
Baim mengantar ke rumah Pak Rahman mantan RT dulu waktu Tia ngontrak disana.
Mereka berjalan kaki. menuju rumah Pak Rahman. Tak lama.
"Ini Bu, rumah Pak Rahman." Kata Baim.
"Terima kasih ya, Baim. Nih buat jajan." Tia mengepalkan uang untuk Baim.
"Terima kasih ya Bu Tia." Kata Baim sangat senang.
Tia tersenyum sambil mengusap kepala Baim. "Sama-sama. Kamu hati-hati ya." Pesan Tia.
"Assalamu alaikum." Salam Tia, Atala da Vita di depan rumah Pak Rahman.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab yang didalam rumah. Mereka terlihat bingung melihat Atala dan Vita. Tapi mencoba mengingat setelah melihat Tia.
"Bu RT, Pak.. Masih ingat saya?" Kata Tia sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.
"Neng Tia ya? Ya Allah... Sudah lama sekali.." Kata Pak Rahman.
"Iya Pak, betul. Saya Tia. Ini Atala dan ini Vita, adik Atala." Kata Tia memperkenalkan Anak-anaknya.
"Atala? Yang waktu itu....?" Tapi Pak Rahman tak melanjutkan kata-katanya, takut Atala tahu kebenarannya.
"Gak apa Pak, Atala sudah tahu. Makanya Dia ngajak kesini." Kata Tia.
"Oohh... Maaf.. Masuk dulu atuh.. Silahkan duduk." Kata Bu Rahman.
"Terima kasih Bu...." Kata Tia.
"Ya Allah.. Atala sudah besar ya, kalah tinggi Mama nya." Kata Pak Rahman.
Atala tersenyum. "Iya Pak." Kata Atala sopan.
"Neng Tia sudah nikah? Kok suaminya gak diajak?" Tanya Pak Rahman.
"Ada Pak di mobil. Lagi gak enak badan." Kata Tia.
"Kenapa gak dibawa kesini? Diurut badannya.... Barangkali kecapean." Kata Pak Rahman.
Tia tersenyum. "Sebentar Pak, Saya tanya dulu. Suka gak mau kalau diurut." Kata Tia sambil tersenyum.
Tia mendial nomor ponsel Lambok. Tak lama. "Sayang.. tunggu Papa di depan. Papa dan Lita juga Tristan mau kesini." Kata Tia.
"Ya Ma." Kata Atala yang segera menjemput sang Papa.
"Berapa anakmu sekarang Neng?" Tanya Pak Rahman.
"4 sama Atala, Pak." Kata Tia.
"Alhamdulillaah... Banyak anak banyak rejeki." Canda Pak Rahman.
Tia tersenyum. "Ini adik Atala, kembar. Yang satu lagi di mobil nunggu Papa nya. Ada lagi yang kecil baru umur 3 tahun." Kata Tia.
"Alhamdulillaah... Berkah ya Neng." Kata Pak Rahman.
__ADS_1
"Ya Pak. Kalau sudah jodoh gak kemana." Canda Tia.
"Assalamu alaikum..." Salam Atala yang menggendong Tristan, Lambok dan Lita.
"Wa alaikumussalaam... Sini Pak masuk. Ngapain di mobil." Canda Pak Rahman ramah sambil menyambut kedatangan Lambok dan anak-anaknya.
"Ini Suami Tia, Pak. Ini kembarannya Vita, Lita namanya. Yang kecil si bungsu." Kata Tia.
"Mang gak rencana nambah lagi?" Canda Bu Rahman.
Tia tersenyum. "Kalau masih ada rejekinya, diterima ikhlas Bu." Kata Tia.
"Memang Neng Tia gak KB?" Tanya Bu Rahman.
"Alhamdulillaah gak Bu." Kata Tia.
"Oohhh...." Bu Rahman mengangguk.
"Sini Pak... Coba saya pegang." Kata Pak Rahman yang menepuk bangku sebelahnya.
Lambok menengok ke arah Tia. Tia mengangguk. "Coba saja, Sayang... gak sakit kok." Kata Tia.
Lambok menghampiri Pak Rahman. "Saya belum pernah diurut Pak." Kata Lambok.
Pak Rahman tersenyum. Kemudian dia mulai memegang tubuh Lambok yang posisinya duduk membelakangi Pak Rahman.
"Apa Kalian kesini mencari info tentang Atala?" Tanya Pak Rahman.
"Iya Pak. Atala sudah mengetahuinya. Dia ingin tahu orangtua kandungnya. Apa Bapak jadi mencari tahu, tentang perempuan itu?" Tanya Tia.
"Bapak bingung mau menghubungi Neng Tia. Bapak hanya bisa berharap Neng Tia datang kesini." Kata Pak Rahman lagi.
"Maaf Pak, setelah dari sini Tia merintis usaha untuk menghidupi Kami berdua. Terus setahun kemudian menikah dengan Kak Lambok, lalu Kami pindah ke luar Negeri." Kata Tia yang menceritakan setelah menikah dengan Lambok, Mereka pindah ke Negara A.
Pak Rahman mengangguk. Tangannya masih terus memijat tubuh Lambok. "Ini Bapak anginnya sudah kedalon." Kata Pak Rahman.
"Kedalon? Apa itu?" Tanya Tia dan Lambok berbarengan.
Pak Rahman dan Bu Rahman tersenyum dengan kekompakan Tia dan Lambok.
