CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Vita Cemburu?


__ADS_3

"Adik Kamu cemburu." Tiba-tiba Friska membuka percakapan ditengah kebisingan macetnya kota Jakarta.


"Benarkah?" Atala melihat senang kearah Friska.


Friska mengangguk. "Kamu gak peka Atala. Setiap Kamu menjemput Twins, wajah Vita terlihat lain sebelum pertama kali Aku melihatnya ketika Dia belum tahu, Kamu bersamaku."


"Tapi Aku masih belum yakin. Vita benar-benar cemburu apa gak? Aku belum tahu perasaannya padaku." Atala terlihat cemas.


"Kenapa gak langsung Kamu tembak saja sih?" Friska mengerucutkan bibirnya.


Tak dapat dipungkiri, Friska juga sebenarnya menyukai Atala tapi Atala malah menjauh darinya kalau Dia tahu, Friska mengejarnya juga seperti gadis-gadis lain.


Makanya Friska menawarkan pertemanan. Dan Atala tetap menganggapnya demikian. Malah Atala mengikrarkan persahabatan Mereka bertiga.


"Aku gak mungkin menembaknya sekarang. Vita masih SMA. Mamaku pernah wanti-wanti, Kita gak boleh berpacaran selama masih sekolah. Kalau Aku sih sudah dapat ijin. Tapi Mama dan Papa ku juga sebenarnya gak mau juga Aku berpacaran." Jelas Atala.


"Loh kalau Kamu gak pacaran, bagaimana Kamu bisa menjalin hubungan?" Tanya Friska heran.


"Ya kalau Aku kan memang sudah menambatkan hatiku pada Vita sejak lama. Jadi gak ada kesempatan untuk wanita lain mengisi hatiku." Atala ceplas-ceplos.


"Walau Aku gak pacaran sama Vita, setidaknya Mama sudah tahu kalau Aku menyukai puterinya." Kata Atala.


Friska tersedak. "Huk... huk... huk..."


"Heeyyy Kamu kenapa?" Atala menyodorkan air mineral pada Friska.


"Gak apa, Aku kurang minum dari tadi." Friska menyembunyikan kekecewaannya. Putus sudah harapannya untuk mendekati Atala.


Hati Atala sudah digembok untuk gadis lain. Friska meneguk air mineral yang Atala sodorkan padanya.


Atala memang meminta tolong pada Friska untuk membantunya. Atala ingin mengetahui perasaan Vita padanya yang sebenarnya.


Fathir juga tahu rencana Atala, Fathir gak mau ikut-ikutan, walau bagaimanapun, Twins adalah adiknya. Fathir gak mau menjahili adik-adik kesayangannya.


Pertama kali Friska melihat Vita, Friska merasa aneh pada Atala. Apa yang Atala lihat pada Vita sehingga Vita menjadi special dihati Atala.


"Cantik tidak. Kulitnya sih memang eksotik. Indonesia banget. Tapi kalau dibandingkan Aku? Aku lebih cantik darinya." Batin Friska saat itu.


Tapi Friska akhirnya meluluskan rencana Atala. Friska juga ingin mengenal seberapa special Vita yang terlihat biasa-biasa saja.


Dan selama Friska mengenal Vita, tak satupun hal yang dianggap Friska kalau Vita itu special. Biasa saja. Itu lah penilaian Friska terhadap Vita.


Friska adalah anak dari sahabat Tia, yaitu Puteri dari Rafael dan Siska.


Usia Friska memang 3 tahun lebih tua dari Atala. Friska memang Kakak kelas Atala. Dia bisa sekelas dengan Atala karena banyak mata kuliah yang tertinggal akibat Dia pernah cuti satu tahun karena kesehatannya yang turun drastis.


Rafa dan Siska memang pernah mengutarakan niat Mereka ingin menjodohkan puteri Mereka dengan Atala tapi bukan untuk Friska tapi untuk Raisa adik Friska. Atau putera bungsu Mereka, dengan Twins.

__ADS_1


Tapi Tia menolaknya. Tia gak mau kejadian seperti dulu terulang lagi. Tia gak mau anak-anak Mereka menderita karena ikatan janji orangtua.


"Biarkan saja Mereka mengenal secara alami. Kalau Kita memang berjodoh menjadi besan, Alhamdulillaah tapi jika tidak ya biasa saja." Kata Tia waktu itu.


Dan Lambok sangat setuju dengan pemikiran Tia.


Lain halnya dengan Rafa dan Siska yang merasa tersinggung dengan perkataan Tia. Tapi Tia sudah meminta maaf tak ada maksud untuk membuka luka lama.


Tia hanya tak ingin kejadian dulu terulang pada anak-anaknya.


_________________


"Terima kasih ya." Ucap Friska yang sudah turun dari mobil Atala. Atala tak mau mampir karena sudah sore.


