
Selepas Makan Malam
"Kapan Putera Papa ini, Dewasa?" Tanya Alex pada Leo.
Lambok tersenyum mendengarnya. Caca masih dalam pangkuan Leo.
"Grandpa.... Ayah Daddy kan sudah besar, kok belum dewasa?" Celoteh Caca yang membuat Mereka tertawa dengan kepolosan Caca.
Leo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Caca menoleh ke arah Leo. "Makanya Ayah Daddy, bulu nya dicukur, jadi gak garuk-garuk..." Caca kembali berceloteh.
Makin tertawa yang mendengar celotehan Caca.
"Iyaaa.... Daddy janji, nanti Daddy cukur." Kata Leo lembut. Mata nya menelisik tubuh Caca. Terlihat celong matanya dan kurus tubuhnya. Pipi cubby nya tak nampak lagi.
Tadi saat tiba, Caca masih memakai mantel bulu nya dengan kupluk yang agak tebal. Karena memang cuaca di Jogja akhir-akhir ini sangat dingin. Setelah mandi dan berganti pakaian, shalat maghrib dan isya, baru terlihat oleh Leo kalau Caca terlihat kurus dengan piyama nya.
"Caca sakit, Sayang?" Tanya Leo. Memijat pelan punggung Caca.
Caca menggeleng dan menelusupkan kepalanya ke leher Leo. Leo terus memijat lembut saraf-saraf Caca. Caca terasa nyaman dan akhirnya tertidur. Leo mengusap punggung Caca.
"Caca kangen sama Kakak. Berulang kali merengek pada Kak Lita untuk mengijinkan Caca bertemu Kak Leo. Namun Kak Lita sangat keras kepala." Tristan menunduk sedih mengingat tangisan Caca yang memendam rindu.
"Aku gak berani menghubungi Kakak, takut mengganggu kesibukan Kakak disini. Caca juga sempat masuk rumah sakit karena tubuh nya lemas gak mau makan. Sepertinya yang jatuh cinta pada Kak Leo, Caca, bukan Kak Lita." Tristan tersenyum miris menahan sesak di dada nya.
Leo mengecup puncak kepala Caca. "Daddy janji, akan mendapatkan hati Ibu Mu secepatnya." Batin Leo.
"Makanya saat libur sekolah ini, Aku pulang ke Indonesia. Tadi nya Kak Lita tidak mengijinkan karena Caca nanti sama siapa disana. Aku bilang kangen sama Mama dan Papa. Mama dan Papa juga membantu Ku membujuk Kakak mengijinkan Aku pulang bersama Caca. Akhirnya Aku dan Caca tiba disini." Jelas Tristan.
"Baru juga sampe di rumah, Caca langsung minta ketemu Kamu, Leo." Kata Tia. "Dia seakan gak merasakan mabuk udara."
"Aku juga harus merayu nya, memintanya membantu Ku membuat kue untuk Dadddy nya, baru Caca mau menginap di rumah." Jelas Vita.
Leo mencomot kue yang Vita bikin bersama Caca. Dan memakannya. Leo terharu mendengar penjelasan Tristan dan Vita. Itu membuat Leo makin bersemangat menata hidupnya kembali.
"Papa dan Mama, tahu darimana Leo ada disini?" Tanya Leo.
Alex menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu itu lupa, Leo? Kan Kamu yang bilang sendiri kalau tempat ini adalah tempat favorit Kamu, saat Papa akan membelinya." Jelas Alex.
__ADS_1
Leo tersenyum malu. Orang Tua nya sangat perhatian pada nya. Sedangkan Dia belum juga bisa berbakti kepada kedua Orang Tua nya.
"Sebenarnya Aku punya rencana. Tapi ini mungkin terdengar gila." Kata Leo tiba-tiba.
"Apa itu Nak?" Tanya Alex dan Lambok bersamaan. Mereka berdua tertawa menyadari kekompakan Mereka.
Leo menjelaskan rencana nya pada Keluarganya di depan Keluarga Lita. Mereka melongo tak percaya dengan ide Leo.
Tristan dan Atala menggeleng-geleng kepala mendengar ide gila Leo.
"Tapi bagaimana dengan Caca?" Tanya Tristan.
"Kamu bisa membujuknya." Kata Leo. "Tapi nanti Aku juga akan bicara dengan Caca."
"Kira-kira kapan akan dilaksanakan rencana ini?" Tanya Lambok.
"Secepatnya Pa..." Kata Leo.
"Tapi nanti kalau Lita menolak, bagaimana?" Tia terlihat khawatir.
"Bismillaah... Insyaa Allah berhasil." Kata Leo mantab.
"Aamiin..." Jawab Mereka.
"Aku bawa Caca dulu ke kamar. Kasihan... Dia sangat lelah..." Pamit Leo yang langsung menggendong Caca setelah mendapat anggukan dari keempat orang tua nya.
