
Satu Jam Kemudian
Leo telah sampai di Mall. Dia sengaja memilih Mall yang agak jauh dari Rumah Sakit tempatnya bertugas juga Apartemennya. Leo ingin berlibur tanpa ada orang yang mengenalnya.
Leo telah mengambil cuti beberapa bulan yang lalu dan baru terealisasi sekarang.
Leo tersenyum, tak ada orang lain yang menatapnya lekat atau cewek-cewek yang menatapnya menggoda.
Leo langsung memasuki resto ternama yang menunya selalu menjadi favorite lidahnya. Tanpa perlu reservasi, Leo langsung mendapatkan tempat karena memang hari ini bukan weekend jadi tak terlalu ramai pengunjung yang datang ke Resto tersebut.
Apalagi saat ini juga bukan jam makan malam. Leo sangat bersantai menikmati hidangan yang telah Dia pesan.
Entah mengapa, kunyahan Leo tiba-tiba terhenti. Baru separuh Dia makan, mata nya menatap pemandangan yang menurutnya sangat menyakitkan dan mengesalkan.
Dia melihat sepasang kekasih.... Tapi bukan, ada seorang balita yang duduk dekat wanitanya.
"Kurang ajar...!!!" Leo sangat geram. "Bisa-bisanya Dia bermain api." Leo mengepalkan tangannya.
_________________________
Lita sangat menikmati perjalanan yang ditempuh bersama Astrid. Dari bandara, Mereka dijemput oleh supir pribadi tunangan Astrid yang sangat kaya raya.
"Rencana nya Kamu langsung bertemu tunanganmu?" Tanya Lita.
Astrid menggeleng. "Kita ke rumah Almarhumah Mama ku. Nanti setelah urusannya Ayangku selesai, Dia akan menyusul ke rumah Mama ku." Kata Astrid.
"Loh... Tapi bukannya Kamu bilang ada Ibu tiri Kamu?" Tanya Lita lagi.
"Tidak... Ini rumah peninggalan Orangtua Mamaku. Harta yang berhasil Aku selamatkan dari keserakahan Ibu Tiri ku." Astrid terlihat sedih.
Lita mengusap bahu Astrid lembut. "Kamu yang sabar yah. Orang sabar disayang Allah...." Lita tersenyum.
Astrid mengangguk. "Kamu akan betah tinggal di rumah Mama ku." Senyum Astrid kembali terkulum.
"Kita lihat saja nanti." Tantang Lita bercanda.
"Oh ya... Apa Tunanganmu tahu tentang ini semua?" Tanya Lita.
Astrid mengangguk. "Aku tak pernah menyembunyikan apapun darinya. Tunanganku memang anak Sultan, tapi hidupnya sangat sederhana. Dia selalu jujur dan yang Aku suka, Dia sangat mencintaiku dan menjaga hatinya untukku."
Lita menggenggam tangan Astrid. "Dibalik kesedihan Kamu, ada seseorang yang menyayangimu. Aku selalu berdoa akan kebahagiaan Kamu." Kata Lita.
Astrid balas menggenggam tangan Lita. "Aku juga akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu."
Mereka pun tertawa. Mereka memang seperti sahabat yang sudah lama dekat.
__ADS_1
________________________
Di Sumatera
"Tinggalkan Aku...!!!" Vero berteriak.
Diah menangis karena sikap kasar Vero. Pasca kepulangan Vero dari Rumah Sakit, Diah memang lebih sering mengunjungi Vero. Dan tak segan-segan Vero akan mengusir Diah, seperti saat ini.
"Tolong jangan usir Aku, Vero.... Hik...hik...hik... Aku sangat mencintaimu...hik..hik...hik....." Diah hendak mendekat pada Vero tapi Vero meninggalkan Diah sambil berkata:
"Hati ku sudah milik Lita, sampai kapanpun, Aku akan menunggu kepulangan Lita...!!!" Ucap Vero tegas.
Diah mengejar Vero yang hendak masuk ke dalam kamarnya, namun.....
Braaaakkk!!!! Vero membanting pintu kamar dengan keras dan menguncinya.
"Huk... huk... huk... Veroooo.... Jangan seperti ini... Aku gak mau dijodohkan dengan anak kolega Papaku... Huk.. huk...huk... Tolonglah Vero... Aku tak mencintai laki-laki itu...Huk...huk...huk..." Diah menangis sejadi-jadi nya.
"Kak Diaaahhh...!!" Vera yang baru pulang dari Apotik terperanjat melihat Diah yang sudah bersimpuh di depan pintu kamar Vero sambil menangis.
Ayah Burhan dan Bunda Dinda sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang mengurus segala sesuatu mengenai cucu nya.
"Kak... Jangan seperti ini.... Biarkan Bang Vero sendiri...." Kata Vera lembut yang segera membantu Diah agar berdiri dari duduknya.
