CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Lika-liku Kehidupan


__ADS_3

Sore hari, Nindi baru tiba di rumah.


"Assalamu alaikum...." Salam Nindi dengan nada tak bersemangat.


"Wa alaikumussalaam... "Jawab seluruh keluarga yang sedang berkumpul menikmati minuman hangat dan cemilan sore hari.


"Auntiiieee....." Atala dan Twins berhambur memeluk Nindi.


"Waahh... Ada anak-anak Auntie yang tampan dan Cantik-cantik. Kalian kapan datang? Kok gak kasih kabar?" Seketika perasaan penat Nindi hilang dengan kehadiran malaikat-malaikat kecil nya.


"Kami dari semalam Auntie tapi baru sampe rumah Nenek tadi pagi." Kata Lita.


"Ooohhh...." Nindi membulatkan bibirnya.


"Sayaaang.... Biarkan Auntie nya istirahat dulu. Kasihan Auntie nya cape banget tuh kayanya." Kata Tia.


Vita memberikan secangkir teh untuk Nindi. "Ini untuk Miss Dokter." Canda Vita.


"Terima kasih, Sayaaang... Eehh tapi... What?! hhhmmm... ini pasti Fathir." Nindi menggeram pada Fathir.


Fathir hanya terkekeh sambil mengacungkan dua jari nya. "Piece... Auntie... Hehehe..."


Yang lain tertawa melihat Nindi dan Fathir yang seperti Tom and Jerry.


Nindi kembali murung.


"Auntie kenapa?" Tanya Atala.


"Pasien yang Auntie tangani, meninggal dunia. Mereka terlambat membawa ke Rumah Sakit karena terbentur biaya. Ya Allah....Ternyata masih banyak orang-orang di luar sana......." Nindi tak meneruskan kata-katanya.


"Innaalillaahi wa innaa ilahi rajiuun...." Kata mereka serempak.


Atala mengusap pundak Auntie nya. "Auntie sabar ya. Mungkin sudah ajalnya." Kata Atala.


Tia tersenyum melihat Atala yang makin dewasa menyikapi setiap permasalahan.


"Andai saja Auntie mengenal keluarga mereka, mungkin nyawa orang itu masih bisa diselamatkan." Kata Nindi menunduk.


"Dek... Rejeki, jodoh dan maut sudah suratan takdir. Sekuat apa pun Kita berusaha kalau Allah berkehendak lain, Kita harus mengikhlaskannya." Kata Fahmi.


"Ya Kak." Nindi mengangguk.


"Ya sudah... Sekarang Kamu mandi dulu ya, biar seger." Pinta Ibu.


"Iya Bu... Kak... Aku masuk dulu ya. Anak-anak... Auntie mandi dulu ya, nanti Kita becanda lagi." Kata Nindi tersenyum.


"Ya Auntie..." Jawab Atala, Fathir dan Twins. Sedangkan Fahri hanya cuek saja sebodo amat.


"Ponakan Mama yang ini diam saja nih?" Tiba-tiba Tia sudah memeluk Fahri dari samping, karena Fahri memang duduk disebelah Tia.


Fahri hanya tersenyum.


"Ya Kak, dia memang begitu. Pendiam dan pemalu. Sama kaya Ayahnya.... Tapi kalau Ayahnya.... Malu-maluin..." Canda Fitri.


Fahmi membelalakan mata pada Fitri dan langsung memeluk tubuh Fitri.


"Tuh kan... Malu-maluin..." Goda Fitri lagi.


Yang lain tertawa melihat kemesraan Fahmi dan Fitri. Farah menarik jenggot Fahmi yang tumbuh halus.


"Aadaaauuwww...." Kata Fahmi. "Anak Ayah yang satu ini, gak boleh lihat janggut Ayah." Kata Fahmi yang langsung menggendong Farah.

__ADS_1


"Hahahaha... Lagian Ayah... Bukannya dicukur janggutnya." Fathir tertawa.


Fahmi tersenyum. "Ini sunah, Sayang. Yang penting tertata rapih dan bersih selama tidak mengganggu." Kata Fahmi bijak.


Lambok, Tia dan yang lainnya tersenyum.


Adzan maghrib berkumandang. Mereka bergegas berwudhu secara bergantian.


__________________


Pagi-pagi sekali Nindi sudah bergegas ke sungai. Atala yang memergoki Nindi, langsung ikut dengan Auntienya.


"Auntie mau kemana? Aku gak diajak?" Manja Atala.


"Auntie mau ke sungai. Kamu mau ikut?" Tanya Nindi.


"Mau dong Auntie. Aku kan anak tampan Auntie." Canda Atala.


Nindi merangkul bahu Atala yang tingginya sudah melebihi Nindi.


Twins dan Fathir tak mau ketinggalan. "Auntiiee... Kami kok ditinggal?!" Twins merengut.


Nindi dan Atala menengok. Nindi tersenyum. "Ayooo kalau mau ikut." Ajak Nindi.


"Kalian mau kemana?" Tiba-tiba Tia memanggil.


"Ke sungai Ma.... Atala mau tahu sungainya. Mau nangkap ikan sama Auntie." Kata Atala.


"Bawa bekal Sayang... Air nya dingin sekali... Nanti kalian merasa lapar." Kata Tia.


"Auntie... Bener kata Mama. Auntie gak bawa bekal?" Tanya Atala.


