CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Pertemuan


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


Di Negara J


"Lita....!!" Panggil seseorang.


Lita menoleh. "Haaii... Astrid...." Lita tersenyum dan segera menghampiri temannya.


Astrid dan Lita memang baru berteman selama satu bulan ini. Mereka bertemu saat sama-sama hendak daftar ulang bagi penerima beasiswa Mahasiswa S2 di Univetsitas Negeri Negara J.


Astrid dan Lita cipika cipiki.


"Yuk ah... Lihat tuh pada ngiler ngelihat Kita." Canda Astrid.


"Suuiittt.... suiiittt... suiittt..." Begitulah para Mahasiswa disana yang konyol tanpa rasa malu menggoda wanita. "Haaiii ladies....!!! Mau dooong... Hahahaha...." Tawa mereka sangat senang kala melihat Lita dan Astrid.


Astrid seorang gadis kewarganegaraan Singapura, makanya Lita merasa ada teman dekat dengan Negara nya. Astrid sudah bertunangan. Pernikahannya tertunda karena ternyata Astrid mendapat panggilan dari Universitas Negeri Negara J.


Untung nya calon suami Astrid seorang yang sangat modern. Dia ingin Astrid mencapai keinginannya sebelum menikah. Karena setelah menikah, Astrid belum tentu bisa berkarir atau melanjutkan pendidikannya. Karena calon mertua Astrid, yaitu Ibu tiri dari kekasihnya sangat kolot dan kurang menyukai Astrid. Berulang kali Beliau ingin memisahkan Astrid dengan Putera Tiri nya.


"Nanti selesai kelas terakhir, Kita jalan-jalan ya Lita... Aku bete di asrama." Pinta Astrid.


"Tapi Aku ada janji sama Mamaku mau videocall." Kata Lita sedikit tak enak menolak permintaan temannya.


"Kan Kamu bisa video call di Mall. Mumpung Aku lagi tajir nih. Ayang Beb ku baru saja mengirim uang. Hehehehe..." Kata Astrid terlihat senang.


"Jadi ceritanya mau traktir Aku nih?" Goda Lita. Walaupun sebenarnya Lita juga tak kurang uang. Karena Papa nya tak pernah terlambat mengirim uang. Belum lagi ada beberapa anak asrama yang suka belajar pada Lita dan mereka tak pernah gratis dengan kebaikan Lita. Padahal Lita sudah menolaknya. Tapi Mereka akan tersinggung jika Lita menolak pemberian Mereka.


"Kamu mau beli isi Mall juga Aku masih sanggup bayar.... Hehehehe..." Goda Astrid lagi.


"Ya ampun Astrid, calon mu sudah Sultan, masih aja ngejar pendidikan jauh-jauh, beasiswa pula." Canda Lita.


"Iisshhh Lita... Aku kan dah cerita sama Kamu, Aku gak mau menumpulkan otakku.... Hahahaha..." Canda Astrid.


Mereka tertawa hingga tiba didepan ruang kelas. Mereka pun beranjak ke kursi Mereka masing-masing.


Tak lama seorang dosen masuk. "Selamat siang...."


"Siaaang...." Jawab semua Siswa. (Dalam bahasa asing ya guess😄)


"Perkenalkan, Saya Leo Adi Putera, Asisten Dosen Dokter David. Beliau sedang berhalangan, jadi sementara Saya yang akan handle kelasnya." Kata Leo memperkenalkan diri.


"Ya Allah.... Dia kaaannn...." Lita terlihat gugup. Lita merasa tak enak hati karena waktu di pesawat dan bandara, Lita tak menggubrisnya. Bahkan cenderung terkesan jutek.

__ADS_1


Lita menunduk saat tatapannya bertemu dengan Leo.


Leo tersenyum. Dia sudah tahu kalau kelas nya ada Lita. Karena sebelumnya Dia sudah mengecek absensi. "Lalita Puteri Wijaya....!!" Panggil Leo.


Lita seakan tak mendengar. Astrid menyentuh bahu Lita. "Lita... Kamu dipanggil Asdos."


"Aahhhh... Iii... Iiyaaa Mr. Leo. Maaf..." Kata Lita gugup.


"Maju ke depan." Goda Leo.


"Sssayaaa...???" Tanya Lita masih gugup.


"Iya Kamu... Apa di kelas ini ada Lalita yang lain?" Tanya Leo.


Lita menggeleng. Dengan jantung berdebar Lita maju ke depan.


"Coba Kamu jelaskan pelajaran minggu lalu yang telah Dokter David sampaikan." Pinta Leo.


