CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Menyelesaikan Masalah Fitri-Fahmi


__ADS_3

Lambok kembali menyerahkan Passport dan tiket pada Fitri.


"Ambillah ini. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada kata pisah. Tidak ada yang berselingkuh. Kesalahan Fahmi hanya karena Fahmi tidak jujur mengeluarkan biaya untuk membantu keluarganya." Kata Lambok.


"Taapiii Kak...." Fitri belum menyelesaikan kalimatnya.


"Tidak ada tapi. Lambok mengeluarkan ponselnya. Apa perempuan ini yang Fahmi temui di taman?" Tanya Lambok.


Fitri melihat ponsel Lambok. Fitri mengangguk. "Tapi bagaimana Kak Lambok bisa mengetahuinya?" Fitri heran.


"Kakak sudah menyelidikinya. Fahmi jujur padamu. Dia memang adik angkat Fahmi yang diadopsi Bunda dan Ayahnya. Dia sedang bermasalah dengan suaminya. Makanya dia minta tolong sama Fahmi." Kata Lambok.


"Itu tiket kalian transit di bali 2 hari. Temuilah Diva. Dia akan berkata jujur padamu. Setelah itu kalian pergilah berlibur ke Australia." Pinta Lambok.


"Tapi bagaimana dengan anak- anakku?" Fitri masih enggan pergi dengan Fahmi.


"Kamu gak usah pikirkan. Farah sangat dekat dengan Kakakmu, Tia. Dia gak akan merasa kehilangan Kamu. Fahri juga dekat dengan Lambok. Jadi Kamu pergi ya." Pinta Ibu.


"Ibu harap, bisa memperbaiki hubungan Kalian lagi. Kalian sudah 15 tahun berumah tangga. Saling mengenal lebih dari 5 tahun. Masa belum bisa mengerti pasangan masing-masing?" Tanya Ibu.


Fitri menunduk. Fahmi menangkup kedua pipi Fitri. "Maafkan Aku... Aku mohon jangan suruh Aku meninggalkanmu dan anak-anak."


Pipi Fitri kembali basah karena airmatanya yang tak juga kering. Fitri merasa berdosa karena sudah mendiamkan suaminya setahun ini. Dan Fitri begitu egois tak mau mendengar penjelasan Fahmi.


Fahmi mengusap airmata Fitri. "Kamu gak salah. Aku yang salah, lebih mementingkan adikku daripada menemanimu antar Farah ke puskesmas. Aku janji mulai saat ini, apapun Aku akan terbuka padamu." Janji Fahmi.


Fitri memeluk tubuh Fahmi erat. "Maafkan kesalahanku karena telah durhaka padamu. Huk... huk... huk... Apa Allah akan menghukumku?" Tanya Fitri.


"Bertobatlah dan berjanji gak akan mengulanginya lagi. Aku gak marah, karena Aku juga salah padamu." Kata Fahmi yang melerai pelukan Fitri dan mengusap airmata Fitri.


Tia dan Ibu mengusap matanya. Lambok merengkuh kepala istrinya dan mengecup kepala Tia yang tertutup hijab.


"Sekarang Kalian siap-siap. Jam 5 sore pesawatnya berangkat." Kata Lambok.


"Lagi Kak Lambok, dadakan banget sih?" Fitri mengrucutkan bibirnya.


"Loh... Kalau gak sekarang, minggu depan sudah puasa loh. Gagal deh bermesraan di Negara orang." Canda Lambok.


Fitri menghampiri Lambok. Fitri memeluk tubuh Lambok. "Terima kasih ya Kak. Kalau Kakak gak menyelesaikan semua ini, Fitri gak tahu, bisa bertahan atau tidak." Kata Fitri.


"Aku ini Kakakmu.... Sampai kapanpun. Aku gak mau melihat adik-adikku bersedih." Kata Lambok yang mengusap punggung Fitri.


"Ya sudah... Anggap saja itu kado pernikahan Kalian. Bukankah besok anniversary Kalian?" Tanya Lambok.


Fahmi dan Fitri sambil menatap. "Aku baru ingat. Ya Allah..." Kata Fahmi. "Terima kasih, Lambok. Kamu memang saudaraku yang terbaik." Puji Fahmi.


Ibu, Lambok dan Tia tersenyum. Akhirnya sekali lagi Lambok bisa menghilangkan kesedihan di wajah adik-adiknya.


"Yaaang.... Kita ke sungai yuk. Aku kangen dengan sungai." Kata Tia manja.


"Apa Kamu mau melamun diatas batu lagi?" Canda Lambok.


"Memang Aku pernah melamun yah?" Tanya Tia.

__ADS_1


Lambok memeluk tubuh Tia. "Ayo Kita kesana. Aku khawatir, Nindi dan Marcel asyik bermesaraan, lupa pada anak-anak." Canda Lambok.


"Aku ikut. Sejak menikah Aku sudah tak pernah lagi kesana." Pinta Fitri.


"Tapi Kalian harus berkemas." Kata Lambok.


"Sekarang baru jam 8.30. Berkemas masih banyak waktu." Kata Fahmi.


"Ibu mau ikut juga?" Canda Lambok.


"Kamu ada-ada saja. Kalian pergilah. Nanti Farah siapa yang jagain?" Kata Ibu.


