CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Devi


__ADS_3

Laki-laki yang dipanggil Ayah itu merebahkan kembali tubuh Wanita yang penuh luka itu. Dia kembali diam.


"Ayah... Kenapa Ibu gak bangun-bangun? Tadi kan Ibu udah minum...." Caca mengrucutkan bibir nya. Sejak ada Wanita itu, Caca merasa punya teman walau tak bisa bicara.


Saat Sang Ayah pergi melaut atau ke Kabupaten, Caca selalu mengajak ngobrol Wanita yang terbaring di dipan. Kadang Caca mengajaknya main boneka.


Dan Caca termasuk anak yang sabar ketika Dia merasa, Wanita itu tidak merespon ajakannya. Makanya saat Wanita itu menggerakkan jemari nya, Caca terlihat senang.


"Biarkan Ibu istirahat, yah Sayang.... Sebentar lagi Ibu akan membuka mata nya." Kata Sang Ayah.


"Caca udah gak cabalan mau main cama Ibu." Kata Anak kecil itu dengan senyum sumringah.


Ayah nya hanya tersenyum mendengar celoteh Puteri nya. Sang Ayah menghela nafas mengingat selama lahir, Caca tidak pernah merasakan sedikit pun kasih sayang seorang Ibu. Diri nya lah yang merangkap sebagai Ayah juga Ibu bagi Caca.


Mulut Wanita itu berucap terbata-bata. Melantunkan surat Ar Rahman. Keringat dingin mengucur dari dahi nya.


Ayah nya Caca mengelap wajah Wanita itu yang berkeringat. Sampai saat ini tubuh nya hanya terbalut 2 lembar kain panjang.


"Kasihan sekali Kamu.... Dimana Keluarga Mu. Mereka pasti merasa kehilangan." Laki-laki itu menghela nafas. Dia tersenyum mendengar alunan Surat Ar Rahman yang diucapkan Wanita itu walau terbata.


Perlahan mata nya berkedip. Mencoba membiasakan untuk melihat. Bibir nya tak henti melantunkan surat Ar Rahman. Dia membuka matanya. Melihat sekeliling. Hanya tembok pembatas dari bilik bambu.


Dia menatap seorang anak kecil yang sangat cantik dan imut-imut. Rambutnya dikuncir dua. Wanita itu tersenyum walau Dia juga merasa heran.


"Ibu......" Tegur Caca. Caca terlihat senang akhir nya Wanita itu dapat melihatnya dan memberikan senyumannya untuk pertama kali.


"Aku dimana?" Tanya Wanita itu.


"Ayah.... Ibu nanya dimana?" Tanya Caca.


"Hhmmm..." Laki-laki itu berdehem.


Wanita itu menoleh dan nampak kaget. Ternyata diantara dirinya ada Pria dewasa di dekatnya.


"Kamu siapa? Kenapa Saya ada disini?" Tanya Wanita itu.


"Apa Kamu ingin duduk bersandar?" Tanya laki-laki itu.


Wanita itu mengangguk. Tubuh nya terasa kaku. Entah sudah berapa lama Dia ada disini.


Laki-laki itu membantu Wanita itu bersandar pada tembok bilik dekat dipan. Wanita itu merasa sandarannya sangat membal, tidak keras seperti tembok.

__ADS_1


Wanita itu kembali melihat sekeliling. Nampak cahaya kecil-kecil yang tembus dari bilik bambu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Wanita itu.


"Apa Kamu tidak ingat apa pun?" Tanya Laki-laki itu.


Wanita itu menggeleng.


"Tapi tadi Kamu melantunkan Surat Ar Rahman." Kata Laki-laki itu.


"Tadi ada suara laki-laki melantunkan Surat Ar Rahman dengan merdu, Saya mengikuti suara itu." Kata Wanita itu.


Laki-laki itu hanya mengangguk. "Hhmmm perkenalkan, Aku Krisna dan ini Puteri Ku, Syasa." Kata Krisna.


Wanita itu tersenyum. "Puteri Mu sangat cantik. Tapi dimana Istri mu?" Tanya Wanita itu.


"Mama Ku dak ada Bu... Mama Ku ibu aja yah?" Pinta Caca.


Wanita itu tersenyum. Kemudian menatap Krisna meminta jawaban.


"Cerita nya panjang. Nanti kalau Kamu sudah sehat betul, Saya akan menceritakan pada Mu. Sekarang Kamu makan dulu yah. Tubuh Kamu perlu asupan gizi. Sudah sebulan Kamu tidak sadarkan diri." Jelas Krisna.


"Innalillaahi... Selama itu? Pantas saja tubuh Ku terasa Kaku. Dan ini...." Wanita itu tidak dapat menggerakkan tangan kanannya.


