
Sementara itu di kamar Vita.
"Ya Allah... Kenapa Kak Atala membentakku? Hik... hik... hik...." Vita terisak karena kaget mendapat hardikan dari Atala.
"Seumur hidupku, Aku baru kali ini dibentak dan itu oleh Kakakku... Kakak yang sangat Aku sayangi." Vita masih terisak. Dia menelungkupkan wajahnya dibantal dengan posisi tubuh tengkurap.
Tak lama Vita terlelap karena letih menangis dan juga karena sudah letih seharian beraktivitas di sekolah.
Di Ruang Kerja Lambok.
"Papa dari tadi gak lihat Vita. Kemana Vita?" Lambok terlihat celingukan dan ingin mencairkan suasana yang sudah haru biru.
"Astaghfirullaah...!" Kata Atala. "Vita pasti sangat sedih karena tadi Atala membentaknya." Atala segera beranjak dari duduknya.
Tia dan Lambok saling menatap tak mengerti.
Atala setengah berlari menuju kamar Vita. Lita mengikuti Atala.
Lambok merangkul bahu Tia dan mengecup kepalanya. Tia membalasnya dengan memeluk pinggang Lambok.
"Mungkin ini lebih baik, Sayang. Kita ikhlaskan yah. Segala sesuatu yang Kita lepas secara ikhlas, Allah tak akan sia-sia membalasnya. Mungkin akan ada hikmah dibalik kejadian ini." Kata Lambok menghibur istrinya.
Tia mengangguk. Tia bahagia mendapatkan Suami seperti Lambok. Lambok adalah Imam terbaik untuk Tia dan anak-anak Mereka.
Atala dan Lita masuk ke dalam kamar Vita yang tertutup pintunya. "Assalamu alaikum..." Sapa Atala dan Lita.
Tapi tak ada sahutan. Atala membuka pintu pelan. Dia melongok. Kemudian Atala dan Lita masuk.
"Vitaaa...." Panggil Atala lembut. Lita langsung masuk dan mendapati kembarannya sedang tertelungkup di kasur.
"Kak...." Panggil Lita.
Atala menoleh dan tersenyum melihat Vita yang tertelungkup. Atala bergegas menghampiri dan duduk dipinggir ranjang. Atala mengelus kepala Vita yang tertutup hijab.
"Kecapean kali Kak." Kata Vita yang merasa dirinya juga letih.
Atala mengangguk. "Biar Kakak tunggu disini." Kata Atala.
Lita mengangguk. Dia pun bergegas meneruskan PR nya yang tadi sedang dia kerjakan bersama Vita.
Sesekali Lita akan bertanya soal pelajaran yang dia tak mengerti, Atala akan mengajarinya.
"Ya Allaah... Apa Aku harus bersedih atau Aku harus senang mendapati kenyataan Aku bukan Kakak kandung mereka. Aku sangat menyayangi Vita tapi entah rasa apa. Aku begitu tentram berada disampingnya. Melihatnya terluka hatiku sakit." Batin Atala.
"Kakak melamun ya?" Lita membuyarkan lamunan Atala.
Atala tersenyum. "Kakak bingung Dek. Kakak bukan mahram kalian. Berarti Kakak gak bisa menyayangi kalian lagi seperti dulu." Atala menunduk.
__ADS_1
Lita mendekati Atala dan memeluknya. "Tapi Aku gak menganggap Kakak bukan mahramku. Aku tetap Adik Kak Atala yang cantik." Kata Lita.
Atala tersenyum mengusap punggung Lita.
"Assalamu alaikum...." Sapa Tia dan Lambok. Lambok sudah menggendong Tristan.
"Wa alaikumussalam...." Jawab Lita dan Atala.
"Mama... Papa... Aku gak mau ada jarak dengan Kak Atala. Aku ingin seperti sebelum Kakak tahu kebenaran tentang dirinya." Kata Lita yang kembali memeluk Atala.
Tia dan Lambok menghela nafas. Mereka serba salah. Tapi Mereka percaya, anak-anaknya bisa menjaga perasaan dan diri mereka masing-masing.
Tia menghampiri Vita yang masih terlelap.
"Cape kali Ma." Kata Atala.
"Ya Ma.... Tadi di sekolah pelajaran olahraga lari keliling lapangan 10x... Huh nyebelin!" Kata Lita yang mengrucutkan bibirnya.
Tia tersenyum. Tia mengelus kepala Vita yang tertutup hijab.
Vita menggeliat. Dia mengerjabkan matanya. "Mama....." Kata nya pelan. Vita bergegas bangun. Vita melihat dikamarnya semua keluarga berkumpul. Vita bingung.
Tia tersenyum. Atala yang melihat Vita terbangun langsung menghampirinya dan memeluk Vita.
