
"Apa?! Bunda jatuh di kamar mandi?!" Adrian terdengar kaget.
Sontak saja Istri dan anak-anaknya yang sedang fokus dengan makan malam terlihat kaget.
"Baiklah. Adrian coba dulu ya Yah." Adrian pun menutup ponselnya.
"Ada apa Pa?" Tanya Vero.
"Nenekmu jatuh di kamar mandi." Kata Adrian menunduk.
"Pa.. Kita pulang kampung saja. Lagi pula Vero ingin bertemu Lita. Vero mau meyakinkan Lita." Pinta Vero.
Adrian mengangguk. "Kalian berangkatlah duluan. Papa belum tahu. Karena cuti Papa tahun ini sudah habis." Adrian terlihat sedih.
"Bang... Anak-anak saja yang berangkat. Aku disini menemani Abang." Kata Dita.
"Ya Pa... Ma... Gak apa. Aku saja sama Vera yang berangkat. Kasihan Kakek gak ada temannya." Kata Vero.
Adrian mengangguk. Dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi travel agent untuk mengurus tiket buat Vero dan Vera.
_______________________
"Kalian hati-hati ya.... Papa dan Mama belum tahu kapan akan pulang Kampung. Papa sudah terlalu banyak ambil cuti dari kantor." Kata Adrian yang sedang mengantar Putera dan Puterinya ke Bandara bersama Dita.
"Ya Pa... Ma..." Kata Vero dan Vera berbarengan. Mereka pun mencium punggung telapak tangan Adrian dan Dita.
"Kalian baik-baik disana ya Sayang..." Kata Dita yang mencium kening Vero dan Vera secara bergantian.
"Ya Ma..." Kata Vero dan Vera.
Vero dan Vera pun segera masuk ke dalam bandara karena panggilan terakhir untuk mereka menaiki pesawat yang akan take off ke Sumatera.
Adrian dan Andita juga puteri kecil Mereka, meninggalkan bandara.
"Semoga Bunda gak apa-apa ya Bang." Doa Dita yang terlihat cemas.
Adrian mengangguk sambil menghela nafas. "Bunda terlalu keras kepala. Aku sudah meminta Ayah dan Bunda agar ikut bersama Kita, Ayah mau saja, tapi Bunda begitu takut meninggalkan warisannya di Kampung." Adrian terlihat gusar.
Dita mengusap bahu suaminya. "Kamu yang sabar ya Bang... Kita berdoa semoga Bunda baik-baik saja. Abang kan tahu sendiri sifat Bunda bagaimana, kalau kata Bunda tidak ya tidak." Kata Dita.
Adrian menghela nafas. Dia segera membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Terima kasih, Sayang..." Kata Dita sambil tersenyum.
Adrian membuka pintu untuknya dan segera masuk. Adrian bergegas melajukan mobilnya karena Dia langsung menuju Kantornya setelah mengantar Dita pulang.
_______________________
"Assalamu alaikum Kak..." Sapa Nindi di seberang sana.
__ADS_1
"Wa alaikumussalam Dek. Kamu ada apa? Kok tumben telpon Kakak, biasa nya langsung ke rumah." Tanya Fitri yang menyahut panggilan ponselnya.
"Aku melihat Ayah Burhan di Rumah Sakit ku. Aku sudah menemui Ayah Burhan untuk menanyakan siapa yang sakit." Jelas Nindi.
"Memang siapa yang sakit?" Tanya Fitri.
"Bunda, Kak. Jatuh di kamar mandi." Kata Nindi.
"Kok Ayah Burhan membawa Bunda ke Rumah Sakit mu? Apa Ayah Burhan tidak tahu?" Tanya Fitri.
"Seperti nya darurat Kak. Mungkin juga gak tahu. Karena kan Rumah Sakit Ku ini yang paling dekat dari rumah Ayah Burhan." Kata Nindi.
"Ayah sendirian?" Tanya Fitri.
"Ya Kak... Kasihan... Dari semalam Beliau disini. Aku sudah suruh pulang untuk istirahat. Maksudnya biar Aku yang gantian menjaga Bunda. Tapi Ayah Burhan menolak, Takut Bunda sadar dan marah-marah pada ku." Jelas Nindi lagi.
"Baiklah... Nanti Kakak kesana. Kakak lagi masak. Nanti Kakak ke Rumah Sakit." Kata Fitri.
"Kak... Bawa makanan yang banyak yah.. Aku kangen dengan masakan Kakak... Hehehehe...." Rajuk Nindi.
"Ya Adikku Sayaaang...." Kata Fitri.
"Terima kasih Kak.... Kakakku yang cantik memang sangat pengertian..." Canda Nindi.
"Hhhmmm ada mau nya...." Cibir Fitri.
"Ya sudah Kak, Aku mau kontrol pasien lain. Assalamu alaikum...." Pamit Nindi.
"Ada apa dengan Auntie, Ma?" Tanya Lita.
"Neneknya Vero masuk rumah sakit." Kata Fitri.
"Dinda sakit apa, Fit?" Tanya Ibu.
"Kata Nindi, Bunda jatuh di kamar mandi, Bu." Jelas Fitri.
