
Ibu termenung mencoba mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Tubuh rentanya duduk bersandar di sofa kesayangannya.
Lita telah bersimpuh di lutut sang Nenek sambil memijat pelan kaki Ibu. Lita sudah seminggu ini pulang kampung bersama Fahri dan Farah. Fitri dan Fahmi juga ikut serta.
Tia dan Lambok juga akan menyusul saat Atala dan Vita sudah berangkat bulan madu.
Farah memijat pelan bahu sang Nenek. Ibu tersenyum karena cucu-cucu nya sangat menyayangi nya.
Fahri sedang membantu Mama nya di dapur, Fahri memang lebih suka masak. Dia mengambil jurusan tata boga saat kuliah.
"Bang Fahri rajin banget Yah..." Puji Lita pada Fahmi.
Fahmi sedang membantu membenarkan kunci pintu rumah Nenek. "Iya Dia memang senang memasak dari dulu. Tanya Nenek." Kata Fahmi.
"Ya begitu, Nek?" Tanya Lita tak percaya.
Ibu mengangguk sambil tersenyum. "Fahri pendiam tapi kalau sudah di dapur kerja nya sangat cepat. Masakannya juga enak." Kata Ibu.
"Berarti Vera akan sangat bahagia jika menikah dengan Bang Fahri." Goda Lita.
"Memang Fahri sudah mengatakan kalau Dia akan menikahi Vera?" Tanya Ibu.
Lita tersenyum. "Belum sih Nek. Cuma Lita bisa lihat kalau Vera sangat mengagumi Bang Fahri." Kata Lita lagi.
Ibu mengelus rambut panjang Lita. "Kapan Kamu akan menutup aurat mu, Sayang? Vero itu lulusan Kairo, bukan? Sama dengan Vita." Tanya Nenek.
Lita tersipu malu. "Ya Nek... Aku tahu. Bang Vero juga sering mengingatkan Aku. Tapi Aku belum mau Nek, karena hati ku masih memikirkan Bang Vero yang belum sah sebagai suamiku." Kata Lita.
Nenek tersenyum. "Kamu itu memang paling bisa menjawab omongan Nenek."
"Iiihhh Nenek... Tapi Lita kan sayang Nenek." Kata Lita sambil merebahkan kepalanya di lutut Nenek.
__ADS_1
"Dulu waktu Nenek masih sekolah menjahit, Neneknya Vero itu Kakak kelas Nenek. Dulu itu namanya Sekolah Keterampilan. Nenek memilih menjahit karena Nenek sangat senang membuat model-model baju, semua Nenek tuang dalam gambar." Ibu mulai bercerita.
Lita mendongak mendengarkan sang Nenek bercerita. Farah pun ikut duduk bersimpuh dihadapan Nenek. Fahmi yang sudah selesai membenarkan kunci pintu ikut duduk mendengarkan cerita Ibu.
Fitri dan Fahri yang sedang menghidangkan makan siang juga seketika ikut mendengarkan cerita Ibu. Fahri sudah mematikan kompor.
"Dulu Nenek dan Nenek nya Vero itu teman baik. Usia Nenek Vero memang terpaut 3 tahun dengan Nenek. Tapi kelas Nenek dan Dia terpaut hanya 1 tingkat. Nenek kelas 1, Dia kelas 2." Nenek mencoba mengingat kembali.
"Nenek sering membantu Nenek Vero menyelesaikan tugas menjahitnya. Sepertinya Dia tak punya bakat. Jahitannya tak pernah benar. Nanti Nenek yang akan membetulkan. Dan Dinda sangat senang." Lanjut Nenek.
"Suatu ketika sekolah mengadakan Lomba membuat baju pesta. Dinda ingin ikut, Nenek juga ikut. Tapi ya itu tadi, Dinda itu tak berbakat. Masih juga Nenek yang Dia suruh mengerjakan karya nya. Tapi Nenek selalu menurutinya dengan ikhlas. Karya nya Dia sudah jadi baru Nenek mengerjakan karya Nenek."
"Dia meminta konsep seperti ini, jadi Nenek buat seperti yang Dia mau. Lalu Nenek memang sudah punya gambaran gaun seperti apa yang akan Nenek buat. Juga warna dan jenis bahannya."
"Para Juri sangat terpukau dengan karya Nenek dan menyatakan karya Nenek yang berhak dipakai oleh Puteri seorang kepala Desa. Nah dari situ Dinda sangat marah sama Nenek. Dia tak terima, Dia bilang Nenek sengaja membuat karya untuknya yang jelek. Padahal Nenek sudah sangat mengikuti keinginan Dinda, tapi Dinda menyangkal."
"Keributan Dinda di dengar oleh seorang panitia. Dan akhir nya Dinda dikeluarkan dari sekolah karena mengirim karya yang bukan hasil nya sendiri."
"Akhir nya Dinda keluar dari sekolah dan pindah ke sekolah kejuruan lain. Tapi amarah sama Nenek masih belum reda."
