
Lita termenung di beranda cottage tempatnya bulan madu. Padahal hari masih dini hari.
Pernikahannya yang hampir enam bulan tapi terasa ada yang kurang. Walau Krisna selalu memuaskannya dengan cara lain tapi segalanya terasa hampa.
Airmata nya mencelos begitu saja. Lita mengelus perutnya yang masih rata. Atau mungkin akan rata selama nya.
Krisna mengerjab seraya ingin memeluk Lita tapi Lita tak ada disisinya. Krisna mendongak mencari Lita.
Krisna duduk ditepi ranjang mengumpulkan tenaga nya untuk berdiri dan berjalan ke beranda. Dia melihat Lita berdiri disana. Hijab nya berkibar tertiup angin malam yang cukup menusuk tulang.
Krisna berdiri, berjalan perlahan. Membuka pintu beranda secara perlahan.
Lita cepat-cepat mengusap airmata nya. Dia mendengar decit pintu yang terbuka.
Krisna sudah memeluk perutnya dari belakang dan meletakan dagunya di bahu Lita.
"Ada apa Sayang? Kenapa belum tidur?" Tanya nya lembut.
"Aacchh... Aku sedang memandang bulan dan bintang di langit. Indah bukan?" Lita mencoba menetralkan suaranya.
Krisna membalikan tubuh Lita. Memandang kedalam manik mata Lita. Krisna mengecupi kedua mata Lita yang terlihat terluka. "Apakah Kau tak bahagia menikah dengan Ku? Dengan kondisi Ku yang kurang ini?" Krisna memahami kalau Lita habis menangis.
Lita langsung memeluk tubuh Krisna. Lita terisak. Krisna mengelus punggung Lita.
"Maafkan Aku...." Krisna menahan airmatanya yang akan mencelos.
Lita menggeleng. "Ini bukan salah Kakak, mungkin ini sudah takdir untuk Kita." Kata Lita yang masih terisak.
Krisna menggendong tubuh Lita, Lita mengalungkan tangannya ke leher Krisna. Krisna mengecup bibir Lita. "Apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Aku karena Aku tak akan sanggup hidup tanpa Mu." Pinta Krisna.
Lita mengangguk dan menenggelamkan wajahnya ke dada Krisna.
Krisna merebahkan Lita ke ranjang dengan perlahan. Membuka hijab Lita. Mengecupi seluruh wajah Lita, membuka kancing piyama Lita satu persatu.
Mereka melakukannya lagi tapi tetap dengan cara lain.
____________________________
Satu Bulan Kemudian.
__ADS_1
"Kami sekeluarga memohon maaf yang sebesar-besar nya kepada Keluarga Tuan Alex karena pernikahan Puteri Kami yang mendadak dan membuat Leo terluka."
Lambok, Tia, Atala dan Fathir ditemani Ustadz Joey sedang bertandang ke rumah Tuan Alex, Papa Leo.
"Tidak Tuan Lambok, Ini bukan salah Kalian. Mungkin memang sudah garis hidup Kita tak jadi berbesanan. Kami juga sudah mendengar dari Leo. Saat itu Kami ingin ke rumah Anda, tapi Leo melarang, karena Dia yakin Lita masih sangat mencintai Leo." Kata Tuan Alex yang ditemani Lisa, Istri nya.
Sedangkan Leo sedang ada seminar di Surabaya. Leo tidak tahu perihal kedatangan Keluarga Lita. Karena memang Lambok dan Keluarga datang begitu mendadak.
"Kami juga sebenarnya sangat terkejut dengan berita ini. Tapi apa yang bisa Kami perbuat selain merestui pernikahan Lita dengan Krisna." Lambok menunduk. Dia merasa tak enak hati dengan Keluarga Tuan Alex.
Tuan Alex menghela nafas. "Lita sudah Saya anggap seperti Puteri Kami sendiri. Saya hanya dapat mendoakan rumah tangga Lita bahagia, mendapatkan keturunan yang shaleh dan shalehah..."
"Aamiinn...." Jawab Semua yang ada disana.
"Dan Leo segera mendapatkan pengganti Lita yang jauh lebih baik dan sempurna." Tambah Lambok.
"Aamiin...."
Tia terlihat sedih. Pernikahan Lita dan Leo yang gagal karena Lita tak ingin membuat Leo kecewa karena Lita tak akan bisa memberi keturunan pada Leo. Itu berarti Lita akan membuat Leo dan Keluarga besar nya akan kecewa karena Lita tak dapat memberikan Cucu-cucu untuk Mereka.
Lambok yang melihat perubahan wajah Tia langsung merengkuhnya. "Sabar Sayang..." Bisik Lambok.