Rafa melihat Friska. Dia menegaskan laki-laki yang mengantar Friska.


Rafa keluar ketika melihat mobil Atala sudah tak terlihat lagi.


"Papa..." Friska langsung memeluk tubuh Papa nya.


Rafa melerai pelukan Friska. "Siapa yang mengantarmu? Sepertinya Papa tak asing dengan wajahnya." Tanya Rafa.


"Oh itu. Itu Atala Pa, teman kampusku." Kata Friska. Friska memang tidak tahu tentang rencana perjodohan yang ditolak Tia.


"Maksud Kamu, Atala Putera nya Pak Lambok dan Bu Tia, teman Mama mu?" Tanya Rafa.


"Kenapa Atala mengantarmu?" Selidik Rafa.


"Iihhh Papa... Sejak kapan Papa jadi Papa yang mau tahu aja." Canda Friska.


"Sejak Papa lihat, gadis kecil Papa sudah menjadi Puteri cantik seperti sekarang." Rafa mencubit pipi Friska lembut.


"Friska memeluk tubuh Rafa. Mama mana Pa?" Tanya Friska.


"Biasa... Mama sedang berkebun sama Oma." Kata Rafa.


"Kalau gitu Aku kedalam dulu ya Pa.." Pamit Friska.


"Ehh... Nanti dulu lah... Kamu belum menjawab pertanyaan Papa." Kata Rafa yang mencegah Friska.


"Yang mana Papa?" Friska merajuk.


"Hubungan Kamu dan Atala?" Tanya Rafa.


"Sebatas teman. Tidak lebih." Kata Friska yang langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya.


Friska menyenderkan tubuhnya pada pintu kamar. Jantungnya berdegub kencang manakala mengingat Atala.

__ADS_1


"Usiamu lebih muda dariku. Heeehhh... Kenapa sih Kamu tak pernah melirik sedikit saja padaku?" Mata Friska mulai berkaca-kaca.


Rafa menghela nafas melihat kepergian Friska. Rafa memang sangat menyayangi Puterinya. "Papa ingin Kamu bahagia, Sayang." Batin Rafa.


_____________________


Vita berjalan gontai menyusuri trotoar jalan. Dia enggan untuk pulang. Beberapa taxi sudah menawarkannya untuk naik, tapi Vita masih enggan.


Vita ingin terus berjalan kalau perlu sampai rumah. Itu sudah jadi tekadnya.


Vita memang tidak ada belajar kelompok dengan temannya. Dia hanya berdiam diri di Masjid sekolahnya. Kebetulan akan diadakan Isra' mi'raj, makanya ketua osis langsung mengajak Vita untuk bergabung karena melihat Vita yang masih mengaji di Masjid.


Hingga sore hari, pembentukan panitia dan acara, baru selesai.


Vita menengok ke kiri dan ke kanan, Dia ingin menyebrang.


Sebuah sepeda motor berhenti tepat didepan Vita.


"Assalamu alaikum Vita..." Salam Vero.


"Wa alaikumussalaam.." Jawab Vita yang melihat pengendara itu dan segera menunduk.


"Kok Kamu jalan kaki? Gak dijemput Abang Kamu?" Tanya Vero.


Vita menggeleng. "Aku memang gak mau dijemput. Aku mau merasakam jalan-jalan sore." Kata Vita masih menunduk.


"Aku antar ya. Rumah Kamu masih jauh loh. Bisa sampai Maghrib Kamu tiba dirumah." Tawar Vero.


"Aku gak mau merepotkan. Aku naik taxi saja." Tolak Vita lembut.


"Ayolah... Aku gak repot kok. Arah rumah Kita searah kan?" Tanya Vero yang memang pernah bertemu Vita di depan rumahnya sedang mengajak Tristan jalan-jalan ke taman.


"Tapi apa nanti Diah tak marah, kalau Kakak bonceng Aku?" Tanya Vita ragu.


"Ya gak lah. Aku kan cuma anter Kamu pulang saja." Kata Vero.


Vita tak dapat menolak lagi. Dia segera naik. "Tapi jangan ngebut-ngebut ya. Aku takut." Pinta Vita.


"Siap Tuan Puteri." Kata Vero.


Vero adalah ketua osis di sekolah Vita, Dia juga Kakak kelas Vita. Vero mengambil jurusan Bahasa, sedang Vita dan Lita, IPA.


Vero, pemuda tampan yang jadi di idola di sekolah. Banyak gadis-gadis yang dekat dengannya. Vero juga sangat dekat dengan salah seorang teman sekelas Lita, Diah.


Dijalan Mereka nampak sudah akrab mengobrol. Vero tak menyangka kalau ternyata Vita sangat nyambung diajak ngobrol.


Vero juga kagum pada Vita yang menuangkan ide-ide nya untuk acara Isra' mi'raj. Ternyata dibalik sikap lembut dan pendiam Vita, Vita sangat menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2