CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Menolak Perjodohan


__ADS_3

Pesawat yang Lita tumpangi mengalami delay saat transit di Singapura.


"Berapa lama delay nya?" Tanya Lita sedikit kesal.


"Kami belum tahu Nona. Karena cuaca yang begitu ekstrim. Kami tidak berani terbang disaat cuaca seperti ini." Kata Petugas bandara.


Lita menghela nafas.


"Sebaiknya Nona beristirahat di hotel yang sudah Kami sediakan." Pinta petugas itu sambil memberikan tiket akomodasi hotel kepada Lita.


"Huuuhhh... Kalau ada Astrid disini, pasti Aku akan mendatanginya dan gak BT kayak gini..." Lita menggerutu.


Lita mengambil ponsel dalam tas nya.


"Assalamu alaikum...." Sapa diseberang sana.


"Wa alaikumussalaam Ma...." Jawab Lita. "Ma.... Pesawatku delay... Mama gak usah jemput Aku di Bandara Suta."


"Sampai kapan Sayang?" Tanya Tia terdengar cemas.


"Aku juga belum tahu Ma... Disini cuaca nya hujan terus..." Lita merajuk. "Kemungkinan Aku langsung ke Sumatera aja Ma..." Kata Lita.


"Tapi Sayaang.... Kita sudah janji berangkat sama-sama..." Terdengar nada suara Tia yang kecewa.


"Mau bagaimana lagi Ma... Setidaknya Bang Fahri gak akan marah padaku, kalau Mama memberitahu beritaku... Aku sudah coba menghubunginya, tapi kayaknya Bang Fahri masih ngambek." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Baik... Nanti Mama yang bicara sama Abangmu. Mama minta Kamu pulang dulu ke Jakarta ya.... Please..." Tia memohon.


"Baik Ma... Aku nurut apa kata Mama." Lita terdengar pasrah.


Lita memang sudah berjanji pada orangtua nya tak akan berkeras hati. Dia akan menuruti apa mau kedua orangtua nya.


Lita segera check in ke hotel yang telah ditunjuk pihak bandara. Hotel itu tak berada jauh dari Bandara.


Lita membuka kamarnya. Dia segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Rasa penat terasa ditubuhnya.


Setelah nya Lita merebahkan diri di ranjang itu. "Astaghfirullaah...." Lita menghela nafas.


Airmata nya kembali menetes. Rasa sedihnya tak kunjung hilang. Tak dapat dipungkiri, Lita begitu mencintai Leo, hingga sakit sekali rasanya dihianati Leo.


"Ya Allah... Kenapa Aku tak seberuntung ini? Apa salahku? Apa Dokter Leo bukan yang terbaik untukku?" Lita menangis.


Ponsel nya berdering. Namun Lita enggan mengangkatnya setelah melihat siapa penelponnya.


Tak lama sebuah pesan masuk. Namun Lita enggan membacanya. Lita langsung memblokir nomor Leo.


Beberapa saat sebelumnya


"Bagaimana mungkin Nak? Ini mendadak sekali..." Alex terdengar khawatir.


"Tidak Pa... Lita yang meminta... Dia siap menikah hari ini juga kalau Aku benar-benar sudah muallaaf." Kata Leo.

__ADS_1


"Tapi minggu depan Keluarga Mereka menggelar Pernikahan di Sumatera." Kata Alex lagi.


"Makanya Leo mohon sama Papa, lamarkan Lita hari ini untuk Leo pada Om Lambok." Leo sekarang sudah di Bandara.


"Leo mengambil penerbangan langsung ke Jakarta. Papa dan Mama berangkatlah ke Jakarta, please Pa..." Leo terdengar memohon.


"Lalu bagaimana dengan Kakakmu, Alexa? Dia akan murka kalau hari bahagia ini Dia tidak diberi kabar?" Alex terdengar menghela nafas.


"Aku sudah menelpon Kakak. Dia tidak bisa datang karena Suami nya sedang Keluar Negeri. Dan Kakak mendukung sekali niatku." Jelas Leo.


"Baiklah... Papa akan bicara dengan Ustadz Joey." Kata Alex.


________________________


"Tidak Ma.... Pa... Aku belum siap menikah." Lita nampak sedih. Hati nya masih sakit karena penghianatan Leo. Kali ini Lita tak salah lihat, Leo berpelukan mesra dengan mantan pacarnya.


Dan Lita tahu, Leo sangat mencintai Wanita itu.


"Tapi Sayang... Pria ini sangat cocok untukmu. Dia sudah menginginkanmu sejak lama..." Pinta Lambok.


"Tapi Pa... Lita kan sudah bilang, Lita gak mau dijodohin untuk saat ini. Lita sudah janji sama Mama dan Papa, Dua tahun Lita tak bisa menemukan calon Suami, Lita akan menuruti kemauan Mama dan Papa." Kata Lita lagi.


Tiba-tiba Lambok memegang dada nya. "Aacchh...."


"Papa...! Papa kenapa?" Lita nampak khawatir.


"Sayang... Kamu jangan emosi...." Pinta Tia pada Suami nya.


