
Nadin menggengam tangan mamanya,
"mah,ada yang mau Nadin kasih tau mah soal papa, Nadin sudah mulai menemukan bukti-bukti mah, mama doain Nadin ya ma biar cepat selesai " di eratkanya genggaman tangannya
"mah, mama harus bangun dua hari lagi orang tua bang Satria mau ketemu mama, mama bilang pengen punya menantu dokter kan mah?"
ujarnya masih tetap mengajak mama bicara meskipun mama hanya diam saja..
Di hapusnya bulir air mata di pipinya, Nadin bangkit dan keluar dari NICU melangkah menuju musholla tujuannya sekarang sholat dhuha dan menenangkan diri.
selesai sholat Nadin menuju ruang NICU dari kejauhan nampak Pak Rahman dan istri
"ngapain dua orang itu kemari " dengusnya kesal
"om, tante..."ujarnya menyalami pak Rahman dan istrinya..
"kenapa kamu gak bilang-bilang mama kamu koma? " tegur pak Rahman
"kenapa Nadin harus bilang-bilang om ? " ujarnya meremas ujung kemejanya ada semburat amarah saat ini, tapi belum saatnya Nadin untuk membongkar semua.
"kamu gimana sich dulu almarhum papa kamu kan menitipkan kalian pada kami, jadi kalian semua masih tanggung jawab om dan tante " sela istrinya..
"Kami sudah gede semua om,tante dan mama juga sudah sangat baik menjaga kami" membuang kasar nafasnya..
"om tante ada perlu apa? mama juga belum bisa di jenguk " ujar Nadin
"om dan tante ingin menyampaikan surat yang di tulis mamamu" istri nya menyerahkan sebuah Amplop
"Apa ini tante ? " tanya Nadin menerima amplop dan keheranan
"Nanti kamu juga tau, om tante pamit dulu ya " istrinya menyusul pak Rahman yang sudah berjalan meninggalkan Nadin
Di pandanginya amplop yang di pegangnya "apa lagi rencana kalian " batinnya
Nadin melipat amplop dan memasukannya kedalam tas nya. dan kembali duduk di raihmya ponsel di dalam tasnya.dia menelpon rasya dan setelah empat panggilan Rasya baru mengangkatnya
"ada apa mba" terdengar suara serak bangun tidur dari sebrang
"dek kamu ke sini habis isya gakpapa dek, mba rencana mau tidur di rumah sakit " sejak kedatangan pak Rahman dan istrinya ada perasaan takut meninggalkan mama
"kenapa gitu mba, mba istirahat di rumah aja nanti sore adek ke rumah sakit mba dan mba bisa pulang "
"ya sudah nanti kalo kamu ke sini mba ceritain "
" cerita apaan mba? " ujar Rasya dari sebrang penasaran
"Nanti aja, ya sudah ya dek "Nadin mengakhiri panggilannya.
____________________________________________
Satria menyelasaikan tugasnya pasien terakhirnya cukup lama berkonsultasi.
di lihatnya jam dinding sudah pukul 12.00
__ADS_1
segera dia merapikan dirinya dan meminta asistennya untuk close penerimaan pasien..
menggunakan jas kebanggannya dia berjalan menuju NICU, untuk menemui Nadin pertemuan terakhir tadi saat mereka berpisah di lobby rumah sakit. Satria yang sangat sibuk tak sempat mengabarib Nadin.
dari jauh di lihatnya wanita pujaan hatinya tengan duduk di ujung kursi ruang tunggu tengah membaca sebuah surat di tangannya
Satria mengerutkan keninggnya berjalan menuju Nadin,
"Nadnad, surat apa itu "tegurnya kepo
"eh abang.." mendongakkan kepala menatap kearah Satria..
"ini surat dari om Rahman katanya mama yang nulis tapi aku gak percaya " Nadin menyerahkan surat tersebut ke Satria.
Diambilnya surat dari Nadin dan dia baca dia membulatkan mata saat membaca isi surat tersebut
" Rasya sudah tau ?" Satria gak yakin dengan surat itu karena Rasya bercerita saat malam sebelum mama jatuh, mama berharap Nadin menikah dengan Satria bukan Salman.
Nadin menggelengkan kepala "nanti saat dia datang aku akan bilang "
Satria meraih ponselnya di dalam saku jas dokternya dan menghubungi Rasya..
dia tak mau kehilangan cintanya
selesai menelpon Rasya Satria juga sibuk menghubungi Vino meminta Vino membawa ustad dan menceritakan semuanya..
setelah menelpon Vino,Satria menghubungi Mama nya
Nadin masih belum bisa mencerna dengan apa yang di lakukan Satria..
"Abang mau ngapain sich ?"
