CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Pengecut


__ADS_3

"Gery....." Seseorang membuyarkan lamunannya.


Gery segera menyembunyikan wajah sedihnya. Dia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Papa...." Kata Gery.


"Ada apa Nak? Dari tadi Papa perhatikan, Kamu terlihat gelisah?" Selidik Papa nya.


"Gak ada apa-apa kok, Pa. Aku hanya sedang menyiapkan meeting besok." Kata Gery.


"Kamu sudah makan malam, Nak?" Tanya Papa nya lagi.


"Sudah Pa... Papa sudah makan belum?" Tanya Gery.


Papa nya menggeleng. "Papa tadi mau mengajakmu makan di luar, sudah lama Kita tak pergi keluar sejak kepergian Mama Kamu."


Gery menghela nafas. "Maafkan Aku, Pa. Aku buatkan nasi goreng buat Papa, yah?" Tanya Gery.


Papa nya tersenyum. Dia tahu nasi goreng buatan Gery sangat enak, persis buatan Almarhum istrinya. "Iya Nak, terima kasih."


Gery segera beranjak dari meja kerja nya menuju dapur. Dia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng tanpa vetsin. Mama nya tak pernah menambahkan vetsin pada masakannya.


Tak lama nasi goreng pun tersedia. Papa nya sangat senang. Walau kini Dia hidup berdua Puteranya, tapi Dia masih bisa merasakan masakan Almarhum istrinya lewat tangan Gery.


"Pa...." Panggil Gery.


Papa nya mendongak dan tersenyum. "Ada apa Nak?" Tanya nya disela-sela makan malamnya.


"Apa Papa gak ada kepikiran menikah lagi?" Tanya Gery.


"Huk... huk.. huk...." Dia tersedak mendengar perkataan Puteranya.


Gery segera memberikan air minum untuk Papa nya. "Pelan-pelan dong Pa. Apa perkataanku salah?" Tanya Gery.


Dia meneguk air putih dan menggeleng. "Tidak ada yang salah dengan perkataanmu Nak, tapi Papa sudah tak memikirkan menikah lagi. Kini saatnya Kamu yang memikirkan masa depan Kamu. Papa ingin punya menantu dan cucu."


Gery menghela nafas. Dia memang sudah siap untuk menikah, tapi pujaan hatinya telah menikah dengan orang lain. Ini semua kesalahannya. Andai saja Dia lebih gentleman menghadapi ini semua dan mengakui perbuatannya. Mungkin sekarang Dia sudah menikah dengan pujaan hatinya.


"Gery.... Heeiii... kenapa melamun?" Tanya Papa nya.


"Oh.. eh... anu.. Pa... Itu... Aku lagi memikirkan pekerjaanku." Kata Gery yang terlihat gugup.

__ADS_1


"Gery.... Apa salah kalau Papa memintamu segera menikah?" Tanya Papa nya yang tahu betul Gery sedang menghindarinya.


Gery menunduk. Dia tak berani menatap wajah sang Papa. "Tidak Pa... Hanya saja...." Gery tak meneruskan perkataannya.


"Kenapa Nak? Ceritalah sama Papa... Barangkali Papa bisa membantu. Atau Papa bisa melamarkan gadis itu untuk Kamu." Canda Papa nya yang tahu betul bagaimana Puteranya.


"Sudah terlambat Pa... Dia sudah menikah dengan orang lain." Gery menunduk.


"Bagaimana bisa? Apa Kamu menyakitinya?" Tanya Papa nya.


Gery bingung harus jawab apa sama Papa nya. Dia tak mungkin berkata jujur pada Papa nya kalau Dia telah menyakiti wanita yang Dia cintai.


"Kalau Kamu belum mau cerita sama Papa, Papa akan menunggu hingga Kamu siap. Papa hanya pesan pada Kamu, belajarlah untuk bertanggung jawab. Jangan menjadi seorang pengecut. Jangan biarkan dirimu menyesal di kemudian hari." Nasehat Papa nya.


Papa nya berlalu meninggalkan Gery yang masih terpaku duduk di kursi meja makan.


Gery menjambak rambutnya sendiri. "Apa yang harus Aku lakukan? Apa Aku bisa merebutnya kembali?"


Tiba-tiba ponsel nya berdering. Gery melihat nama dilayar ponselnya.


"Dion... Ada apa malam-malam begini?" Batinnya. Gery segera menjawab panggilan Dion.


"Heeii Sob... hang out yuk... Dah lama nih gak keluar bareng." Sahutan dari seberang sana.


"Payah lo Ger... Patah satu tumbuh seribu... Cari lagi lah yang lain." Sahut Dion masih di seberang sana.


