
Dokter yang menangani Friska keluar dari ruang tindakan Friska.
"Bagaimana dengan Friska, Dokter?" Tanya Atala khawatir.
"Alhamdulillaah... Bu Friska tidak apa-apa. Sebentar lagi siuman. Dia hanya shock. Sebenarnya ada apa?" Tanya Dokter.
"Tidak ada apa-apa Dok. Hanya salah paham." Kata Fathir.
"Pak Atala, boleh Kita bicara di ruangan Saya?" Pinta Dokter.
Atala melihat kearah Mama nya, Ustadz Joey dan Fathir. Mereka mengangguk.
"Saya boleh ikut, Dok? Saya gak mau Atala nanti tak siap menerima berita yang tak enak." Canda Fathir.
Dokter menatap Atala. Atala mengangguk.
"Baiklah." Kata Dokter yang langsung berjalan menuju ruangannya. Atala dan Fathir mengikuti dari belakang.
"Silahkan duduk..." Dokter mempersilahkan.
Atala dan Fathir terlihat serius. Dalam hati Mereka banyak tanya yang belum terjawab.
"Saya sangat berat mengatakan ini." Dokter menghela nafas. "Tapi Saya harus menyampaikannya." Kata Dokter.
"Ada apa Dok. Katakan saja." Kata Atala tak sabar.
Fathir mengusap bahu Atala. "Sabar Atala."
"Ibu Friska mengalami komplikasi. Sebenarnya Ibu Friska tak boleh mengandung. Tapi Kami juga tak bisa menggugurkannya. Kami hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk Ibu Friska. Hanya Mukzizat dari Allah SWT yang dapat menyelamatkan nyawa Ibu Friska." Jelas Dokter.
Atala menghela nafas. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Mama Siska sudah menceritakan perihal penyakit Friska saat Siska memohon pada Atala agar mau menikahinya demi kebahagiaan Friska yang entah tinggal berapa lama lagi.
Tapi kehamilan Friska yang membuat Atala makin terpuruk. Dia tak menyangka kejadian laknat itu menyebabkan Friska hamil. Dan pelakunya tidak tahu akan hal itu.
"Selama ini Kami team Dokter sudah mencari solusi untuk penyakit Bu Friska, namun sekarang masalahnya bertambah dengan kehamilan Ibu Friska. Kami terus melakukan observasi untuk kesehatan Ibu Friska."
"Kami hanya berharap, Kehamilan Bu Friska membawa berkah bagi kesehatan nya. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Bu Friska." Jelas Dokter.
Fathir terkejut. Dia terkulai lemas. Kini malah Fathir yang tak dapat menerima berita ini. Atala terlihat pasrah.
"Sebenarnya Friska sakit apa, Dok?" Tanya Fathir bersedih. Baru saja Dia dapat melihat kebahagiaan Friska ditemani olehnya jalan-jalan pasca check up kandungan. Tapi kini berita buruk harus Fathir dengar dari mulut Dokter.
Dokter menjelaskan tentang penyakit Friska. Fathir mengusap airmatanya yang jatuh begitu saja.
__ADS_1
Atala menatap heran pada Fathir. "Jangan bilang Kamu menyukai Friska?" Ketus Atala.
"Apa Kamu sudah gila, Atala? Kamu tak tahu betapa Aku tadi melihat pergerakan janin dalam rahim Friska. Aku sangat terharu. Dan hari ini Friska sangat bahagia karena bisa jalan-jalan walau bukan dengan Kamu, Suaminya... Pria yang sangat Dia cinta." Ketus Fathir.
Atala menghela nafas. "Boleh Kami melihatnya, Dok?" Tanya Atala.
"Silahkan Pak..." Kata Dokter.
Fathir dan Atala bergegas ke ruang rawat Friska, karena perawat sudah memindahkan tubuh Friska ke ruang perawatan.
"Atala...." Panggil Friska lemah. "Maafkan Aku... Aku selalu merepotkanmu." Friska terlihat sedih.
Atala tersenyum. "Kamu tidak merepotkan Aku. Justru Aku yang seharusnya minta maaf sama Kamu, karena Aku tak bisa menjagamu dengan baik." Atala bersikap biasa saja.
Fathir menghela nafas. Dia tak tega dengan Friska. Walau selama ini Fathir sering kasar pada Friska, tapi Fathir masih punya hati pada sahabatnya yang usianya entah tinggal berapa lama lagi.
"Fathir... Kamu kenapa? Kenapa Kamu menangis?" Tanya Friska.
"Aku.... gak... Aku gak nangis... Aku tadi menghirup banyak debu, jadi Aku dari tadi bersin-bersin terus." Fathir menyembunyikan rasa sedihnya.
"Maaf... Aku keluar dulu. Aku gak mau flu ku menulari Friska." Fathir langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Atala dan Friska.
