
Menjelang Dzuhur Nindi dan keponakannya sudah tiba di rumah Ibu.
"Assalamu alaikum...." Salam Mereka.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Ibu, Tia dan Fitri.
"Loh kok Vita digendong Kak Atala?" Tia terlihat khawatir.
"Vita cape Ma, Dia tadi berenang sampai jauh sama Auntie." Kata Atala yang segera menurunkan Vita.
"Kamu tuh yah, kalau sudah berenang, gak inget nanti kalau sudah naik ke daratan." Canda Tia.
"Ma... Vita ngantuk..." Vita manja.
"Mandi dulu ya, Sayang.... Shalat terus makan siang. Abis itu baru boleh bobo." Kata Tia.
"Ya Ma..." Vita beranjak ke kamar mandi bersama Lita dan Nindi.
"Ayoo...Auntie mandiin, biar bersih." Kata Nindi.
Vita mengangguk. Nindi membuka baju Vita dan Lita kemudian merendamnya. Nindi bergegas memandikan Twins.
"Sekarang kalian pakai baju ya di kamar." Pinta Nindi yang sudah membalut tubuh keponakannya dengan handuk.
Kemudian Nindi mencuci baju basah mereka. Dan bergegas mandi.
Twins sudah rapih. Mereka keluar dari kamar. "Ma... Papa kemana? Kok gak ada?" Tanya Lita.
"Papa lagi ada perlu." Kata Tia sambil menyisir rambut Vita dan Lita bergantian.
"Memang Papa punya urusan disini, Ma? Memang Papa ada teman disini?" Vita ingin tahu.
"Dulu kan Papa pernah ada proyek disini, waktu Kamu belum lahir." Jelas Tia.
"Ooohhh... Kok Mama gak diajak?" Lita menyambung.
"Kalau Mama ikut, nanti kalian nyariin Mama dan Papa... Nangis lagi nanti, gak ada Mama dan Papa?" Goda Tia.
"Gak lah Ma, Kita kan sudah besar, lagi pula ada Auntie dan Nenek." Kata Vita.
Tia tersenyum. "Ya sudah, sekarang Kita shalat dzuhur dulu. Abis itu makan, baru bobo ya..." Tia lembut.
Nindi, Atala, Fathir dan Fahri sudah bersiap di ruang musholah. Mereka melaksakan shalat dzuhur berjamaah. Atala yang menjadi Imam.
_________________
"Masuk malam lagi, Nak?" Tanya Ibu yang agak khawatir pada Nindi.
"Ya Bu, emang schedultnya begitu. Ada shift nya." Kata Nindi.
"Kakak antar ya?" Pinta Lambok yang mengetahui kekhawatiran Ibu.
__ADS_1
"Gak usah Kak. Kakak baru sampe pasti cape." Tolak Nindi.
"Keselamatan Kamu lebih penting, Dek." Kata Lambok.
Nindi menghela nafas. "Ya deh kalau Kakak maksa." Canda Nindi.
Lambok mencubit hidung Nindi. "Iisshh... Sakit Kak. Kak Tia saja tuh yang dicubit, jangan Aku." Nindi mengrucutkan bibirnya.
"Hehehe..." Lambok terkekeh.
Tia menggeleng melihat kelakuan suaminya yang senang sekali mengganggu adik bungsunya.
"Pa... Atala ikut ya. Nanti Papa pulang gak ada temannya." Kata Atala.
"Fathir juga ikut ya Pa. Kan jadi banyak yang jagain." Fathir terkekeh.
Lambok mengangguk. "Nah tuh Nindi, banyak yang kawal." Canda Lambok.
"Hehehehehe... Terima kasih anak Auntie yang tampan dan ganteng." Puji Nindi pada Atala dan Fathir.
____________________
Dua hari kemudian Nindi kembali bertugas malam di Rumah Sakit.
Tapi hari ini tak ada yang mengantar Nindi. Lambok belum pulang, Fahmi sedang di luar kota.
Nindi memutuskan naik motor sendiri. Dia pikir sudah biasa naik motor dan bisa lebih cepat sampai.
"Hati-hati Dek...." Kakak-kakaknya sangat mengkhawatirkannya.
"Auntie hati-hati yah. Kalau sudah sampai telpon yah..." Pesan Atala. Atala memang sangat menyayangi Nindi. Bagi Atala Nindi adalah Mama kedua nya.
"Ya Sayaaaang... Bye ponakan Auntie yang tampan, ganteng dan cantik-cantik..." Mereka menciumi Nindi satu persatu.
"Abis deh bedak Auntie..." Canda Nindi.
"Hehehehehe... Auntie bisa saja." Kata Lita.
