CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Pembukaan Dua


__ADS_3

"Kamu jaga dirimu, baik-baik. Aku gak mau terjadi apa-apa padamu dan calon anak Kita." Kata Marcel yang berpamitan pada Nindi istrinya.


Hari ini Marcel akan melakukan penerbangan ke Negara A untuk kembali bekerja. Masa cutinya dan ijinnya sudah habis. Rencananya Marcel kembali, akan mengurus kepindahan ke Indonesia.


"Aku ingin melihatmu melahirkan anakku." Kata Marcel yang mengecup kening Nindi lama.


Nindi mengusap airmatanya. Dia sedih baru saja mengecap kebahagiaan selama dua bulan bersama suaminya, Mereka harus berpisah kembali.


Sebenarnya Marcel ingin mengajak Nindi, namun kondisi Nindi yang tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.


Beberapa kali Nindi mengalami flex karena tak bisa diam, ada saja yang dikerjakannya. Dokter menyarankan agar Nindi Bedrest tanpa melakukan apapun hingga usia kandungannya cukup kuat.


"Sssttt... Jangan menangis. Aku akan segera kembali. Aku gak mau Kamu menangisi kepergianku. Langkahku akan berat, Sayaang." Kata Marcel yang mengusap airmata Nindi dengan lembut.


"Aku akan sangat merindukanmu... Kalau Aku ngidam gimana? Siapa yang akan mencarikan?" Nindi mengrucutkan bibirnya.


"InsyaAllah anak Kita akan mengerti." Canda Marcel yang mengusap perut Nindi yang masih rata. Namun wajah Nindi mulai terlihat sangat berisi karena pola makannya yang terbilang sering.


Marcel berjongkok. Dia mengangkat sedikit baju Nindi dan mengecup perut Nindi. "Daddy pergi dulu ya Sayaang... Kamu jangan minta yang aneh-aneh sama Mommy... Kasihan Mommy ya Sayaang..." Kata Marcel seakan anaknya mendengar perkataannya. Marcel membacakan doa-doa ke perut Nindi.


Nindi mengusap kepala Marcel lembut. Marcel berdiri dan memeluk tubuh istrinya.


"Aku akan sangat merindukanmu." Kata Marcel.


"Aku juga. Sering-seringlah menghubungiku." Pinta Nindi manja.


"Insya Allah... Sayaaang..." Marcel tersenyum dan mengecup bibir Nindi.


"Ayo antar Aku keluar." Pinta Marcel.


Nindi mengangguk. Marcel merangkul bahu Nindi sambil menarik kopernya.


Ibu, Fitri, Fahmi dan anak-anak Mereka sudah menunggu di ruang tamu. Marcel menghampiri Ibu.


"Bu... Marcel titip Nindi ya. Nindi gak boleh ngapa-ngapain Bu, sampai kandungannya benar-benar kuat." Pesan Marcel.


"Ya Nak. Kamu hati-hati dijalan. Jangan meninggalkan shalat lima waktumu." Pinta Ibu.


Marcel mengangguk. "Iya Bu."


Marcel berpamitan pada seluruh keluarga. "Assalamu alaikum..." salam Marcel.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Mereka.


Fahmi mengantar Marcel ke bandara bersama Fathir dan Fahri.


_________________


7 bulan kemudian.


Nindi terlihat gelisah. Dari semalam tidurnya tak nyenyak. Nindi begitu merindukan suaminya.

__ADS_1


Seharusnya tadi sore Marcel sudah tiba di Sumatera, tapi sampai menjelang subuh, Marcel belum juga tiba.


Marcel sudah diberi kabar akan kelahiran Anaknya waktu dekat ini. Marcel juga sudah berjanji akan datang kemarin.


"Aduuuuhhhh... Kenapa sakit sekali." Nindi mengerang. Dia mencoba berjalan ke pintu.


"Ibuuuu..... Kak Fitri...." Nindi memanggil orang rumah.


Fahmi yang sudah bersiap di Musholah rumah mendengar panggilan Nindi. Dia bergegas menghampiri Adiknya.


"Ada apa Dek?" Tanya Fahmi.


"Kak....perutku sakit..." Nindi kembali mengerang.


Fitri keluar dari kamar. "Kamu kenapa Dek? Apa sudah waktunya?" Fitri sudah bersiap akan melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan seluruh keluarga.


"Aku gak tahu Kak. Perutku sakit." Kata Nindi.


Fitri membantu Nindi berjalan menuju sofa ruang tamu. "Kamu duduk sini dulu, yah." Fitri berjongkok. "Anak Mama... Sabar yah... Papa mu belum datang." Kata Fitri sambil mengelus perut Nindi.


Nindi tersenyum mendengar perkataan Fitri.


Ibu keluar dari kamar. "Apa Kamu akan melahirkan sekarang?" Tanya Ibu sedikit khawatir.


"Aku gak mau melahirkan kalau gak ada Kak Marcel." Kata Nindi sedih.


Ibu mengelus kepala Nindi. "Gak boleh begitu, Sayang. Kasihan anakmu, dia ingin segera melihat dunia." Kata Ibu.


