
Vita dan Lita mendapati Atala yang menelungkupkan wajahnya kedalam kedua lututnya.
Atala menangis. "Huk... huk... huk..."
"Kakak kenapa?" Vita menghampiri Atala. Vita pun demikian.
Lita memeluk tubuh Atala. "Kakak kenapa?" Tanya Lita.
Vita mengambil sebuah dokumen yang masih dipegang Atala. Vita membacanya. "Astaghfirullaah... Jadi Kak Atala...." Vita terperanjat.
"Ada apa Kak Vita?" Tanya Lita.
Vita menyerahkan dokumen tersebut pada Lita. Lita membacanya. "Masya Allaah..." Lita pun terperanjat.
Vita memeluk tubuh Atala. "Kak..." Panggilnya lembut.
Atala mendongak. "Jangan sentuh Aku...!! Aku bukan mahrammu!" Atala membentak Vita.
Vita dan Lita terperanjat. Vita tak dapat lagi menahan kesedihannya. Dia berdiri dan berjalan mundur. Tubuhnya menabrak Tia yang baru akan masuk ke ruang kerja Lambok.
"Ada apa ini." Kata Tia yang segera memeluk tubuh Vita yang hampir oleng.
"Mama... huk.. huk.. huk..." Vita menangis. Tapi kemudian Vita melepas pelukan Tia dan berlari ke kamarnya.
"Vitaa....!" Panggil Tia. Tapi Vita tak mendengarkan panggilan Tia. Tia menghela nafas.
"Ada apa Sayang?" Tia menghampiri Lita dan Atala.
"Maaaa... Bener Kak Atala bukan Kakak kandungku?" Lita mulai terisak. Dia menyerahkan dokumen Adopsi itu pada Mamanya.
"Astaghfirullaah..." Tia terperanjat. Badannya mendadak lemas. Tia tak menyangka Atala akan mengetahuinya dengan cara seperti ini.
Tia menghampiri Atala dan mengusap punggung Atala.
Atala memeluk tubuh Tia. "Ma... Atala bukan anak Mama dan Papa... Lalu siapa orangtua Atala..?? Huk.. huk.. huk..."
Tia mengangkat tubuh Atala agar berdiri. Lita membantu Mamanya.
Tia membawa Atala duduk ke sofa yang ada di ruang kerja Lambok. Atala masih menangis. Dia sangat terpukul mendapati kenyataan ini.
"Maafkan Mama, Sayang. Mama dan Papa memang berencana memberitahumu tapi Kami bingung untuk memulainya. Maafkan Mama, Kalau kamu harus mengetahui kebenarannya dengan cara seperti ini." Tia mengusap airmatanya.
Tia belum siap kehilangan Atala. Atala kembali menangis. Dia memeluk tubuh Tia.
"Mama jangan menangis." Kata Atala yang masih terisak.
"Mama gak sanggup Nak kehilangan Kamu. Kamu adalah pelita hati Mama." Kata Tia masih menangis.
__ADS_1
Lita duduk disamping Tia dan mengusap punggung Mama nya. "Ma.... Jangan sedih... Kak Atala gak mungkin ninggalin Kita, ya kan Kak? Kakak gak akan ninggalin Kita? Aku tetap adik, Kak Atala kan?" Lita berharap.
Atala mengangguk. Dia mengusap tangan Lita, masih memeluk Tia.
"Tapi Ma, seingat Atala, Mama dan Papa sudah ada waktu Atala kecil. Dan lagi wajah Atala...." Atala meraba wajahnya.
"Tapi kenapa wajah Atala mirip sekali dengan Papa? Apa Atala ini anak haram, Ma?" Tanya Atala pelan takut Tia marah.
"Apa?!" Tia terperanjat. Dia tak menyangka Atala akan berkata seperti itu. "Kamu....?! Kenapa Kamu tega berkata begitu? Apa Mama mengajarimu berbicara seperti itu?" Tia terlihat sangat terpukul.
Atala langsung bersimpuh di lutut Tia. "Maafkan Atala Ma... Atala gak bermaksud menyinggung perasaan Mama.. Atala bingung Ma... Atala kembali menangis." Atala takut Tia akan murka.
Tia mengelus kepala Atala. "Tidak, Sayang. Kamu bukan anak haram. Mama tak pernah melakukan hal sekeji itu dengan Papa mu atau dengan siapapun." Kata Tia.
"Mungkin karena dari bayi, Auntie mu selalu menunjukkan wajah Papamu di dalam kamar. Makanya Kamu merekam wajah Papamu dalam benakmu." Kata Tia.
Tia mulai bercerita. "Dulu Mama bekerja di Cikarang. Setelah perceraian Mama dengan Adrian....." Tia menceritakan semua perihal hidupnya.
Dari mulai Dia mengenal Lambok dan tidak direstui oleh Grandma dan Grandpa nya Twins. Hingga pernikahannya dengan Adrian dan perpisahannya.
Tia mengusap airmatanya mengingat penderitaannya di masa lalu. "Hik... hik... hik..."
Lita mengelus punggung Tia lembut. Lita juga tak menyangka Mama nya sangat menderita.