"Maafkan Kakak, Dek. Tadi Kakak panik. Kakak gak sengaja membentakmu." Kata Atala.
Vita terlihat tak enak karena Atala bukan mahramnya. Vita melihat kearah Mama nya. Tia mengangguk memberi tanda gak apa Atala memeluknya sebagai seorang adik.
Vita membalas pelukan Atala. Ada kedamaian dihatinya. "Aku tadi kaget Kak, Kakak membentakku. Seumur-umur Aku gak pernah dibentak siapapun." Kata Vita yang mulai terisak.
"Sssttt... Jangan nangis lagi. Nanti hilang wajah manis Kamu." Goda Atala.
"Iiihhh.... Mulai deh." Vita mencubit pinggang Atala.
Atala melepas pelukannya. "Sakit deeekkk...." Kata Atala manja.
"Atala...." Panggil Tia.
"Ya Ma...." Atala menoleh.
Tia menyerahkan sebuah kotak kayu yang berukir.
"Apa ini Ma?" Tanya Atala.
"Itu perlengkapan bayi Kamu sewaktu Mama menemukannya di depan pintu kontrakan." Kata Tia.
Atala membukanya. Vita mendongakkan kepalanya ingin tahu.
__ADS_1
Atala mengeluarkan semua. Ada sebuah surat yang sudah usang dimakan waktu. Atala membacanya. Airmata Atala menetes begitu saja.
Vita mengusap airmata Atala. "Sudah Kak. Mungkin Mereka punya alasan yang baik makanya Kakak ditaruh di depan pintu." Vita mencoba menghibur Atala.
"Mereka memang tak menginginkan Atala...." Atala mengusap airmatanya.
Tia menghela nafas. "Waktu itu Mama sempat mengejarnya tapi Mereka naik motor. Mama sudah berteriak memanggilnya tapi Mereka tak kembali." Kata Tia.
Atala menghampiri Tia. "Ma.... Terima kasih telah mau merawatku... Aku bersyukur Allah mengirimku pada Keluarga yang berhati Mulia." Kata Atala yang kembali menangis dan memeluk tubuh Tia.
"Allah memberikan obat luka untuk Mama, Sayang...." Tia mengelus punggung Atala.
Atala melerai pelukannya. Tia mengusap airmata Atala.
"Tapi Atala boleh mencarinya kan, Ma. Atala khawatir jika ternyata mereka orang gak punya..... Setidaknya Atala bisa membantu Mereka... Jika Atala punya Adik... Atala bisa membantu meringankan beban mereka." Kata Atala.
Tia mengangguk. Tia mengusap kepala Atala. "Iya Sayang... Kamu harus menolong Mereka. Kamu gak boleh membenci Mereka. Benar kata Vita, mungkin mereka punya alasan yang kuat kenapa membuang Kamu." Kata Tia lembut.
Atala mengangguk dan kembali memeluk Tia.
"Nanti hari sabtu, Kalian libur sekolah, Kita akan mencari keberadaan mereka." Kata Lambok yang dari tadi berdiri menggendong Tristan.
Atala melerai pelukannya dari Tia. Dia menghampiri Lambok dan kembali memeluk Papa nya. "Terima kasih Pa... Atala beruntung memiliki Papa dan Mama yang baik. Juga Adik-adik yang selalu mendukung." Kata Atala.
"Tata.... Tata..." Tristan memanggil Atala.
Atala melerai pelukannya. Tristan mengulurkan tangannya minta digendong Atala.
Atala langsung menggendongnya. "Kamu sudah baikan, Sayang?" Atala mencium pipi Tristan.
Lambok mengelus kepala Atala. Lambok menghampiri Tia yang duduk dipinggir ranjang Vita dan merangkul bahu Tia.
Tia menyenderkan kepalanya dibahu Lambok. Lambok mengecup kepala Tia.
"Ya sudah... Mama mau urusin Papa dulu yah. Kasihan Papa... baru pulang belum istirahat." Kata Tia.
"Ya Ma... Pa... Maafkan Atala ya... Sudah merepotkan Papa dan Mama." Kata Atala.
Lambok mendelik. "Kalau Kamu bicara seperti itu, berarti Kamu menganggap Papa dan Mama, orang lain." Canda Lambok.
Atala menggeleng. "Bukan gitu Pa... Atala tak bermaksud....." Atala belum meneruskan perkataannya.
"Sudahlah Nak. Papa dan Mama gak apa." Kata Lambok yang menepuk bahu Atala pelan.
Lambok berlalu sambil masih merangkul bahu Tia. Mereka meninggalkan kamar Vita.
"Kakak mau mandikan Tristan dulu ya Dek... Badannya lengket abis diurut tadi." Kata Atala.
__ADS_1
"Iya Kak..." Kata Vita dan Lita.
Vita merapikan isi kotak bayi Atala. Dan menyimpannya di kamarnya.