
"Memang kalau orang pingsan, bisa berbuat itu ya?" Kata-kata Atala masih terngiang di telinga Friska.
"Lalu kalau bukan Atala yang melakukannya, siapa? Jelas-jelas Atala berada disisiku pagi itu, dan hanya menggunakan boxernya." Friska melamun di dekat jendela kamarnya.
Beberapa hari ini Atala tak datang menjenguknya. Ponselnya pun tak dapat dihubungi. Friska meneteskan airmata.
"Aku sedang mengandung anaknya, tapi Kamu tak ada peduli sedikitpun padaku, Atala....Huk... huk... huk..." Friska menangis.
Di saat-saat sedang hamil muda, perempuan akan sangat sensitif dan selalu ingin dimanja suaminya, tapi tidak dengan Friska. Semenjak keluar dari Rumah Sakit, Atala hanya beberapa kali menjenguknya itu pun Atala tak pernah menginap.
Dan kini sudah hampir seminggu Atala tak datang ke rumah orangtua nya. Ponselnya pun tak dapat dihubungi. Padahal hari ini adalah jadwalnya untuk periksa kandungannya ke Rumah Sakit.
Sebuah mobil yang tak asing bagi Friska memasuki pekarangan rumah Papa nya. Friska terlihat sangat bahagia. "Akhirnya Kamu datang juga, Atala. Dan Kamu ingat hari ini jadwalku checkup."
Friska bergegas mengambil tas slempangnya. Dia memang sudah bersiap-siap dari tadi.
Friska sangat antusias menyambut kedatangan Atala. Namun langkahnya terhenti ketika tiba di ruang tamu.
"Kamu....?! Kenapa Kamu kesini? Mana Atala?!" Tanya Friska tak senang. Dia mengrucutkan bibirnya.
Friska jadi enggan untuk check up hari ini. Dia akan pusing mendengar celotehan Fathir.
"Atala gak bisa mengantarmu, Sayang. Dia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal." Kata Mama Siska.
"Kalau gitu Aku gak jadi check up. Aku di rumah saja." Friska masih mengrucutkan bibirnya.
"Ya sudah kalau Kamu gak mau check up. Aku akan bilang sama Atala kalau Kamu tak mau memperhatikan janinmu dengan baik. Dengan begitu Atala tambah tahu, kalau Kamu bukan istri dan Ibu yang baik." Ancam Fathir dengan sedikit bercanda.
Sebenarnya Fathir malas berbasa-basi dengan Friska, Dia terlanjur sakit hati dengan kelakuan Friska sehingga membuat pernikahan Vita-Atala gagal.
Fathir hanya bersikap baik di depan orangtua nya Friska. Gak mungkin juga Dia membentak Friska di depan Mama Siska.
Mau tak mau Friska menuruti perkataan Fathir. Dengan malas Dia beranjak keluar rumah setelah berpamitan pada Mama nya.
"Hati-hati ya Sayang..." Pesan Siska. "Fathir, Tante titip Friska ya." Pinya Siska.
"Ya Tante...." Kata Fathir singkat sambil melayangkan senyumnya yang dipaksakan. Kalau bukan karena Atala, Fathir enggan mengantarkan Friska ke Rumah Sakit.
Tak lama Mobil Mereka sudah berbaur dengan kemacetan jalan Jakarta.
Keheningan terasa didalam mobil itu. Fathir enggan berbasa-basi pada Friska. "Basiiii... tahu...." Batin Fathir.
__ADS_1
"Fathir...." Tiba-tiba Friska memanggilnya dengan lembut.
Fathir terhenyak. Dia melirik kearah Friska sebentar kemudian fokus kembali pada jalan. "Hhhmmmm..." Jawab Fathir singkat.
"Sebenarnya Atala kemana?" Tanya Friska. Dia tahu Fathir masih marah padanya. Tapi ini semua bukan kesalahan Friska sepenuhnya. Friska pernah mengutarakan pada dua sahabatnya itu.
Tapi Atala dan Fathir sangat kecewa pada Friska karena belum mau cerita yang sebenarnya kejadian awal mulanya.
"Kasih tahu gak yaaaa..." Jawab Fathir asal.
"Fathiiirrr... Please.. Aku kangen sama Atala." Friska merengek.
Fathir melirik pada Friska dan tersenyum sinis. Dia kembali fokus menyetir.
"Apa Kamu lebih senang hidup menikah dengan Atala seperti ini? Kamu mencintainya tapi Atala tak punya perasaan sedikitpun padamu. Menerima kehamilan mu saja, Atala masih belum bisa." Ketus Fathir.
Fathir kejeblos ngomong. Padahal Atala sudah wanti-wanti tadi pada Fathir untuk tidak berkata kasar pada Friska.
Atala tak mengantar Friska hari ini karena Fathir yang melarangnya. Fathir gak mau, Friska besar kepala beranggapan Atala peduli padanya.
