CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Amarah Fitri


__ADS_3

Vita sangat cemburu melihat kedekatan Atala dengan seorang gadis di kampus Atala.


Beberapa kali Atala menjemputnya dan Lita di sekolah, gadis itu ikut menjemput juga. Vita tak bisa berbuat apa-apa.


Perasaannya tak karuan. Sebisa mungkin Vita meredam rasa cemburunya pada gadis itu. Walau bagaimanapun Atala adalah Kakaknya.


Vita nampak termenung di balkon kamar nya. Lita yang dari tadi memanggilnya tak juga digubris, karena Vita tak mendengar, Dia sibuk dengan hatinya.


"Ya Allah... Apa Aku berdosa jika memendam rasa pada Kakakku sendiri?" Batin Vita.


"Vita...! Mama manggil." Panggil Lita.


Sampai tiga kali Lita memanggil Vita, tapi Vita tak juga menoleh. Lita mendekat dan mendapatkan mata Vita yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?" Tanya Lita yang memegang bahu Vita.


"Haaahh.... Eh.. Anu... Apa.. Hhmmm Gak apa-apa. Aku sedang Flu." Kata Vita yang cepat-cepat mengusap matanya.


"Gak apa tapi nangis. Aneh..." Goda Lita. "Kamu lagi mikirin apa sih?" Tanya Lita.


"Gak ada kok, Aku memang sedang Flu. Tadi Aku sudah minum obat tapi belum bisa tidur juga." Alasan Vita.


"Ada apa?" tanya Vita.


"Kamu dipanggil Mama. Dari tadi Aku panggil gak nyahut-nyahut." Lita mengrucutkan bibirnya.


"Maaf...." Kata Vita pelan dan segera beranjak memenuhi panggilan Sang Mama.


"Saya... Ma...." Kata Vita.


"Kamu masih Flu, Sayang?" Tanya Tia.


"Masih Ma... Sudah minum obat biar bisa istirahat tapi malah gak bisa tidur." Kata Vita yang terlihat murung.


Tia tersenyum. "Kamu minum ini ya." Tia memberikan secangkir lemon panas ditambah madu untuk Vita.


"Apa Mama memberiku Lemon panas?" Tanya Vita yang merasa mulutnya sudah asam membayangkan meminum lemon panas.


Tia mengangguk. "Ini bagus untuk tubuhmu, Sayang... Vitamin C nya sangat tinggi bagus diminum saat sedang flu." Jelas Tia.


"Tapi Aku gak suka asam nya Ma.." Vita mengrucutkan bibirnya.


Tia tersenyum. "Kamu minum pelan-pelan ya. Jangan lupa baca doa." Kata Tia yang sedikit memaksa.


"Enak tahu, Vita. Seger banget. Tempo hari waktu Aku flu, Mama juga memberikannya padaku, Alhamdulillaah sesudahnya Aku baik-baik saja." Kata Lita.

__ADS_1


Vita mengangguk. "Baiklah....Aku akan coba. Terima kasih Ma." Kata Vita.


______________________


"Kamu itu jadi perempuan harus punya rasa malu! Punya harga dirilah....!" Fitri sangat kesal pada Joana yang seenaknya datang bertamu dan langsung mau masuk ke kamar Fathir.


"Aku kan gak ngapa-ngapain, Tante. Aku hanya ingin bertemu Fathir, Kekasihku." Joana menampik.


"Kamu kan bisa menunggu di ruang tamu kalau ingin bertemu Fathir! Apa Mommy mu tak pernah mengajarimu sopan santun?!" Fitri sangat kesal.


Apa yang dikatakan Eyang nya Fathir memang benar mengenai Joana.


Joana mengrucutkan bibirnya. Dia kesal dengan Fitri yang menghalangi dirinya ingin bertemu Fathir.


Sebenarnya Fathir sudah berpesan pada Sang Mama untuk menolak kedatangan Joana, tapi Joana tak percaya kalau Fathir akan menjauhinya.


Joana mengambil ponselnya dan segera menghubungi Fathir.


Lama sambungan telponnya tak diangkat Fathir. Tapi Joana tak menyerah. Dia terus mendial nomor Fathir.


"Ya Joana... Ada apa?" Tanya Fathir yang baru saja menyelesaikan shalat Ashar.


"Kenapa Kamu lama sekali? Keluarlah... Aku sangat merindukanmu." Joana merajuk.


Fitri menggeleng-gelengkan kepalanya. Fitri tak tahu harus apalagi. Apa perlu dirinya menyeret Joan agar keluar dari rumah mertuanya.


"Tidak... Aku akan menunggumu disini sampai Kamu keluar." Ancam Joan.


Fathir memutuskan telponnya. Fathir terlihat khawatir. Dia mondar-mandir di depan pintu kamarnya.