Wanita itu menggeleng.


"Ya Allah... Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Wanita ini tak mengingat apa pun?" Batin Krisna.


Krisna menyuapkan bubur yang Dia masak sendiri dicampur dengan rempah-rempah dan sayuran.


"Ayah... Aku mau ya..." Pinta Caca memelas.


"Boleh Sayang... Ayah buat banyak kok. Kamu kan suka dengan bubur ini." Krisna tersenyum pada Puteri nya. Dan mengambilkan Caca semangkuk bubur.


"Sebentar yah..." Pamit Krisna.


Wanita itu mengangguk seraya tersenyum.


"Ini Sayang... Pelan-pelan yah... Masih panas." Kata Krisna. "Jangan lupa baca doa."


Caca terlihat sangat senang. Setelah membaca doa makan dengan bibir cadel nya, Dia segera menyantap bubur nya dengan lahab.

__ADS_1


Krisna kembali menyuapi Wanita itu. "Mohon maaf... Tempo hari Aku merobek pakaian Kamu. Karena tubuh Kamu terluka disana sini. Aku harus segera mengobati Mu. Disini tidak ada Wanita selain Puteri Ku. Tapi Sumpah Demi Allah, Aku tidak melakukan hal yang kurang ajar pada Mu." Krisna merasa bersalah karena telah melihat tubuh polos Wanita itu.


Wanita itu wajah nya bersemu merah. Dia tak percaya, laki-laki dihadapannya telah melihat semua tubuh nya. Wanita itu menunduk. Dia memperhatikan pakaian yang menutup tubuh nya. Hanya kain panjang yang dililitkan tapi nampak bersih. Seperti nya selalu diganti.


"Terima Kasih karena Kamu sudah menolong Ku..." Wanita itu masih menunduk.


Krisna menyuapkan kembali bubur pada Wanita itu. "Lalu siapa nama Mu?" Tanya Krisna.


Wanita itu nampak berpikir dan mengingat. Kepala nya terasa sakit. Kemudian Dia menggeleng. "Aku tidak ingat." Kata Wanita itu.


"Sebelum Aku menemukan Mu, Aku sempat mendengar di pasar Kabupaten kalau ada bencana pting beliung yang menghantam sebagian kepulauan di seberang sana. Tapi Aku tak percaya Kamu sampai terdampar kesini. Karena sangat jauh sekali." Jelas Krisna.


"Memang nya sekarang Aku dimana?" Tanya Wanita itu.


"Di Pulau Kalimantan. Tapi Kita berada di ujung timur dari pulau Kalimantan." Jelas Krisna.


"Sepertinya Kamu terombang ambing dilautan selama beberapa hari. Subhanallaah... Allah melindungi diri Mu." Kata Krisna.


"Maaf... Aku tidak ingat apa-apa." Kata Wanita itu.


"Gak apa... Pelan-pelan... Jangan dipaksa. Aku akan membantu Mu mengobati sakit Mu. Alhamdulillah luka-luka ditubuh Mu sudah mengering. Yang di pinggang juga sudah berangsur kering." Jelas Krisna.


Krisna menceritakan perihal Dia menemukan Wanita itu dan menyebutkan luka-luka yang terdapat di tubuh Wanita itu.


"Bagaimana kalau Aku memanggil Mu dengan nama Devi?" Saran Krisna.


Wanita itu mengangguk senang. "Terima kasih..." Kata Devi panggilan baru untuk diri nya.


"Ayah... Caca mau lagi..." Ucap Caca sambil menyodorkan mangkuk nya yang sudah kosong.


"Waahhh... Caca pintar yah..." Puji Devi.


Krisna tersenyum dan mengambil mangkuk dari tangan Puteri nya. Dan memberikan kembali Mangkuk yang sudah terisi kepada Puteri nya.


Bubur di mangkuk Devi juga sudah kosong. Krisna tersenyum. "Apa Kamu menyukai nya?" Tanya Krisna.


Devi mengangguk. "Rasa nya enak dan berbagai rasa bumbu..." Puji Devi.


Bubur ini memang ku racik dengan rempah-rempah penangkal racun. Karena Kita tinggal di tempat yang penuh dengan hewan beracun. "Oh yaah... Mudah-mudahan bubur ini membuat Mu cepat pulih." Kata Krisna tulus.


Krisna akan beranjak. Namun Devi menahannya dengan kata-kata: "Krisna... Kalau Aku sudah sehat, boleh kah Aku tinggal disini? Aku gak tahu harus kemana...." Devi memohon.

__ADS_1


Krisna tersenyum. "Boleh... Aku juga akan membantu mencari Keluarga Mu." Janji Krisna.


"Terima kasih...." Senyum Devi.


__ADS_2