
Dua Hari Kemudian
Diah memasang foto dirinya dalam status akun media sosialnya. Diah terlihat sangat anggun menggunakan abaya warna baby pink dengan kerudung berwarna senada, kain songket berwarna maroon keemasan. Diah juga menambahkan keterangan dibawah foto nya.
๐ทHari ini Aku sangat berbahagia. Kekasihku dan Keluarganya akan datang melamar. Semua berkat persetujuan Papa ku tersayang. Love U Papa๐๐ dan juga Mama yang berhasil melunturkan keegoisan Papa yang sangat besar.๐ท
Di Negara Lain.
"Subhanallaah.... Diah cantik sekali." Lita terkagum-kagum melihat foto diri Diah, tapi tubuhnya melemah kala Lita membaca tulisan tambahan yang ada di bawah foto Diah.
"Selamat untukmu sahabat...." Lita terlihat murung. Airmata nya sudah tak dapat terbendung lagi. Dada nya sakit.
"Astaghfirullaah... Aku harus ikhlas. Aku yang mengembalikan Bang Vero pada Diah." Lita buru-buru memberi ucapan selamat pada sahabatnya.
"Selamat ya Diah. Aku bahagia mengetahui berita ini." Pesan yang dikirim Lita.
Tak lama ponsel Lita berdering. Lita melihat panggilan Video yang tertera di layar ponsel nya.
"Assalamu alaikum Diah..." Lita telah mengusap airmatanya.
"Wa alaikumussalaam... Lita, Kamu menangis? Apa Kamu sedih dengan beritaku ini?" Tanya Diah merasa tak enak.
"Aahhh... Tentu tidak. Ini airmata bahagia. Aku bahagia mendengar berita ini." Lita menutupi kesedihannya.
Di Tempat Lain, Di ruang keluarga Rumah Orang Tua Diah.
"Jadi Diah itu keponakanku, Bang? Dan Vero adalah Putera Bang Adnan dengan Gita." Seru Dita yang sangat kaget mendapat kenyataan ini.
Dika, Papa Diah mengangguk. "Makanya Abang tak merestui hubungan Diah dan Vero. Abang sudah tahu siapa Vero sebelum Diah mengutarakan maksudnya." Papa Diah menunduk. Dita merasa tak enak hati.
Dita ingat betul, Bang Dika sangat sakit hati pada Bunda Dinda yang dengan serakah meminta banyak pada Dita. Tapi Dita tak mempermasalahkan karena Dita sangat mencintai Adrian. Dan itu membuat Bang Dika murka.
Harta bagian Dita yang sudah terbagi, diserahkan Dita semua pada Bunda, demi dapat memiliki Adrian saat itu, padahal Adrian sudah memiliki Tia.
"Assalamu alaikum...." Salam dari luar rumah.
"Wa alaikumussalaam... Bang sepertinya rombongan keluarga Bunda sudah tiba." Kata Dita.
Dea, Mama Diah juga sudah bersiap dari tadi. Dea hanya bisa pasrah akan keputusan suaminya nanti.
__ADS_1
Dita memang lebih dulu tiba di rumah Abangnya. Dan ternyata Dita baru tahu kalau yang akan dilamar Vero adalah Puteri Abang kandungnya yang paling tua.
"Mari silahkan masuk...." Sambut Mama Dea dan beberapa sanak saudara keluarga Bang Dika.
Para Tamu pun masuk ke dalam ruangan yang telah ditata dengan begitu mewah. Segala hidangan yang lezat sudah tersedia. Papa Dika langsung menghubungi seluruh keluarga nya, untuk acara lamaran ini yaitu adik-adik nya. Sedangkan orangtua Mereka sudah tiada. Makanya Dita sangat menghormati Abang tertua nya, Bang Dika sebagai pengganti orangtua nya.
Dita memang sudah lama tak berkunjung kerumah Bang Dika karena murka sang Abang. Dita takut untuk sekedar menjenguk Abangnya. Tapi kemarin malam tiba-tiba, kakak iparnya menghubungi nya memintanya untuk pulang.
Bersamaan dengan itu, Adrian juga mendapat kabar dari Ayah Burhan kalau Mereka akan melamar calon istri Vero.
Awal nya Dita merasa tak enak hati karena tak membantu kesibukan dirumah Bunda, namun Adrian sangat mengerti dengan keinginan istri nya yang sudah belasan tahun sangat merindukan kasih sayang Abang nya yang hilang entah sebab apa.
Siapa sangka ternyata Dita secara tak langsung juga membantu prosesi acara lamaran ini walau Dia berada di pihak wanita.
Setelah bersalaman, Bunda Dinda agak kaget bertemu dengan Dika dan Dita dirumah itu.
"Jadi Diah adalah Puteri Kamu, Dika?" Tanya Bunda dengan mulut manisnya.
Dika hanya memasang wajah datar. Dia malas menjawab pertanyaan Bunda Dinda.
"Ya Bunda, Diah Puteri Kami...." Jawab Dea, Mama Diah.
