CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Teka Teki


__ADS_3

Ponsel Diandra berbunyi. Diandra sedang mengobrol dengan Lambok dan Tia di ruang tengah.


"Ma... Ponselnya berdering." Kata Fathir yang membawakan ponsel Diandra pada Diandra.


Diandra tersenyum. "Terima kasih Sayang..."


"Assalamu alaikum..." Diandra menyapa.


"Secepat ini....? Alhamdulillaah... Baik Saya akan segera kesana.... Abis dzuhur? Baiklah...." Diandra menutup ponselnya.


Lambok mengerutkan keningnya. "Siapa Kak?" Tanya Lambok.


"Kamu ikut Kakak ya, abis dzuhur." Pinta Diandra.


"Tapi ada apa? Apa sangat penting?" Tanya Lambok yang penasaran.


"Penting banget. Ini menyangkut masa depan Kakak." Kata Diandra serius.


"Ada apa Andra?" Tanya Tante Dewi, Mamanya.


"Nanti Diandra akan menceritakan semua sama Mama kalau masalah Diandra selesai." Kata Diandra yang masih teka-teki.


Tante Dewi menghela nafas. "Kamu masih seperti dulu, tak mau terbuka pada Mama."


Diandra bersimpuh dilutut Mama nya. "Maafkan Diandra Ma, tapi Diandra gak mau Mama cemas. Diandra hanya ingin Mama mendapat berita baiknya saja." Diandra terlihat berharap pengertian Mama nya.


"Mama doakan Diandra ya, mudah-mudahan ini adalah berita yang sangat baik buat Kita. Masa depan Diandra juga kebahagiaan Mama." Pinta Diandra.


"Tanpa Kamu minta, setiap saat Mama selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu, Sayaaang..." Kata Tante Dewi yang diselimuti tanda tanya.


Lambok dan Tia pun penasaran ada apa. Tapi Mereka mencoba bersabar menunggu berita sehabis dzuhur nanti.


____________________


Diandra dan Lambok sudah bersiap. Mereka baru saja selesai melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah.


Lita merengek minta ikut. Lita memang dekat dengan Lambok.


"Ya sudah... Lita diajak saja, gak apa." Kata Diandra.


"Yeeeiiii.... Terima kasih Mama Diandra..." Lita mencium pipi Diandra.


Tia hanya menggeleng. "Kasihan nanti Vita gak ada temannya, Lita." Kata Tia.


"Vita kan rame Ma disini. Aku khawatir sama Papa, nanti Papa sakit lagi." Canda Lita.


Lambok mengacak rambut Lita. "Kamu malah mendoakan Papa yang jelek." Lambok mengerucutkan bibirnya menggoda Lita.


Lita langsung memeluk Lambok. "Maaf Papa... Aku gak maksud gitu. Aku cuma mau jaga Papa." Kata Lita yang mendongak pada Lambok.


Lambok mengecup kening Lita. "Kamu tuh ya... Papa dijagain, Kak Atala juga bodyguardnya Kamu." Canda Lambok.


Tia tersenyum. "Ya sudah sana ikut Papa... Jangan galak-galak ya kalau ada yang godain Papa." Canda Tia.

__ADS_1


"Iihhh Mama... Kalau ada yang godain Papa... Hhmmmm... coba saja." Lita bersedekap sambil memasang wajah juteknya.


Semua yang melihat tingkah Lita tertawa. "Hahahaha...!"


"Tata... Tata...." Tristan menghambur ke pelukan Lita. Tristan memeluk kaki Lita. Lita berjongkok.


Tristan mencium pipi Lita. "Tuh Ma... Tristan aja ngerti kalau Aku mau jaga Papa, ya Sayaaang..." Lita membalas mencium pipi Tristan.


"Ya sudah.. Ayo Kita berangkat, kasihan nanti orang suruhanku lama nunggu." Kata Diandra.


Lambok dan Lita juga Diandra bergegas masuk kedalam mobil.


Vita langsung menggendong Tristan takut dia merengek minta ikut sama Lita.


Tristan malah membenamkan wajahnya ke leher Vita. "Kamu ngantuk ya?" Tanya Vita.


"Hati-hati Sayaang..." Kata Tia. Mereka mengantar kepergian Diandra, Lambok dan Lita di depan teras rumah. Security membuka gerbang rumah Tante Dewi.


____________________


Diandra sudah tiba di cafe tempat janjian yang sudah Dia tentukan dengan Pak Rahman.


Lambok dan Lita mengikuti Diandra. Lita menggamit lengan Lambok.


Diandra menuju meja yang sudah dibooking Diandra, ternyata Pak Rahman sudah berada disana.


"Sudah lama nunggu Pak?" Tanya Diandra yang menangkup kedua telapak tangannya didada.


"Saya baru saja sampe Bu. Nih baru mau pesan minum." Kata Pak Rahman.


"Loh.... Pak Rahman." Lambok terperanjat.


"Pak Lambok?" Kata Pak Rahman yang tak kalah kaget.


"Kalian sudah saling kenal?" Diandra juga terlihat kaget.