"Innalillaahi...." Ibu mengurut dadanya.
"Rencananya Fitri mau ke Rumah Sakit selesai masak, Bu." Kata Fitri lagi.
"Ya gak apa....Tapi Kamu ijin dulu sama Suamimu." Pinta Ibu.
"Ya Bu... Fitri gak lupa kok.." Kata Fitri.
"Ma.... Lita ikut yah. Lita kan belum pernah bertemu dengan Kakek dan Neneknya Bang Vero." Pinta Lita.
"Hhhhmmmm.... Mau PDKT nih ceritanya?" Goda Fitri.
"Iihhh Mama..." Lita tersipu malu.
__ADS_1
Fitri mengusap rambut panjang Lita yang lurus tergerai menutupi punggungnya dengan lembut. "Nanti kalau Bunda marah-marah, Kamu jangan ambil hati ya." Pinta Fitri.
Lita mengangguk senang.
"Jangan Kamu kenalkan Lita sebagai cucu Ibu, Fitri. Kamu kenalkan saja pada Ayah Burhan. Bilang sama Ayah Burhan untuk merahasiakan identitas Lita pada Bunda. Biar Lita mengambil hati Bunda." Saran Ibu.
Fitri mengangguk. "Aku setuju dengan rencana Ibu. Bagaimana dengan Kamu Lita?" Tanya Fitri pada keponakannya.
"Ya Ma... Lita setuju. Lita memeluk tubuh sang Nenek. Terima kasih Nek.... Lita bahagia banget punya Nenek yang sangat baik dan pengertian seperti Nenekku ini." Puji Lita.
Ibu mengusap kepala Lita dengan penuh kasih sayang. "Nenek hanya ingin melihat keluarga Nenek, bahagia semua." Kata Ibu.
Lita mencium kedua pipi Ibu yang sudah keriput.
__________________________
"Fitri....." Panggil Ayah Burhan lemah.
Fitri mencium punggung telapak tangan Ayah Burhan. Demikian juga dengan Lita. "Bagaimana keadaan Bunda, Ayah?" Tanya Fitri.
"Bunda sudah sadar. Tapi sekarang sedang istirahat." Kata Ayah Burhan. Terlihat sekali beliau begitu letih dan lelah.
"Siapa gadis cantik ini? Apa Dia Puterimu?" Tanya Ayah Burhan.
"Dia Lita, Ayah. Puteri Kak Tia, Kekasih Vero. Tapi Ayah jangan bilang sama Bunda, kalau Lita ini kekasih Vero. Biarlah Bunda mengenalnya dengan sesuka hati Bunda." Pinta Fitri.
Ayah Burhan mengangguk seraya mengerti dengan rencana Fitri. "Lalu bagaimana Lita bisa masuk ke dalam?" Tanya Ayah Burhan.
"Lita sudah punya rencana sendiri, Ayah." Kata Fitri. "Ayah makan dulu ya... Pasti Ayah belum makan." Pinta Fitri seraya membuka rantang yang Dia bawa dari rumah.
"Terima kasih, Nak..." Ayah Burhan terlihat malu. Selama ini istrinya sangat jahat dengan keluarga Nia, tapi Keluarga Nia tak pernah membalasnya dengan kejahatan.
Fitri tersenyum. "Ayah Burhan dan Bunda itu orangtua Fitri juga. Walau Kak Tia sudah tak lagi jadi menantu Ayah, tapi Kami masih menganggap Ayah dan Bunda, keluarga Kami. Siapa lagi keluarga disini yang dekat kalau bukan Ayah dan Bunda." Kata Fitri.
"Ya Nak.... Ibu mu memang wanita yang sangat baik. Ayah sangat menyesal dulu pernah menyakiti hati Ibu mu." Ayah menunduk.
Fitri tersenyum. "Sudahlah Yah... yang telah berlalu jangan diingat-ingat kembali... Yang terpenting sekarang bagaimana sekarang menyadarkan Bunda, agar hatinya melembut." Kata Fitri.
"Ya Kakek.... Lita janji akan membantu Kakek, selama Nenek sakit." Kata Lita yang menghampiri Ayah Burhan dan duduk di sampingnya.
"Ayah Burhan merengkuh bahu Lita. Kamu sudah cantik, baik hati pula. Tak salah Vero memilih Kamu, Sayang." Kata Ayah Burhan seraya mengecup kepala Lita.
"Ayah makan dulu. Nanti Ayah sakit, siapa yang temani Bunda?" Canda Fitri.
"Ya Nak..Terima kasih." Ayah Burhan segera menyantap makanan yang telah Fitri sediakan.
Lita memberikan air mineral pada Ayah Burhan. Burhan terlihat bahagia, karena dimasa Tua nya, ternyata Dia tak sendiri. Ada keluarga Nia yang sangat memperhatikannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
🌷Mohon maaf kepada seluruh pembaca setia novel Cinta Lama Belum Kelar, yang menunggu lama akan kelanjutan novel ini. Karena kesibukan Author di dunia nyata yang harus tetap mencari nafkah untuk keluarga. Sekali lagi mohon maaf🌷