
Atala sudah pergi menjemput Twins ke sekolah dengan menggunakan mobil Mama nya.
Atala memang sudah mempunyai SIM. Minggu lalu saat ulang tahun nya yang ke 17, Atala langsung meminta pada Papa nya untuk segera membuat SIM setelah KTP nya jadi.
Lambok mengabulkannya karena Atala memang senang sekali menjemput adik-adiknya. Dia juga berjanji akan mengantar Sang Mama jika ingin bepergian jika Papa nya sibuk.
Tia sedang duduk termenung di meja makan. Tristan sudah tidur ditemani Lambok setelah makan siang tadi.
"Loh kok Sayang Aku, melamun?" Tiba-tiba Lambok sudah berada di ruang meja makan. Lambok masih memakai sarung dan baju Koko.
Tia menoleh. "Sayang gak balik ke kantor?" Tanya Tia yang malah balik bertanya.
"Bagaimana Aku akan meninggalkanmu? Kamu terlihat sedih dari tadi." Kata Lambok seraya menggendong tubuh Tia dan membawanya ke kamar.
Tia mengalungkan tangannya ke leher Lambok. "Aku takut Sayang." Kata Tia pelan.
"Takut kenapa?" Tanya Lambok yang masih menggendong Tia sambil berjalan menaiki tangga.
"Lambat laun, Atala harus tahu kebenarannya kalau dia bukan Putra kandung Kita." Mata Tia mulai berkaca-kaca.
"Ya Sayang... Itu wajib. Bagaimanapun Atala harus diberitahu yang sebenarnya. Daripada nanti Dia tahu dari orang lain?" Kata Lambok.
"Tidak ada yang tahu Kak, selain kerabat dekat Kita." Kata Tia.
Lambok mendudukan tubuh Tia dipinggir ranjang. Lambok berjongkok di depan Tia.
Lambok menghela nafas. "Aku juga sering memikirkan ini. Apalagi kedekatan Atala dengan Vita. Kita berdosa membiarkan Atala memeluk Putri Kita, karena bagaimana pun Atala bukan Mahram nya." Kata Lambok.
Tia mengangguk. "Aku gak akan sanggup jika Atala meninggalkan Aku." Tia mulai terisak.
Lambok memeluknya masih dalam posisi berjongkok. Lambok mengelus punggung Tia. "Aku yakin, Atala anak yang sangat baik. Dia sangat mencintaimu. Dia tak akan membiarkanmu bersedih dengan meninggalkanmu, jika dia tahu siapa dirinya yang sebenarnya."
"Atala sudah mulai Dewasa dalam bersikap, Sayang. Kita serahkan saja semua pada Allah. Allah yang mempunyai hati-hati Kita. Yang terpenting, selama ini Kita tak pernah sekalipun menyia-nyiakan amanah yang telah Allah berikan pada Kita."
Lambok melerai pelukannya. Dia mengusap mata Tia lembut. Lambok mencium kedua mata Tia. "Aku menginginkannya Sayang..." Bisik Lambok.
Lambok segera menyusuri leher Tia. Tia menerima perlakuan Lambok dengan senang hati. Tia memang tak pernah menolak jika kapanpun suaminya menginginkannya.
Lambok menggendong tubuh Tia ke atas ranjang dan merebahkannya. Lambok melakukannya dengan lembut dan Tia sangat menyukainya.
__________________
Di Sekolah
Atala baru saja memarkirkan mobilnya di pekarangan parkir sekolah Twins. Atala keluar dari dalam mobil.
"Kak Atala...." Panggil teman-teman Twins yang melihat Atala.
Atala menoleh dan tersenyum. "Dimana Twins?" Tanya Atala.
"Tuh mereka baru keluar kelas." Kata salah seorang teman Twins.
__ADS_1
"Ya ampun.... Kak Atala tampan banget sih? Kak tungguin Aku yah." Canda Cindi.
Atala mengernyitkan keningnya. "Memang mau kemana?" Tanya Atala bingung.
"Tungguin Aku sampe Aku siap jadi pendamping hidup Kak Atala..." Cindi terkekeh.
Teman Cindi mencubit pinggangnya. "Enak saja... Sama Aku saja Kak." Kata Sella.
Atala hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-teman Twins. "Anak jaman Now... lebih berani." Batin Atala.
Atala melambaikan tangannya pada Twins dan tak menghiraukan manjaan teman-teman Twins. "Maaf ya Adik-adikku... Kakak sedang buru-buru." Sambil melepas pelukan mereka dari tubuh Atala.
"Whats? Kok adik sih? Kak Atala... Aku padamu." Kata Cindi.
"Kalian masih kecil. Pentingkan sekolah kalian. Nanti kalau sudah lulus sekolah baru memikirkan untuk yang lain." Tegas Atala.
"Iiihhh Kak Atala..." Manja Sella.