"Lalu Mama menemukanmu di depan pintu kontrakan Mama." Tia kembali meneruskan ceritanya.
Atala mendengarkannya dengan seksama. Atala beranjak dan memeluk tubuh Tia dengan dirinya yang bertumpu pada kedua lututnya.
Tia mengusap punggung Atala. "Mama gak bisa hidup tanpa Kamu, Nak. Hik... hik... hik..." Tia kembali terisak.
"Tuh Kak... Mama sangat menyayangi Kakak... Jadi Kakak gak usah berfikir yang tidak-tidak." Kata Lita.
"Lita kadang cemburu sama Kakak, karena Lita merasa Mama lebih menyayangi Kakak daripada Aku dan Vita." Kata Lita pelan.
Atala melerai pelukannya pada Tia. Tia menoleh pada Lita.
"Tidak Nak... Mama tidak pernah membeda-bedakan anak-anak Mama..." Kata Tia lembut.
Lita memeluk tubuh Tia dari samping. "Maafkan Lita Ma... Karena Lita berfikir yang tidak-tidak pada Mama."
"Ya Sayang... Gak apa. Jangan diulangi lagi." Kata Tia.
"Kamu Atala... Mama gak pernah menganggapmu anak pungut.. Mama merasa rahim Mama pernah Kamu tempati." Kata Tia yang mengusap pipi Atala.
Atala menciumi wajah Tia.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Lambok sudah berada diambang pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
"Papa...." Kata Atala dan Lita berbarengan yang kaget.
"Papa dari tadi memberi salam tapi gak ada yang nyahut?" Kata Lambok yang terlihat bingung.
"Sayaaang..." Tia kembali terisak. Sambil merentangkan tangannya.
Lambok meletakkan tas nya begitu saja. Dia menghampiri istrinya yang sudah menangis.
Lambok memeluk tubuh Tia. "Ada apa Sayang? Apa ada yang tidak beres?" Tanya Lambok.
Lita mengusap lengan sang Papa. Lambok menoleh pada Lita. Lita menyerahkan Dokumen tersebut.
Lambok membacanya. "Astaghfirullaah... Bagaimana Kamu bisa menemukan ini?" Tanya Lambok pada Atala.
"Tadi Atala gak sengaja Pa... File dokumen Atala untuk kelengkapan keperluan Kampus, tertinggal. Tadi Mama lagi menenangkan Tristan. Jadi Aku ijin sama Mama untuk mengambil ini." Kata Atala yang menunjukkan map warna biru.
Lambok menghela nafas. Lita segera beranjak ke dapur. Lita membuatkan minum untuk sang Papa yang baru sampai tapi harus melihat semua ini.
"Aku gak akan sanggup kehilangan Atala, Sayang." Tia masih menangis.
Lambok mengusap punggung Tia lembut. Lambok bingung harus berbuat apa. Karena semua keputusan ada pada Atala. Atala sudah besar, sudah bisa menentukan jalan hidup yang akan dia tempuh.
"Ma..." Panggil Atala lembut. "Atala juga gak sanggup kehilangan Mama." Kata Atala yang kembali duduk di samping Tia.
"Yang sekarang Atala fikirkan, Atala anak siapa? Kenapa orangtua Atala tega membuang Atala?" Atala menunduk.
Lambok mengusap lutut Atala. Lambok beranjak berdiri dan duduk disamping Atala.
Lita masuk membawakan minum untuk Papa nya dan air putih untuk Tia dan Atala.
"Pa... Ma.. Kak.. Minum dulu." Kata Lita yang menyodorkan nampannya pada Mereka.
"Tolong letakan di meja, Sayang." Pinta Lambok.
Lambok mengambil air minum untuk Tia dan menyodorkan pada Sang istri. Tia menerimanya. "Bismillaah..."
Kemudian Lambok memberikan minum pada Atala. Atala menerimanya. "Terima kasih Pa." Kata Atala yang meminum air putihnya.
Lita mengambil cangkir teh dan memberikan pada Sang Papa. "Terima kasih Sayang." Kata Lambok.
"Pa... Ma... Walau bagaimana pun, Atala harus mencari orang tua Atala. Walau mereka sudah membuang Atala... Tapi..." Atala menggantung perkataannya.
Lambok mengusap lengan Atala. "Ya Nak... Kami mengerti... Nanti Kita bicarakan lagi. Yang ingin Papa katakan, siapapun Kamu, bagi Kami, Kamu tetap anak tertua di rumah ini. Kamu adalah Kakak Twins dan Tristan."
"Kamu lihat Mama mu... Dia sangat terpukul. Dia tak sanggup berpisah denganmu..." Kata Lambok.
Atala segera beranjak dan bersimpuh di lutut Tia. Atala merebahkan kepalanya dikedua paha Tia.
__ADS_1
"Maafkan Atala Ma... Atala tak tahu berterima kasih... Atala gak akan ninggalin Mama. Atala hanya ingin tahu siapa orangtua Atala yang sebenarnya." Kata Atala.
Tia mengusap kepala Atala. "Mama sangat mengerti, Sayang...."