"Niiihhh... Auntie sudah bawa tapi gak cukup kalau sama kalian berempat." Nindi terkekeh.


Nindi tersenyum. "Iyaaa... Auntie tungguin."


Atala berlari menghampiri sang Mama. "Mana Ma...??" Tanya Atala pada Tia.


Tia merangkul bahu Atala membawanya ke dapur. Dengan cepat Tia membawakan bekal untuk mereka dan sebuah termos yang sudah berisi teh manis.


"Nih... Mama sudah buatin. Tadi Mama lihat Auntie sudah bersiap ke sungai, makanya Mama siapin, kalian pasti mau ikut. Pesen Mama, jangan buat Auntie mu melamun ya." Pesan Tia.


"Siap Ma... Pokoknya Auntie gak akan ada kesempatan melamun." Kata Atala yang mencium pipi Tia.


Tia tersenyum. "Ya sudah... hati-hati, jaga sikap ya, Kita di kampung orang." Pesan Tia.


"Ya Ma... Atala berangkat ya Ma....Assalamu alaikum." Salam Atala.


"Waalaikumussalam... Jaga Adik-adikmu.!" Teriak Tia.


"Iya Maa...!" Atala sudah berlari.


Tia bergegas kembali ke dapur. Lambok keluar dari kamar, dia baru saja selesai mengaji.


"Ada apa Sayaaang? Pagi-pagi sudah rame?" Tanya Lambok yang sudah memeluk tubuh Tia dari belakang.


"Gak apa, Sayaang....Anak-anak mau ikut Nindi ke sungai." Kata Tia.


"Kok Kamu gak ikut?" Lambok masih memeluk.


"Kalau Aku ikut terus yang bantuin Ibu dan Fitri, siapa? Kamu?" Canda Tia.

__ADS_1


"Ooohh... dengan senang hati." Canda Lambok.


Tia mencubit pipi Lambok. "Kenapa gak Sayang saja yang mengikuti anak-anak?" Tanya Tia.


"Aku ada urusan. Ini demi masa depan Nindi." Bisik Lambok.


"Duuuhhhh.... Kakak-kakakku ini.... Masih saja mesra walau anaknya sudah tiga." Tiba-tiba Fitri masuk ke dapur.


"Loh... memangnya salah ya? Memang Fahmi sudah gak mesra lagi sama Kamu?" Goda Lambok.


"Apa sifat kaku dan dinginnya, kambuh lagi?? Hehehe..." Canda Lambok.


"Iisshhh... Kak Lambok apaan siihh?? ?" Fitri mengrucutkan bibirnya.


"Kalau Kak Fahmi kaku dan dingin, gak mungkin anaknya tiga..." Ketus Fitri.


"Hahahaha..." Tawa Lambok.


Tia memukul pelan bahu Lambok. "Kamu... masih saja suka ngeledekin Fitri."


"Bukan begitu Sayaang.... Kalau Fahmi tak sayang sama Adikku yang cantik ini, sungguh terlalu..." Canda Lambok.


"Hhmmm... hhmmm... hhmmm... Yang gak Sayang, siapa?" Tiba-tiba Fahmi sudah nimbrung dan merangkul bahu Fitri dan mengecup pipi Fitri.


Fitri tersipu malu. "Iisshhh... Apaan siih? Malu tahu..." Kata Fitri.


"Tuh... Kalian lihat kan? Yang kaku dan dingin siapa?" Canda Fahmi.


Lambok dan Tia tertawa melihat Fitri yang segera berlalu menuju kompor dan menyalakan kompor.


"Ya sudah... Aku mau masak dulu. Kalian ke depan saja." Pinta Tia.


"Ibu mana? Dari tadi gak kelihatan?" Tanya Lambok.


"Ibu lagi ke ladang. Mau metik cabe katanya." Kata Tia.


"Kalau gitu Aku bantuin Ibu saja." Kata Lambok.


"Ya sudah... Tapi minum dulu ya." Pinta Tia yang sudah membuatkan susu untuk Lambok dan gorengan.


"Terima kasih, Sayaang..." Lambok mengecup bibir Tia.


Fitri melihat itu. Dia merasa malu sendiri.


Lambok bergegas ke ladang menyusul Ibu. Sedangkan Fahmi sedang mengurus Farah yang sudah terbangun.


"Kenapa Kamu merasa malu begitu, Dek?" Tanya Tia yang memang melihat Fitri tadi.


"Iissshhh... Kakak lihat saja." Fitri terkekeh.


"Mungkin Fahmi mau seperti itu, Sayaang... Gak apa kan? Kalian kan suami istri." Kata Tia.


"Malu Kak, anak kita sudah tiga. Masih kayak ABG saja." Kata Fitri.


"Kasih sayang itu tak terbatas umur dan banyak anak, Sayang. Itu bumbu untuk memupuk cinta Kita sampai tua." Kata Tia.


Fitri terdiam. "Apa mungkin Kak Fahmi berubah karena Aku yang kaku?" Batin Fitri.


"Kok melamun, dek? Ada apa? Kalian baik-baik saja, kan?" Selidik Tia.


"Iii...Iiyaa Kak.... Kita baik-baik saja kok." Fitri terlihat gugup.

__ADS_1


Tapi Tia terlalu peka. Dia tahu Fitri sedang ada masalah dengan Fahmi.


__ADS_2