CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Apartemen


__ADS_3

"Ini bukan jalan ke mess ku, Dokter." Lita terlihat khawatir.


"Siapa juga yang mau antar Kamu ke Mess. Kan Aku sudah bilang, Aku sediakan ruang ICU untukmu di apartemenku." Goda Leo.


"Tapi Dokter...." Lita mau protes.


"Sudah jangan banyak bantah. Atau Aku putar balik ke RS lagi." Canda Leo.


Lita mengrucutkan bibirnya sambil bersedekap.


Tak lama mobil Leo memasuki kawasan apartemen dengan pemandangan laut.


"Ini kan....." Lita mengingat terakhir kali Dia ke pantai.


Leo hanya tersenyum. Dia memutar setirnya ke basemant apartemen. Leo pun memarkirkan mobilnya di parkiran unitnya.


"Ini apartemen Dokter?" Tanya Lita.


Leo mengangguk. Leo menatap Lita sambil tersenyum. "Ayo Kita ke atas." Ajak Leo.


"Tapi....." Lita mencoba menolak.


Leo sudah melepas setbelt nya dan membuka pintu mobil. Dia juga langsung membukakan pintu untuk Lita. "Kita istirahat di atas. Semoga Kamu lebih relax disini." Leo mengulurkan tangannya kepada Lita.


Lita nampak ragu, tapi tatapan Leo yang penuh harap, membuat Lita tak bisa menolak. Lita menggenggam telapak tangan Leo dan turun dari mobil.


"Apa mau Aku gendong sampai atas?" Goda Leo.


"Dokter.... Please...." Lita mengrucutkan bibirnya.


Leo mencubit pipi Lita dengan gemas. "Baik Tuan Puteri." Leo juga menurunkan tas-tas Lita.


"Apa harus dibawa turun juga? Aku gak menginap kan?" Lita merasa tak enak jika harus satu unit dengan Leo.


"Nanti malam Aku tidur di rumah Papa. Kamu tidur disini." Kata Leo.


"Tapi kenapa Aku tak diantar ke Mess?" Lita masih protes.


"Ya Tuhan... Kenapa Kamu bawel sekali hhmmm..??" Leo menepak jidadnya sendiri.


Lita merapatkan bibirnya. Dia menggerakan jemari nya ke bibir, membentuk orang yang mensleting bibirnya kemudian menguncinya. Setelah itu tangannya bergerak seakan membuang kunci tadi.


Leo sedikit heran, tapi akhirnya tertawa seakan mengerti apa yang dilakukan Lita. "Hahahahaha... Kamu lucu sekali. Kalau dikunci begitu terus dibuang kuncinya, Aku mau cari kemana gantinya? Hahahaha..."


Lita hanya diam menahan tawa. Lita menaikan bahunya.


Leo merangkul bahu Lita sambil menenteng tas Lita. Lita tidak protes karena mulutnya terkunci.


10 menit kemudian, Mereka telah sampai di depan unit milik Leo. Leo menekan 6 digit angka sebagai kunci unitnya setelah menggesek akses nya.


"Silahkan masuk...." Leo mempersilahkan Lita masuk.

__ADS_1


"Assalamu alaikum." Salam Lita.


Leo terlihat bingung. "Kan mulutnya dikunci, kok bisa ngomong?" Canda Leo.


Lita kembali bungkam tak menjawab rasa penasaran Leo.


Leo meletakan tas Lita kedalam kamar yang bersebelahan dengan kamar nya. "Ini kamar mu. Apa Kamu mau melihatnya?" Tawar Leo.


Lita beranjak ke arah kamar itu. Lita masuk kedalam kamar, membuka pintu kaca ke arah balkon. Lita sangat takjub dengan pemandangan pantai. "Subhanallaah...." Lita mengagumi ciptaan Tuhan.


"Kamu suka?" Tanya Leo.


Lita mengangguk. "Terima kasih. Jadi Dokter melihat ku disana?" Lita menunjuk tempatnya duduk di pantai sembilan hari yang lalu.


Leo mengangguk. "Aku tak mengira kalau itu Kamu. Aku hanya berniat menolong gadis berhijab itu. Karena kondisinya yang sudah lemah." Jelas Leo.


"Jadi... Walau gadis itu bukan Aku, Dokter tetap menolongnya?" Tanya Lita.


Leo mengangguk sambil tersenyum. "Aku gak tega melihat orang lain kesusahan, siapa pun itu tanpa memandang Mereka siapa." Kata Leo.


Lita hanya diam. Dalam hati Lita kagum dengan kebaikan Leo. Dia begitu peduli pada sesama padahal yang Dia tolong gadis berhijab yang notabene kurang dianggap di Negara ini.


"Aku belajar dari dua gadis berhijab yang menolong Papa ku. Mereka tak memandang siapa yang Mereka tolong, walau Mereka tahu keberadaan Mereka disini kurang dianggap." Jelas Leo.


Lita hanya menunduk. Wajah nya bersemu merah. "Aku hanya belajar dari sikap kedua orangtua ku." Kata Lita lembut.


