
Tabib sangat cekatan mengobati Friska. Kondisi Friska masih kritis. Keringat tabib mulai bercucuran. Asisten Tabib sudah saling bergiliran membantu Tabib.
Hanya Tabib yang tak punya pengganti. Papa Carlos masuk kedalam melihat kondisi Tabib yang sudah lima jam belum juga istirahat.
"Tabib... Apa belum bisa ditinggal? Tabib belum istirahat dari tadi." Kata Papa Carlos.
Tabib menghela nafas. Dia memang sudah terasa sangat lelah. Tapi menolong nyawa sesama adalah tujuan utamanya. "Aku masih menunggu pendarahan Nona Friska berhenti, setelah ini Aku baru akan beristirahat sejenak." Kata Tabib yang menyeka keringatnya.
"Kadar gula dalam darahnya juga sangat tinggi. Biarkan ramuannya masuk kedalam darahnya, agar racun dalam tubuhnya dapat dinetralisir." Jelas Tabib.
Papa Carlos mengangguk tanda mengerti. Semenjak Maria tiada, Papa Carlos memang jadi lebih suka mendalami tentang pengobatan. Dia ingin mengenang Puterinya yang ingin menjadi Dokter.
"Aku merindukan Tia.... Bagaimana kabarnya sekarang?" Papa Carlos mengalihkan pembicaraan agar Tabib sedikit bersantai sambil menunggu reaksi ramuannya.
"Kenapa tak Kamu tanyakan pada Atala. Aku juga rindu padanya. Melihat Tia, Aku serasa melihat Maria. Dia selalu menjadi penyemangatku kala Aku lelah mengobati pasien-pasienku." Canda Tabib.
"Ya saudara ku... Tuhan sangat menyayangi Puteriku, hingga DIA mengambil Maria dengan cepat." Kata Papa Carlos.
Tabib mengangguk. Dia mulai membersihkan sisa-sisa darah pasca Caesar Friska. "Puji Tuhan... Pendarahannya mulai berhenti... Huuhhh... Akhirnya..." Tabib mengusap wajahnya.
Tabib beranjak. "Aku ingin mencari udara segar. Kamu tolong jaga Nona Friska. Jika ada yang tak beres, panggil Aku." Pinta Tabib.
Papa Carlos mengangguk. "Silahkan saudaraku."
Tabib keluar dari rumah prakteknya. Atala yang melihat Tabib, langsung menghampirinya. Gery mengikuti Atala. "Tabib... Bagaimana kondisi Friska?" Tanya Atala.
"Puji Tuhan pendarahannya sudah berhenti. Tinggal menunggu reaksi dari ramuannya. Saya sedang mencoba agar kadar gulanya yang tinggi menjadi normal. Setelah itu baru Saya dapat mengobati penyakitnya." Jelas Tabib.
"Alhamdulillaah..." Atala mengusap wajahnya.
"Boleh Saya istirahat sebentar?" Ijin Tabib.
"Oohh iya... Silahkan Tabib... Maaf kalau Saya mengganggu." Kata Atala ramah.
Tabib tersenyum pada Atala. Dia mengusap bahu Atala. "Apa yang Kamu inginkan akan tercapai, Atala. Asal Kamu tak berpaling..." Goda Tabib.
Atala hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
___________________________
Satu minggu sudah Friska ditangani Tabib. Tabib bisa bernafas lega karena racun dalam darah Friska sudah dapat dinetralkan. Dia dapat sedikit bernafas lega.
Gery tak henti-hentinya berdoa.
Hari ini Atala berpamitan kembali ke Jakarta karena pekerjaan yang tak dapat Dia tinggalkan. Atala berpamitan pada Tabib dan Papa Carlos.
"GrandPa... Tabib... Atala titip saudara-saudara Atala disini. Insyaa Allah jika tak ada halangan, minggu depan Atala akan kembali lagi kesini." Kata Atala.
"Ya Sayang... Kamu jangan khawatir... Grandpa dan Tabib akan memberikan yang terbaik untuk saudaramu." Kata Papa Carlos. Papa Carlos dan Tabib sudah mendengar cerita cinta Atala yang kandas dan harus menikahi Friska. Makanya Mereka tak kaget lagi mendengar Atala menyebut Friska sebagai saudaranya.
Mereka juga tahu ternyata Tia dan Lambok pindah ke Mesir karena menemani Vita yang kuliah di Kairo.
__ADS_1
"Mas... Aku pamit ya... Kalau ada apa-apa, kabari Aku." Kata Atala pada Gery.
"Ya Dek... Terima kasih karena Kamu sudah membantuku dan Friska." Kata Gery.
Atala mengangguk.
Papa Carlos memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Atala hingga ke bandara.
_________________________
"Gery...." Friska membuka matanya. Dia tersenyum pada Gery. Senyuman penuh kerinduan.
"Ya Sayang...." Gery menghampiri Friska yang masih terbaring lemah.
Satu bulan sudah Friska menjalani pengobatan di Negara T. Dan Gery memutuskan berhenti bekerja karena ingin menemani Friska.