"Assalamu alaikum..." Salam dari luar rumah.


"Wa alaikumussalaam..." Jawab Fitri yang segera menyambut siapa yang datang.


"Kak Tia.... Kak Diandra... Dan Ustadz Joey." Kata Fitri yang segera mencium punggung telapak tangan Mereka.


Tak lama Atala menyusul masuk setelah mengucapkan salam.


"Daddy...?! Daddy ngapain disini?!" Joana nampak terkejut.


"Kita kesini ingin menjemputmu, Sayang." Kata Diandra lembut.


"Tapi Aku kan disini mau belajar tentang Islam." Joana beralasan.


"Belajar tentang Islam tidak seperti ini, Nak... Kelakuan Kamu membuat Daddy sangat malu." Kata Ustadz Joey.

__ADS_1


"Tapi Daddy... Aku tak mau pulang. Aku mau disini." Joana masih menjawab.


Tia merangkul bahu Joana dan membawanya untuk duduk. "Sayaang.... Kami tak ada maksud mengusirmu dari Negara ini. Kami juga sangat senang dengan niatmu ingin belajar tentang Islam. Tapi bukan seperti ini. Kamu sudah menggaanggu ketenangan orang lain." Kata Tia lembut.


"Kenapa siihhh... Semua orang disini tak suka kalau Aku dekat dengan Fathir?!" Joana nampak kesal.


"Sayaang.. Tak ada yang melarangmu untuk dekat dengan Fathir. Tapi cara Kamu yang salah. Kamu jangan menyamakan pergaulanmu di Negara A dengan disini." Kata Ustadz Joey.


"Lihatlah... Mama nya Fathir sampai meninggalkan adik-adik Fathir di Sumatera karena sangat mengkhawatirkan Fathir, karena Kamu yang selalu mengganggu Fathir." Jelas Ustadz Joey.


"Sebenarnya, apa Kamu menyukai Fathir sekedar suka saja, atau ingin serius hingga pernikahan?" Tanya Diandra.


"Apa...?! Heeh... Mama ini ada-ada saja. Ya Aku mau mengenal Fathir dulu. Kalau cocok baru Aku akan menikah." Jelas Joana yang terlihat agak gugup ketika ditanyakan tentang pernikahan.


"Apa begini cara Kamu mengenal Fathir? Dengan mendekatinya layaknya seorang istri mendekati suaminya?!" Tanya Fitri ketus.


Joana menatap tajam pada Fitri. "Tante....! Ya harus lebih dekatlah. Kalau gak begitu bagaimana Aku mengenal calon suamiku! Lagian Aku bingung, kenapa sih disini orangnya pada kuno!"


Plaaaakkk.... Tiba-tiba Ustadz Joey menampar pipi Joana keras.


"Daddy...!!!" Joana sangat terkejut mendapat tamparan dari Daddynya. Dia meringis menahan rasa perih di pipinya.


Diandra langsung memeluk Joana. Tapi Joana malah mendorong tubuh Diandra keras. Dan itu membuat Diandra hampir saja jatuh ke lantai kalau Atala tak buru-buru menangkap Mama nya.


Joana segera beranjak dari sana. Dia keluar dari rumah Eyang Fathir sambil memegang pipinya yang merah dan panas.


"Maafkan Aku..." Kata Ustadz Joey yang segera memeluk Diandra.


"Aku gak apa Sayang. Joana memang belum terbiasa dengan tatakrama disini. Kamu harusnya jangan kasar padanya." Pinta Diandra.


Ustadz Joey menghela nafas. "Fitri... Saya minta maaf atas kekurang ajaran Puteri Saya." Ustadz Joey nampak malu pada Fitri dan Bunda nya Fahmi.


Dia seorang Ustadz, bisa membimbing orang untuk menjadi lebih baik, tapi Dia sendiri tak dapat mendidik Puterinya sendiri.


Diandra mengelus bahu Joey. "Sabar ya Sayang... Ini semua cobaan dari Allah. Allah sedang menguji keimanan Kita." Diandra menghibur Suaminya.


Ustadz Joey mengangguk.


Mereka pun akhirnya berpamitan pada Fitri.


Sedangkan Atala ijin tinggal disana, Dia ingin mengobrol dengan Fathir.


Diandra mengangguk dan mengelus kepala Atala lembut. "Jangan terlalu malam ya pulangnya. Mama kangen sama Kamu." Pinta Diandra.


Diandra dan Ustadz Joey memang baru saja tiba di Indonesia. Atala dan Tia menjemput Mereka di Bandara Suta.

__ADS_1


Dan Joey meminta langsung untuk diantar ke rumah orang tua Fahmi karena memang saat itu Joana sedang disana.


__ADS_2