Nindi terdiam. Dia mengambil ponselnya dari kantong piyamanya. Dia menghubungi Marcel tapi ponsel Marcel tak dapat dihubungi.


Nindi kembali mengerang. Dia merasakan kontraksi yang sangat kuat. "Ya Allah... Ijinkan Suamiku menemaniku melahirkan anak Kami." Gumam Nindi.


Nindi merasa seperti mengompol. Nindi melihat keluarganya sudah selesai melaksanakan shalat subuh.


"Buuu.... Kok Nindi kaya ngompol sih?" Nindi setengah berteriak.


Ibu dan Fitri mendengar perkataan Nindi. Dengan bergegas Ibu, Fitri dan Fahmi menghampiri Nindi.


"Ketubanmu pecah Dek." Kata Fitri.


Fahmi bergegas ke kamar mengambil kunci mobil dan dompet. Fitri ke kamar mengambil tas yang sudah dipersiapkan Nindi jauh-jauh hari.


"Buuu.... Sakiiitt...." Rengek Nindi manja.


"Sabar ya Nak. Sebentar lagi Kamu jadi seorang Ibu." Hibur Ibu.


Mereka sudah berada di Mobil. Fahmi mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit tempat Nindi memeriksakan kandungan.


Fitri menelpon Dokter kandungan Nindi. Kemudian Nindi mencoba menghubungi Marcel, tapi tetap tidak aktif.


"Nak... Sabar yah... Daddy mu belum datang." Erang Nindi yang terus mengelus perutnya.

__ADS_1


Fitri mengirim pesan pada Marcel berharap Marcel membacanya jika ada sinyal nanti.


10 menit kemudian Mereka telah tiba di Rumah Sakit. Para perawat sudah bersiap di depan lobby rumah sakit dengan brankar.


Fahmi menggendong Nindi dari mobil ke brankar karena Nindi yang sudah tak kuat untuk berjalan. Fitri mengambil alih setir dan memarkirkan di parkiran.


Mereka bergegas menyusul brankar Nindi. Nindi terus menangis karena Marcel tak ada disana.


"Sabar ya Dek... Mudah-mudahan Marcel segera datang." Hibur Fahmi. Nindi mengangguk.


Nindi sudah ditangani Dokter. Dokter memeriksa kondisi Nindi. "Baru pembukaan 2." Kata Dokter. Dokter memberikan obat pada Nindi.


Dokter terus memantau kondisi Nindi. Dokter keluar dari ruangan persalinan Nindi.


Ibu dan Fitri segera menghampiri Dokter. "Bagaimana Bu Dokter, kenapa belum terdengar tangisan Bayi? Apa adik Saya, baik-baik saja?" Tanya Fitri.


"Adik Ibu baik-baik saja, hanya saja baru pembukaan 2. Ibu Nindi belum bisa melahirkan. Kita tunggu pembukaan selanjutnya dan bayinya mengajak untuk keluar." Kata Dokter.


Fitri menghela nafas. Mereka masuk ke ruang persalinan Nindi.


"Dek.... Kamu gak apa?" Tanya Fitri yang menggenggam tangan sang Adik.


"Aku baik-baik saja Kak. Ketubanku sudah pecah. Tapi sepertinya anakku belum mau keluar. Tadi Dokter sudah memberiku obat. Sakitnya sudah berkurang Kak." Kata Nindi.


"Fitri... Sebaiknya Kamu dan Fahmi pulang dulu. Kasihan anak-anakmu, Mereka mau berangkat sekolah." Kata Ibu.


"Ya Kak. Aku sudah gak apa Kak. Ada Ibu disini." Nindi tersenyum.


Fitri menghela nafas. "Baiklah... Kamu harus kuat Dek....Jangan sedih lagi. Tadi Kakak sudah mengirim pesan pada Marcel." Kata Nindi.


"Ya Kak.. Terima kasih...." Kata Nindi.


"Ya sudah Bu, Aku pulang yah." Pamit Fitri.


"Ya Nak....Hati-hati." Pesan Ibu.


Fitri mencium kening Nindi. Kemudian mencium punggung telapak tangan Ibu. "Assalamu alaikum..." Salam Nindi.


"Wa alaikumussalaam.." Sahut Nindi dan Ibu.


"Bagaimana?" Tanya Fahmi.


"Belum lahir Kak. Kita disuruh pulang sama Ibu. Nanti kalau Kalian sudah berangkat, Aku kesini lagi ya Kak." Ijin Fitri.


"Iya Sayaaang... Ini kasih Ibu dulu.. Nanti Ibu akan lupa sarapan." Kata Fahmi yang memberikan sekantong sarapan dan Teh manis pada Fitri.


"Terima kasih, Sayang. Aku kedalam lagi." Kata Fitri. Fahmi mengangguk.


"Bu.... Kak Fahmi membelikan sarapan untuk Ibu. Dimakan ya Bu, jangan sampe gak." Pinta Fitri.


"Ya Nak. Terima kasih." Kata Ibu.

__ADS_1


"Fitri pulang sekarang ya Bu..." Pamit Fitri lagi.


"Ya Nak... Hati-hati." Kata Ibu.


__ADS_2