"Assalamu alaikum..." Salam Nindi yang segera menstarter motor kesayangannya.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab Mereka.
Deru mesin motor Nindi sudah tak terdengar lagi. Jarak ke rumah sakit dari rumah memang cukup jauh. Karena Rumah Sakit yang berada di Ibu Kota.
Nindi melewati perkebunan karet yang luasnya berhektar-hektar. Suasananya sangat sepi karena hari yang sudah jam 10 malam.
Nindi mensenandungkan lagu "Don't say you love me" nya "D'cors". Nindi sangat ngefans dengan mereka.
"Tumben malam-malam ada mobil parkir ke kebun karet." Gumam Nindi.
Nindi memperlambat laju motornya, takut ada yang butuh pertolongan.
__ADS_1
Tiba-tiba beberapa orang pria keluar dari dalam mobil dan menghadangnya.
"Astaghfirullaah... Ada apa ini?" Nindi tak dapat melanjutkan perjalanannya karena motornya sudah dipegang salah seorang begal tersebut.
"Kalian mau apa? Aku hendak berangkat kerja." Nindi memberanikan diri.
"Hahahahaha... Ternyata.... Malam-malam masih saja ada bidadari yang keluar ke jalan." Kata seorang begal.
"Aku mau ke Rumah Sakit. Ada pasien gawat darurat." Nindi mencoba meminta pengertian para begal itu.
"Hahahaha... Kamu boleh ke Rumah Sakit setelah melayani Kami.... Hahaha..." Sahut mereka menyeringai seakan mau menerkam Nindi.
"Apa...??!!! Kurang ajar!!..." Nindi yang tangannya sudah dipegang 2 orang begal mencoba memberontak.
"Hahahaha... Ternyata kuat juga tenaganya.. Ini kayaknya hot banget... Hahahaha....!!"
Nindi terus berontak dan kakinya menendang kesana kemari. "Kurang ajar..!! Kalau berani satu lawan satu..!! Jangan seperti banci main keroyokan." Nindi menantang.
"Wauuww... Besar juga nyalinya. Aku sudah tidak sabar menikmatinya... Hahahaha..."
Nindi menggigit tangan salah seorang yang memegangnya dengan keras hingga berdarah. Dan menendang perabotan begal yang berada di sebelah nya lagi.
Mereka semua kesakitan yang amat sangat. "Aaacch..!!!" Teriak keduanya.
Nindi berlari secepat mungkin. Dua orang begal yang lain mengejar Nindi.
"Kurang ajar! Besar juga nyalinya melawan kami....!"
Nindi tak berteriak minta tolong karena percuma tak akan ada yang mendengar dan itu akan membuatnya kehabisan tenaga.
Tapi sial, Nindi tersandung sesuatu. Nindi mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya tapi tak bisa. Nindi ambruk.
Tapi Nindi mencoba bangkit. Dan hendak berlari lagi. Nindi menahan rasa sakit kakinya.
Nindi tertatih terus berlari. Kedua begal itu tertawa. "Hahahaha... Mau kemana kamu sekarang?! Sudah tak bisa lompat lagi Kamu kaya kelinci..."
Mereka menangkap Nindi.
"Tolong lepaskan...! Apa salah saya?! Kalian mau motor ambil saja. Tapi biarkan saya pergi!" Nindi masih memberontak dengan kakinya yang pincang karena lututnya terluka saat jatuh tadi.
"Kami gak butuh motor Kamu. Kamu sudah menyakiti teman kami. Kamu harus melayani Kami..." Sangar begal itu.
"Enak saja...! Lo pikir gw perempuan apa haaahh..." Nindi sangat geram.
"Gw seorang dokter dan gw mau kerja..!!!" Nindi berteriak.
"Hahahaha... Dokter cantik... Hahahaha..." Salah seorang dari mereka menoel pipi Nindi.
"Cuuuiiihhh... Nindi meludahinya. Jangan menyentuh tubuh gw dengan tangan kotor lo itu!!" Nindi sudah tak dapat bersikap baik lagi pada para begal itu.
"Kurang ajar." Begal yang diludahi Nindi menampar pipi Nindi. "Abis ini bukan pipi mu saja yang ku sentuh tapi seluruh tubuhmu..." Begal itu menyeringai mengelap bibirnya yang sudah menetes air liur karena kemolekan tubuh Nindi.
__ADS_1
"Lihat saja kalau Kalian berani menyentuhku...!!!" Nindi terus meracau. "Ya Allah... Lindungi Nindi..." Batin Nindi. Nindi membaca doa apa saja yang dia hapal. Nindi berharap pertolongan Allah datang menolongnya.
Kedua begal yang tadi digigit dan ditendang Nindi menyeringai melihat teman-temannya berhasil membawa Nindi.