Lita mengangguk. Lita langsung menerangkan tentang garis besar dari pelajaran minggu lalu.


Leo tersenyum puas. "Kamu sangat cerdas Lita. Aku suka Kamu." Batin Leo.


"Itu saja Mr. Leo." Kata Lita.


Lita mengangguk dan bergegas kembali ke kursi nya.


Astrid tersenyum menggoda. "Kaya nya Mr. Leo suka sama Kamu." Canda Astrid setengah berbisik pada Lita saat Lita sudah duduk.


"Iissshhh.. Apaan siiihhh... Gak mungkinlah..." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Hehehehe..." Astrid terkekeh.


Kegiatan Kelas berjalan dengan lancar. Namun sepertinya tidak bagi hati Lita. Berulang kali Leo mencecar Lita dengan berbagai macam pertanyaan. Padahal banyak mahasiswa lain yang sudah berebut unjuk tangan ingin menjawab. Tapi tak digubris oleh Leo.


Astrid terus saja menyembunyikan tawanya melihat wajah Lita yang terlihat sangat kesal karena Leo terus mencecarnya hingga kelas selesai.


Kelas bubar. Lita dan Astrid hendak keluar, namun....


"Lita...!!" Panggil Leo.


Lita mendengus kesal. "Ya Mr. Leo?"


"Tolong Kamu ke ruangan Saya." Pinta Leo.

__ADS_1


"Tapi...." Tampik Lita.


"Hari ini kelas Dokter Jessy kosong. Beliau sedang ada seminar di RS F." Kata Leo yang sudah mengetahui jadwal kuliah Lita hari ini.


Lita memandang kearah Astrid. Astrid mengangguk. "Aku akan menunggumu di kantin." Bisik Astrid seraya meninggalkan kursi yang di duduki nya.


Lita menghela nafas. "Ganggu aja nih Asdos. Gak tau orang mau refreshing." Batin Lita kesal.


___________________________


Di Sumatera, Indonesia


"Vero laki-laki yang baik Papa...! Tidak seperti yang Papa bilang...!!!" Diah setengah berteriak pada sang Papa.


Papa nya Diah mendengus kesal. Diah menolak perjodohannya dengan anak kolega nya. Diah kekeh hanya mau menikah dengan Vero.


Mama nya Diah mengelus punggung suaminya agar tetap tenang. Dia takut Suami nya terserang jantung karena tak bisa menahan amarah. "Sabar Pa... Ingat jantungmu..." Kata Mama nya Diah sangat lembut.


Papa nya Diah menghela nafas. Mengatur pernafasannya agar aliran darahnya lancar.


Diah sudah menangis. Diah merasa tak akan sanggup jika harus berpisah lagi dengan Vero.


"Lusa Vero dan Keluarganya akan datang kesini. Mereka ingin melamar Diah... Hik...hik...hik...." Diah terisak mengharap restu Sang Papa.


"Pa...." Mama Diah mencoba meluluhkan hati suami nya.


Papa nya Diah menghela nafas. "Baiklah.... Ma... Siapkan jamuan untuk menyambut Keluarga Ayah Burhan. Hubungi Dita." Kata Papa nya Diah.


Diah mendongak tak percaya dengan perkataan sang Papa. "Benar Pa...??!! Papa mau menerima Mereka?" Diah tak percaya.


"Tergantung...." Jawab Papa nya Diah.


Diah mengerutkan keningnya. "Maksud Papa??"


"Pa..." Mama nya Diah kembali mengelus punggung suaminya. Mama Diah seakan tahu apa yang akan diutarakan oleh suaminya.


"Diaaahhh... Kamu masuk ke kamar yah. Kabari Vero untuk datang lusa." Pinta Mama nya Diah dengan lembut.


Diah tersenyum walau masih ada yang mengganjal di hatinya. "Baik Ma... Paaa... Makasih ya." Diah menghampiri Papa nya dan mengecup pipi sang Papa.


Bunda Dinda, Neneknya Vero memang menyuruh Vero agar kembali pada Diah. Bunda Dinda tak ingin Vero terus larut memikirkan Lita. Karena sampai kapanpun, Bunda Dinda tak sudi berbesanan dengan Keluarga Nia, yang Dinda anggap sebagai saingannya.


Vero sebenarnya tak ingin kembali pada Diah. Vero belum bisa menata hati nya. Cinta nya hanya untuk Lita. Namun karena ancaman sang Nenek yang membuat Vero menuruti kemauan Sang Nenek.

__ADS_1


__ADS_2