"Kebetulan kalau begitu. Kita duduk dulu." Pinta Pak Rahman.


Lambok masih bingung. "Ada urusan apa Kak Diandra dengan Pak Rahman." Batin Lambok.


"Jadi Pak Rahman bekerja dengan Kak Diandra?" Tanya Lambok.


"Ya Pak Lambok. Saya Security di gedung tempat Bu Diandra bekerja. Waktu itu Bu Diandra pernah menolong kesulitan Saya, jadi Saya berjanji akan membantu Bu Diandra jika Bu Diandra membutuhkan pertolongan." Jelas Pak Rahman.


"Lalu... Kamu kenal Pak Rahman dimana?" Diandra ikut penasaran.


Pak Rahman tersenyum. "Saya jadi bingung mulai darimana."


"Maksud Pak Rahman?" Diandra dan Lambok kompak bertanya.


"Sebaiknya Kita pesan minum dulu Bu. Di luar tadi panas banget." Canda Pak Rahman yang ingin mengademkan suasana.


"Ya ampun... Saya sampe lupa. Maaf Pak. Saya terlalu semangat ingin segera mendengar hasil pencarian Pak Rahman." Kata Diandra.

__ADS_1


Diandra segera mencatat pesanan minuman Mereka satu persatu. Juga makanan karena Pak Rahman belum makan.


"Sebenarnya ada apa Kak?" Tanya Lambok setelah Diandra memberikan pesanannya pada Waiter.


"Sebenarnya selama ini Aku mencari anakku." Kata Diandra memulai pembicaraan.


"Loh tapi kata Tante, anak Kak Diandra sudah meninggal?!" Lambok bingung.


"Sebenarnya anak yang selama ini Kakak besarkan dan meninggal dunia karena sakit, bukan anak kandung Kakak. Anak Kakak ditukar waktu di Rumah Sakit." Jelas Diandra.


"Apa?!" Lambok terperanjat.


"Kenapa Kakak gak pernah cerita? Lalu Mas Teguh tahu hal ini?!" Lambok benar-benar kaget.


Diandra menggeleng. "Aku gak berani ngomong sama Mas Teguh. Aku menunggu kehamilanku saja lama, sampai Mas Teguh selingkuh karena menginginkan anak. Apa jadinya nasib Kakak kalau Mas Teguh tahu kalau anaknya telah ditukar. Waktu itu Kakak sangat takut. Jadi Kakak menyimpan ini sendirian selama ini."


Diandra menceritakan bagaimana Dia sempat depresi setelah kepergian Rasya dan penghianatan Teguh yang meninggalkannya demi wanita lain.


Lambok mengusap wajahnya kasar. "Maafkan Aku, Kak. Aku gak tahu."


"Gak apa Dek. Waktu itu Kakak juga tahu, Kamu tidak bahagia menikah dengan Cecil setelah Tia mendonorkan sumsum tulang belakangnya." Kata Diandra.


"Mama dan Papa juga marah sama orangtua Kamu, karena Mereka tak menghargai pengorbanan Tia yang bertaruh nyawa." Kata Diandra lagi.


"Kamu juga jauh di luar negeri. Jadi Kakak gak ada teman untuk berbagi." Diandra terlihat murung.


Lambok mengusap bahu Diandra lembut. "Maafkan Kami, Kak."


"Gak apa. Semua sudah berlalu. Mudah-mudahan Pak Rahman membawa berita baik untuk Kakak." Diandra mencoba tegar.


Lita tak bergeming. Dia sudah tahu cerita tentang Mama dan Papa nya dahulu. Lita kaget karena ternyata Diandra masih memiliki putra.


Seorang Waiter datang mengantarkan pesanan Mereka.


"Maaf... Saya makan dulu. Gak enak nih makan sendirian." Kata Pak Rahman.


"Gak apa Pak. Kita tadi di rumah abis makan siang bersama." Kata Diandra.


Lita menyuap cake in cup nya. Dia menyuapi ke mulut Lambok. Dan Lambok menerimanya. Selera Papa dan anak memang sama. Lita menyodorkan pada Diandra tapi Diandra menolak.


"Mama tidak makan itu Sayang, kalorinya sangat tinggi." Diandra terkekeh.


"Tapi Aku gak gemuk, Ma." Canda Lita.


"Keturunan Kita gak ada yang gemuk, Sayang." Diandra tertawa.


"Tapi Nenek Aku gemuk." Kata Lita.


"Ya... Tapi Mama mu menuruni postur tubuh Almarhum Kakekmu." Canda Diandra.


Lita tersenyum sambil mengangguk membenarkan omongan Diandra.


Lambok menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar obrolan perempuan.

__ADS_1


Pak Rahman masih menyuap makanannya perlahan, karena Diandra tak memintanya untuk buru-buru. Diandra memang bos yang sangat bijak. Dia tak pernah keras pada bawahannya.


Diandra sangat mengerti dengan pekerjaan Mereka. Diandra menanamkan sifat disiplin pada kerjaan. Langsung dikerjakan agar tidak menumpuk dan tidak dikejar-kejar deadline.


__ADS_2