Fathir mengusap airmatanya. Dia tak dapat menahan rasa sedihnya. Dia akan kehilangan Friska, Sahabatnya. Walau Dia dan Friska selalu seperti Tom n Jerry yang gak bisa Akur. Namun Fathir memiliki hati yang lembut. Dia memiliki hati Fahmi, Ayahnya.
"Fathir...." Panggil Ustadz Joey.
"Ada apa Fathir?" Tanya Ustadz Joey.
Fathir berbalik dan langsung memeluk tubuh Ustadz Joey. Fathir tak mampu lagi menahan kesedihannya. Fathir menangis.
Ustadz Joey mengerutkan keningnya. Dia bingung. Diandra menatap suaminya. Ustadz Joey mengangkat tangannya sebatas pinggang sambil menggelengkan kepala pelan.
"Fathir... Tenanglah... Kamu itu laki-laki... Gak boleh cengeng." Kata Ustadz Joey. Ustadz Joey sudah mulai fasih berbahasa Indonesia walau logat asingnya masih sangat kental.
Fathir melerai pelukannya. "Friska Pa... Friska..."
"Iya... Friska kenapa?" Ustadz Joey membawa Fathir duduk. Diandra memberikan air minum pada Fathir.
"Ada apa Sayang?" Tanya Diandra.
Fathir meminum air yang diberikan Diandra. "Terima kasih Ma...."
Fathir menghela nafas. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Sekarang Kamu cerita, ada apa dengan Friska?" Tanya Diandra lembut.
"Friska sakit parah Ma... Usia nya tak lama lagi." Kata Fathir pelan.
Ustadz Joey menghela nafas. "Fathir... Rejeki, Jodoh dan maut semua Allah yang mengatur. Semua penyakit ada obatnya." Ustadz Joey mencoba menghibur Fathir.
"Tapi Pa.... Friska komplikasi..." Kata Fathir terlihat sangat cemas.
Ustadz Joey mengangguk. "Papa sudah tahu, Nak. Allah masih memberi kesempatan Friska untuk bertobat. Penyakitnya akan melebur dosa-dosa nya jika Friska bersabar menghadapinya."
"Papa nya Friska sudah cerita pada Papa. Dan selama ini Friska masih bertahan hidup." Jelas Ustadz Joey.
Fathir mengusap airmata nya. Dia ingat kata-kata Ayah nya dulu kala memberikan tausyiah saat seusai shalat berjamaah.
"Kamu tenang ya..." Ustadz Joey mengusap bahu Fathir. Fathir mengangguk.
"Apa Friska sudah sadar?" Tanya Diandra.
Fathir mengangguk. "Sudah Ma... Dia sedang ngobrol dengan Atala." Kata Fathir.
"Kalau begitu Mama dan Papa masuk dulu ya..." Kata Diandra.
Fathir mengangguk. "Iya Ma..."
_________________________
"Jadi wanita itu Friska!? Istri Adikmu?!" Teguh sangat marah pada Gery.
Baru kali ini Teguh begitu murka pada Gery. "Kenapa Kamu jadi orang yang sangat pengecut, Gery?! Papa tak pernah mengajari Kamu menjadi pengecut!"
Gery hanya diam. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan Papa nya perbuat padanya.
"Atala sampai dipenjara gara-gara perbuatan Kamu! Apa Kamu gak mikir, perbuatanmu membahayakan orang lain. Dan orang lain itu Adikmu sendiri!" Teguh sangat marah pada Gery.
"Gery sudah mau menyerahkan diri, Pa....Tapi Dion...." Gery membekap mulutnya. Dia kejeblos ngomong. Dia sudah janji tak akan membawa nama Dion.
"Ooohhhh... Jadi ada campur tangan Dion? Sudah Papa duga. Dari awal Papa sudah melihat kalau Dion bukan teman yang baik buat Kamu!" Teguh merendahkan suaranya.
Gery menunduk. "Tapi Pa... Gery mohon, jangan bawa-bawa Dion. Karena semuanya Gery yang melakukan. Dion hanya membantu saja." Gery masih melindungi Dion.
"Baik... Papa tidak akan menyeret Dion. Tapi Papa minta mulai saat ini, jauhi Dion! Papa gak mau lagi dengar alasan apapun. Atau Papa akan menyeret Dion juga!" Ancam Teguh.
Gery menunduk. "Iya Pa... Gery janji gak akan berteman lagi dengan Dion."
__ADS_1
Gery mengambil ponselnya. Dia memblokir semua akses Dion yang dapat menghubunginya. Kemudian Gery memghapus semua kontak dan email Dion. Gery meletakkan kembali ponselnya.
Teguh menghela nafas. Dia tak menyangka, Puteranya mampu berbuat itu. Teguh sadar, ini semua karma baginya. Dia dulu mencampakan Diandra begitu saja demi selingkuhannya yang telah melahirkan anaknya.