Tiba-tiba tangan Sella dan Cindi ditarik keras oleh Lita. "Kalian ini apa-apaan sih?! Gak punya malu yah?! Sudah ditolak Kak Atala masih saja merayu Kakakku." Ketus Lita.
"Iiissshhh Lita... Aku kan calon Kakak iparmu." Cindi menghempas tangan Lita.
"Ciiihhh... gak sudi Aku punya Kakak ipar kaya Kamu." Hardik Lita.
"Awas yah Kalian... Kalau Aku lihat pegang-pegang Kakak ku lagi...." Lita tak meneruskan kata-katanya.
Cinda dan Sella sudah tahu Lita akan berbicara apa. "Yaaaa... Iiihhh Kamu bisa nya ngancem..." Sella mengrucutkan bibirnya.
Atala memperhatikan Vita yang tak menghiraukan teman-temannya yang menggoda Atala.
"Ayo Dek..." Kata Atala yang menggandeng tangan Lita. Lita segera merangkul pinggang Atala.
"Kak Vita diam saja sih?" Lita terlihat kesal melihat Vita tak membantunya menghadapi Cindi dan Sella.
"Buat apa? Kak Atala juga sudah menolaknya. Kamu keluarin emosi buat yang mubazir aja." Kata Vita lembut.
Lita mengrucutkan bibirnya. Atala tersenyum melihat kelakuan Twins. "Sekarang Kita kemana?" Tanya Atala.
"Aku mau cari buku, Kak." Kata Vita.
"Mama sudah tahu?" Atala menoleh kearah Vita.
Vita mengangguk. "Tadi sebelum berangkat sekolah Aku sudah ijin sama Mama." Kata Vita.
"Ya Kak... Ada buku pelajaran yang harus Kita beli." Kata Lita.
"Ok... Berangkat." Canda Atala. "Bismillaah..." Ucap Atala yang segera menstarter mobilnya.
"Papa sudah pulang Kak?" Tanya Lita.
"Tadi Papa makan siang di rumah. Balik lagi ke kantor atau gak, Kakak juga gak tahu. Tadi Kakak berangkat, Papa lagi menidurkan Tristan." Kata Atala.
__ADS_1
"Papa itu Suami idaman banget yah Kak. Papa gak pernah mengeluh membantu Mama." Puji Lita.
Atala tersenyum. "Papa sangat mencintai Mama."
"Papa dan Mama juga mencintai Kita." Kata Vita.
Atala menoleh pada Vita dan mencubit Pipi Vita lembut.
Vita memang duduk di samping kursi Atala sedangkan Lita di kursi belakang. Lita tersenyum melihat Atala yang menyayangi Mereka.
"Kak... Tapi nanti mampir dulu beli burger. Aku lapar." Kata Lita.
"Makan saja sekalian, Dek." Kata Atala.
"Aku mau makan masakan Mama." Kata Lita.
Atala tersenyum. "Lita memang seperti Papa yang selalu tak mau absen makan masakan Mama." Batin Atala.
"Ya sudah. Kamu Vita? Mau makan apa?" Tanya Atala.
"Samain aja Kak sama Lita. Biar Kita cepat sampai rumah. Aku kangen sama Tristan." Kata Vita.
"Sama Kak Atala gak kangen?" Goda Atala.
"Kan Kak Atala ada disini. Jadi kangennya sudah terbayar." Kata Vita yang sudah tersipu malu.
Atala terkekeh. Lita tersenyum. Dia melihat Atala dan Vita persis seperti melihat Papa dan Mama nya. "Mungkin waktu Mama dan Papa masih muda, kaya gini kali ya?" Batin Lita.
Atala yang melihat Lita dari kaca spion heran. "Kenapa Kamu senyum-senyum sendiri Lita?" Tanya Atala.
"Hhaahhh... Eng... eh itu....Apa?" Kata Lita yang terlihat gugup.
"Kenapa jadi gugup. Kamu melamun apa?" Selidik Atala.
"Iihhh Kak Atala mau tau aja deh." Kata Lita yang mengrucutkan bibirnya.
Atala gemas melihat Lita, hanya saja dia sedang menyetir.
"Oh ya Kak... Gimana pengumuman UMPTN nya?" Tanya Lita yang mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillaah diterima." Kata Atala.
"Alhamdulillaah... Kak Fathir gimana?" Tanya Vita.
"Alhamdulillaah Fathir juga diterima." Kata Atala. Atala juga menceritakan perihal dia menjahili Sang Papa.
Vita dan Lita tertawa. "Kakak iseng iihh.." Kata Lita yang masih terkekeh.
"Papa gak marah Kak?" Tanya Vita.
"Gak lah... Papa Kita kan Papa terbaik." Puji Atala.
__ADS_1
Mereka tertawa bahagia. Tak lama mobil Mereka sudah tiba di parkiran basement sebuah mall besar di Jakarta.