"Abang harus gerak cepat, gak mau lagi abang kehilangan kamu " mendekat meraih tangan Nadin
Ada rasa yang sulit Nadin jelaskan dia hanya bisa tersenyum dan tersipu
"Kamu mau kan jadi istri abang ? atau istrinya Salman" memicingkan matanya
"Idihh amit-amit jadi istrinya Salman,mending jadi istri Abang lah" ujarnye keceplosan
"tapi bang, mama blm sadar " ujarnya tertunduk lemas..
"kita nikah depan mama ya, semoga mama bisa merespon " mengusap jilban Nadin..
Setengah jam kemudian Rasya datang Satria menyerahkan Surat dari pak Rahman.setelah membaca Rasya langsung membuangnya ke tempat sampah
"maunya mereka apa sich mba, suka banget ngurusin hidup kita. dan itu gak mungkin tulisan mama " ujar Rasya kesal..
"mba juga berpikir gitu dek,mba saat ini sedang menyelidiki mereka dan tentang wafatnya ayah ada kaitannya dengan mereka " Nadin akhrinya tak kuasa memendam sendiri iya ungkapkan dan ceritakan yang semua dia dengar kepada adik dan calon suami..
Rasya mengepalkan tangannya rahangnya mengeras, emosinya mulai naik..di usapnya pelan punggung adek satu-satunya
"Dek kita jangan gegabah, kita ikuti aja alur mereka sambil kita kumpulkan bukti-bukti "ujar Nadin
__ADS_1
Satria tak menyengka ternyata sebegitu riwehnya permasalahan Nadin dan dia hanya sendiri memikulnya..
"kalian tenang saja abang akan bantu kalian sebentar lagi kita akan menjadi keluarga bukan?"
Rasya mengangguk " masih lama lagi bang Ustadnya datang ? " tanyanya
"sudah di parkiran Vino baru mengirim pesan ini"
"Abang ke NICU sebentar ya ijin ke perawat yang jaga " Satria berjalan meninggalkan kakak beradik masuk kedalam
Dan di dalam ruangan Nicu tepat di depan mama yang tengah berbaring Rasya menikahkan kakak tercintanya..bertindak sebagai Saksi Vino, perawat dan Dokter jaga teman Satria. tak lupa Satria melakukan panggilan vidio kepada kedua orangtuanya..
Nadin yang di temani mbok ning menangis terharu..
setelah acara akad dadakan semua orang keluar dari ruangan mama dan tinggalah Nadin, Satria dan rekan dokternya yang tengah berbincang di sudut kamar
Nadin yang menggenggam tangan mama nya di ciuminnya punggung tangan mama, merasakan jari mama bergerak pelan dan air mata menetes dari ujung mata mama
"Abang mama jarinya gerak bang" ujarnya setengah berteriak
Satria dan rekan dokternya mendekat, memeriksa keadaan mama
"maha besar Allah sat, mertua lu merespon sat lihat detak jantungnya mulai normal " ujar rekan dokternya
Nadin menangis bersujud syukur..
Satria dan rekan- rekan dokternya masih sibuk mengecek dan memeriksa kondisi mama,
tiba-tiba di kejutkan oleh panggilan mama
"M b a a" ujar mama terbata perlahan mama membuka mata dan mengitari ruangan mencari anak tertuanya
Nadin yang tadinya berdiri agak menjauh dari ranjang mama untuk memudahkan para dokter memeriksa mama berlari mendekat ke arah mama
di raihnya tangan mamanya "mama ini mba ma "ujarnya masih berderai air mata
"Mba selamat ya semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah " mama tersenyum, dokter yang menangani mama sudah mulai menjauh setelah memastikan kondisi mama stabil. tinggalah Satria yang berdiri di sebelah istrinya
" mama maaf Satria belum ijin ke mama untuk menikah dengan Nadin" menyalami punggung tangan mertuanya..
"mama sudah ijinin nak, saat mama tak sadar mama dengar dan tau semua, Rasya banyak bercerita tentang kalian"
"Alhamdulillah mama bisa berjuang dan mendengar Akad nikah kalian, sebenarnya dari tadi mama ingin membuka mata tapi susah, tapi mama bersyukur mba bisa nikah dengan dokter Satria " mama mengambil tangan Satria dan Nadin menyatukan mereka..
_________________
pak Rahman dan istrinya sedang berbahagia pasalnya sebentar lagi keinginan mereka akan terwujud.mereka yakin anak-anak dari sahabatnya itu akan menuruti isi surat palsu itu.
"besok kita tinggal ke rumah sakit membawa ustad pak dan menikahkan Salman dan Nadin di depan wanita sialan itu " ujar istrinya
"iya mah,dan sebentar lagi kita akan mendepak mereka semua dari istananya "tawa pak rahman menggelegar
Salman hanya terpaku mendengar pembicaraan orang tua angkatnya "apa lagi rencana kalian, sudah tua bukannya tobat " berbicara dalam hati..
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
jangan lupa like dan votenya donk biar emak semangat updatenya πππ₯°