
Pak penghulu telah bersiap. Tapi tiba-tiba.... Pak penghulu memegang perutnya.
"Bapak kenapa?" Tanya Tiar.
"Perut Saya sakit. Kayak nya Saya grogi juga kayak pengantin pria." Kata Pak penghulu.
Tiar menepuk keningnya sendiri. "Ya Allaah... Kenapa jadi begini? Ya sudah... Sekarang Pak penghulu ke kamar mandi dulu. Kalau belum sarapan, sarapan sekalian, daripada nanti pingsan?!" Tiar sedikit kesal.
Sontak saja para undangan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Tiar. Karena pengeras suara yang akan digunakan sudah dalam posisi on.
Tia yang berada didalam kamar menemani Nindi, keluar ingin tahu ada apa. "Sebentar ya dek, Kakak keluar dulu. Fit.. jaga adikmu." Pinta Tia.
"Iya Kak." Kata Fitri.
"Memang kenapa sih Kak, Aku harus dijagain? Takut Aku kabur ya?" Tanya Nindi.
Fitri terkekeh. "Bukan takut kabur, takut pengantin wanita diculik Rahwana... Waahhh bisa kebakaran jenggot Marcel." Canda Fitri.
"Iiisshhh... Kak Fitri ada-ada saja." Tapi itu membuat Nindi terkekeh.
Fitri senang melihat tawa Nindi. Fitri memeluk Adiknya. "Jangan melupakan Kakakmu ini ya, Dek. Kakak pasti akan merindukanmu." Kata Fitri.
"Iihhh.. Kak Fitri... Bikin Aku sedih. Tar make up Aku luntur lagi gara-gara nangis." Canda Nindi.
Fitri langsung mengusap airmatanya perlahan dengan tisu. "Kamu tuh ya Dek....Seneng banget bikin Kak Fitri gak jadi nangis." Fitri tersenyum.
Nindi tersenyum. Sebenarnya Nindi juga sedih dengan perkataan Fitri. Tapi Nindi mencoba untuk tegar.
"Ada apa Kak?" Tanya Nindi yang melihat Tia datang ke kamarnya.
"Tadi pengantin pria nya grogi, sekarang penghulunya yang grogi sampe sakit perut... Hadeeehhh... Ada-ada saja." Kata Tia.
"Mungkin Allah gak mau Nindi nikah sama Marcel yang ini kali, Kak?" Canda Nindi.
"Terus mana Marcel mu? Apa Dia akan menikahimu?!" Ketus Tia.
Nindi menunduk. Nindi terlihat sedih mengingat Marcel yang terus mengulur waktu tak mau mengikuti syaratnya.
"Maafkan Kak Tia, Dek. Kakak keceplosan." Tia menyesal dengan perkataannya.
"It's ok Kak." Kata Nindi pelan.
Tak lama terdengar pak penghulu membacakan pengantar Ijab Qabul.
Feri mengucapkan menikahkan Nindi pada Marcel.
🌷Marcel bin Almarhum Alamsyah, Saya Nikahkan dan Kawinkan Engkau dengan Adik Saya yang bernama Nindiana Binti Almarhum Arif Budiman dengan Mas Kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan Emas, dibayar Tunai...🌷
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Rindi Binti Budiman dengan Mas kawin dibayar tunai..." Marcel salah mengucapkan ijab Qabul. Pikirannya pada kekasihnya Rindi.
__ADS_1
"Masih grogi?" Tanya penghulu.
Marcel mengangguk. Marcel terus berdoa semoga Allah menolongnya.
"Kita ulangi yah." Pinta pak penghulu.
Feri mengulang kembali ucapkan menikahkannya.
Kemudian Marcel.
"Saya terima Nikah dan Kawinnya...." Belum sempat Marcel meneruskan kata-katanya, tiba-tiba...
"Stoopp...!!" Seseorang berteriak lantang. "Stop This Wedding!!" ( Hentikan pernikahan Ini)
"Nindiiiii....!! Where Are you, honeeeyyy...???! Nindiiii...!! I Love You..!!" Orang itu berkata lagi dengan berbahasa inggris.
Sontak para undangan yang hadir mengarahkan pandangannya pada seseorang yang datang menghentikan pernikahan Nindi.
"Alhamdulillaah..." Gumam Marcel.
Tiar yang mendengar ucapan Marcel mengerutkan keningnya. "Apa maksud Kamu?" Hardik Tiar yang kesal mendengar Ucapan syukur Marcel.
"Lega Bang..." Kata Marcel enteng.
Tiar geram... Dia menarik leher baju Marcel. "Kamu main-main dengan pernikahan ini?!" Tiar makin kesal.
"Ooohhh... Sabar Brother..." Lambok melerai Tiar dari Marcel.
Lambok mengajak Tiar ke arah orang asing itu yang tak lain adalah Marcel kekasih Nindi yang sangat Nindi cintai dan hanya dengannya Nindi mau menikah.
"Namanya Marcel." Kata Lambok pada Tiar.
"Hallo Marcel... Lama sekali baru datang..?? Kamu fikir Aku main-main dengan pernikahan ini?!" Kata Lambok pada Marcel dalam bahasa Inggris agak kesal.
