
"Kamu sangat cantik.... Tapi kenapa Kamu menutupnya?" Leo memandang lekat wajah Lita. Baju dan hijab Lita basah kuyup. Perawat wanita menggantikan pakaian Lita. Tapi Rumah Sakit tak menyediakan hijab.
Terdengar keributan dari luar ruang perawatan Lita. Pintu terbuka. Leo sedang mengusap kepala Lita.
Fathir melihat dengan amarah. Dengan cepat Dia menghampiri Leo dan menarik kerah baju nya. "Apa yang Kau lakukan pada Adikku?!" Fathir sudah mempersiapkan bogem mentah pada Leo. Tapi Joana menarik tangan Fathir.
"Yang... Jangan buat keributan. Ini Rumah Sakit." Pinta Joana.
Leo mengangkat kedua tangannya dan berdiri.
"Leo?!" Atala terkejut.
"Jadi Dia Leo?!" Tanya Fathir sangat kesal.
Leo mengangguk. "Aku Leo, Fathir. Aku gak berbuat apa-apa sama Lita."
Fathir menurunkan bogem nya. Dia sedikit mendorong tubuh Leo.
Sedangkan Astrid dan Vita sudah sibuk memakaikan hijab ke kepala Lita.
"Jangan berani menyentuh Adikku....!! Apalagi menyakitinya!" Ancam Fathir.
"Sudah Fathir... Sudah..." Atala merangkul bahu Fathir dan menjauhkan dari tubuh Leo.
Leo pun menyingkir dari sisi brankar Lita.
Atala membawa Fathir di sofa yang ada di kamar VVIP itu. Leo menghampiri Mereka. Fathir menghela nafas, membuang amarahnya.
"Jadi Lita, Adikmu, Atala?" Tanya Leo.
Atala mengangguk. "Itu istriku, kembaran Lita." Kata Leo.
Leo ingat, Lita mengatakan Ulang tahunnya berdua dengan kembarannya. "Tapi wajah Mereka tak identik." Batin Leo yang memperhatikan Vita.
"Ada apa? Kenapa Kamu memandangi Istri ku?" Atala sedikit kesal.
"Tidak ada apa-apa. Aku ingat Lita mengatakan kalau Hadiah dari ku, Saudara kembar nya yang menerima." Kata Leo.
Atala teringat akan kalung yang diberikan Leo. Dia merogoh saku kemeja nya. "Aku kembalikan ini pada mu. Lita tak mengetahui kalau Kamu memberikan ini. Lagi pula Dia tak suka menerima pemberianmu." Kata Atala.
"Tapi... Aku sengaja memberikannya sebagai kado ulang tahun." Leo nampak kecewa.
Atala tersenyum. "Kado mu berlebihan untuk seorang mahasiswi. Harus nya Kamu berikan pada istrimu." Kata Atala.
"Aku mencintai Lita. Aku ingin menikahi nya." Leo sangat percaya diri.
"Lalu bagaimana dengan syaratku? Apa Kamu sudah siap?" Tanya Fathir.
Leo menunduk. Dia menggeleng. Leo sangat kecewa karena Fathir kekeh dengan syarat nya itu.
"Kamu tidak akan mendapatkan Adikku kalau begitu." Tegas Fathir. "Dan ingat satu hal, Adikku tidak tergoda akan harta sebanyak apapun. Dia tak akan goyah dengan wajah tampan mu kalau Kamu tak sejalan dengannya."
"Vita..... Astrid.... Kak Joan." Suara lemah Lita terdengar. Lita sudah sadar.
"Ya Sayang... Aku disini. Apanya yang sakit?" Tanya Vita lembut.
__ADS_1
Lita tersenyum. "Kamu persis Mama....Aku kangen sama Mama."
"Mama dan Papa juga Tristan sudah Kita kabari, Mereka sedang menuju kesini. Kata Atala yang segera menghampiri brankar Lita." Fathir dan Leo menyusul di belakang. Lita melihat Leo.
"Kenapa Pak Leo ada disini?" Lita terlihat tak suka.
"Pak Leo yang membawa mu kemari, Kamu pingsan di pantai." Jelas Vita.
Lita terkejut. Dia ingat seseorang menggendong tubuh nya yang lemah. "Terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan Bapak." Lita melunak. Sebenci apapun Lita pada Leo, tapi tak mengurangi rasa terima kasih Lita pada Leo karena sudah menolongnya.
"Bagaimana Kalian bisa tahu Aku ada disini?" Tanya Lita.
"Maaf... Aku menghidupkan ponselmu. Lalu Astrid menghubungi ponselmu." Jelas Leo.
"Ooohhh.... Terima kasih lagi Pak. Aku cape... Aku mau tidur." Kata Lita.
"Tapi...." Vita mencegah Lita yang sudah memejamkan mata.
Leo mencegah Vita. "Gak apa... Itu reaksi dari obat yang Aku berikan. Besok pagi Dia pasti akan jauh lebih baik." Jelas Leo.
Vita dan yang lainnya menghela nafas.
"Baiklah... Karena Kalian sudah disini, Aku permisi..." Pamit Leo. Leo segera meninggalkan ruang perawatan Lita. Baru saja Leo hendak menarik gagang pintu, Fathir memanggilnya.