"Ya Allah... anakku..." Fitri bergegas ke kamar. Ternyata Farah sedang mengoceh sendiri di kamar. "Anak Mama... Kok sudah bangun gak keluar?" Tanya Fitri yang segera menggendong Farah.


"Mama...." Tawa Farah.


Fitri menggendongnya. Fitri langsung membuatkan susu untuk Farah.


Fahmi menghampiri Fitri ke dapur. "Sini... Farah sama Ayah. Kita ajak saja yah Sayang. Kasihan nanti ibu repot." Kata Fahmi.


Fitri tersenyum. "Iya Sayaang."


Fahmi mengecup bibir Fitri. "Aku merindukanmu." Bisik Fahmi.


Fitri tersipu malu. "Aku juga sangat merindukanmu." Kata Fitri yang membalas mengecup bibir Fahmi.


"Susu Farah sudah jadi, yuk Kita berangkat." Ajak Fitri.


Mereka pun berangkat ke sungai.


"Loh kok Papa dan Mama nyusul kesini?" Tanya Lita yang melihat segera berhambur ke orangtuanya.


"Sayang... Panggil Nindi yang hendak mencegah. Tapi perkataan Lita, membuat Nindi melihat kearah yang dituju Lita.


Nindi melihat Fitri dan Fahmi terlihat bahagia. "Alhamdulillaah... Kakak-kakakku baik-baik saja. Terima kasih Ya Allah..."


"Kok Kamu gak berenang?" Tanya Tia pada Nindi.


Nindi tersipu malu. "Aku lagi halangan Kak."


"Loh, jadi semalam gagal dong Marcel menjebol gawang Kamu...?" Canda Lambok.


Nindi mengrucutkan bibirnya. "Kak Lambok nih...."


Tia mencubit pinggang Lambok. "Kamu apaan siihhh... Ada anak-anak."


"Sakit Yaang... Hhehehe.." Lambok meringis sambil terkekeh.


"Yuk Yang, Kita berenang." Ajak Tia.


"Tapi...." Nindi belum selesai meneruskan kata-katanya.


Byuuurrr.... Tia sudah menceburkan diri ke sungai. Yang lain melongok melihat kelakuan Tia.

__ADS_1


"Pa... Mama kan gak bisa berenang." Vita terlihat khawatir.


Lambok segera menyusul Tia. Dia tak mau terjadi apa-apa sama istrinya. Byuuuurrr.... Lambok sudah menyeburkan dirinya. Dia segera menghampiri Tia. Tapi Tia malah menjauh dari Lambok.


"Hahahaha... Ayo kejar Aku kalau bisa." Canda Tia.


Yang lain melongok melihat Tia yang tiba-tiba jago berenang.


"Kayanya lupa ingatannya membuat Kak Tia melupakan dia tak bisa berenang." Canda Fitri.


"Hahahaha...." Yang lain tertawa senang.


"Ya sudah Kakak berenang sana.... Biar Farah sama Aku." Kata Nindi.


"Farah mau Aku mandiin sekalian." Kata Fitri.


"Airnya dingin loh Kak. Kasihan Farah." Kata Nindi.


"Gak apa. Biar Farah jadi anak kuat seperti Auntie Nindi... Yak Nak...." Canda Fitri.


Fahmi sudah turun ke sungai. Fitri menyerahkan Farah pada Fahmi. Kemudian Fitri juga turun ke sungai. Mereka mengajari Farah berenang padahal usia Farah baru beranjak tiga tahun.


Farah terlihat senang. Sesekali Fahmi memeluk Fitri. Dia begitu merindukan istrinya.


"Yaaang... Sebelum berangkat... Aku minta yah..." Fahmi manja.


Fitri tersipu malu. Dia mengangguk. Fahmi sangat senang dan mengecup bibir Fitri. Dia menuntut dalam padahal Farah ada diantara mereka๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


Nindi yang melihat menutup wajah Vita dengan telapak tangannya.


"Iihhh Auntie... Aku sering lihat Mama dan Papa begitu... Itu tandanya mereka saling Sayang..." Kata Vita.


"Whaaattsss... Ya Allah... Orangtuanya pada mesum didepan anak-anak mereka." Gumam Nindi.


"Auntie... Vita mau berenang juga..." Vita merengek.


"Tapi Auntie gak bisa berenang sekarang. Tadi Kamu bukan ikut sama Mama dan Papamu... Juga Lita." Kata Nindi.


"Tadi kan Mama langsung nyebur. Aku jadi kaget lihat Mama." Kata Vita.


"Fahri mau berenang juga?" Tanya Nindi.


Fahri menggeleng.


Nindi beranjak berdiri. "Ayo... Auntie antar ke Papa dan Mama. Ayo Fahri." Nindi menggandeng kedua keponakannya.


"Kak...!!" Panggil Nindi setelah melihat Tia dan Lambok.


Lambok menengok. "Ada apa?!" Tanya Lambok.


"Vita mau berenang juga!" Teriak Nindi. "Kamu ke Papa yah..." Nindi menuntun Vita menuju Lambok.


Lambok menghampiri Vita dan segera mengangkat tubuh Vita. Vita terlihat senang.

__ADS_1


Nindi kembali menggandeng tangan Fahri. "Kita lihat Uncle Marcel yuk, Sayang." Ajak Nindi.


Fahri mengangguk.


__ADS_2