Airmata Friska sudah jatuh ke pipi. Perkataan Fathir benar. Sudah tiga bulan Mereka menikah, tapi Atala belum juga mau menyentuhnya. Atala juga gak mau tidur seranjang dengan nya. Atala memilih tidur di lantai atau Dia mengancam akan pulang kalau Friska terus memaksanya tidur di sampingnya.
"Hik... hik... hik..." Friska terisak.
"Terima kasih.. Hik.. hik... hik..." Kata Friska masih terisak sambil menerima tissue dari Fathir.
Tak lama Mereka tiba di parkiran Rumah Sakit. Fathir membukakan pintu untuk Friska. Walau bagaimana pun Fathir masih punya rasa baik pada Friska. Dia sebenarnya tidak tega sama Friska tapi Friska sangat keras kepala gak mau berterus terang.
Fathir menemani Friska menemui Dokter. Fathir juga melihat perkembangan janin Friska, Friska memintanya agar menemaninya.
Dokter hanya menggeleng melihat Friska yang meminta Fathir menemaninya. Dokter tahu, Fathir bukan suami Friska. "Dia saudara suami Saya Dok." Kata Friska lembut.
"Kenapa Suami Bu Friska tak mengantar?" Tanya Dokter.
"Suami Saya sedang sibuk kerja di luar Kota Dok. Jadi Saudaranya yang menemani Saya." Kata Friska lagi.
Dokter hanya mengangguk. Fathir terlihat terharu melihat pergerakan janin Friska. "Ya Allah... Andai saja Aku sedang menemani istriku, Pasti Aku sangat bahagia." Batin Fathir. Airmatanya sudah mengambang di pelupuk matanya.
"Kamu kenapa Fathir?" Tanya Friska tiba-tiba.
"Hah?.. Eh.. gak apa. Aku hanya terharu melihat janin Kamu. Baru kali ini Aku melihat perkembangan janin masih di rahim Ibu nya." Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
Friska tersenyum. "Kamu boleh memegangnya kalau Kamu mau." Friska mengambil tangan Fathir. Awalnya Fathir hanya diam saja, tapi Fathir buru-buru menepis tangannya yang menempel di perut Friska karena pergerakan janin Friska.
"Maafkan Aku..." Kata Fathir tak enak.
"Gak apa Fathir. Kan Aku yang memintanya." Kata Friska lembut.
Dokter mempersilahkan Friska untuk turun dari brankar. Fathir membantunya layaknya seorang Suami yang perhatian pada Istrinya.
"Terima kasih Fathir." Kata Friska senang. "Walau terkadang Fathir suka ketus padaku, tapi Fathir memiliki hati yang sangat baik dan lembut." Batin Friska. Friska menghela nafas. Dia merasa bersalah pada Atala. Tak seharusnya Dia memaksa Atala menikah dengannya.
Tapi Papa nya terus saja mendesak agar menuntut Atala menikahi Friska karena terbukti Atala yang sudah menyentuh puterinya.
"Dari sini Kamu mau kemana?" Tanya Fathir setelah Mereka keluar dari Rumah Sakit.
Friska nampak ragu. Fathir tahu itu. "Katakan saja.... Mumpung hari ini Aku sedang tak sibuk." Pinta Fathir.
"Bener Kamu mau menemaniku?" Tanya Friska berbinar, Dia tak percaya Fathir akan menemaninya.
Farhir mengangguk. Dia tahu Friska pasti bosan di rumah terus. Dia ingat Mama nya dulu kala mengandung Farah, selalu ingin dimanja Ayahnya.
"Sebenarnya Aku mau ke Mall. Aku mau makan Burger di tempat favorite kita." Kata Friska terlihat sedih.
"Ssttt....Jangan sedih lagi. Aku akan mengantarmu hari ini, kemana saja Kamu mau." Kata Fathir menghibur Friska.
Tiba-tiba Friska memeluk Fathir. "Terima kasih Fathir... Kamu baik sekali." Kata Friska manja.
"Ya tapi gak gini juga kali..." Ketus Fathir yang merasa jengah akan perlakuan Friska.
"Maaf...." Friska menunduk. Dia begitu ingin dimanja sosok suami, tapi tak Dia dapatkan dari Atala.
Fathir pun menstarter mobil Atala menuju tempat yang Friska mau.
Hari ini Friska sangat senang, walau bukan Atala yang mengantarnya, tapi Dia bersyukur ternyata Fathir masih mau peduli dengannya.
"Fathir...." panggil Friska lembut disela-sela Mereka makan burger.
"Ya..." Kata Fathir singkat sambil menatap Friska.
"Apa Atala marah padaku?" Tanya Friska.
"Kamu kenal Atala berapa lama? Apa pernah Dia marah padamu?" Tanya Fathir.
__ADS_1
Friska menggeleng. Atala dari dulu tak pernah marah sekali pun pada Friska, walau Friska sering sekali membuat jengkel Atala, dulu saat Mereka masih menjadi sahabat.