Dita sudah menghampiri Adrian, suaminya. Dia mencium punggung telapak tangan Adrian. "Maafkan Aku, Bang. Aku juga baru tahu." Kata Dita menatap suaminya.
Adrian tersenyum dan mengecup kening sang istri.
Ayah Burhan terlihat sangat malu, ternyata Dika adalah Papa dari Diah. Ayah Burhan masih ingat betul bagaimana istrinya yang dengan serakah meminta banyak pada Dita dahulu. Ayah Burhan hanya dapat menunduk.
Setelah semua nya merasa sudah relax. Sudah menyicipi hidangan pembuka, Papa Diah membuka bicara nya.
"Jadi setelah ini, berapa banyak lagi yang akan Bunda minta pada Puteri Saya?" Sindir Papa Diah.
Sontak yang hadir disana merasa kaget juga tersinggung. Ada yang berbisik-bisik.
Namun memang dasar Bunda muka tembok, dia hanya tersenyum merasa ditawari.
"Apa-apaan ini? Apa maksud Bang Dika?!" Adrian tak terima.
"Loh memang itu kan tujuan Bunda Kamu meminta Vero melamar Puteriku?" Tegas Dika.
__ADS_1
"Apa?!" Vero setengah berteriak. "Om... Apa Om belum puas menghina keluarga Vero?" Kali ini Vero tak tinggal diam.
"Menghina katamu?! Dengar ya Vero, Om berbicara dengan Fakta, Om berkata karena Om sudah tahu siapa Kamu dan keluarga Kamu!" Papa Diah tak kalah sengit emosi.
"Nenek Kamu sendiri yang menjatuhkan harga dirinya. Dia telah mengeruk harta Tante Kamu Dita, yang bukan lain Adik bungsu Om!" Jelas Papa Diah.
"Paa...." Mama Dea mengelus punggung suami nya. "Pa... sudah Pa... jangan dibahas lagi. Kasihan Diah, Pa... Mama ikhlas kalau ini demi kebahagiaan Puteri Kita." Mama Dea mencoba menenangkan suaminya.
"Apa maksud semua ini, Sayang?!" Adrian bertanya pada Dita.
"Maaf Bang..." Dita menunduk.
"Coba jelaskan." Adrian menekan suaranya.
"Waktu Kita akan menikah sirih, Bunda mengajakku pergi ke Kalimantan tempat Abang tinggal dengan Tia. Diperjalanan Bunda meminta banyak padaku. Aku gak masalah Bang, karena Aku sangat mencintai Abang." Dita masih menunduk.
Adrian mengusap wajahnya kasar. Dia baru mengerti sekarang. "Kenapa Kamu tak pernah cerita?" Sesal Adrian.
"Maafkan Aku.... Tapi Bunda memintaku untuk diam." Dita menunduk.
Beberapa saat sebelumnya, Di Tempat Lain, Di Kamar Diah.
"Kak Diah, Keluarga Bang Vero sudah datang." Kata sepupu Diah.
"Oh ya... Terima kasih. Lita... sudah dulu ya, nanti disambung lagi. Assalamu alaikum." Tanpa menunggu jawaban Lita, Diah meninggalkan ponsel nya begitu saja diatas ranjangnya.
Diah terpaku melihat keluarga nya dan keluarga Vero yang berdebat. Semua karena Papa nya yang memulai dan Nenek Vero yang menjadi biang keladinya.
"Sudah Om...! Dari awal Vero sudah tak menginginkan hubungan ini berlanjut. Asal Om tahu, Vero berniat akan menghidupi Istri Vero dengan kerja keras Vero sendiri. Vero gak mau bertopang pada harta kekayaan atau warisan keluarga!" Vero sudah gusar.
"Vero...!!!" Bunda Dinda teriak. "Kamu tak menuruti kemauan Nenek haaahh!!" Bunda jadi murka.
"Cukup Nek! Maafkan Vero. Vero tak menyangka kalau semua hinaan yang terlontar dari mulut Papa nya Diah, semua karena ulah Nenek. Nenek sangat matre!! Nek...! Apa belum cukup Nenek menambah permusuhan keluarga Kita?!!" Vero dengan lancang.
Plaaaaakkk!!!
"Kurang ajar sekali Kamu!!" Bunda Dinda menampar wajah Vero. Sekuat tenaga hingga tubuhnya surut mundur ke belakang. Ayah Burhan langsung memegang tubuh Bunda Dinda agar tak terjatuh.
Vero memegang pipi nya yang terasa panas. Vero langsung meninggalkan tempat lamaran.
__ADS_1
"Verooooo...!!! Veroooo..!!! Jangan pergi..!!! Jangan tinggalkan Aku..!!!" Diah berlari menuruni anak tangga dengan sedikit mengangkat songketnya. Tubuh nya tersungkur ke lantai, Diah meraung, menangis kencang. "Papa jahaaaattt...!!!" Setelah nya Diah tak sadarkan diri.