"Papa mohon Lita... Umur tak ada yang tahu. Papa takut gak bisa melihat Kamu menikah..." Lambok terlihat begitu kesakitan.


"Tidak Nak... Hari ini Keluarga yang akan melamarmu akan datang. Papa gak bisa menolak kedatangan Mereka. Papa mohon... Kali ini saja, kabulkan permintaan Papa." Kata Lambok lagi.


Lita menatap wajah Sang Mama. Meminta pembelaan.


"Mama setuju dengan Papa." Kata Tia.


"Ma....." Lita merajuk.


"Sudah lah Lita.... Turuti kata Papa dan Mama..." Tiba-tiba Atala dan Vita datang ke rumah.


"Assalamu alaikum..." Salam Atala dan Vita.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Tia, Lambok dan Lita juga Tristan.


"Kakak dan Vita datang karena lamaran untuk Aku?" Tanya Lita.


"Satu itu, yang pasti Aku sangat merindukan Adikku..." Atala langsung memeluk Lita, begitu juga dengan Vita.


"Aku juga akan membantumu berhias." Goda Vita.


"Vita...." Lita merajuk. "Jadi Kalian benar-benar menyetujui perjodohan ini?!" Lita nampak kecewa.

__ADS_1


"Sangat..." Kata Atala dan Vita.


"Mau sampai kapan Kamu menjomblo terus? Kalau sudah ada jodohnya, jangan ditunda..." Goda Vita.


"Kamu enak bisa ngomong gitu. Kamu mencintai Kak Atala dan Kak Atala mencintai Kamu. Sedang Aku? Aku aja gak tahu siapa yang mau dijodohkan padaku." Lita mengrucutkan bibirnya. Kali ini bulir airmata nya sudah tumpah. Lita benar-benar tidak siap. Namun Lita tak ingin kehilangan Sang Papa.


"Dek... Papa dan Mama gak mungkin menerima lamaran dari orang yang tidak Papa dan Mama kenal...." Kata Atala mencoba menghibur Lita.


"Lagian Papa dan Mama mendadak sekali. Kita kan akan ke Sumatera menghadiri pernikahan Bang Fahri dan Farah. Kenapa sekarang malah jadi Aku yang akan dilamar?" Lita masih merajuk, memohon agar perjodohan ini dibatalkan.


Ponsel Lambok berdering.


"Wa alaikumussalaam.... Oh sudah di jalan. Insyaa Allah... Baik..... Wa alaikumussalaam..." Lambok meletakkan ponselnya.


"Mereka sudah di perjalanan." Kata Lambok. "Kamu bersiap ya? Papa mohon..." Lambok menangkupkan kedua telapak tangannya.


Lita nampak cemas. Rasa nya ingin sekali Lita meronta, menangis sejadi-jadi nya. Memberontak, menolak perjodohan ini. Namun Lita urungkan karena tiba-tiba sang Papa menekan terus dada nya. Airmata nya kembali menetes.


"Ayo Yang... Aku antar ke kamar. Aku bantu meriasmu." Ajak Vita.


Lita mengrucutkan bibirnya sambil menghentakkan sebelah kakinya.


Vita merangkul bahu Lita, membawanya ke kamar.


Vita membuka lemari Lita dan mengeluarkan gamis.


"Darimana gamis itu?" Tanya Lita. Gamis itu terlihat cantik dan sepertinya pengirimnya tahu betul ukuran tubuh Lita.


"Dari calon Suami mu. Seorang kurir mengantarnya kemarin." Kata Vita.


"Apa Kalian benar-benar senang membuatku menderita?" Airmata Lita tak henti menetes.


"Tidak ada yang ingin melihatmu menderita, saudaraku yang cantik..." Vita menjawil dagu Lita yang lancip dengan belahan ditengahnya.


"Sebenarnya siapa sih calonku? Apa Aku mengenalnya?" Lita mengusap airmatanya. Lita akan bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


"Jangan lama Lita.... Mereka sudah diperjalanan!" Teriak Vita.


Namun Lita tak menjawab. Lita menutup pintu kamar mandi sedikit kencang.


Vita menghela nafas melihat kelakuan kembarannya.


Di kamar mandi Lita menangis sejadi-jadi nya. Membuang penat di dada nya. Air kran sengaja Lita buka dengan deras agar Vita tak mendengar tangisannya.


10 menit Lita tak keluar dari kamar mandi. Vita terlihat cemas. Apalagi Tia sudah menanyai Lita.


"Vita juga cemas Ma... Lita dari tadi gak keluar dari kamar mandi." Kata Vita.


Tia menggedor pintu kamar mandi. "Sayaaang....! Kamu sedang apa? Kenapa lama sekali?"


Pintu kamar mandi terbuka. Wajah Lita terlihat muram. Handuk masih melilit di tubuhnya yang putih.

__ADS_1


"Ma.... Gak bisa ditunda yah? Aku belum siap. Hik... hik... hik...." Lita terisak sesegukan.


"Tidak Nak... Mereka sudah di perjalanan. Mereka sudah mempersiapkan semua sampai ke pernikahan Kalian." Bujuk Tia sambil membantu Lita mengenakan gamisnya.


__ADS_2