
"Kamu sudah memikirkannya, Sayang?" Tanya Tia.
"Ya Ma....Vita sangat yakin. Vita juga sudah mencari informasi tentang kampus disana." Jelas Vita.
"Tapi kenapa tiba-tiba, Sayang? Bukannya dulu Kamu berencana akan kuliah ditempat yang sama seperti Mama dan Papa?" Tanya Tia.
"Ya Ma... Vita banyak dapat masukan dari teman-teman Sena di Masjid. Sepertinya ini hidayah buat Vita, Ma..." Jelas Vita.
Tia menghela nafas. Tia hanya khawatir, Vita menyembunyikan sesuatu darinya. Jadi Vita memilih mengalah dan menjauh.
"Apa Kamu baik-baik saja, Sayang?" Selidik Tia.
Vita mengerutkan keningnya. "Maksud Mama? Aku baik-baik saja kok."
"Kamu gak menyembunyikan sesuatu dari Mama, kan? Mama merasa Kamu sedang berusaha menjauhkan sesuatu, tapi Mama gak tahu apa." Selidik Tia.
Vita tertawa pelan. "Mama ada-ada saja. Mama kaya paranormal yang suka menebak-nebak." Canda Vita.
Tia menghela nafas. "Nanti Mama bicarakan sama Papa, ya Sayang." Kata Tia.
"Terima kasih Ma..." Vita mencium pipi Tia. Vita bergegas kembali ke kamarnya. Dia ingin segera mendaftarkan dirinya ke kampus itu.
_____________________
"Bagus... Papa setuju. Papa juga ingin salah satu Anak Papa ada yang kuliah disana. Ternyata Allah mengabulkan doa Papa. Vita memujudkan impian Papa." Kata Lambok terlihat senang.
"Papa akan mengurus umrah buat Kita semua. Papa juga akan mengajak Ibu." Kata Lambok.
"Nanti Kita lihat kampus Vita sekalian." Kata Lambok.
Tia hanya tersenyum. Suami nya begitu bahagia dengan keputusan Vita yang mendaftar ke Universitas Negeri Kairo.
Lambok sampai saat ini belum mengetahui kalau Atala menyukai Vita. Dan Lambok juga gak ada prasangka kesana. Dia melihat Putera dan Puterinya adalah anak-anak yang berbakti pada orangtua.
Lambok sangat bahagia mendapatkan Tia yang pandai mengurus rumah dan anak-anak. Tia berhasil mendidik anak-anak Mereka menjadi anak yang shaleh dan shalehah.
"Terima kasih Pa... Ma..." Vita terlihat senang.
Lita terlihat sedih. Dia mengrucutkan bibirnya. "Aku jadi sendirian." Keluhnya.
Lambok tersenyum dan mengelus rambut panjang Lita. "Kalau Kamu mau, masih ada waktu untuk mendaftar." Kata Lambok.
"Masih buka kan, Vita?" Tanya Lambok pada Puterinya.
"Masih Pa. Terakhir hari rabu, sekitar satu minggu lagi. Disana libur hari kamis dan jumat." Jelas Vita.
"Tuuuhh.... Kamu mau daftar?" Tanya Lambok.
Lita menggeleng. "Nanti Mama kesepian. Aku pasti akan merindukan Mama dan Papa juga Tristan." Kata Lita.
"Lagian ngapain sih Vita jauh-jauh aja kuliahnya? Nanti Aku kangen sama Kamu, gimana?" Lita mengrucutkan bibirnya.
Vita tersenyum. "Kalau Kamu kangen, Kamu nyusul Aku..." Canda Vita.
Tia mengelus kepala Vita yang tertutup hijab.
"Kamu mau cari Suami orang sana, ya?" Canda Lita.
__ADS_1
"Isshhh... Apaan sih Lita? Sekolah belum lulus, malah mikirin Suami." Kata Vita tapi hatinya tiba-tiba merasa sedih. Dia memang memutuskan kuliah di Kairo karena tak ingin terus menerus terluka melihat kemesaraan Atala dan Friska.
"Astaghfirullaah...." Batin Vita sambil mengelus dadanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Lambok.
"Haaahh... Apa Pa?" Tanya Vita agak kikuk.
"Kok kelihatan sedih?" Selidik Lambok.
"Aku gak apa Pa.... Aku baru ingat kalau siang ini Aku ada janji dengan Kak Vero." Kata Vita.
"Vero? Siapa itu?" Tanya Lambok.
"Vero dulu Kakak kelas Vita, Pa. Dia sekarang sudah lulus. Dia juga kuliah di Kairo. Dia sedang berlibur pulang ke Jakarta." Jelas Vita.
"Apa Vero itu pacar Kamu, Sayang?" Tanya Tia.
"Iiihhh Mama ada-ada saja. Aku gak mau pacaran Ma... Lagi pula Kak Vero itu kekasihnya Diah, teman sekelas Lita." Kata Vita.
"Sudah putus." Kata Lita tiba-tiba.