"Dulu Nenek sekolah di Kota. Nenek tinggal di asrama. Seminggu sekali Nenek pulang ke kampung. Nenek selalu naik kereta api kalau pulang kampung. Di saat itu Nenek bertemu Kakek mu, Kakek Arif. Kakek juga sekolah di Kota." Demikian juga dengan Dinda.
"Dinda sangat menyayangi Kakek Kalian, sebenar nya Kakek menyukai Nenek tapi ternyata orangtua Dinda dan Kakek sudah menjodohkan Mereka berdua."
"Saat Mereka akan menikah seminggu lagi, Kakek mendapat panggilan dari Angkatan Darat untuk pendidikan. Akhir nya pernikahan ditunda. Saat itu Orang tua Dinda menentang Kakek agar tidak masuk Angkatan tapi Kakek tidak mau bertopang hidup dari harta orangtua Dinda yang kaya raya dan terpandang."
"Akhirnya perjodohan Mereka batal. Dinda sangat terpukul karena Dinda sangat mencintai Kakek Arif."
"Tak lama Nenek dilamar oleh Kakek Burhan. Karena Buyut Kalian yang memang sudah menjodohkan Kakek Burhan dengan Nenek. Kakek Burhan sangat mencintai Nenek, Dia sering melihat Nenek berjalan bertiga, Nenek, Kakek Arif dan Nenek Dinda."
"Dinda juga mengenal Kakek Burhan. Entah pikiran apa yang ada di otak Dinda saat itu. Besok adalah hari pernikahan Nenek dan Kakek Burhan. Tapi Dinda malah menjebak Kakek Burhan dan Mereka melakukan hubungan terlarang. Perbuatan ini kepergok oleh Ayah Kakek Burhan."
__ADS_1
"Beliau sangat murka dan malu. Nenek saat itu juga sangat terpukul. Akhirnya Nenek melarikan diri dari rumah. Padahal Orangtua Kakek Burhan akan mengganti Burhan dengan Rusdi, adiknya. Nenek gak mau makanya Nenek kabur dari rumah."
"Ayah Nenek meminta Nenek jangan kemana-mana. Ayah Nenek menitipkan Nenek pada saudara nya di Kota tanpa sepengetahuan Ibu Nenek. Karena Ibu Nenek sangat murka saat Nenek kabur dari pernikahan dengan Rusdi."
"Dua tahun kemudian, Kakek Arif selesai pendidikan. Beliau kembali ke Kampung tapi tugas di Kota. Nenek dan Kakek bertemu kembali. Akhirnya Nenek meminta ijin pada Orangtua Nenek untuk menikah dengan Kakek. Ayah Nenek merestui tapi Ibu Nenek tidak merestui. Akhir Nenek dan Kakek menikah tanpa Restu dari Ibu Nenek. Tapi Ayah Nenek tetap mewalikan pernikahan Nenek."
Ibu menghela nafas menyudahi ceritanya. Mata tua nya sudah berlinang manakala Dia mengingat Suami nya yang telah tiada.
Lita terperanjat. Dia mengusap mata Nenek dengan lembut. Fitri memberikan minum pada Ibu. "Bu... minum dulu." Kata Fitri lembut.
"Jadi itu Bu, sebabnya?" Tanya Fitri.
Ibu mengangguk. "Ibu juga tak mengerti kenapa Kak Dinda sampai sekarang membenci Ibu, padahal semua yang Dia inginkan dari Ibu sudah Dia dapatkan."
"Mungkin Bunda Dinda masih mencintai Ayah. Dia tak rela Ibu menikah dengan Ayah." Kata Fitri.
Ibu mengangguk dan mencoba mengingat. "Iya Ibu ingat. Saat Kak Dinda mendengar kalau Ayah Kalian telah kembali ke Kota, diam-diam Kak Dinda menemui Ayahmu. Kak Dinda mengajak Ayahmu untuk kawin lari. Ayah mu tidak mau karena Dinda sudah punya Suami. Lagi pula di Angkatan, menikah itu sangat sakral semua nya harus tercatat dalam Negara." Jelas Nenek.
"Benar-benar yah tuh Nenek Lampir... Bukan perempuan baik-baik." Kata Fitri kesal.
"Nenek Lampir Ma?" Tanya Lita bingung.
"Hihihihi.... Dulu ada Cerita tentang Nenek-nenek yang jahat, namanya Nenek Lampir." Kata Fitri cekikikan mengingat Nindi menyebut Bunda Dinda dengan sebutan Nenek Lampir.
"Kamu ini...." Kata Ibu pada Fitri sambil tersenyum.
Fahmi mengelus kepala Fitri. "Jangan seperti itu Sayang... Dia itu orangtua Bang Adrian." Kata Fahmi lembut.
"Maaf...." Fitri tersipu malu. Fahmi mendekapnya lembut.
"Ma... Yah... Nek... Adik-adik... Ayo Kita makan. Keburu dingin deh masakan Fahri." Tiba-tiba Fahri memecahkan keheningan.
__ADS_1
Mereka tertawa mendengar permintaan Fahri. Mereka pun makan dengan sukacita.