menangis sambil menutupi tubuhnya yang polos dengan intinya yang terasa nyeri. Bercak darah juga masih menempel di seprei.


Disebelah nya Atala terbaring tak sadarkan diri. Hanya memakai boxer nya.


"Apa yang telah terjadi? Mengapa Atala menyetubuhiku? Huk.. huk... huk..." Friska mencoba mengingat.


Tiba-tiba....


Braaaaakkkk..... Pintu di dobrak dan beberapa polisi masuk ke dalam kamar itu.


"Tangkap Dia, Pak... Dia telah membawa puteri Saya dan membawanya kesini..!" Perintah orang itu.


"Papa...!! Huk.. Huk.. Huk... Aaccchhhh....!!!" Friska berteriak karena bagian intinya sangat perih.


Rafa langsung memeluk Friska. Friska langsung tak sadarkan diri karena rasa sakit yang teramat sangat.


"Heeeiii....Bangun..!!" Perintah seorang Polisi membangunkan Atala. Tapi Atala tak juga bangun.


Seorang Polisi menyipratkan air pada wajah Atala. Atala mengerjabkan mata. Pandangannya kabur. Dia memegang kepala yang teramat sakit dan berat. Atala kembali tak sadarkan diri.


Pak Polisi langsung membopong tubuh Atala dengan menyelimutinya dengan selimut. "Dia pingsan, Dan." Kata Seorang Polisi yang memeriksa keadaan Atala.


Rafa membawa Friska ke Rumah Sakit terdekat. Atala juga dibawa ke Rumah Sakit tapi dalam pengawasan Polisi.


__________________


Tia tak dapat menopang tubuhnya. Seketika ponsel yang berada di genggamannya jatuh bersamaan dengan ambruk tubuhnya ke lantai.


"Mama...!!!" Vita dan Lita terperanjat dan sebisa mungkin menangkap tubuh Mama nya yang ambruk setelah menjawab panggilan telponnya.


"Papa...!!" Tristan berteriak memanggil Lambok yang sedang berada di kamar. Tristan berlari menaiki anak tangga menuju kamar Lambok.


Lambok baru saja menyelesaikan shalat dhuha, Dia sangat kaget mendengar Tristan teriak. Lambok langsung keluar tanpa merapihkan sajadahnya.


"Ada apa, Tristan?" Tanya Lambok agak kaget.


"Mama... Pa... Mama...." Kata Tristan yang ngos-ngosan mengatur nafasnya.


Lambok langsung berlari menuruni anak tangga. "Ada apa dengan Mama Kalian?" Lambok panik melihat Lita dan Vita sudah membopong tubuh Tia.


Lambok langsung menggendongnya dan membawanya ke kasur depan tivi di ruang keluarga.


"Aku juga gak tahu Pa... Tadi abis terima telpon, Mama langsung ambruk." Kata Vita yang tak kalah panik.

__ADS_1


"Kamu ambilkan minyak kayu putih, cepat." Pinta Lambok.


Lita mengangguk dan langsung berlari ke kamar Tristan yang selalu tersedia minyak kayu putih. Lita bergegas kembali ke ruang keluarga sambil membawa minyak kayu putih.


Lambok langsung menggosokan minyak kayu putih ke leher Tia dengan sebelumnya membuka jilban sang Istri. Kemudian Lambok juga mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Tia.


Lambok menggosok-gosokan telapak tangan Tia dengan telapak tangannya. "Coba Vita, Kamu cek siapa yang menelpon Mama mu terakhir kali." Pinta Lambok.


Vita mengangguk dan langsung mencari di menu telpon siapa yang menelpon sang Mama. *Tante Siska, Pa..." Kata Vita.


Lambok terlihat bingung. "Coba Kamu telpon balik, Tante Siska." Pinta Lambok.


Vita mendial nomor Siska. Tersambung.


"Tia... Kamu gak apa?" Terdengar nada khawatir dari Siska.


"Tante... Ini Vita. Sebenarnya ada apa Tante? Kenapa Mama pingsan setelah meneriman telpon dari Tante?" Tanya Vita. Vita sengaja meload speaker ponsel Mama nya agar Papa nya dan Lita mendengar percakapannya dengan Siska.


Siska menghela nafas. "Maafkan Tante, Vita. Kalau Tante membawa kabar buruk pada Mama mu. "Atala..." Siska terdengar ragu. Siska tahu Atala akan segera menikah dengan Vita karena Dia juga sudah menerima undangannya.


"Ada apa Tante?! Ada apa dengan Kak Atala?!" Tanya Vita khawatir.


"Atala telah memperkosa Friska dan Atala sekarang berada di Rumah Sakit tahanan Polisi." Kata Siska.


"Apa..!?" Lambok terperanjat. Dia segera mengambil ponsel yang dipegang Vita.


Lita mencoba menenangkan Vita. "Gak mungkin Atala melakukan itu, Vita. Kak Atala sangat mencintaimu." Kata Lita.