"Haaahh...? Masa sih?! Aku gak tahu." Vita terkejut.
"Iya... Diah gak mau pacaran jarak jauh. Jadi Diah putusin Kak Vero. Dan lagi Kak Vero juga mulai menjauhinya setelah Dia sering-sering mengikuti acara di Masjid Sekolah." Jelas Lita.
"Oohh... Aku baru tahu. Aku pikir Kak Vero akan mengajak Diah bertemu denganku? Kalau gitu, Kamu ikut denganku yah?" Pinta Vita.
"Iisshhh ngapain? Aku jadi orang ketiga gitu? Jadi setannya?" Canda Lita.
"Kalau gitu, Kak Atala akan mengantarmu..." Tiba-tiba Atala sudah berada di ruang keluarga. Atala baru bangun tidur abis istirahat karena Dia sangat lelah dengan tugas skripsi nya.
Vita tertunduk." Kak Atala kan juga bukan muhrim Aku." Kata Vita pelan tapi terdengar oleh Atala.
Atala tersenyum. "Jadi sekarang Kamu menganggapku, orang lain?" Tanya Atala.
"Haaahhh... Gak kok....Kak Atala kan Kakak Aku....." Vita gugup.
"Ya sudah Vita... Kak Atala saja yang mengantar Kamu." Goda Lita.
Lambok dan Tia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak-anaknya.
"Jangan ah... Nanti Kak Friska cemburu." Kata Vita.
"Aku gak jadi bertemu sama Vero." Kata Vita yang bergegas beranjak ke kamar.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Tanya Atala setengah berteriak.
"Aku mau ngabari Kak Vero." Jawab Vita.
Atala menghela nafas.
"Makanya jangan digantung.... Gentle dooong..." Goda Lita yang ikut beranjak ke kamar.
Atala melempar Lita dengan bantal sofa.
"Gak kena... Wwweeee..." Ejek Lita yang berhasil menghindar dari lemparan Atala.
__ADS_1
"Atala....!" Tegur Tia.
Atala menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ma... Papa mau istirahat dulu ya..." Pamit Lambok pada Tia.
"Ya Sayang... Nanti Aku nyusul setelah menidurkan Tristan." Kata Tia.
"Sudah Mama istirahat saja temani Papa... Nanti Tristan biar Atala yang menemaninya tidur." Kata Atala.
"Terima kasih Sayang... Tia tersenyum." Lambok menggandeng tangan Tia mengajaknya ke kamar.
"Ayo Dek... Kita ke kamar Kamu..." Ajak Atala pada Tristan.
"Ya Kak..." Tristan mengangguk.
______________________
Vero sangat kecewa karena Vita tak jadi menemuinya.
Vero mulai menyukai Vita saat pertama kali Dia mengantar Vita pulang ke rumah dahulu.
Tapi saat itu Vero masih memiliki Diah. Vero tak lebih hanya mengagumi Vita.
Tapi setelah Diah memutuskannya karena Diah tak mau pacaran jarak jauh, Vero mulai memikirkan Vita. Apalagi secara tiba-tiba Vita mengirim pesan padanya yang ingin bertanya tentang Universitas Kairo.
Dan ternyata Vita juga akan kuliah di kampus yang sama dengannya.
Vero membolak-balikkan tubuhnya di kasur. Dia sangat ingin bertemu Vita dan mengutarakan isi hatinya. Tapi semuanya pupus.
Vita mengira Vero akan menemuinya bersama Diah. Makanya Vita tak jadi menemui Vero karena Vero hanya sendiri.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Dita pada Vero.
"Aku gak jadi ketemu Vita, Ma..." Vero terlihat murung.
Dita tersenyum melihat anak sulungnya. Dia menghampiri Vero dan duduk di pinggir ranjang Vero.
"Memang kenapa Vita gak jadi menemuimu?" Tanya Dita.
"Vita mengira, Vero akan pergi bersama Diah. Tapi Vita baru tahu kalau Vero sudah putus sama Diah setahun yang lalu." Jelas Vero.
"Terus?" Tanya Dita lagi.
"Vita gak mau jadi fitnah Ma, pergi berdua dengan Vero." Kata Vero.
Dita tersenyum. "Itu tandanya Vita gadis yang baik, Sayang... Mama akan sangat senang jika Kamu dekat dengan Vita." Kata Dita.
"Vero juga menyukai Vita Ma, Selain Vita pintar, Vita memang sangat menjaga pandangannya. Awalnya Vero tak terlalu memperhatikannya, tapi setelah Vero dekat dengannya, Vita sangat special Ma...." Puji Vero.
"Beruntung sekali orangtua Vita memiliki Puteri seperti Vita." Kata Dita.
"Makanya Mama, sekali-kali kenal sama tetangga sini. Rumahnya gak jauh kok Ma, dari sini. Hanya beda RT..." Kata Vero.
"Ya... Nanti Mama ijin dulu sama Papa mu." Kata Dita.
Vero mengangguk.
__ADS_1