Tuan Alex juga dari tadi sudah merengkuh Istri nya yang terlihat sedih. Apalagi Lisa yang terlihat sudah terisak. Dia sangat menyayangi Lita namun apa hendak dikata, Kuasa Allah SWT tak ada yang dapat menolak.
_____________________________
Satu tahun Kemudian
"Ibuuuuu.... Teman-teman Caca di sekolah punya dede bayi... Caca juga mau punya dede bayi..." Rengek Caca.
Lita tersedak dan batuk. Lita meminggirkan mobil nya. Ya, Lita baru saja menjemput Caca di sekolah nya.
"Ibu kenapa? Ibu cakit yah?" Caca melihat khawatir karena Lita yang sudah mengeluarkan airmata karena tersedak dan batuk.
Lita menggeleng dan langsung meminum air mineral yang ada di sampingnya.
"Ibu.... Ibu malah ya cama Caca? Apa Caca calah minta dede bayi?" Caca terlihat cemas dengan raut wajah Lita yang sudah berkabut.
Lita langsung memeluk tubuh Caca. "Tidak Sayang... Ibu gak marah... Maafkan Ibu ya Nak... Ibu belum bisa kasih Kamu dede bayi... Hik... hik... hik..." Lita terisak.
__ADS_1
"Bu.... Maafin Caca... Kalau Caca minta Dede bayi bikin Ibu nangis.... Caca janji dak akan minta dede bayi lagi..." Caca mengusap airmata Lita saat Dia melerai pelukan Lita.
Lita tersenyum. "Makasih Sayang..." Lita mengecup kening Caca dan pipi Caca.
Caca kembali duduk di jok nya dengan posisi menghadap kedepan. Lita kembali menghidupkan mobilnya.
Lima belas menit kemudian. Mereka tiba di depan ruko Klinik Salsabillah.
"Ayo Sayaaang... Ayah kayaknya kerepotan tuh, pasiennya banyak menunggu." Lita menggandeng tangan Caca setelah turun dari mobil.
"Assalamu alaikum..." Salam Lita saat masuk ke Klinik nya.
"Wa alaikumussalaam...." Jawab para pasien yang sedang duduk mengantri. "Alhamdulillaah Bu Dokter sudah datang..." Kata salah seorang pasien.
Lita tersenyum dan menghampiri meja pendaftaran pasien. "Pak Dokter keteter yah?" Tanya Lita.
"Ya Bu, soalnya ada pasien yang ditangani serius sama Pak Dokter." Kata Akbar yang duduk di meja pendaftaran.
"Baik, Saya bawa ini yah." Kata Lita sambil membawa kartu berobat beberapa pasien.
Akbar pun ikut masuk mengikuti Lita. Dan setelah Lita siap Akbar langsung memanggil satu persatu pasiennya. Sedangkan Caca sudah naik ke lantai dua dengan ditemani Latifah, Asisten yang membantu di Klinik.
____________________________
Jam menunjukan pukul sepuluh malam. Caca sudah tertidur pulas di kamar nya setelah Lita menemani dan bercerita.
Lita masih berdiri di balkon kamarnya. Hati nya sedih mengingat perkataan Caca siang tadi.
"Aku mau punya dede bayi, Bu....." Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Lita.
Sebuah tangan melingkar di perut Lita. "Ada apa Sayang? Apa Puteri Kita membuat Mu sedih lagi?" Tanya Krisna yang seakan tahu kesedihan Lita.
Caca sudah bercerita pada Krisna kalau tadi sepulang sekolah, Caca membuat Ibu nya menangis karena Caca menginginkan Dede bayi. Caca berjanji pada Ayah nya tak akan meminta dede bayi lagi sama Ibu nya.
Lita membalikkan tubuh nya. "Caca... Meminta Ade bayi... hik... hik... hik..." Lita memang sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun dari Krisna.
Krisna memeluk tubuh Lita. "Sabar Sayang... Kita sudah berusaha mengobati kekurangan Kita. Kita serahkan semua pada Allah Yang Maha Kuasa."
Lita yang ahli saraf sudah memeriksakan penyakit Krisna. Ada saraf yang terputus pada bagian Vital Krisna saat terjadi penembakan itu. Dan itu tak mungkin bisa tersambung lagi. Tapi Lita berbohong pada Krisna kalau Krisna bisa sehat lagi. Lita tak ingin membuat Krisna frustasi.
__ADS_1
Sedangkan Krisna juga sudah memeriksa kondisi rahim Lita. Masih ada kesempatan bagi Lita untuk mengandung dan melahirkan anak. Krisna terus menyemangati Lita kalau Dia akan menjadi perempuan yang sempurna.