CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Peri Kecil Milik Lita


__ADS_3

Lita langsung berdiri. Dia sangat terkejut akan lamaran Leo yang sangat mendadak. Belum juga genap 100 hari sejak kepergian Almarhum Suami nya, Krisna. Kini datang dengan lamaran baru untuknya. Masa iddah nya pun belum selesai. Lita masih berduka. Luka mendalam akibat ditinggal Suami tercinta tanpa pesan apa pun.


Leo menahan tangan Lita. Lita menepisnya dengan kencang. "Pulang lah.... Maaf Aku tidak bisa menerima lamaran Dokter." Tegas Lita tanpa menatap wajah Leo.


"Tapi... Aku sangat mencintai Mu, Sayang... Dari dulu, kini dan sampai akhir hayat Ku. Masa Iddah Mu pun sudah akan selesai." Leo mengharap.


Tanpa menoleh Lita beranjak meninggalkan Leo. Namun kata-kata Lita menorehkan luka bagi Leo. "Cinta Ku hanya untuk mendiang Suami Ku, Krisna dan Puteri kecil Ku." Lita sedikit berlari masuk ke kamar nya.


Leo terpaku dengan mulut menganga. Dia tak menyangka akan mendapat penolakan pedas dari Lita. "Astaghfirullaah..." Leo mengelus dada nya.


Tristan bergegas keluar dari kamar mendengar suara pintu kamar sebelahnya tertutup dengan dentuman. Caca mengekor di belakangnya.


"Ayah Daddy..." Panggil Caca yang langsung menghambur ke pelukan Leo.


"Ada apa Kak?" Tanya Tristan bingung.


Leo menatap wajah Caca dengan haru. "Maafkan Daddy... Daddy tak berhasil mendapatkan hati Ibu Mu..." Leo menunduk.


Caca menarik dagu Leo. "Ayah Daddy sayang kan sama Caca?" Tanya Caca menatap lekat manik mata Leo. Mata Caca sudah berkaca-kaca.


Leo mengangguk dengan titik air mata yang sudah keluar dari matanya. Leo mengusap air mata Caca. "Daddy sayang Caca, sangat...." Kata Leo.


"Kalau begitu... Ayah Daddy harus mendapatkan hati Ibu, demi Caca..." Caca memeluk leher Leo dan menangis.


Tristan termangu melihat pemandangan itu. Dia tak menyangka Kakak nya akan menolak Leo.


Di Kamar Lita.


"Hik... hik... hik..." Lita terduduk dilantai kamar nya. Dia menangis dalam diam sambil memeluk baju yang dikenakan Krisna terakhir kali saat Di Negara C. "Maafkan Aku.... Maafkan Aku.... Hik... hik... hik..." Entah pada siapa Lita meminta maaf. Airmata nya terus mengalir dengan penuh rasa bersalah.


____________________________


Seorang lelaki berdiri menatap air laut yang surut membelakangi sinar matahari sore yang terpancar merah dengan keindahan nya yang memantul ke air laut yang biru.


Tatapan mata nya jauh menyebrang lautan. Hati nya rasa teriris sembilu. Berulang kali Dia mencoba menghubungi ponsel kekasih hati nya, namun tak juga mendapat balasan.


"Ya Allah... Apa salah dan dosa Ku? Setiap Aku mencintai selalu saja dikhianati... Apa diri Ku ini belum pantas menjadi hamba-MU sehingga KAU hukum Aku semenyakitkan ini?" Batinnya.


Bayangannya kembali pada masa beberapa tahun yang silam. Dia sangat mencintai seorang gadis saat Dia baru akan meraih gelar Dokter nya dengan nilai Cumload. Namun kisah cinta nya kandas sesaat persiapan pernikahannya hanya tinggal menunggu hari saja.


Diri nya seakan membatu untuk beberapa lama. Wajah nya pun tertutup bulu halus yang lebat demi menutupi wajah tampannya.


Hati nya kembali terbuka saat Dia berkenalan dengan seorang gadis yang ternyata bersebelahan duduknya pada kabin pesawat yang akan membawa nya ke Negara J.

__ADS_1


"Lalita Puteri Wijaya...." Itulah nama gadis yang dengan kesederhanaannya dan kecerdasannya dapat membuka hati nya kembali merajut asmara.


Walau jatuh bangun Dia mengejarnya demi mendapatkan cinta gadis itu tapi pada akhir nya cinta nya yang sudah hampir sampai ke jenjang pernikahan, kandas kembali ditengah jalan.


Leo menghela nafas nya. Mengucapkan Istighfar berkali-kali. Hembusan angin laut menjelang maghrib menerpa wajah nya yang kembali ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Ayaaaah Daddyyy...!!!" Suara itu membuyarkan lamunannya.


Sejak penolakan Lita, Leo memutuskan kembali ke Indonesia karena panggilan pekerjaannya di Rumah Sakit yang lebih membutuhkannya.


Leo tak menoleh. Dia takut itu hanya halusinasi nya saja. Sudah enam bulan Leo sangat merindukan peri kecil milik Lita. Berulang kali Dia menghubungi ponsel peri kecil itu tapi selalu diluar jangkauan.


