
Hubungan Lita dan Arby atau Veri makin membaik. Lita merasa lepas dari beban hati walau masih mengganjal tentang hubungannya dengan Leo.
"Kok melamun sih? Aku perhatiin Kamu senang banget ke tempat ini?' Tanya Veri pada Lita sambil menyentuh bahu Lita dengan lembut.
Lita memang sedang duduk di batu di sungai yang deras air nya. Ini selalu Lita lakukan manakala Dia sedang libur dari Rumah Sakit milik Auntie dan Uncle nya.
Lita menoleh. "Bang Veri.... Dari tadi?" Tanya Lita.
"Lumayan... Aku kasih salam gak dijawab. Kayaknya serius banget melamunnya?" Kata Veri.
"Tempat ini memang favorit ku dari dulu. Bisa dibilang favorit keluarga ku. Disini tuh nyaman, tentram, damai, tak bising seperti di Kota." Jelas Lita menutupi kesedihannya.
"Hhhmmm... Benar nyaman? Atau sengaja dibuat nyaman?" Selidik Veri.
"Maksud Abang?" Lita mengerutkan keningnya.
Veri tersenyum. "Walau Aku belum genap dua tahun kenal Kamu, tapi selama beberapa bulan ini dekat dengan Kamu, Aku sudah paham diri Kamu."
Lita terdiam. Wajahnya menengadah ke langit yang biru yang tertutup pepohonan rimbun. "Abang kok tahu, Aku disini?" Lita mengalihkan pembicaraan.
Veri menghela nafas. "Kenapa Kamu begitu tertutup?" Batin Veri.
Veri duduk disebelah Lita. Dia merengkuh bahu Lita. Ada kenyamanan di hati Lita. Dulu Lita sering mendapat kenyamanan dari Fathir, tapi setelah Fathir menikah, Lita tidak bisa lagi seperti dulu, walau bagaimana pun Lita menjaga perasaan Joanna.
"Tadi Aku ke rumah, kata Farah, Kamu biasa nya ke sungai. Ya udah, Aku susul kesini. Aku ajak Farah, Dia gak mau." Jelas Veri.
"Bagaimana hubungan Abang dengan Farah?" Tanya Lita.
Veri tersenyum. "Ternyata memang sulit menaklukan hati kedua Saudara sepupu ini." Veri mengacak kepala Lita yang tertutup hijab.
"Iisshhh Abang... Jangan gitu... Kan jadi berantakan." Lita mengrucutkan bibirnya. "Memang Farah belum mau menerima Abang?' Selidik Lita.
"Dia cemburu sama Kamu. Farah bilang, kalau Dia itu cuma pelarian Aku dari Kamu." Veri menoel hidung mancung Lita.
"Syukurin... Mang enak... Usaha nya yang giat lagi supaya saudaraku percaya." Ejek Lita.
__ADS_1
"Lalu....Kamu sendiri, bagaimana? Bagaimana hubunganmu dengan Leo?" Tanya Veri.
Lita menunduk. Pertanyaan Veri membuat hatinya bersedih kembali.
"Hheeiii.... Kenapa jadi murung? Apa Leo menyakitimu?" Veri menaikkan dagu Lita.
Lita mengangguk. Airmata nya sudah menetes. Veri menangkup wajah Lita. "Lihat Aku... Anggap Aku ini Abang Kamu, walau sebenarnya masih tersimpan harapan Kamu mau menerima ku. Kamu boleh cerita apapun padaku... Jangan sungkan. Aku akan membantumu, sebisaku." Tegas Veri.
"Iisshhh Abang... Abang kan sudah mendekati Farah. Aku gak suka kalau Abang plin plan. Aku marah kalau Abang mempermainkan Farah." Lita melerai kedua tangan Veri yang menangkup wajahnya.
"Maafkan Aku... Tapi memang kenyataannya demikian. Aku belum bisa melupakanmu. Farah memang sangat cantik. Mungkin karena Aku terlebih dahulu mencintaimu, jadi Aku masih berharap. Tapi kalau harapan itu sudah tidak ada, Aku ikhlas." Veri menggenggam telapak tangan Lita.
"Kalau begitu, Aku gak setuju kalau Abang mendekati Farah. Aku gak mau Farah kecewa. Abang harus benar-benar melupakanku..." Lita bangkit dari duduknya.
Tapi Veri segera menahan tangan Lita. "Maafkan Aku.... Aku janji gak akan menyakiti Farah. Aku hanya ingin jujur padamu. Tapi jika memang tak ada kesempatan bagiku, Aku ikhlas, tapi Kamu juga berhak bahagia, Lita."
"Kebahagiaanku urusanku, Aku yakin, suatu hari nanti Allah akan memberiku pendamping yang baik untukku." Tegas Lita.
"Baiklah... Tapi setidaknya berbagilah keresahan hatimu padaku... Vero berpesan padaku, untuk selalu membantumu." Akhirnya terucap juga pesan terakhir dari Vero.