"Aku menyukai kedua orangtua mu. Aku juga menyayangi saudara-saudaramu." Kata Leo. "Mereka orang baik. Seandainya Aku terlahir dari keluarga Kalian...." Leo tak meneruskan perkataannya.


"Papa Dokter juga baik." Kata Lita cepat.


"Gak apa Dokter. Itu kan sudah jadi kewajibanku sebagai calon Dokter." Lita terkekeh.


Leo mengelus acak kepala Lita. "Kamu pintar menyaut. Kamu istirahat ya. Aku mau bersih-bersih dulu." Kata Leo.


Lita mengangguk. "Dokter...." Panggil Lita menahan langkah Leo.


"Hhmmmm..??" Leo berbalik karena panggilan Lita.


"Terima kasih." Kata Lita ramah.


Leo mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Leo menutup pintu kamar Lita. Dia menuju kamarnya.


Dua Jam Kemudian.


Lita merasa kesepian walau pemandangan sangat indah. "Kenapa Dokter tak terdengar aktifitasnya ya? Apa Dia tertidur?" Gumam Lita.


Lita telah merapihkan kamar nya dan barang-barang bawaannya. Lita keluar kamar. Dia melihat kamar Leo yang pintu nya sedikit terbuka. Lita mengintip ke dalam kamar Leo.


"Ya Allah... Dia tertidur..." Lita membuka pintu kamar Leo perlahan. Lita memandangi wajah Leo yang tenang saat tertidur.


Lita tersenyum. "Semoga hati mu tenang seperti parasmu saat tertidur." Batin Lita sambil tersenyum.

__ADS_1


Lita beranjak keluar kamar Leo. Perlahan Lita merapatkan pintu kamar Leo. Lita beranjak ke dapur. Dia membuka pintu kulkas dan memeriksa apa isi nya.


Lita tersenyum. "Ternyata Kamu suka masak juga ya." Batin Lita.


Lita mengambil beberapa bahan makanan dan sayuran juga buah. Lita ingin membuat salad. Lita juga mengeluarkan daging dari frezer dan kentang siap goreng.


Lita mulai berkutat di dapur. Rasa lemas badannya tak Lita rasakan. Lita rindu masakannya sendiri. Walau selama di Rumah Sakit Lita tak pernah makan makanan Rumah Sakit, tapi Lita rindu buatannya sendiri.


Satu jam sudah Lita berkutat di dapur. Lita mulai menyajikan masakannya hasil karya nya.


"Hhmmm.... Wangi sekali..." Terdengar suara Leo.


Lita tersenyum melihat Leo yang mengucek matanya. Persis kaya anak kecil yang baru bangun tidur dan minta susu sama Mama nya.


"Dokter sudah bangun? Kok cepat?" Tanya Lita.


"Aku mencium aroma sedap. Aku pikir Aku mimpi sedang berada di resto favorit ku, ternyata nyata di unit ku." Canda Leo.


"Dokter bisa saja." Kata Lita.


"Apa boleh Aku mencicipi nya?" Tanya Leo.


"Dokter gak cuci muka dulu?" Tanya Lita.


Leo menggeleng. "Cacing di perutku sudah berontak. Aku lapar sekali." Leo melihat jam di dinding. "Ya Tuhan... Lama juga Aku tertidur. Maaf ya, Aku malah meninggalkan Kamu." Kata Leo tulus.


"Gak apa Dokter. Aku baik-baik saja kok. Tapi maaf... Kalau masakanku tak seenak masakan resto favorit Dokter." Kata Lita.


"Pasti enak. Makan ya?" Pinta Leo.


Lita mengangguk. Lita membuka piring untuk Leo. Dan mengambilkan sepotong daging steak dan kentang juga sayurannya.


"Terima kasih Sayang.... Duuuhhh terasa dilayani Istri." Goda Leo.


Lita tersipu malu. Tak dapat dipungkiri, Lita memang menyukai Leo tapi hati nya terus berperang karena perbedaan Mereka.


"Hhhmmm... Enak sekali... Lebih enak dari resto favorit ku." Puji Leo.


"Masa siihh??" Lita tak percaya.


"He eh... Kamu belajar darimana?" Tanya Leo.


"Mama...." Kata Lita.


Leo mengangguk. "Aku jadi kangen sama Mama." Kata Leo.


"Memang Mama Dokter dimana?" Tanya Lita. Lita memang belum tahu perihal Keluarga Leo.


"Mama ku pulang ke Indonesia." Kata Leo terlihat sedih.


"Memang gak balik lagi kesini? Lalu Papa Dokter gimana?" Rasa keingin tahuan Lita sangat besar.

__ADS_1


"Kita makan dulu ya. Setelah makan, Aku janji akan menceritakan tentang keluargaku. Kalau ada yang mau ditanyakan, Aku akan jawab sejujurnya." Pinta Leo.


Lita hanya mengangguk. Dan mulai menyantap makanannya.


__ADS_2