Tiar mengerti dengan perkataan Lambok.
"Please... Kak Lambok.. Hentikan pernikahan ini. Aku gak rela Nindi menikah dengan pria lain. Aku masih sangat mencintai Nindi." Marcel memohon.
"Kan Kamu yang memperlambat pernikahan ini?!" Lambok memasang wajah kesal. "Berapa lama Adikku menunggu dan memberimu waktu?!" Lambok kesal.
Tiar segera mengerti. "Jadi Dia Marcel, cinta pertama Nindi?" Tanyanya pada Lambok.
Lambok mengangguk.
Nindi yang mendengar keributan diluar tak dapat lagi menahan keingintahuannya. Dia bergegas keluar. Tia dan Fitri tak dapat lagi mencegahnya.
Nindi terpaku melihat pujaan hatinya sudah berdiri di depan pelaminan. Airmatanya tak dapat terbendung lagi. Nindi menangis. Menangisi keterlambatan Marcel yang menurut Nindi sudah sangat terlambat.
"Nindiii.... Honeeyy..." Marcel menghampiri Nindi tapi dihalangi Tiar.
__ADS_1
"Please.... Ijinkan Aku bertemu Nindi. Aku sangat mencintainya. Aku ingin menikahinya..." Marcel memelas pada Tiar.
Tiar menatap Lambok. Lambok mengangguk memberi isyarat agar Tiar mengijinkan Marcel bertemu Nindi.
"Thank You." Kata Marcel yang bergegas menghampiri Nindi yang tak berhenti menangis.
"Stoooppp... Jangan maju lagi!!" Tiba-tiba Nindi melarang Marcel mendekatinya.
"Sayaaang... Maafkan Aku. Berulang kali Aku menghubungimu... Tapi tak pernah Kamu angkat. Pesanku pun tak pernah Kamu balas." Marcel memohon.
"Buat apa Kamu datang?! Aku akan menikah dengan Marcel yang lain. Aku tak mencintaimu lagi..!! Aku mencintai Marcel calon suamiku..!! Pergi Kamu...!!" Nindi sangat kesal.
Sontak saja Marcel calon pengantin kaget mendengar perkataan Nindi. "Waduuuhhh... Bagaimana ini..?? Gawat... Lebih baik Aku kabur saja..." Gumamnya.
Marcel hendak pergi dari tempat ijab Qabul tapi tangannya dipegang Feri dan Fahmi.
"Mau kemana Kamu? Apa Kamu akan lari dari pernikahan ini?" Tanya Fahmi.
"Kak... Biar Aku jelaskan... Aku hanya disuruh oleh Kak Lambok..." Marcel sedikit berbisik pada Feri dan Fahmi.
"Maksud Kamu?" Tanya Feri dan Fahmi berbarengan.
"Sabar Kak. Kita lihat saja dulu kelanjutannya. Yang pasti Aku sudah selamat. Ya Allah... Terima kasih... Engkau menyelamatkanku." Kata Marcel pelan.
Fahmi memukul bahu Marcel agak keras. "Kamu mau mempermainkan pernikahan ya?"
"Sabar Kak... Aku tidak mencintai Nindi. Yang Aku cintai Rindi binti Budiman." Kata Marcel.
"Haaahhh... Jadi yang tadi Kamu sebut..???" Feri ternganga.
Marcel mengangguk. "Itu Kak... Rindi pacar Saya." Marcel menunjuk wanita berkebaya merah yang wajahnya sudah murung dengan pernikahan kekasihnya ini yang katanya hanya settingan saja.
Tia dan Fitri yang mendengar Nindi berteriak langsung menyusul keluar.
Ibu sudah terlihat khawatir. Kak Mia sudah berdiri dekat Ibu, takut Ibu kenapa-napa. Tapi Ibu terlihat tidak kaget dengan kejadian ini.
Ibu khawatir melihat Nindi yang marah pada Marcel Cinta pertamanya. Ibu sudah diberitahu Lambok, agar Ibu tidak kaget dan kenapa-napa.
Marcel cinta pertama Nindi menangkupkan kedua tangannya pada Nindi. "Sayaaang... untuk kali ini, Aku minta satu kali lagi kesempatan padamu. Aku akan memperbaiki semuanya..." Marcel memelas.
"Tidak..! Aku akan tetap menikah dengan Marcel yang itu!" Nindi menunjuk Marcel calon pengantin.
"Oooww... No... No... No... Nindi..." Marcel menghampiri Nindi. "Hallo Mr. Marcel. My Name is Marcel too." Marcel memperkenalkan diri pada Marcel cintanya Nindi.
"Nindi... Aku tidak mencintaimu." Marcel memanggil kekasihnya dengan melambaikan tangannya agar mendekat.
Gadis itu mendekat pada Marcel. "Nindi... Ini Rindi, kekasihku yang sangat Aku cintai. Aku hanya disuruh Kak Lambok untuk membantunya agar Marcelmu datang kesini." Jelas Marcel indonesia.
Nindi terperanjat. Nindi menatap Lambok meminta penjelasan.
__ADS_1
Lambok yang ditatap menggaruk tengkuknya yang tak gatal.