Vera menghela nafas. "Kakak gak punya salah apa-apa. Kakak sangat baik. Bang Vero tak pernah benci pada Kak Diah. Tapi....." Vera menggantung kalimatnya.
"Apa karena Lita?" Kata Diah cepat.
Vera mengangguk. Vera hanya bisa menahan sesak di dada nya.
Diah mengusap wajahnya yang sudah terlihat sembab. "Aku harus ikhlas kalau memang Vero bahagia bersama Lita. Aku akan mengabari Lita agar Dia bisa kembali cepat." Bathin Diah. Diah pun berlalu meninggalkan rumah Bunda Dinda.
Di balik Pintu Kamar.
"Hik...hik...hik... Maafkan Aku Diah... Maaf... Aku telah banyak melukai hatimu... Seandainya waktu bisa diputar....." Vero menangis bersimpuh di belakang pintu kamar dimana tadi Diah bersimpuh pula sambil menangis di balik nya.
Diah masih terisak di dalam taxi. Diah mencoba menghubungi Lita namun nomor ponsel Lita tidak aktif. Diah mengirimkan pesan pada Lita namun hanya ceklis satu. Diah juga tak melihat foto profil pada sosial media milik Lita.
"Ya Allah..... Lita... Kamu dimana? Kenapa susah sekali menghubungi Kamu?" Diah nampak sangat kecewa.
Memang sejak Lita menerima kabar tentang lamaran Vero buat Diah melalui status sosial media Diah, Lita langsung mengganti nomor ponselnya. Seperti nya Lita tak sanggup untuk dapat berhubungan kembali dengan Diah, walaupun Diah sahabatnya. Namun jika Lita terus berhubungan dengan Diah, Lita akan terluka, mengingat akan diri Vero.
____________________________
Leo menghentikan kegiatan makannya. Rasa nikmat dari makanan yang memang cocok di lidahnya itu, seakan menguap. Dia tak berselera lagi untuk memakannya.
__ADS_1
Leo sangat geram dan marah sekali, ingin sekali Leo bangun dari kursi nya dan menghampiri pasangan suami istri itu. Leo terus memperhatikan ada kemiripan anak balita itu dengan kedua orangtua nya.
"Berani benar Dia mempermainkan perasaan wanita lain, padahal Dia sudah beristri dan memiliki anak!" Geram Leo.
Suami Istri itu begitu memperlihatkan keharmonisan Mereka, kemesraan Mereka di depan umum. Suap-suapan juga saling merangkul.
Leo terus memperhatikan Mereka. Leo menunggu sampai salah satu diantara Suami istri itu meninggalkan meja nya. Walau bagaimana pun, Leo tak mau mengadu domba, kalau ternyata Suami nya itu tukang selingkuh.
Leo memutuskan menuju kasir. Sambil menunggu dan terus memperhatikan. Tiba-tiba pandangan Leo terhalang oleh gerombolan orang yang ingin makan di resto ini.
Leo celingak celinguk. Leo tak ingin kehilangan targetnya.
Leo telah selesai membayar di kasir. Leo langsung kemeja dimana tempat pasangan suami istri itu.
"Untung Mereka masih ada." Gumam Leo. Leo mempercepat langkahnya. Tanpa menunggu satu dari Mereka pergi.
Leo berdiri di depan meja Mereka. Mereka mendongak.
"Alamaaaakkk...!" Pria itu sedikit terkejut. Dia memakai bahasa Indonesia.
"Siapa Yang?" Tanya sang istri.
"Jadi begini kelakuan Kamu yah?!" Leo sangat geram dengan bahasa Negara J.
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil cengengesan.
Melihat itu Leo langsung menarik kerah baju Laki-laki itu. Laki-laki itu langsung menahan dengan kedua telapak tangannya. Sang istri sontak berteriak minta tolong.
Leo sudah siap dengan tinju nya.
"Ooww... oowww... Sabaaar... Saya bisa jelaskan." Kata laki-laki itu mengikuti bahasa Leo.
Pihak resto sudah memanggil security. Mereka langsung menarik tubuh Leo.
"Pak..!! tolong Pak!!" Kata Istri laki-laki itu.
"Tenang.... Tenang...." Kata Laki-laki itu. "Pak, lepaskan Dia." Pinta laki-laki itu.
"Tapi Yang.... Dia mau memukulmu..." Istrinya tak terima.
Laki-laki itu menurunkan dan menaikan telapak tangannya. "Kamu tenang ya." Pada sang istri. "Pak lepasin. Biarkan Dia duduk." Pinta laki-laki itu.
"Tidak ada apa-apa. Maaf ada sedikit kesalahpahaman. Silahkan kembali ke tempat Kalian." Pinta laki-laki itu.
Leo mengernyitkan keningnya. Tangannya yang terkepal, terlepas. Leo membuang rasa kesalnya. Leo menuruti agar duduk.
__ADS_1