Gery menghela nafas. "Gak bisa Dion, gw sangat mencintainya, harusnya kemarin Lo jangan halang-halangi gw untuk tanggung jawab..." Terdegar nada menyesal dari suara Gery.


"Gila Lo Ger, kalau Lo jujur, Lo bakal di penjara. Dan Gw juga bakal keseret... Aahhh... Lo jangan bikin susah gw dong. Kita sudah serapih mungkin agar gak ketahuan, Lo malah mau menyerahkan diri begitu saja..." Dion terdengar sangat kesal.


"Gw gak akan bawa-bawa Lo... Gw yang akan menanggungnya sendiri..." Tegas Gery.


"Terserah lo lah, Sob. Gw cuma minta, jangan bawa-bawa Gw. Karena yang melakukan itu semua, Lo... Lo yang enak kemarin. Gw cuma jadi kambing congek nungguin Lo lagi asyik sama perempuan itu." Ketus Dion.


Gery termenung. Dion memang tak ikut menyentuhnya, karena Dia yang melarangnya. Dia gak mau orang lain menyentuh kekasih hatinya selain dirinya.


Tapi kini, mungkin wanitanya sedang disentuh laki-laki lain yang kini sudah menjadi suaminya.


"Ger.... Gery...." Panggil Dion. "Lo baik-baik saja kan?"


"Gw menyesal Dion. Gw gak mau kehilangan Dia..." Kata Gery.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau Lo mang mau menyerahkan diri, tapi gw cuma minta satu, jangan bawa-bawa gw." Dion terdengar pasrah.


"Gw janji... Gak akan bawa-bawa nama Lo. Gw dikejar-kejar rasa berdosa..." Kata Gery.


"Ok Sob... Gw tutup dulu ya. Gw jadi ikutan BT jadinya." Kata Dion yang segera memutuskan sambungan telponnya.


Gery menghela nafas. Dia kembali menjambak rambutnya sendiri.


"Gery....." Tiba-tiba Papa nya sudah berada di dekat Gery. Dia mendengar semua percakapan Gery dengan Dion.


Gery terperanjat. "Papa... Sejak kapan Papa disitu?" Tanya Gery merasa khawatir.


"Sejak Dion menelponmu." Kata Papa nya. "Ada apa Nak? Apa yang sudah Kamu lakukan? Ceritalah.... Barangkali Papa bisa mencarikan solusinya."


Gery nampak ragu... Dia takut Papa nya akan murka. "Apa Papa akan memukulku, jika Aku jujur." Tanya Gery.


"Kalau perlu... Atau sekalian saja Papa bunuh Kamu, agar Kamu tak membuat malu Papa..." Canda Papa nya.


Gery terhenyak. Dia tahu Papa nya bercanda. Tapi perkataannya telah menohok jantungnya. Gery memang sudah membuat malu Papa nya dengan kelakuannya yang menjadi seorang pengecut dan tak berani bertanggung jawab.


"Pa...." Gery kembali menunduk.


"Siapa Nak? Siapa gadis itu? Apa Papa mengenalnya?" Apa Papa mengenal orangtua nya?" Tanya Papa nya lagi.


"Aku gak tahu, Papa mengenalnya atau tidak." Kata Gery.


"Dimana rumahnya?" Tanya Papa nya lagi.


Gery menggeleng. "Dia tak pernah mengijinkan Aku ke rumahnya Pa. Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya. Dia teman kampusku."


"Aku bersama nya saat awal masuk kuliah hingga kenaikan semester. Sepertinya Dia juga menyukaiku. Tapi pas semester tiga, Aku tak melihatnya lagi. Setahun kemudian Dia kembali ke kampus. Dan Aku sudah mengutarakan isi hati ku padanya. Tapi Dia menolakku. Aku juga gak tahu apa alasannya. Dan Dia kemudian menjauhiku." Jelas Gery.


"Setahun kemudian kulihat Dia bersama laki-laki lain. Aku sakit hati Pa.... Apa kurangnya Aku...?" Gery menunduk frustasi.


"Lalu apa yang Kamu lakukan padanya?" Tanya Papa nya.


"Aku..... Aku...." Gery terlihat sangat takut.


"Katakanlah Nak. Kamu sudah dewasa. Kamu harus berani bertanggung jawab atas apa yang telah Kamu perbuat." Nasehat Papa nya.


"Maafkan Gery, Pa....Gery telah membuat malu Papa. Gery khilaf Pa... Gery ingin menikahinya, tapi Dia sudah dinikahkan dengan pria lain." Gery makin menunduk menyesali kebodohannya.

__ADS_1


Papa nya Gery menghela nafas.


"Aku gak rela Dia disentuh orang lain selain Aku, walau itu suaminya sendiri...." Kata Gery.


__ADS_2