Sedangkan Lambok masih berbicara dengan Siska. "Gak mungkin! Putera ku gak mungkin melakukan itu! Lambok sangat geram."


"Rafa mendapati Friska dan Atala dalam sebuah kamar hotel dalam keadaan tak ada satu helaipun benang menempel ditubuh Friska. Dan Atala hanya memakai boxer." Kata Siska menjelaskan.


"Tidak mungkin! Ini pasti fitnah! Atala tidak seperti itu! Dia pasti dijebak!" Lambok masih tak percaya.


"Kamu boleh mengelaknya sekarang. Tapi Kami punya saksi dan bukti. Aku minta, Atala bertanggung jawab dengan semua ini." Siska terdengar kesal dan memutuskan hubungan telpon.


Lambok menjambak rambutnya. "Gak mungkin... Atala pasti dijebak!" Lambok melihat Vita yang masih menangis. Dia terlihat sangat terpukul.


Tia mengerjabkan mata. Tia histeris. "Tidaaakkk.... Putera ku tidak mungkin melakukan itu...! Huk.... huk... huk..." Tia sangat terpukul.


Lambok langsung memeluk tubuh Tia. "Sabar Sayang... Aku juga tak mempercayainya. Kamu yang tenang ya." Lambok mencoba menenangkan Tia. Lambok gak ingin Tia terpukul dan jatuh sakit.


"Atala tak mungkin seperti itu... Sayaang... Putera ku anak yang baik... Huk... huk... huk..." Tia melerai pelukannya dan memohon pada Lambok agar percaya pada dirinya.

__ADS_1


"Ya Sayang....Aku tahu... Atala gak mungkin berbuat keji seperti itu." Kata Lambok yang mengusap pipi Tia lembut.


Tristan membawakan air minum untuk Tia. Karena semua orang panik. Dia gak tahu apa yang bisa dia lakukan.


"Ma..... Minum Ma..." Kata Tristan.


Lambok mengusap pipi Tristan. "Terima kasih, Sayaang..." Kata Lambok yang segera mengambil gelas minum dari tangan Tristan dan memberikan pada Tia.


Tristan juga membawakan minum untuk Vita. Lita menerimannya dan memberikan pada Vita.


______________________


"Aku tidak melakukannya Ma... Pa... Vita... Aku difitnah." Atala mencoba meyakinkan keluarganya juga Vita, calon istrinya.


"Tapi mengapa Kamu ada dikamar itu, Nak?" Tanya Tia yang masih terus menangis.


"Atala gak tahu Ma... Yang Atala ingat Friska minta tolong dan Friska memberikan lokasinya pada Atala. Dan Atala kesana. Atala ketemu orang di hutan Kota. Tapi tak lama Atala tidak sadarkan diri, Mereka membekap mulut dan hidung Atala." Jelas Atala.


"Tapi menurut saksi, Kamu membawa Friska ke hotel itu dan Kamu telah membooking kamar itu saat sore hari." Kata Lambok.


"Astaghfirullaah... Atala berani sumpah Pa....Sore Atala bersama Vita di rumah bersama Mama dan Papa juga."


"Tapi Kamu memegang ponselmu, dan terlihat wajahmu khawatir." Kata Vita yang sempat melihat Atala menyembunyikan ponselnya.


"Itu karena Friska terus saja menggangguku. Aku gak mau Kamu salah paham. Aku tidak pernah mencintai wanita mana pun." Tegas Atala.


Vita menangis. Dia gak tahu bagaimana cara nya menolong Atala karena semua saksi dan bukti menunjuk pada Dirinya


Atala berada di balik jeruji setelah keadaannya membaik dari pengaruh obat-obatan.


Seluruh keluarganya berkumpul disana. Diandra juga sangat terpukul dengan berita penangkapan Atala di kamar hotel.


"Aku mohon Vita... Aku tak pernah melakukan apa pun pada Friska. Ini semua fitnah." Atala memohon pada Vita yang terus menangis.


"Tapi kondisi Friska sangat mengenaskan Kak... Friska kehilangan kehormatannya... Hik... hik... hik.... Dan Kakak ada di sebelahnya." Jelas Vita.


"Tapi Aku tak melakukan apa-apa! Aku berani sumpah! Pa... Ma... Aku mohon... Percayalah sama Atala...."


Atala memohon.


"Kami percaya padamu, Nak....Tapi Kami tak dapat berbuat apa-apa. Semua bukti tertuju padamu." Lambok mengela nafasnya.


"Friska Pa... Friska pasti akan mengatakan yang sejujurnya." Kata Atala meyakinkan.

__ADS_1


Lambok menggeleng. "Friska tak dapat dimintai keterangan, Nak.... Dia sangat terpukul dengan kejadian ini. Dia terus menangis." Kata Lambok.


Atala terkulai lemah. Tubuhnya merosot dengan berpegangan dengan jeruji besi.


__ADS_2