"Mama dan Papa memang begitu Kek. Selalu kompak." Canda Atala.
Pak Rahman mengangguk. "Anginnya sudah mengendap lama di badan. Kalau didiamkan bisa ke jantung. Orang bilang angin duduk. Bisa bahaya kalau didiamkan." Jelas Pak Rahman.
"Oohhh..." Lambok mengangguk.
"Yang... Memang waktu keluar kota gak teratur ya makannya?" Selidik Tia.
Lambok mengangguk. "Kamu kan tahu sendiri, Aku selalu merindukan masakanmu." Puji Lambok.
"Iya....Masakan Neng Tia memang enak." Puji Bu Rahman.
"Alhamdulillaah... Kalau Ibu suka. Nanti Kita makan bersama, kebetulan Kami bawa bekal dari rumah." Kata Tia.
"Jadi gimana Pak? Ketemu?" Tia tak mau berbasa-basi tentang Atala. Tia melihat Atala yang sudah resah.
__ADS_1
"Ketemu Neng. Hanya saja Bapak gak ketemu Perempuan itu. Dia sudah pergi jadi TKW ke Negara M." Kata Pak Rahman.
"Dia sebatang kara. Gak punya orang tua. Dia tinggal bersama seorang Nenek yang menganggapnya cucu sendiri. Kata Sang Nenek, Dia memang sengaja membuang bayi nya karena akan berangkat ke Negara M." Jelas Pak Rahman.
"Lalu bagaimana dengan Ayahnya?" Tanya Tia.
"Ayahnya tak diketahui. Ada yang bilang, dia diperkosa. Ada juga yang bilang digauli pacarnya lalu mencampakkannya begitu saja." Pak Rahman melirik ke arah Atala.
Atala terlihat murung.
"Maaf ya Atala, Kamu harus mendengar berita yang tidak menyenangkan ini. Mungkin Allah lebih sayang dengan Atala dengan memberikan Mama Tia buat Atala." Kata Pak Rahman mencoba menghibur Atala.
"Berarti Atala anak haram dong Ma... Pa...?" Atala terlihat sedih.
Vita mendekat pada Atala dan memeluknya. "Kak....Kakak bukan anak haram. Tidak ada anak yang terlahir ke dunia itu haram. Tapi kelakuan mereka lah yang haram."
Atala membalas pelukan Vita. Dia merasa nyaman dipeluk Vita.
"Bener kata Adikmu, Sayang." Kata Tia membesarkan hati Atala.
"Bagi Lita, Kak Atala Kakak terbaik. Lita gak peduli Kakak anak siapa. Lita hanya tahu, Kakak anak Mama dan Papa." Kata Lita.
Atala melerai pelukannya dengan Vita. Atala mengusap rambut Lita lembut. "Terima kasih Dek. Kalian memang keluarga yang sangat special bagi Atala. Lalu bagaimana dengan Ibu Atala sekarang, Kek? Apa sudah balik dari Negara M?" Tanya Atala pada Pak Rahman.
Pak Rahman menghela nafas. "Maaf Atala, berita yang Bapak dengar terakhir, tak lama Ibu mu berangkat ke Negara M, sebulan kemudian Dia meninggal dunia karena pendarahan. Karena setelah melahirkan Kamu, dia tak pernah merawat tubuhnya." Jelas Pak Rahman.
"Inna lillaahii...." Kata Tia, Lambok, Atala dan Twins.
"Jadi Atala sudah tak punya siapa pun lagi, Kek?" Atala terlihat sedih.
"Kata siapa Kamu tak punya siapa-siapa? Lalu Kamu anggap apa Papa, Mama dan Adik-adik Kamu?" Lambok agak kesal sambil menahan sakit karena pijatan Pak Rahman.
"Maaf Pa... Maksud Atala dari orangtua kandung Atala, Atala tak punya siapa pun." Kata Atala menunduk.
"Sudahlah Nak.... Mungkin memang Allah sengaja memilih Mama untuk merawatmu. Karena Allah Yang Maha Tahu akan nasib hidupmu." Kata Tia mencoba menghibur Atala.
Atala langsung berhambur pada Tia. Dia bersimpuh di lutut Tia. "Maafkan Atala Ma.... Kalau selama ini Atala pernah menyakiti perasaan Mama dan Papa.....Hik... hik... hik..." Atala terisak.
Tia mengusap rambut Atala. "Sudahlah Nak. Mama berulang kali bilang, Kamu itu pelita hidup Mama." Kata Tia.
"Ya Atala. Mama mu benar. Mama mu sangat bahagia waktu mendapatkan Kamu. Mama sampai berhenti kerja karena saking sayangnya sama Kamu." Kata Bu Rahman.
Atala mendongak melihat wajah Tia. Tia mengangguk, mengusap airmata Atala lembut dan mengecup kening Atala.
Atala sangat bahagia mendapat Keluarga yang sangat special.
___________________________
ASSALAMU ALAIKUM READERSππ
MINAL AIDIN WAL FA IDZIN... MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.
MOHON MAAF KALAU AUTHOR LAMA UPDATENYA. AUTHOR SEDANG SIBUK MERAYAKAN HARI RAYA IDUL FITRI.
INSYAA ALLAH SETELAH INI, AUTHOR AKAN UPDATE LEBIH SERING LAGI.
__ADS_1
TERIMA KASIH UNTUK READERS YANG SENANTIASA SETIA MENUNGGU KELANJUTAN NOVEL INI.πβ