"Leo...! Terima kasih... Maaf atas kesalahpahaman tadi." Kata Fathir.
Leo tersenyum. "Gak apa. Aku maklum."
"Tapi urusan Kita belum selesai." Kata Fathir.
"Sebaiknya Kalian pulang. Biar Aku yang jaga Lita." Pinta Atala.
"Tapi..." Kata Fathir.
"Besok Kita ada meeting dengan Mr. Alex." Kata Atala lagi. "Aku bisa tidur di sofa. Tempat ini tak cukup menampung Kita. Astrid, Kamu pulang ke hotel saja. Kamar Arby sudah ku booking selama sepuluh hari, tapi ternyata Arby kembali, Kamu boleh memakainya."
Astrid mengangguk. "Semoga Lita cepat sembuh." Doa Astrid.
"Aamiin..." Jawab Mereka.
"Kamu balik ke hotel ya Sayang?" Tanya Atala pada Vita.
Vita menggeleng. "Aku disini saja." Kata Vita manja.
Atala tersenyum. "Baiklah."
Fathir dan Keluarga nya juga Astrid kembali ke hotel. Sedang Atala dan Vita menemani Lita di Rumah Sakit.
___________________________________
"Jadi Adikmu sakit? Kenapa Kamu tak bilang? Kita bisa membatalkan rapat ini." Mr. Alex membuka suara.
"Gak apa Tuan. Orangtua Kami sudah tiba di Rumah Sakit tadi." Kata Fathir.
"Baiklah... Tapi setelah rapat ini, Aku ingin menjenguk Adikmu." Pinta Mr. Alex.
__ADS_1
Atala dan Fathir mengangguk. "Terima kasih Tuan."
Di Waktu yang sama.
"Aku kangen sama Mama...." Lita manja. Dia memeluk tubuh Tia.
"Kenapa bisa seperti ini, Sayang?" Tanya Tia lembut, mengelus kepala Lita yang tertutup hijab.
"Sebaiknya Mama dan Papa istirahat dulu." Pinta Tristan.
"Gak apa Sayang... Kita banyak istirahat tadi di pesawat." Kata Lambok.
"Tau nih Tristan. Kakak kan kangen sama Kalian." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Makanya punya pacar satu saja, jangan banyak-banyak." Canda Vita.
"Vita...!! Apaan siiihhh...!!! Jangan didengerin Ma, Pa. Gosip murahan." Lita kembali manyun.
"Masa Lita pacar nya banyak? Yang bener Kamu, Vita?" Lambok malah membahas nya.
"Papa gak tau aja. Saudara kembar ku yang cantik ini, kekasih nya dua. Yang satu orang Singapura, yang satu nya Dokter merangkap Dosennya." Canda Vita.
"Mama.... Vita tuh... Vita bohong Ma... Aku belum punya pacar Ma... Pa... Awas Kamu Vita..." Ancam Lita.
Papa jadi penasaran. "Putus dari Vero kenapa jadi banyak yang antri?!" Goda Lambok.
"Iiisshhh... Papa... Jangan jadi kompor napa sih?! Ma... Papa tuh iiihhh..." Lita memeluk Tia erat.
"Pa... Jangan digoda terus Puteri nya. Kasihan masih lemas." Pinta Tia lembut.
Lambok mengerlingkan sebelah mata pada Tia. "Vita, coba Kamu panggil Dokter yang menangani Lita, Papa mau kenal sama calon mantu." Lambok makin menjadi.
"Papa gak akan suka sama Dia... Dia berbeda dengan Kita." Lita mengrucutkan bibir nya.
"Tapi Kamu suka?" Goda Lambok.
"Gak..." Kata Lita ketus.
"Yang bener? Terus kenapa sampai sakit?" Tanya Lambok dengan jail.
"Iiisshhh... Semua nya nyebelin. Aku benci sama Pria gak dewasa!" Lita histeris. Kepala nya sakit.
"Pa..!!" Tia menegurnya. Ada rasa khawatir akan sikap Lita yang tiba-tiba kasar pada orangtua nya.
Tia mengelus punggung Lita. "Sabar Sayaaang... Istighfar...." Tia membacakan ayat suci dan meniupkan ke kepala Lita.
Lambok memeluk tubuh Lita. "Kenapa Kamu, Sayang?" Papa hanya bercanda.
"Aku benci Pa... Aku benci...!" Lita menangis. "Aku gak mau pacar-pacaran. Bikin sakit hati..!" Lita masih histeris.
"Astaghfirullaah... Istighfar Sayang..." Pinta Tia dan Lambok.
"Ada apa?" Leo tergopoh-gopoh masuk ke ruang perawatan Lita, karena Vita memanggilnya lewat tombol yang ada di dekat brankar Lita.
"Emosi Lita tak terkendali, Dok." Kata Lambok.
__ADS_1
Leo mendekat. Tubuh Lita masih terguncang. Tangis nya pecah. Leo memeriksa denyut nadi Lita. "Lita.... Kamu istirahat ya... Jangan banyak pikiran..." Pinta Leo lembut. Leo menyuntikan obat ke urat nadi Lita yang terpasang infus Lita. Tak lama kemudian Lita pun tertidur.