________________________________
Lita terlihat gelisah. Rasa penat nya seharian di Rumah Sakit tak terobati. Peri kecil nya tak berada disampingnya. Baru juga tiga hari Lita berjauhan dengan Puteri kesayangannya, hidupnya terasa hampa.
"Sayaaang.... Ibu kangen... I miss you so much...." Lita mengecup foto Caca yang bertengger dalam bingkai di atas meja.
Lita memeluk boneka yang biasa Caca peluk saat tertidur tanpa dirinya. Wangi tubuh Puteri nya melekat pada boneka panda itu.
Lita menghela nafas. Lita menyadari Puteri nya sangat menyayangi Leo. "Maafkan Ibu, Sayaaang... Tapi hati Ibu sudah dimiliki Ayah Mu. Ibu tidak bisa menduakan Ayah Mu..." Air mata Lita menetes.
Dini hari Lita masih terjaga. Kerinduannya sangat mendalam. Lita tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Dia sedang menangani pasien yang cukup serius penyakitnya.
__ADS_1
Lita mengambil ponsel nya. Membuka aplikasi chat. Banyak panggilan tak terjawab dari Leo. Juga pesan yang sengaja Lita tidak baca. Lita mulai mengklik chat dari Leo.
💕"Assalamu alaikum Sayaang.... Maafkan Aku karena tak sabar menunggu masa berkabung Mu juga masa iddah Mu untuk mengutarakan isi hati Ku. Aku hanya tak ingin diri Mu larut dalam kesedihan. Aku telah begitu lama menunggu Mu.... Aku ingin Kamu tahu, kalau Aku sangat kecewa manakala dahulu melihat Mu bersanding dengan Dokter Krisna. Namun penjelasan Krisna di akhir hidup nya, membuat Ku sangat menyesal karena sudah membenci Kalian. Maafkanlah kesalahan Ku. Aku terlanjur cinta pada Puteri Mu......."💕
🌷"Ijinkan Aku bertemu Puteri Mu... Hari-hari Ku hampa tanpa Caca..."🌷
Banyak lagi chat dari Leo. Perlahan air mata Lita menetes ke pipi.
"Maafkan Aku.... Aku tidak bisa menerima cinta Mu lagi... hik... hik... hik..." Lita menangis sampai Dia terlelap memeluk boneka milik Caca.
Baru saja Lita terlelap, Lita merasakan satu sentuhan lembut. Lita membuka mata nya perlahan.
"Kak Krisna?!" Lita terkejut dan langsung bangun. Dia memeluk tubuh Krisna dengan erat.
Pakaian Krisna yang putih bersih, memancarkan kecerahan wajahnya. Krisna mengusap kepala Lita dengan lembut.
Lita makin terisak. Melepas kerinduannya yang tak terbendung lagi. Krisna melerai pelukan Lita. Krisna menggeleng, mengusap airmata Lita dengan lembut.
"Jangan pergi lagi.... Aku kesepian... Aku membutuhkan Mu... Aku mencintai Mu." Lita menatap memgharap pada Krisna.
Krisna tersenyum. Tangannya menunjuk ke suatu tempat. Lita mengikuti arah telunjuk Krisna.
Lita melihat Caca tertawa lepas. Dia berlari-larian sambil tertawa. Seorang lelaki mengejarnya sambil tertawa bahagia. Caca berbalik dan menubruk tubuh pria itu. Pria itu langsung menangkap tubuh Caca dan menggendongnya. Caca menciumi nya dengan kasih sayang.
"Mommyyyyy..." Panggil Caca. Caca melambai ke satu arah. Terlihat seorang wanita cantik menggunakan gamis berwarna tosca dengan jilbab warna senada. Wanita itu menghampiri Caca.
Pria yang menggendong Caca merengkuhnya dan mengecup kening wanita itu.
"Caca sayang Mommy dan Daddy..." Kata Caca mencium pipi wanita itu kemudian pada Pria yang menggendongnya.
Lita ternganga melihatnya. Tak percaya akan penglihatannya. Lita menatap Krisna penuh haru. Krisna mengangguk. Krisna mengecup kening Lita lamaaaa sekali.
"Tapi Kak....." Lita terperangah manakala tubuh Krisna tiba-tiba menghilang lenyap begitu saja.
"Kak Krisna...!!!" Lita berteriak. "Jangan tinggalkan Aku... Hik.. hik... hik..." Lita menangis sesegukan.
Kak Krisnaaaa....!!! Lita terlonjak. Lita terbangun dari tidurnya. Lita meraba pipi dan keningnya. Masih terasa bekas kecupan Krisna. Lita menangis, mencari sosok Krisna. Wangi melati memenuhi kamar tidur nya. Lita memejamkan mata dan berdoa. Lita turun dari ranjangnya, bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.
__ADS_1