"Ayaaaahhh Dadddyyyy....!!" Suara itu memanggil lagi. Kali ini terdengar dekat. Leo merasakan jemari tangannya tersentuh kulit halus yang mungil. Leo tersentak, Dia menoleh. Mengucek mata nya untuk memastikan penglihatannya.


Leo berjongkok disisi gadis kecil itu. "Caca??!!" Leo masih tak percaya.


Caca langsung memeluk leher Leo. "Caca rindu Ayah Daddy... Hik... hik... hik... Kenapa Ayah Daddy tak pernah datang lagi menjemput Caca di sekolah?" Caca menangis dalam pelukannya.


Leo melerai pelukan Caca. Mengusap lembut pipi Caca yang basah. "Daddy juga kangen sama Caca. Maafkan Daddy..." Airmata Leo menetes.


Caca menggeleng. Mengusap air mata Leo. Mencium kedua mata Leo. "Kata Ayah, laki-laki itu gak boleh nangis. Yang boleh nangis cuma perempuan aja." Celoteh Caca lucu.


Leo tersenyum. Dia menciumi wajah Caca tanpa memberi jeda Caca melepasnya.


Caca menunduk. "Ibu tidak ikut... Ibu sibuk di Rumah Sakit..." Caca kembali terisak. Leo memeluk tubuh mungil itu.


"Uncle Tristan?" Tanya Leo.


"Uncle di Rumah Grandpa dan GrandMa... Ada Oma dan Opa Caca. Ayah Atala dan Mama Vita." Celoteh Caca.


Leo menggendong tubuh Caca dengan sebelah tangannya. "Apa Kamu sedang libur sekolah?" Tanya Leo sambil berjalan meninggalkan pantai.


Caca mengangguk. "Uncle juga libur, kata nya mau bikin.... bikin tulisan apa yah...???" Caca menjentikkan jari telunjuknya ke dagu nya.


Dengan gemas Leo mencium wajah Caca. Membuat skripsi.... Jelas Leo.


"Ayah Daddy... Geliii... Kenapa wajah nya tertutup rambut?" Caca mengelus brewok Leo.


"Daddy lagi bersembunyi." Bisik Leo.


"Memang Ayah Daddy lagi main petak umpet sama siapa?" Celoteh Caca yang lugu.


"Daddy kan sangat tampan...." Canda Leo.

__ADS_1


"Hahahahahaha... Ayah Daddy PD sekali... Tapi masa menaklukan hati Ibu saja nyerah..." Caca mengrucutkan bibirnya.


Leo menghentikan langkah nya. "Daddy gak pernah nyerah. Hanya memberikan keluasan pada Ibu Mu untuk berfikir."


"Apakah orang besar itu selalu berfikir?" Tanya Caca polos.


"Caca kalau sedang mengerjakan PR, berfikir gak?" Leo balik bertanya.


"Oh iya... Kok Caca sampai lupa yah... Ayah Daddy memang pintar." Caca mencium pipi Leo yang tertutup bulu. "Hhhmmm... Aku sebel sama rambut ini." Caca menyentuh brewok Leo.


"Nanti kalau Ibu Caca mau terima Daddy, Daddy akan mencukurnya." Canda Leo.


"Hhhmmmm Gak seru ah..." Caca bersedekap.


"Kenapa?" Tanya Leo mengerutkan keningnya. Alis coklatnya yang tebal bertaut.


"Caca kan jadi gak bisa marah-marahin cewek-cewek yang godain Ayah Daddy lagi dooong..." Caca mengrucutkan bibirnya.


"Hahahaha... Kamu benar... Sekarang sudah ada Caca, jadi Daddy ada yang jagain dari wanita-wanita ganjen itu....." Leo menggesekkan hidung mancungnya ke hidung Caca.


"Apa Ibu Caca sehat?" Tanya Leo.


"Wal afiat." Jawab Caca.


"Alhamdulillaah...." Kata Leo.


Mereka sudah tiba di bungalaw milik Papa Leo, Tuan Alex. Di tepi pantai Kota Jogja.


"Assalamu alaikum...." Salam Leo dan Caca.


"Wa alaikumussalaaam...." Jawab Mereka yang berada di sana.


Leo mencium punggung telapak tangan Orangtua nya kemudian Orangtua Lita.


"Lihatlah Tuan Lambok.... Putera Ku terlihat sangat Tua..." Canda Tuan Alex.


"Hahahaha..." Lambok, Atala, Tristan dan Alex tertawa. Sedang Tia, Vita dan Lisa tersenyum.


"Ayah Daddy jadi jelek kan GrandPa, kalau ada bulu gini???" Caca kembali menyentuh brewok Leo.


Leo langsung menggelitik leher Caca hingga Caca teriak minta tolong karena geli.


Alex dan Lisa menyusut airmata nya. Mereka bahagia melihat tawa diwajah Putera bungsunya. Itu semua karena kehadiran Peri Kecil Milik Lita.

__ADS_1


__ADS_2