"Aku ada dimana? Kenapa badanku sakit semua?" Tanya Friska manja.
"Kamu sedang di Negara T. Dalam penanganan Tabib." Kata Gery yang merindukan sikap lembut Friska, Gery mengusap rambut Friska dengan lembut.
"Memang Aku sakit apa?" Tanya Friska.
Gery mengerutkan keningnya.
Pintu kamar perawatan Friska terbuka dan membuyarkan kebingungan Gery.
"Apa Friska sudah sadar?" Tanya Atala dan Fathir yang memang sudah berada disana sejak kemarin sore.
Friska mengerutkan keningnya. "Gery... Siapa Mereka? Apa Mereka teman-temanmu?" Tanya Friska.
Sontak saja yang mendengar menjadi kaget. Gery pun demikian.
"Kamu.... Kamu gak mengenal Mereka?" Tanya Gery.
Frizka menggeleng pelan.
"Apa yang Kamu ingat?" Tanya Gery yang langsung tanggap.
"Gery.... kenapa Kamu menggoda ku?" Tanya Friska manja.
Fathir dan Atala masih tak dapat berkata-kata. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Sayang... Aku serius." Kata Gery.
"Kamu genit iiihhh panggil Aku sayang-sayang... Malu tahu.. Memang Kita sudah pacaran?" Friska mengrucutkan bibirnya. Pipinya yang pucat terlihat bersemu merah.
Gery menghela nafas. "Aku panggil Tabib dulu." Kata Gery seraya beranjak dari kursinya.
"Kamu mau kemana? Jangan tinggalkan Aku..." Tangan Friska menyentuh jemari Gery.
"Biar Aku saja yang panggil Tabib." Kata Fathir.
__ADS_1
"Baiklah..." Gery kembali duduk.
Tak lama Fathir masuk bersama Tabib dan Papa Carlos.
"Ada apa Nak?" Tanya Tabib.
"Sepertinya Friska hilang ingatan. Dia tak mengenaliku dan Atala." Kata Fathir.
Tabib tersenyum. "Nona Friska, apa yang Kamu ingat?" Tanya Tabib.
"Siapa Dia?" Tanya Friska pada Gery.
"Ini Tabib yang mengobatimu." Kata Gery.
"Oohh... Maaf Tabib." Kata Friska.
Tabib tersenyum. "Gak apa Nak. Coba Kamu katakan." Pinta Tabib.
"Aku baru saja masuk Universitas dan bertemu dengan Gery. Kami menjadi sangat dekat." Friska tersipu malu. Sikapnya seperti awal saat Gery mengenalnya.
"Sesudahnya?" Tanya Tabib.
Friska menggeleng. "Aku ingat Papa ku dan Mama... Juga adik-adikku... Dimana Mereka? Mengapa Mereka tak menemaniku?" Friska terlihat sedih.
"Mereka ada di Jakarta, Sayang... Mereka baik-baik saja." Kata Gery.
"Loh bukannya Kamu belum pernah Aku kenalkan pada keluargaku?" Friska bingung. Gery mengusap wajahnya.
Tabib menghela nafas. "Friska mengalami amnesia. Dia hanya mengingat masa bersama Gery dan kebelakang. Sedang masa depannya dan kini, Dia lupa." Kata Tabib.
"Berarti...." Atala tak meneruskan kata-katanya.
Tabib mengangguk.
"Bagus dong... Berarti Kamu bisa bebas dari Friska..." Bisik Fathir.
Atala menggeleng. "Ini malah tambah runyam Fathir. Aku gak bisa menalaknya kala Dia lupa ingatan. Ya Allah... Cobaan ini belum berlalu." Atala terlihat sedih.
Tabib mengusap bahu Atala. "Kamu harus sabar Nak."
Atala dan Fathir keluar ruangan. Atala merasa dada nya sesak. Niatnya akan segera terbang ke Mesir untuk melamar Vita, terhalang kembali.
"Berarti Friska tak ingat kalau Dia habis melahirkan dan mempunyai bayi..." Gumam Atala. Atala menghela nafasnya.
Hari sudah menjelang sore. Atala berdiri menatap matahari yang akan segera terbenam. Dia memandang jauh ke lautan. Beberapa kali Dia menghembuskan nafasnya. Membuang sesak yang sangat menghimpit rongga dadanya.
Sore ini sangat indah. Dengan pemandangan Sunset yang merah tapi tak menyilaukan mata. Tapi tak seindah hati Atala yang kelabu. Hatinya membeku... "Entah harus berapa lama lagi Aku akan menunggu."
"Vita.... Maafkan Aku... Aku mohon tunggulah Aku, Sayang..." Batin Atala. Airmatanya sudah mengambang dan akan segera mengalir.
Fathir melihatnya dari kejauhan. Dia tak ingin mengganggu Atala. Dia hanya terus mengawasi Atala.
__ADS_1
"Ya Allah... Berikanlah kebahagiaan pada Adikku..." Batin Fathir yang menengadah memanjatkan doa.