Veri menghela nafas. "Saat Kamu mengigau, Vero mendengarnya, saat itu hati Vero begitu hancur. Tapi Vero akhirnya pasrah saat Dia menyadari umurnya tak akan lama lagi. Saat itu Aku sedang menemaninya."
🌷"Tolong jaga Lita.... seperti nanti Kamu akan menjaga Adik Kita, Vera. Aku ikhlas jika Lita mencintai orang lain... Tapi tolong selalu jaga Lita... Lita itu rapuh... Aku gak mau Lita menangis atau menderita...."🌷
Veri menghela nafas saat Dia mengutarakan pesan terakhir dari Vero.
"Abang... Huk... huk... huk.... Andai saja dulu Aku gak meninggalkan Abang... Huk... huk... huk..." Lita kembali menangis mengingat bagaimana Vero begitu mencintainya.
Veri memeluk tubuh Lita. Veri mengelus punggung Lita. "Istighfar... Doakan Vero tenang disana. Vero sudah bahagia disana. Kamu gak boleh menangis lagi, ada Aku... Aku janji akan selalu menjagamu.... Sudah yahhh... Jangan menangis lagi... Ingat kesehatanmu..."
"Hik.... hik... hik... Bang Vero sangat baik... Padahal Aku sudah sangat menyakiti hatinya...Hik... hik... hik..." Lita terisak.
"Sssstttt.... Vero juga minta maaf karena telah menyakiti hatimu. Seharusnya Vero jujur padamu tentang putusnya Dia dengan Diah. Vero juga merasa bersalah padamu... Sudah ya... Semua sudah selesai... Biarkan jalan Vero mudah...." Veri terus mencoba menghibur Lita.
Lita melerai pelukan Veri. "Terima kasih Bang.... Maaf kalau Aku terus menganggap Abang seperti Bang Vero."
__ADS_1
"Ya gak apa-apa... Aku dan Vero sama saja... Namanya juga anak kembar....Hehehehe..." Canda Veri.
"Hhuuuuhhh Abang...." Lita merajuk malu. Matanya sembab.
"Ssttt... Udah yah... Liat tuh... Matanya bengkak lagi... Nanti Aku kena marah Auntie lagi... Haadeeeehhhh... Anak cantiknya Auntie...." Veri mengusap wajahnya dengan kasar.
"Iissshhh... Abang..." Lita memukul lengan Veri. "Terus... Abang sekarang kerja apa?" Lita mencoba melupakan galau di hati nya.
"Aku meneruskan usaha Papa. Sejak Vero sakit, Nenek yang mengambil alih usaha Papa dan Mama. Tapi ditangan Nenek, malah banyak pelanggan yang kecewa. Lalu Papa Adrian mengajariku bidang usaha Papa. Sebenarnya Aku sudah bilang sama Papa Adrian, kenapa bukan beliau saja yang meneruskan. Tapi kata Papa Adrian, kerjaannya di instansi pemerintah masih beberapa tahun lagi, Beliau harus lebih fokus menyelesaikan pekerjaannya sebelum pensiun." Jelas Veri.
"Terus Kakek Burhan?" Tanya Lita.
"Kakek kan, Kamu tahu sendiri, takut sama Nenek. Kakek selama ini memantau, dan coba melobi pada pelanggan yang kabur karena ulah Nenek. Ada beberapa yang kembali kerjasama karena memang kenal betul sama Kakek, ada juga yang gak mau kembali karena Kakek yang gak bisa tegas sama istri. Ya gitulah... Aku juga masih banyak bebenah, karena memang cukup berantakan usaha yang dipegang Nenek." Veri kembali menjelaskan panjang lebar.
Lita hanya mengangguk saat dirasa, ponsel dalam saku gamisnya bergetar. Lita mengambil ponselnya. "Dan membukanya. Apa?! Astaghfirullah...!"
"Ada apa?" Tanya Veri bingung.
"Sebentar Bang." Lita melakukan panggilan.
"Selamat malam Dokter Oliver.... Ya Saya sudah baca... Tapi kenapa mendadak?" Lita terlihat sangat kaget dan cemas.
"Tapi... Riset Saya gagal..." Lita terdiam menyimak pembicaraan diseberang sana.
"Baiklah... Akan Saya usahakan... Terima kasih Dokter Oliver.... Selamat malam...."
Wajah Lita terlihat cemas. Veri mencoba menenangkan.
"Bang... Kita kembali ke rumah Mama Fitri." Ajak Lita.
"Tapi ada apa?" Veri masih berteka teki.
"Sambil jalan Aku jelaskan..." Kata Lita yang berjalan tergesa.
Veri mengejar Lita dan mensejajarkan langkahnya dengan Lita. Veri terus menyimak penjelasan Lita selama diperjalanan.
__ADS_1